Antara Dewi Ceres dan Dewi Bhumi

Kata Cereal dalam bahasa Inggris merujuk pada pengertian sekelompok tumbuhan dari golongan rerumputan yang dapat menghasilkan bulir-bulir bebijian (grain dan milet) sebagai sumber pokok makanan manusia. 

Kata Inggris Cereal tersebut berasal dari bahasa Prancis Cereale yang juga merujuk pada pengertian yang sama. Sementara kata Prancis Cereale berasal dari bahasa Latin Cerealis yang berarti hal-ihwal yang berkaitan dengan Ceres. 

Sedangkan kata Latin Ceres itu sendiri mengandung pengertian sebagai Dewi Bumi, Dewi Kesuburan, Dewi Pertanian, dan dewi tumbuhan rerumputan penghasil bulir-bulir bebijian tersebut. 

Dalam bahasa Latin, kata Ceres merupakan bentuk jamak (plural) dari bentuk tunggal (singular) Cere. Sementara variasi fonetik atau perubahan bentuk yang bisa terjadi atau anagram dari kata Cere tersebut adalah Cree.

Sementara apabila huruf C pada kata Latin Ceres, Cere, dan Cree saling dipertukarkan bunyinya dengan huruf S. Maka kata Ceres dapat diucapkan menjadi Seres, kata Cere dapat diucapkan menjadi Sere, dan kata Cree dapat diicapkan menjadi Sree.

Di dalam khazanah kebudayaan Yunani yang berbahasa Yunani, nama Dewi Ceres dalam khazanah kebudayaan Romawi yang berbahasa Latin disebut dengan nama Demeter. Kata Yunani Demeter merupakan bentuk pergeseran dari kata Gemeter atau lebih lengkapnya Geameter. 

Gea (atau Geo) artinya Bumi, sementara Meter artinya Ibu. Demeter dengan demikian mengandung pengertian Ibu Bumi. Kata Yunani Gea sejajar dengan kata Sanskrit Gaya, sementara kata Meter sejajar dengan mata Sanskrit Matar. 

Di dalam bahasa Sanskrit, ada beberapa kata untuk menyatakan apa yang dalam bahasa Inggris disebut dengan kata Earth atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan kata Ardh, yakni selain Gaya adalah Bhu (atau Bhumi), dan Prthvi (atau Prathivi). 

Konsep yang sejajar dengan Dewi Bumi dalam kebudayaan Yunani Demeter dan kebudayaan Romawi Ceres dalam kebudayaan India adalah Prthvi Mata (atau Prathivi Matar). Selain disebut Prathivi Matar, dalam kebudayaan India biasa disebut Bhudevi (atau Bhumidevi). 

Sementara ke dalam bahasa Melayu, konsep Prathivi Matar dalam Sanskrit diucapkan dengan nama Ibu Pertiwi dan Bhudevi (atau Bhumidevi [Dewi Bumi]) diucapkan dengan nama Ibu Bumi.

Nama Prathivi atau Bhumi untuk pertamakalinya tercatat dalam Rigveda, yakni kitab pertama dari rangkaian keempat kitab utama Sanata Darma pada periode paling tua (Periode Weda atau Sruti). Prathivi atau Bhumi merupakan pasangan dari Dyaus Pitar. Dyaus (bisa diucapkan Diaus atau Daus) yang artinya Langit, sementara Pitar (atau Patar) artinya Bapak.

Nama Daus Patar dalam bahasa Sanskrit sejajar dengan kata Yunani Zeus Pater yang lebih dikenal dengan nama Zeus. Sementara dalam bahasa Latin sejajar dengan kata Jova yang memiliki variasi fonetik lainnya sebagai Jupiter yang berakar dari kata Jova (atau Jov atau Jo atau Ju) dan Piter. 

Baik kata Pitar atau Patar (Sanskrit), Pater (Yunani), maupun Piter (Latin) artinya sama yakni Bapak (Father). Sementara Dyaus atay Daus (Sanskrit), Zeus (Yunani), dan Jova (Latin) artinya sama Langit. 

