Ikhtiar Menurunkan Paradigma Keilmuan Abad Keemasan Islam Menuju Pengembangan Paradigma Keilmuan Islam Kontemporer

Pendahuluan

Di dalam pembabakan (period) sejarah dalam sudut pandang Eropa, Babak Pertengahan (Medieval Period) adalah suatu babak yang membentang di antara Babak Kuno (Ancient Period) dan Babak Modern (Modern Period).

Babak Kuno (Ancient Period) itu sendiri dimulai sejak pertamakalinya kegiatan tulis-menulis dimulai oleh umat manusia hingga kemudian memasuki Babak Pertengahan (Medieval Period). Babak tersebut dimulai sejak sekitar tahun 3000 SM ketika sistem tulis-menulis dan berita bahasa yang termaktub dalam tulisan direkam untuk pertamakalinya dalam Aksara Paku (Cuneiform Script) di kawasan Mesopotamia (Asia Barat Daya) dan Aksara Ukir (Hieroglyph Script) di kawasan Mesir (Afrika Utara). Babak Kuno (Ancient Period) ini kemudian akan berakhir pada tahun 476 M dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat (fall of Western Roman Empire).

Kesepakatan para ahli sejarah mengenai tapal batas waktu dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat (Western Roman Empire), salah-satunya bisa dilihat di dalam tulisan I.S. Clare (1906) “Library of Universal History: Containing a Record of the human Race from the Earliest Historical Period to the Present Time; Embracing a General Survey of the Progressof Mankind in National and Social Life, Civil Government, Religion, Literature, Science and Art.” (New York, Union Book, page 1519).

Sementara Babak Pertengahan (Medieval Period) dimulai sejak masa runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat (fall of Western Roman Period) yang terjadi pada abad ke-5 SM hingga memasuki abad ke-16 M sebagai kesepakatan umum (pertama kali diungkapkan Leonardo Bruni). Batas longgar lainnya di antaranya merujuk pada penaklukkan Konstantinopel oleh Turki Usmani pada tahun 1453 M, perang Bosworth di Inggris pada tahun 1485 M, penaklukkan kembali Granada pada tahun 1492 M, pengarungan menuju ke Benua Amerika oleh Christoper Colombus pada tahun 1492 M, kematian Ratu Isabella I dari Castila pada tahun 1504 M, kematian Raja Ferdinand II dari Spanyol pada tahun 1516 M, dan Reformasi Protestan pada tahun 1517 M.

Sedangkan Babak Modern (Modern Period) dimulai secara umum sebagaimana yang terjadi pada batas akhir Babak Pertengahan (Medieval Period), yakni dimulai sejak abad ke-16 M (tahun 1500 M) dan berlangsung hingga hari ini.

Abad Pertengahan Eropa

Khusus untuk Babak Pertengahan (Meddieval Period) di Eropa, babak tersebut biasanya dibagi ke dalam tiga bagian.

Pertama, Babak Pertengahan Awal (Early Meddieval Period) yang berlangsung dari abad ke-5 M hingga abad ke-11 M. Babak Pertengahan Awal (Early Meddieval Period) ini dimulai sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat (fall of Western Roman Empire) hingga memasuki babak Pertengahan Tinggi (High Meddieval Period) pada tahun 1000 M. Babak Pertengahan Awal (Early Meddieval Period) ini identik dengan istilah Abad Kegelapan (Dark Age) yang dicirikan dengan runtuhnya pranata ekonomi, intelektual, dan kebudayaan Eropa sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat (fall of Western Roman Empire).

Kedua, Babak Puncak Pertengahan (High Meddieval Period) dimulai sejak abad ke-11 M hingga berakhir pada tahun 1250 M. Pada Babak Puncak Pertengahan (High Meddieval Periode), di Eropa ditandai dengan kenaikan populasi penduduk, proses perpindahan penduduk dari desa, dan proses urbanisasi. Pada masa tersebut berkembang mistisme Kristen dan pendidikan model Skolastik.

Ketiga, Babak Pertengahan Akhir (Late Meddieval Period), yang dimulai sejak tahun 1250 M sampai tahun 1500 M. Pada Babak Pertengahan Akhir (Late Meddieval Period), Eropa ditandai dengan menyusutnya populasi akibat wabah, namun demikian Eropa berhasil mengembangkan pijakan sejak dari Babak Puncak Pertengahan (High Meddieval Period) dengan basis Skolastik dan Mistisme Kristen hingga melalukan proses pembaharuan ilmu dan seni yang merujuk pada abad Klasik (Classic Antiquity Age) sebagai lawan dari fakta yang tengah terjadi dalam Abad Kegelapan (Dark Age).

