By, Titled Taufiq Kusumawardhana / HOV / VI

Arsiparis, Karguna Purnama Harya/H.O.V./V.I.

(IV) Konstruksi Legenda Sangkuriang Dalam Narasi Film (2015 M dan 1982 M)

Pada kesempatan kali ini, narasi yang akan digunakan akan diwakili oleh sinopsis film. Adapun film yang berhubungan dengan Legenda Sangkuriang akan diambil 3 buah. Pertama, SANGKURIANG: Legenda Tangkuban Perahu (2015 M). Kedua, Sebuah Legenda Rakyat Jawa Barat TANGKUBAN PERAHU (1982 M). Dan ketiga, SANGKURIANG (1982 M).

Untuk film yang pertama tidak begitu melahirkan dampak dan apresiasi yang besar. Namun demikian, terutama 2 film Legenda Sangkuriang terakhir yang dibuat pada tahun 1982 M, membuat andil besar dalam menyebarluaskan konstruksi mapan kisah yang ada meskipun jika teliti di antara kedua sinopsis tersebut tetap masih memiliki detail yang berbeda.

Sumber pembuatan naskah film atau story board yang ada adalah Komik R.A Kosasih tahun 1961 M (untuk film Sangkuriang) dan Komik Anris tahun 1971 M (untuk film Tangkuban Perahu). Sementara untuk narasi atau story film yang pertama tidak begitu jelas darimana sumber pengambilan datanya.

Mayoritas akademisi dan pemerhati budaya memaknai Legenda Sangkuriang secara umum sangat arif, sangat bijaksana, penuh muatan filsafat dan didaktik yang mendalam dan tinggi.

Tapi jika diperhatikan lebih berjarak, tenang, dan objektif sepertinya perlu ditimbang ulang. Jika itu dimaknai sebagai legenda, mitos, atau film yang fiksi mungkin tidak jadi persoalan mendasar. Tapi membawa paradok, ironi, dan beberapa kekacauan dengan sikap yang sangat permisif sepertinya perlu ditinjau ulang.

Kecuali memang pada faktanya, narasi demikian lahir dari objektifitas dan nilai faktual dasar mentalitas masyarakat Sunda masa silam. Karena fakta masa silam dengan beberapa peraturan hidupnya tidak bisa dinilai dan ditinjau dalam perapektif moral dan yurisprudensi baru.

Pertama, untuk film SANGKURIANG: Legenda Tangkuban Perahu (2015).

Film tersebut dibuat pada tahun 2015 oleh Genta Buana Paramita, dikarang oleh Messiah Fajarwati, disutradarai Petrus Haryadi, dengan pemerannya antara lain Guntara Hidayat, Marissa Christina, Claudia Inda Lamanna, Tio Duarte, Helsi Herlinda, Claudio Lumempouw, Alex Bernard, dan Sadeli.

Sinopsis:

“Cerita dimulai dengan kutukan yang diucapkan Prabu Jaya Wisesa yang buruk rupa kepada putri Prabu Sungging Perbangkara bernama Dayang Sumbi. Setelah lamaran ditolak, ia mengutuk Dayang Sumbi tidak akan pernah menikah kecuali dengan orang yang lebih buruk darinya. Akhirnya Dayang Sumbi harus menyucikan diri di hutan atas nasihat Nyi Lungsur. Ternyata dibalik itu Nyi Lungsur ingin menguasi kerajaan dan membunuh Dayang Sumbi. Saat ular kiriman Nyi Lungsur akan membunuhnya, Dayang Sumbi di tolong seekor anjing besar yang kemudian ia panggil si Tumang. Suatu hari Dayang Sumbi asyik menenun dan gulungan benangnya jatuh dan berguling keluar pondok. Karena tak ada yang mengambilnya ia bersumpah bagi yang mengembalikan gulungannya bila perempuan akan jadi saudara dan bila laki-laki akan dijadikan suami. Ternyata Tumang yang mengambilnya. Tumang ternyata jelmaan Pangeran tampan. Dayang Sumbi akhirnya setuju menikah hingga mengandung. Prabu Sungging Perbangkara yang mengetahui hal ini marah karena kutukan itu benar terjadi. Terjadilah perkelahian antara Tumang dengan Nyi Lungsur yang kemudian membuat Tumang tidak lagi bisa berubah ke wujud manusia. Beberapa tahun kemudian anak Dayang Sumbi lahir. Tumang masih setia menemani. Suatu hari saat Dayang Sumbi ingin hati hewan buruan, Jaka Sona menyanggupi. Namun karena kecelakaan, panah malah menghunus Tumang. Jaka Sona malah membawa hati Tumang ke Dayang Sumbi. Karena marahnya, Dayang Sumbi melempar benda ke kepala Jaka Sona hingga terluka dan Jaka Sona pergi. Jaka Sona lari hilang arah dan diselamatkan oleh Mpu Purwa dan kemudian diberi nama Sangkuriang.” (Keterangan untuk siaran Teater Legenda Indonesia pada hari Minggu, 22 Maret 2015, pukul 19.00 WIB di TRANS7)