Pada akar dokumentasi paling tua dalam kebudayaan India, maka Dewi Demeter (Yunani), Ceres (Latin), akan sejajar dengan nama Prathivi atau Bhumi yang merupakan isteri dari Dyaus atau Daus. Keduanya menyimbolkan Patar (Father) dan Matar (Mother), juga melambangkan Dyaus (Sky) dan Bhumi atau Prathivi [atau Gaya] (Earth).

Antara Dewi Bhumi dan Dewi Sri

Di dalam khazanah kebudayaan Jawa (masyarakat Pulau Jawa) yang menginduk pada sistem keyakinan Siwa, kesejajaran Demeter (Yunani), Ceres (Romawi), dan Prathivi atau Bhumi (India) akan ditemukan dalam konsep Dewi Sri yang disebut juga dengan nama Nyai Pohaci Sanghyang Asri.

Pada khazanah literatur Weda yang merujuk pada 4 buah kitab Weda (Rigveda, Samaveda, Yajurveda, dan Atarvaveda) yang berbasis tradisi Sruti (apa yang didengar) dengan paket tambahannya berupa Samhita, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad; terutama di dalam Rigveda. Dewi Bumi, Dewi Kesuburan, Dewi Pertanian, dan Dewi Padi-Padian (Sereal) sebagaimana dikemukakan adalah Prathivi yang memiliki nama lain Bhumi. 

Pada periode tersebut akan banyak ditemui nama-nama Dewa dan sedikit nama Dewi (pada Rigveda jumlahnya sekitar 50), namun belum ditemukan adanya konsep Trimurti (dimana Dewa tertinggi masih dipegang oleh Indra). Pada khazanah literatur Weda (Rigveda) tersebut, belum ditemukan nama Brahma dan nama Shiva (Siwa). 

Adapun di dalam himne-himne yang paling khusus untuk diagungkan adalah Indra dan Agni, Mitra dan Varuna (Baruna), Soma dan Rudra. Meskipun demikian, nama Vishnu (Wisnu) sudah muncul dan disebutkan dalam Rigveda sebanyak 6 kali (namun kedudukannya belum menjadi Dewa rujukan dimana himne-himne didendangkan untuknya).

Kemudian pada masa selanjutnya, yakni pada khazanah literatur Periode Setelah Weda yang berbasis pada tradisi Smirti (apa yang diingat) seperti Vedanga, Itihasa, Purusartha, Purana, Kavya, Bhasya, Sutra, dan Nibandha; kitab Bagawad Gita sebagai bagian khusus dari Purana (Mahabarata) diangkat sebagai kitab Weda kelima. Dan kemudian sistem Trimurti lahir bersama preferensi sekte atau aliran puja keagaaman sesuai pilihannya. Pada periode tersebut Brahma, Siwa, dan Wisnu bersama para Shaktanya mulai tereksplorasi lebih besar.

Di dalam naskah Wawacan Sulanjana yang kemungkinan ditulis pada abad ke-17 M hingga ke-19 M, yang pada tahun 1907 M oleh Pleyte diterjemahkan, sosok Dewi Sri atau Nyai Pohaci Sanghyang Asri telah muncul di Tatar Sunda. Dewi Sri atau Sanghyang Asri (Asri masih variasi fonetik dari kata yang sama Sri atau Sari) pada naskah tersebut telah terhubung dengan konsep Dewi Kesuburan dan Dewi Padi. 

Dalam tatanan masyarakat Sunda yang dipengaruhi oleh struktur keyakinan Siwa, selain konsep Tuhan Yang Maha Esa dengan istilah Sanghyang Kersa (dalam tradisi Sanata Darma Periode Weda berbasis Sruti disebut Brahman) telah hadir; demikian juga gagasan Batara Guru dan Sunan Ambu yang berkuasa di Kahyangan (Dunia Langit) juga telah hadir sebagai model pelokalan dari gagasan Dewa Siwa (Shiva) dan Shaktanya Dewi Parwati (Parvati) yang memiliki nama lain sebagai Sati, Uma, Durga, dan Kali.

Demikian juga kehadiran Sanghyang Antaboga atau Sanghyang Antaga sebagai sosok penguasa Dunia Bawah Tanah yang berbentuk Ular Besar atau Naga telah muncul dalam tradisi Sunda yang merupakan pelokalan dari gagasan Shesa, Sheshanaga, atau Adishesha yang merupakan Raja dari para Naga (Ular Besar). Makhluk dari golongan Asura yang terhubung dengan kekuasaan bawah tanah, perairan, dan lautan.