Abad Pencerahan Eropa

Selain dilakukan dengan cara pembabakan ke dalam babak Pertengahan Awal (Early Meddieval Period), Babak Puncak Pertengahan (High Meddieval Period), dan Babak Akhir Pertengahan (Late Meddieval Period); Babak Pertengahan (Meddieval Period) di Eropa sangat berkaitan juga dengan tiga buah penciri abad yang berlangsung dalam pengelompokkan lainnya yang berhubungan.

Pertama, Abad Klasik Antik (Classic Antiquity Age) yang berlangsung sejak abad ke-8 SM dan abad ke-6 SM yang berkaitan dengan bermekarannya awal-mula kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno (Ancient Greek) dan Romawi Kuno (Ancient Rome) dengan ditandai oleh reproduksi catatan-catatan pertama kebudayaan dalam bahasa Yunani Kuno dan kemudian dilanjutkan oleh Romawi Kuno, yang secara umum dikenal sebagai masa Dunia Yunani-Romawi (Greco-Rome World) yang berkembang di Afrika Utara, Eropa, dan Asia Barat.

Masa dari Dunia Yunani-Romawi (Greco-Roman Word) ini yang kemudian akan dijadikan acuan sebagai masa gemilang Eropa yang berusaha dihadirkan kembali oleh masyarakat Eropa pada Babak pertengahan (Meddieval Period) dan Babak Modern (Modern Period).

Kedua, Babak Pertengahan (Meddieval Period) itu sendiri sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Dan ketiga, Babak Modern (Modern Period) yang juga telah dijelaskan sebelumnya.

Masa yang membentang sepanjang babak Pertengahan (Meddieval Periode), yang meliputi dari Babak Puncak Pertengahan (High Middle Age) dan Babak Pertengahan Akhir (Late Meddieval Period) yang berlangsung sejak abad ke-11 M hingga memasuki abad ke-15 M dan kemudian ditindaklanjuti dengan memasuki Babak Modern (Modern Period) adalah babak yang juga akan disebut dengan inkubasinya kegiatan Abad pencerahan (Renaissance Age) untuk keluar dari Abad Kegelapan (Dark Age) yang mengghinggapi Babak Awal Pertengahan (Early Middieval Period) dan juga lahirnya Abad Penemuan (Age of Discovery) atau Abad Penjelajahan (Age of Exploration) yang berlangsung pada abad ke-15 M dan abad ke-16 M, sebagai penanda masuknya Babak Modern (Modern Period) dalam sudut pandang sejarah dan kepentingan revitalisasi kebudayaan dan peradaban Eropa.

Namun satu hal yang perlu dicatat dan dieksplorasi lebih jauh, bahwa masa berlangsungnya Abad Pencerahan (Renaissance atau Aufklarung) dan Abad Penemuan (Age of Discovery atau Age of Exploration) di Eropa sebenarnya tidak secara langsung mengakses dari sumber daya keilmuan (khazanah) dari Abad Klasik Antik (Classic Antiquity Age), melainkan melalui jembatan Abad Keemasan Islam (Islamic Golden Age) yang berlangsung pada abad ke-8 M hingga abad ke-14 M  di dunia Islam (Islamic World) pada Babak Pertengahan (Meddieval Period), yang mana pada Abad Keemasan Islam (Islamic Golden Age) tersebut khazanah Yunani Kuno dan Romawi Kuno yang tidak berkembang di Eropa karena hambatan Mistisme Kristen dan kurikulum Skolastik dikembangkan dan mendapatkan kurasi yang memadai dalam kebudayaan Islam.

Abad Keemasan Islam

Istilah Abad Keemasan Islam (Islamic Golden Age) untuk pertamakalinya digunakan di dalam buku “Handbook for Travelers in Syria and Palestine” oleh Josias Leslie Porter pada tahun 1868 M (diterbitkan John Murray). Di sana, Josias Leslie Porter mengatakan: “ like Mohammedanism itself, now rapidly decaying” (‘seperti pengajaran Muhammad itu sendiri, sekarang dengan cepat mengalami membusuk) dandemikian juga dengan peninggalan-peninggalan dari “the golden age of Islam” (‘Abad Keemasan Islam itu sendiri’).

