Oleh, Gelar Taufiq Kusumawardhana/H.O.V./V.I.

Arsiparis, Karguna Purnama Harya/H.O.V./V.I. (Widang Atikan)

(III) Konstruksi Legenda Sangkuriang Dalam Narasi Hidayat Suryalaga (2004 M)

Di dalam Filsafat Jalanan, sering kali kita disuguhkan dengan pendapat yang terkesan sangat bijaksana yang kurang-lebih mengatakan bahwa: Di dalam menjalani hidup, janganlah kita mementingkan cangkangnya; melainkan pentingkanlah isinya. Sepintas, penyataan tersebut terlihat baik. Namun demikian, dalam tataran penerapan praktisnya bisa saja pendapat tersebut dapat membawa pada tahap kekeliruan.

Di dalam struktur keilmuan, cangkang, atau tubuh tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan isi, atau jiwanya. Cangkang atau tubuh itu di dalam konsep keilmuan akan sejajar dengan aspek formal. Sementara isi atau jiwa di dalam konsep keilmuan akan sejajar dengan konsep material. Formal adalah bentuk, dan material adalah isi. Aspek formal berkaitan dengan bahasa, tapi aspek material berkaitan dengan gagasan.

Di dalam hukum berpikir, tidak serta-merta sebuah gagasan akan diterima begitu saja. Isi pikiran perlulah diselidiki kebenarannya. Demikian juga dengan struktur bahasa, perlu juga diselidiki kebenarannya. Kebenaran suatu pernyataan akan sangat bergantung pada konstruksi bahasa dan juga konstruksi penalaran yang berada dibelakangnya.

Lebih jauh dari itu, langkah yang perlu untuk pertamakalinya dilakukan adalah bukan memvalidasi isinya atau aspek materialnya, melainkan memvalidasi cangkangnya atau aspek formalnya. Aspek cangkang atau aspek formal ini, akan berkaitan dengan asal-usul atau garis silsilah atau sanad keilmuan dimana infromasi itu kemudian tiba.

Aspek formal tersebut dengan kata lain adalah kritik atau penyelidikan sumber, sementara aspek material tersebut dengan kata lain adalah penyelidikan nalar atau konteks pernyataannya. Sehingga jauh sebelum memasuki tahap penafsiran atau penggunaan suatu pernyataan, yang bisanya berupa penggunaan aspek Hermenetika atau Simbologi; tahap yang krusial untuk pertamakalinya diselidiki adalah aspek Bahasa atau Linguistik atau Semantik dan kemudian aspek Penalaran atau Logika atau Mantiknya.

Dengan demikian kita dapat melihat, bahwa Tafsir berdiri diatas Pernyataan. Sementara Pernyataan berdiri diatas Sumber. Tafsir akan runtuh ketika dibangun diatas Pernyataan yang keliru. Dan demikian juga Pernyataan akan runtuh ketika dibangun diatas Sumber yang tidak terpercaya. Dimana bisa saja struktur keyakinan yang ada bisa tiba-tiba ambruk seketika karena berdiri diatas suatu fondasi kebenaran yang rapuh atau tidak kokoh.

Penafsiran Legenda Sang Kuriang, tentu saja dibangun diatas Narasi Legenda Sang Kuriang. Dan Narasi Legenda Sang Kuriang berdiri diatas Nara Sumber atau Periwayat yang menyatakan suatu pemberitaan. Demikianlah, bahwa serial tulisan ini tengah dibuat dalam rangka menyelidiki struktur paling dasarnya, bukan struktur permukaannya. Yakni menyelidiki bagaimana kontinuitas Narasi Legenda Sang Kuriang Dari Masa Ke Masa terjadi melalui transmisi-transmisi yang memberikan pernyataannya di setiap zaman.

Apakah Narasi Legenda Sang Kuriang yang diceritakan pada suatu kurun dan oleh seorang Nara Sumber akan bersifat sama dengan Suatu Kurun dan Nara Sumber yang lainnya. Karena bukan hal yang sederhana, Konstruksi Legenda Sang Kuriang; bukan saja dimaknai sebagai Legenda atau Mitos an sich, melainkan dijadikan aspek Derivatif (Dideduksikan) menjadi pegangan dalam ranah Filsafat dan Falasifah yang berkembang dalam struktur pengetahuan dan keyakinan masyarakat Sunda.