Kelahiran Dewi Sri atau Sanghyang Asri tidak bisa dilepaskan dari seting Teologi dan Kosmologi dalam tradisi India yang merujuk pada sistem keyakinan Sanata Darma dari suatu fase yang disebut dengan tradisi literatur Weda yang berbasis Sruti dan Setelah Weda yang berbasis Smirti.

Di dalam bahasa Sanskrit, Sri diucapkan dengan kata Sri yang masuk ke dalam ejahan Barat menjadi Shri, Sri, Seri, dan Sree. Sri dalam bahasa Sanskrit merupakan kata pengantar (Prefik) yang memberikan makna Sakral, Suci, atau suatu penisbatan yang menunjukkan rasa Hormat yang mendalam (bandingkan kesejajarannya dengan kata Sir dalam bahasa Inggris). 

Sebagaimana dalam basis bahasa Latin (terhubung juga dengan Kosmologi Tata Surya), makna dasar dari Sri dalam bahasa Sanskrit juga berasosiasi dengan suatu pancaran cahaya yang indah dan terang. Sri dengan demikian menjadi simbol dari kualitas yang unggul dan baik termasuk maknanya yang berkembang dalam citarasa yang bangsawan (noble).

Padi yang dalam bahasa Inggris disebut Rice, di dalam bahasa Sanskrit disebut Sali, Sari, Sri, dan Vrihi. Daftar istilah tersebut dapat ditemui dalam glosari literatur baik Sanata Darma, Budha Darma, maupun Jaina Darma. Padi masuk ke dalam golongan yang dalam bahasa Sanskrit disebut Dhanya yang artinya bulir-bulir bebijian yang dalam bahasa Inggris disebut grain (bulir bebijian lebih besar) dan milet (bulir bebijian lebih kecil).

Di dalam Jaina Darma, rincian soal Dhanya terdapat dalam Svetambara seperti pada Devagupta Nava-pada-prakarana pada bagian Laghu-vrtti. Dan juga terdapat dalam Digambara seperti pada Camundraya Caritrasa. Padi atau Rice dalam bahasa Sanskrit adalah Sali, Sari, atau Sri; Gandum atau Wheat dalam bahasa Sanskrit adalah Godhuma; Jelai atau Barley dalam bahasa Sanskrit adalah Yava atau Java (atau Jawa). 

Sementara di luar literatur Jaina Darma misalnya terdapat Jawawut atau Foxtail Milet yang dalam bahasa Sanskrit adalah Priangu atau Kangu; Jeli atau Hanjeli atau Job’s Tears dalam bahasa Sanskrit adalah Gavedhuka atau Gavedhu; Sorgum atau Shorgum dalam bahasa Sanskrit adalah Javakara; dan masih banyak rincian data lainnya sebagai sumber pokok Karbohidrat dari jenis Padi-Padian atau Sereal lainnya.

Dan di luar golongan Padi-Padian atau Sereal (Dhanya) misalnya sebagai contoh terdapat daftar istilah Sagu atau Sago yang dalam bahasa Sanskrit adalah Sagu yang merupakan kanji atau saripati yang umumnya biasa diambil dari batang pohon golongan palem-paleman (Palma). Di Tatar Sunda bahan untuk membuat Sagu bisa diambil dari pohon Kawung, Gebang, dan Kiray; atau pada masa kemudian dari golongan umbi-umbian seperti Singkong (Tapioca) yang diintrodusir dari Benua Amerika.

Jika di belahan Barat ada gagasan Padi-Padian yang merujuk pada Dewi Seres maka di belahan Timur ada gagasan Padi-Padian yang merujuk pada Dewi Sri dimana antara keduanya memiliki kesejajaran dan atau bahkan lahir dari akar Historis (Sejarah) dan Common Heritage (Warisan Kebudayaan) yang sama. 

Bahwa Sri dan Seres bukan suatu konstruksi gagasan yang berbeda, melainkan hanya tertanam dalam bentang kebudayaan dan khazanah keanekaragaman alam hayati yang berbeda. Sri dan Seres pada hakikatnya adalah sama. 

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)