Di dalam buku tersebut, Josias Leslie Porter mengapresiasi berbagai peninggalan dari periode Islam sebagai wujud nyata pengajaran Nabi Muhammad SAW yang pernah mengalami masa jaya, di antaranya adalah warisan arsitektural yang menawan di kawasan Syiria dan Palestina. Namun demikian, Josias Leslie Porter mengatakan jika masa Islam sebagai wujud pengejawantahan pengajaran Nabi Muhammad SAW itu sendiri ibarat buah yang telah melampaui masa matang yang kemudian pada akhirnya mengalami pembusukan dengan cepat.

Dari terminologi yang dikembangkan Josias Leslie Porter itu, konsep “the Golden age of Islam” (‘Abad Keemasan Islam’) kemudian digunakan secara bertahap untuk mengidentifikasi masa kebudayaan dan peradaban Islam yang pernah berkembang pesat dan maju pada abad ke-8 M hingga abad ke-14 M oleh para pakar Timur (Orientalis) dari Eropa dan Barat (Judeo-Christian) pada umumnya. Suatu masa yang merujuk pada kebudayaan, peradaban, pencapaian keilmuan, teknologi, dan seni yang pernah berkembang dan tidak bisa dipungkiri memiliki andil besar, langsung, dan signifikan sebagai jembatan perubahan yang kemudian menginspirasi perubahan Eropa dengan wajahnya hari ini melalui Abad Pencerahan (Age of Renaissance) dan Abad Penjelajahan (Age of Exploration).

4 Faktor Penting Pijakan Berkembangnya Abad Keemasan Islam (Islamic Golden Age)

Ada beberapa faktor penting yang memberikan pijakan atas berkembangnya Abad Keemasan Islam (Islamic Golden Age) menurut analisa para pakar.

Pertama, Inspirasi Keagamaan (Religious Influence) yang mana Al Quran dan Hadits sebagai sumber utama Yurisprudensi Islam mendorong ke arah pencapaian keilmuan, kebudayaan, dan peradaban. Mengenai pernyataan ini bisa dilihat di dalam “Population Dynamics in Muslim Countries: Assembling the Jigsaw” karya Hans Groth (Penyunting) keluaran Springer Science and Business Media halaman 45 (tahun 2012 M). Kemudian “Challenges to Religions and Islam: A Study of Muslim Movements, personalities, Issues and Trends, Part 1” karya Hamid Naseem Rafiabadi (Penyunting) keluaran Sarup and Sons, halaman 1141 (tahun 2007 M). Dan “Renaissance of Sciences in Islamic Countries” karya Abdus Salam halaman 9 (tahun 1994).

Kedua, Disponsori Pemerintah (Government Sponsorship) terhadap setiap kerja yang dilakukan ilmuan pada lapangan keilmuan yang ada. Pusat kegiatan keilmuan yang dilakukan diwadahi dalam Baitul Hikmah (House of Wisdom) sejak masa Umayah di bawah Khalifah Muawiyah dan Abasiyah di bawah Khalifah Al Mamun. Semula Baitul Hikmah (House of Wisdom) itu berfungsi awal sebagai Khizanat Al Hikmah (Storehouse of Wisdom) yang merupakan pusat koleksi buku-buku dari berbagai sumber bahasa seperti Yunani, Persia, Sanskrit, dan seterusnya. Pada masa Baitul Hikmah (House of Wisdom), fungsi dasarnya sebagai Khizanat Al Hikmah (Storehouse of Wisdom) memikul tambahan dengan adanya kegiatan Kegiatan Penerjemahan (Translation Movement) dan kurasi yang dilakukannya. Pemerintahan Islam memberikan pembiayaan terhadap kegiatan penerjemahan ini setara dengan dua kali lipat pendanaan Medical Reseach Council di Inggris moden ini (“In Our Time-Al Kindi, James Montgomery” tahun 2012 M). Sementara honorarium penerjemahan yang diberikan oleh pemerintahan Islam setara dengan honorarium atlet profesional di Eropa modern ini (Sonja Brentjes and Robert G. Morrison, “The Sciences in Islamic Societies” The new Cambridge History of Islam, cambridge University Press, page 569.)

Ketiga, Andil dari Berbagai Pihak (Diverse Constributions) yakni berbagai sumbangan data keilmuan dari Babak Klasik Antik (Classic Antiquity Period) diambilalih oleh kerja kebudayaan dan peradaban Islam dalam bentuk asimilasi yang kuat dari khazanah Yunani, Persia, Sanskerta, dan Syiria. Setelah melalui terjemahan bahasa Arab ini, di kemudian hari diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani oleh sarjana Barat (Judeo-Christian) sebagaimana yang dikatakan oleh Dimitri Gutas dalam “Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early Abbasid Society (2nd-4th/8th-10th Centuries)” (London, Routledge, 1998). Sehingga pada dasarnya, warisan keilmuan modern yang diperoleh dari Eropa sejak masa Pencerahan dan Penjelajahan bukan diperoleh secara langsung dari masa Klasik Antik, melainkan dari Arab. 