Isi tanpa Cangkang akan rusak. Jiwa tanpa Raga akan sirna. Dan aspek pemanfaatan Isi yang tidak sempurna akan menimbulkan dampak bagi kesehatan. Jadi dengan demikian, aspek Penalaran, aspek Material, dan aspek Formal semuanya terintegrasi sebagai suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dan secara hirarki, bagian dasar akan menjadi bagian yang paling penting dari bagian tengah dan atasnya. Bagian akar akan menjadi bagian paling penting yang menopang dari bagian pokok pohon dan bunga dan buahnya.

Setelah sebelumnya mengkaji Narasi Sang Kuriang di dalam Naskah Bujangga Manik (transisi abad ke-15 M/16 M). Pada gilirannya kita akan mulai mendaki, secara induktif menelusuri narasi-narasi yang ada dari periode kontemporer menuju periode yang lebih arkaik. Untuk mewakili narasi atau Konstruksi Legenda Sang Kuriang kontemporer ini, kita akan memulainya dari karya makalah Hidayat Suryalaga PERAN SANGKURIANG DAN DANGHYANG SUMBI DALAM LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU, Suatu Kajian Hermeneutika Terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu Dengan Segala Aspeknya (2004).

Beberapa sumber yang telah diketahui oleh Hudayat Suryalaga sebagaimana yang diutarakannya adalah:

Dalam Bentuk Cerita:
Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte (tanpa menyebutkan tahun); Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946; dan Babad Sangkuriang dalam Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983.

Dalam Bentuk Gending Karesmen (Opera):
Sangkuriang Larung, Hidayat Suryalaga, 1973.

Dalam Bentuk Sajak:
Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955; Sang Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992; Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962; Sang Kuriang, Beni Setia, 1972; Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989; dan Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992.

Dalam Bentuk Skripsi:
Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi, Fakultas Sastra Unpad, 1994.

Menanggapi daftar referensi di atas (dengan asumsi dasar adanya keajegan pola dasar atau benang merah narasi yang ada disepanjang masa), Hidayat Suryalaga berkata bahwa:

“Semua karya sastra di atas tidaklah sama dalam mengartikan dan memaknai legenda Tangkubanparahu atau tokoh pemerannya. Tergantung kepada konsep hermeunetika yang diacu oleh penulisnya. Walau demikian alur ceritanya tidak banyak berubah.”

Namun demikian, kekeliruan dan koreksi adalah dua hal yang wajar dalam proses kerja keilmuan. Ilmu adalah kendaraan orang biasa, dan untuk orang-orang biasa. Tidak ada keistimewaan-keistimewaan atau keajaiban-keajaiban dalam memperoleh struktur pengetahuan yang ada. Ilmu akan berjalan dengan caranya yang lambat dan hati-hati, namun demikian akan mengantarkan seseorang untuk tiba kepada tempat tujuan dengan caranya yang lebih pasti.

Sebelum memasuki pada kutipan Konstruksi Sang Kuriang Dalam Narasi Hidayat Suryalaga, mari kita kutipkan yang menunjukkan sikap terbuka, rendah hati, dan kesantunan dalam cara kerja keilmuan sebagaimana yang dinyatakan oleh Hidayat Suryalaga itu sendiri pada akhir makalahnya.

“Seperti ditulis pada awal wacana, Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan tentang sesuatu agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik manfaatnya. Oleh karena itu sangat bersifat subyektif dan inklusif, serta tetap terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi. Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam membentuk masyarakat yang bermartabat”.

Konstruksi Legenda Sang Kuriang Dalam Narasi Hidayat Suryalaga

“Secara singkat alur ceritanya sebagai berikut:

‘Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja kencing dan tertampung dalam tempurung kelapa. Seekor babi hutan betina bernama WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air kencing tadi. Wayungyang hamil, melahirkan seorang bayi cantik.

Bayi cantik itu dibawa ke keraton ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias RARASATI. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG.

Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.

Ketika berburu di hutan Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk memburu babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang dipukul dengan senduk sehingga luka. Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia.

Setelah sekian lama menuju ke arah Timur akhirnya sampailah di arah Barat lagi dan tanpa sadar telah sampai di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya.

Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuat PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang menyanggupinya. Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL, rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi gunung BURANGRANG Ketika bendungan hampir selesai, Dayang Sumbi memohon kepada Hyang Maha Gaib agar maksud Sangkuriang tidak terwujud.

Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), sehingga ketika itu pula fajar pun terbit. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG.

Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU. Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (NGAHIYANG).'”

Arsiparis, Karguna Purnama Harya/H.O.V./V.I. (Widang Atikan)

(III) Konstruksi Legenda Sangkuriang Dalam Narasi Hidayat Suryalaga (2004 M)

Di dalam Filsafat Jalanan, sering kali kita disuguhkan dengan pendapat yang terkesan sangat bijaksana yang kurang-lebih mengatakan bahwa: Di dalam menjalani hidup, janganlah kita mementingkan cangkangnya; melainkan pentingkanlah isinya. Sepintas, penyataan tersebut terlihat baik. Namun demikian, dalam tataran penerapan praktisnya bisa saja pendapat tersebut dapat membawa pada tahap kekeliruan.

Di dalam struktur keilmuan, cangkang, atau tubuh tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan isi, atau jiwanya. Cangkang atau tubuh itu di dalam konsep keilmuan akan sejajar dengan aspek formal. Sementara isi atau jiwa di dalam konsep keilmuan akan sejajar dengan konsep material. Formal adalah bentuk, dan material adalah isi. Aspek formal berkaitan dengan bahasa, tapi aspek material berkaitan dengan gagasan.

Di dalam hukum berpikir, tidak serta-merta sebuah gagasan akan diterima begitu saja. Isi pikiran perlulah diselidiki kebenarannya. Demikian juga dengan struktur bahasa, perlu juga diselidiki kebenarannya. Kebenaran suatu pernyataan akan sangat bergantung pada konstruksi bahasa dan juga konstruksi penalaran yang berada dibelakangnya.

Lebih jauh dari itu, langkah yang perlu untuk pertamakalinya dilakukan adalah bukan memvalidasi isinya atau aspek materialnya, melainkan memvalidasi cangkangnya atau aspek formalnya. Aspek cangkang atau aspek formal ini, akan berkaitan dengan asal-usul atau garis silsilah atau sanad keilmuan dimana infromasi itu kemudian tiba.

Aspek formal tersebut dengan kata lain adalah kritik atau penyelidikan sumber, sementara aspek material tersebut dengan kata lain adalah penyelidikan nalar atau konteks pernyataannya. Sehingga jauh sebelum memasuki tahap penafsiran atau penggunaan suatu pernyataan, yang bisanya berupa penggunaan aspek Hermenetika atau Simbologi; tahap yang krusial untuk pertamakalinya diselidiki adalah aspek Bahasa atau Linguistik atau Semantik dan kemudian aspek Penalaran atau Logika atau Mantiknya.

Dengan demikian kita dapat melihat, bahwa Tafsir berdiri diatas Pernyataan. Sementara Pernyataan berdiri diatas Sumber. Tafsir akan runtuh ketika dibangun diatas Pernyataan yang keliru. Dan demikian juga Pernyataan akan runtuh ketika dibangun diatas Sumber yang tidak terpercaya. Dimana bisa saja struktur keyakinan yang ada bisa tiba-tiba ambruk seketika karena berdiri diatas suatu fondasi kebenaran yang rapuh atau tidak kokoh.

Penafsiran Legenda Sang Kuriang, tentu saja dibangun diatas Narasi Legenda Sang Kuriang. Dan Narasi Legenda Sang Kuriang berdiri diatas Nara Sumber atau Periwayat yang menyatakan suatu pemberitaan. Demikianlah, bahwa serial tulisan ini tengah dibuat dalam rangka menyelidiki struktur paling dasarnya, bukan struktur permukaannya. Yakni menyelidiki bagaimana kontinuitas Narasi Legenda Sang Kuriang Dari Masa Ke Masa terjadi melalui transmisi-transmisi yang memberikan pernyataannya di setiap zaman.

Apakah Narasi Legenda Sang Kuriang yang diceritakan pada suatu kurun dan oleh seorang Nara Sumber akan bersifat sama dengan Suatu Kurun dan Nara Sumber yang lainnya. Karena bukan hal yang sederhana, Konstruksi Legenda Sang Kuriang; bukan saja dimaknai sebagai Legenda atau Mitos an sich, melainkan dijadikan aspek Derivatif (Dideduksikan) menjadi pegangan dalam ranah Filsafat dan Falasifah yang berkembang dalam struktur pengetahuan dan keyakinan masyarakat Sunda.

