Ayakan (Sunda), merupakan alat yang dirancang untuk keperluan Ngayak (Melayu: Menapis atau Menyaring). Yakni kegiatan memisahkan bagian benda yang diinginkan dari bagian benda yang tidak diinginkan.

Bagian yang tidak bisa tersaring lagi kemudian akan tersisa di atas dan kemudian dibuang, sementara bagian yang terkecil dan yang baik akan masuk ke bawah ke dalam rongga-rongga Ayakan sambil ditadah dengan menggunakan wadah yang lainnya yang pada akhirnya akan dimanfaatkan.

Namun demikian, Ayakan biasa juga digunakan untuk sekedar menjemur bahan makanan tertentu. Dan kadang kala digunakan untuk Nyair (Sunda), yakni menangkap ikan di dalam air baik di sungai atau di kolam. Air akan habis ditapis hingga kemudian ikannya akan tertinggal di atas bidang Ayakan.

Ukuran Ayakan tersebut ada yang besar dan ada yang kecil, dengan tingkat kerapatan yang berbeda. Tingkat kerapatan alat tradisional sayangnya tidak memiliki standar dan variasi yang majemuk sesuai dengan ukuran dan kebutuhan yang diperlukan, sehingga kemudian secara internasional berevolusi secara massif sejak masa Revolusi Industri.

Dalam bahasa Inggris namanya disebut Stainer, Sift, atau Sieve. Bahan Ayakan modern ini bisa sudah terbuat dari logam, jaring, dan skrin dengan bagian utama dari bahan logam ataupun plastik.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Penulis merupakan Ketua Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS). Pernah kuliah di Aqidah Filsafat UIN SGD (S1), Pendidikan Geografi UPI (S1), Pendidikan Geografi UNIBBA (S1), Sejarah Peradaban Islam UIN SGD (S2) dan sedang menyelesaikan kuliah di Konsentrasi Agama dan Budaya pada Program Studi Agama-Agama (S3), tinggal di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan dpat dihubungi melalui No. WA. 082118635648.

"Menulis untuk ilmu dan kebahagiaan, menerbangkan doa dan harapan, atas hadirnya kejayaan umat Islam dan bangsa Indonesia".