Keempat, Teknologi Baru (New Tecnology) yang dikembangkan dunia Islam dalam hal kegiatan tulis-menulis dan produksi kertas sehingga memungkinkan kegiatan pembuatan buku, jual-beli buku, dan distribusi pengetahuan berjalan menjadi sangat pesat hingga saat ini. Mengenai keterangan ini bisa dilihat pada buku “28 Projects, from the Creation of Fire to the Prodaction of Plastics” karangan Kevin M. Dunn (Universal Publisher, 2003, page 166).

Melalui keempat faktor tersebut, dunia pendidikan (madrasah), hukum (jurisprudensi), teologi (Theology), Filsafat (Philoshophy), Matematika (Mathematic), Ilmu-Ilmu Alam (Natural Science), teknologi (Engineering), Ilmu-Ilmu Sosial (Social Science), Pusat kesehatan (Healthcare), Perdagangan dan Perjalanan (Commerce and Travel), dan Seni dan Kebudayaan (Art and Culture), dan seterusnya berkembang sangat pesat sebagai mercusual kebudayaan dan peradaban dunia.

Paradigma Keilmuan Islam

Melalui pengamatan terhadap kegiatan keilmuan, yang dimulai sejak turunnya Wahyu (al Quran) dan pengajaran nabi Muhammad SAW (Hadits) dan kemudian memuncak dalam pada masa Abad Keemasan Islam (Islamic Golden Age) yang membentang dalam Babak pertengahan Islam (Meddieval Islam) dapat diperoleh beberapa penarikan kesimpulan dalam hal bagaimana suatu Paradigma keilmuan dipraktekkan pada masa tersebut.

Pertama, Tidak Sekular (Non Secular) dalam pengertian bahwa di dalam perkembangan paradigma keilmuan Islam Abad Pertengahan (Meddieval Islam) tidak terjadi wacana pemisahan Dunia dan Akhirat, Spiritualitas dan Fisik, Ilmu-Ilmu Agama dan Ilmu-Ilmu Non Agama. Sepanjang seluruh subjek-subjek keilmuan didasarkan atas basis nilai (Core Value System) dan basis ideologi (Core Ideology) Islam sebagai sudut pandang dan kacamata dalam melihat maka seluruhnya menjadi bernilai agama dan bernilai ilmu yang berada dalam tuntunan agama. Dampak dari prinsip Tidak Sekular ini, maka konstruksi keilmuan menjadi bersifat Menyeluruh (Holistik), Utuh (Integral), dan Mampat (Coheren).    

Kedua, Menguasai Banyak Disiplin Ilmu (Polymath) dalam pengertian bahwa paradigma keilmuan yang dikembangkan dalam masa ini tidak menekankan pada penguasaan ilmu yang bersifat Terpisah (parsial) dan Sejalur (lineal) terhadap profesionalitas satu disiplin keilmuan saja, melainkan bersifat majemuk dan acak berdasarkan kebutuhan dan rasa ingin tahu yang menjadi projek intelektual pada saat dibutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen yang ditekankan adalah pada adanya kebutuhan keilmuan yang tidak terbatas yang dapat dilakukan secara mandiri dan pendalaman pribadi (inquiry), bukan pada disiplin-disiplin keilmuannya. Komitmen yang ditekankan adalah pada penguasaan atas aspek pendekatan (approach) dan cara (method) yang bersifat kaidah universal yang dapat diterapkan pada berbagai kasus dan cabang keilmuan. Pembagian aspek keilmuan, subjek, atau disiplin hanya merupakan proses klasifikasi kekaryaan akhir dalam pembukuan, bukan berarti kemapuannya hanya difokuskan di bidang tersebut. Itu kenapa dunia Barat mengelompokkan seluruh ilmuan Islam pada periode ini sebagai tokoh-tokoh Polymath yang menulis dari masalah Fiqih hingga masalah Pertanian, dari masalah Hadist sampe masalah Geografi, dari masalah Quran sampai masalah Kesehatan.