Isi tanpa Cangkang akan rusak. Jiwa tanpa Raga akan sirna. Dan aspek pemanfaatan Isi yang tidak sempurna akan menimbulkan dampak bagi kesehatan. Jadi dengan demikian, aspek Penalaran, aspek Material, dan aspek Formal semuanya terintegrasi sebagai suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dan secara hirarki, bagian dasar akan menjadi bagian yang paling penting dari bagian tengah dan atasnya. Bagian akar akan menjadi bagian paling penting yang menopang dari bagian pokok pohon dan bunga dan buahnya.

Setelah sebelumnya mengkaji Narasi Sang Kuriang di dalam Naskah Bujangga Manik (transisi abad ke-15 M/16 M). Pada gilirannya kita akan mulai mendaki, secara induktif menelusuri narasi-narasi yang ada dari periode kontemporer menuju periode yang lebih arkaik. Untuk mewakili narasi atau Konstruksi Legenda Sang Kuriang kontemporer ini, kita akan memulainya dari karya makalah Hidayat Suryalaga PERAN SANGKURIANG DAN DANGHYANG SUMBI DALAM LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU, Suatu Kajian Hermeneutika Terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu Dengan Segala Aspeknya (2004).

Beberapa sumber yang telah diketahui oleh Hudayat Suryalaga sebagaimana yang diutarakannya adalah:

Dalam Bentuk Cerita:
Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte (tanpa menyebutkan tahun); Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946; dan Babad Sangkuriang dalam Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983.

Dalam Bentuk Gending Karesmen (Opera):
Sangkuriang Larung, Hidayat Suryalaga, 1973.

Dalam Bentuk Sajak:
Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955; Sang Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992; Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962; Sang Kuriang, Beni Setia, 1972; Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989; dan Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992.

Dalam Bentuk Skripsi:
Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi, Fakultas Sastra Unpad, 1994.

Menanggapi daftar referensi di atas (dengan asumsi dasar adanya keajegan pola dasar atau benang merah narasi yang ada disepanjang masa), Hidayat Suryalaga berkata bahwa:

“Semua karya sastra di atas tidaklah sama dalam mengartikan dan memaknai legenda Tangkubanparahu atau tokoh pemerannya. Tergantung kepada konsep hermeunetika yang diacu oleh penulisnya. Walau demikian alur ceritanya tidak banyak berubah.”

Namun demikian, kekeliruan dan koreksi adalah dua hal yang wajar dalam proses kerja keilmuan. Ilmu adalah kendaraan orang biasa, dan untuk orang-orang biasa. Tidak ada keistimewaan-keistimewaan atau keajaiban-keajaiban dalam memperoleh struktur pengetahuan yang ada. Ilmu akan berjalan dengan caranya yang lambat dan hati-hati, namun demikian akan mengantarkan seseorang untuk tiba kepada tempat tujuan dengan caranya yang lebih pasti.

Sebelum memasuki pada kutipan Konstruksi Sang Kuriang Dalam Narasi Hidayat Suryalaga, mari kita kutipkan yang menunjukkan sikap terbuka, rendah hati, dan kesantunan dalam cara kerja keilmuan sebagaimana yang dinyatakan oleh Hidayat Suryalaga itu sendiri pada akhir makalahnya.

“Seperti ditulis pada awal wacana, Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan tentang sesuatu agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik manfaatnya. Oleh karena itu sangat bersifat subyektif dan inklusif, serta tetap terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi. Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam membentuk masyarakat yang bermartabat”.

Konstruksi Legenda Sang Kuriang Dalam Narasi Hidayat Suryalaga

“Secara singkat alur ceritanya sebagai berikut:

‘Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja kencing dan tertampung dalam tempurung kelapa. Seekor babi hutan betina bernama WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air kencing tadi. Wayungyang hamil, melahirkan seorang bayi cantik.

Bayi cantik itu dibawa ke keraton ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias RARASATI. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG.

Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.

Ketika berburu di hutan Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk memburu babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang dipukul dengan senduk sehingga luka. Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia.

Setelah sekian lama menuju ke arah Timur akhirnya sampailah di arah Barat lagi dan tanpa sadar telah sampai di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya.

Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuat PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang menyanggupinya. Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL, rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi gunung BURANGRANG Ketika bendungan hampir selesai, Dayang Sumbi memohon kepada Hyang Maha Gaib agar maksud Sangkuriang tidak terwujud.

Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), sehingga ketika itu pula fajar pun terbit. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG.

Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU. Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (NGAHIYANG).'”

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)