Ketiga, Menguasai Banyak bahasa (Polyglot) dalam pengertian banyak ilmuan Islam pada periode ini menguasai banyak bahasa seperti Arab, Yunani, Persia, Ibrani, Suryani, Sanskrit, Koptik, Mesir Kuno, dan bahkan mulai melakukan rintisan kajian terhadap bahasa-bahasa Jermanik, dan seterusnya. Hal ini menunjukkan bahwa penghargaan atas pengetahuan dilakukan terhadap seluruh bahasa-bahasa sepanjang bahasa-bahasa tersebut merekam pengetahuan di dalam naskah-naskahnya sejak masa silam. Kemungkinan besar perkembangan Polymath dan Polyglot yang dikatakan sebagai watak keilmuan Islam pada Abad Pertengahan tersebut sebagai konsekuensi dari awal-mula kegiatan Translation Movement. Namun demikian, kegiatan mereka tidak sebatas melakukan Translation Movement melainkan selanjutnya melakukan proses kritik dan kurasi yang tajam sehingga konstruksi pengetahuan yang telah ajeg terus dilanjutkan, sementara kekeliruan-kekeliruan yang masih terjadi akan dilakukan perbaikan. Kegiatan tersebut tidak memiliki persoalan dengan basis nilai dan basis ideologi Keislaman yang mendorong sikap seorang Muslim untuk berlaku objektif dan mencintai kebenaran.

Kesimpulan

Untuk mengatasi masalah melemahnya independesi keilmuan yang berkembang pada dunia Islam kontemporer ini, salah-satu solusi yang sangat bersifat memungkinkan dan praktis adalah dengan cara merevitalisasi basis nilai dan basis ideologi keilmuan, sistem dan model keilmuan, paradigma keilmuan, pendekatan dan metode keilmuan yang ada dan berkembang pada periode Islam Abad Pertengahan. Dengan cara memotong kompas kepada aspek praktik yang teruji pada Abad pertengahan, tugas untuk menurunkan (Derivation atau Deduksi) seperangkat keilmuan dari sumber nilai dan sumber ideologi Islam menjadikannya lebih mudah dan operasional.

Dengan dikembangkannya Paradigma keilmuan Islam Abad Pertengahan, kita bisa mulai sedikit mundur kembali ke periode Abad Pertengahan Islam untuk melanjutkan estafeta keilmuan berdasarkan landasannya yang tepat dan berkelanjutan. Bisa juga dengan cara melakukan proses penerjemahan, kurasi dan kritik terhadap supremasi keilmuan dari Barat itu sendiri, sebagaimana dunia Islam Abad Pertengahan melakukannya terhadap periode Klasik Antik untuk kemudian bisa berdiri secara mandiri tanpa kehilangan karakteristiknya yang khas. Tanpa melakukan kegiatan evaluasi seperti ini, maka perkembangan dunia keilmuan Islam hanya akan membuntuti jejak langkah Barat yang akan terus berjalan di depannya. Padahal tahap perkembangan Barat itu sendiri, sebelum kemudian bisa berdiri dengan basis nilai dan baisi Ideologi (Judeo-Christian) sebagaimana saat ini, berakar pada bangunan keilmuan Islam Abab Pertengahan itu sendiri. Itu kenapa seluruh karya monumental yang dijadikannya pijakan dalam seluruh lapangan keilmuan modern bukan merujuk pada kitab-kitab Yunani Kuno dan Romawi Kuno secara langsung, melainkan menjadikan Kitab Kuning dunia Islam Abad Pertengahan sebagai basis Magnum Opusnya.

Lampiran: Map of the world by Ottoman admiral Piri Reis, drawn in 1513. Only half of the original map survives and is held at the Topkapi Museum in Istanbul. The map synthesizes information from twenty maps, including one drawn by Christopher Columbus of the New World (1513 M)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Penulis merupakan Jaro Puhu (Ketua Umum) pada Yayasan Buana Varman Semesta (BVS). Adapun Yayasan Buana Varman Semesta (BVS) itu sendiri memiliki ruang lingkup perhatian yang diwujudkan dalam Tiga Pilar Utama, yakni Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Pelatihan (Department of Education, Teaching, and Training) dengan unit kerja unggulannya bernama The Varman Institute – Pusat Kajian Sunda. Kedua Bidang Ekonomi dan Perdagangan (Department of Economy and Commerce) dengan unit kerja unggulannya bernama House of Varman – Pusat Perdagangan Sunda. Dan ketiga Bidang Lingkungan dan Konservasi (Department of Environment and Conservation) dengan unit kerja unggulannya bernama Bujangga Manik Geotrek – Pusat Penjelajahan Sunda.

Pada saat ini penulis tinggal di Perumahan Pangauban Silih Asih Blok R No. 37 Desa Pangauban Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat).

"Menulis untuk ilmu dan kebahagiaan. Menerbangkan doa dan harapan atas hadirnya kejayaan umat Islam dan bangsa Indonesia".