Kedua, untuk Sebuah Legenda Rakyat Jawa Barat TANGKUBAN PERAHU (1982 M).

Film tersebut dibuat pada tahun 1982 M oleh PT Inem Film, dikarang oleh Anris dan Pitrajaya Burnama, disutradarai Lilik Sudjito, dengan pemerannya antara lain Teddy Purba, Marissa Haque, Alan Nuari, WD Mochtar, dan Pitrajaya Burnama.

Sinopsis:

“Dayang Sumbi termakan sumpahnya sendiri: ia harus menerima Si Tumang, seekor anjing yang ternyata penjelmaan Dewa, menjadi suaminya. Beberapa tahun kemudian lahirlah bayi lelaki dan diberi nama Sangkuriang. Ke manapun bocah Sangkuriang ini pergi selalu diikuti oleh Si Tumang. Suatu ketika, Dayang Sumbi ingin sekali memakan daging menjangan. Pergilah Sangkuriang bersama Si Tumang berburu ke hutan atas perintah Dayang Sumbi. Nasib Sangkuriang tidak beruntung, tak seekorpun binatang didapatnya. Karena kesal terhadap si Tumang, maka anjing itu ditakut-takuti dengan panah dan terbunuh karenanya. Dayang Sumbi sangat marah mengetahui Si Tumang mati akibat Sangkuriang. Maka Sangkuriang lalu pergi meninggalkan ibunya untuk mengembara, sementara ibunya dengan petunjuk arwah suaminya, tetap awet muda.

Beberapa tahun kemudian Sangkuriang bertemu kembali dengan Dayang Sumbi yang tetap muda dan cantik. Mereka saling jatuh cinta. Tetapi Dayang Sumbi kemudian mengetahui bahwa pemuda itu tak lain adalah anak kandungnya. Maka kemudian Dayang Sumbi mencari akal, agar Sangkuriang membuat karya antara lain membuat perahu. Sangkuriang tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya. Sangkuriang pun marah dan perahu ditendangnya hingga terbalik, yang kelak menjadi gunung Tangkuban Perahu.”

Dan ketiga, untuk SANGKURIANG (1982 M).

Film tersebut dibuat pada tahun 1982 M oleh PT Neat Film, dikarang oleh I. Sukardjasman dan R.A Kosasih, disutradarai Sisworo Gautama, dengan pemerannya antara lain Suzanna, Clift Sangra, Ratno Timoer, Ryan Hidayat, S. Parya, HIM Damsjik, Syamsuddin Syafei, Ade Irawan, Baun Gazali, dan Atut Agustinanto.

Sinopsis:

“Karena malas mengambil teropong benangnya yang jatuh, Dayang Sumbi mengucap: kalau ada yang membantu mengambilkan teropong, maka akan dijadikan suami. Ternyata Lengser, pegawai kerajaan, yang mengambilkan. Maka ayah Sumbi, Raja Prabangkara, yang playboy, marah ketika mendengar Sumbi hamil. Lengser jadi anjing ketika diumpat raja, Sumbi diusir ke hutan. Lahirlah Jaka Sona, yang selalu ditemani Tumang, anjing, ayahnya yang tak dikenalinya. Ketika Sumbi minta hati menjangan, Jaka mencarikan. Karena kesal tak dapat menjangan, ia takut-takuti Tumang. Panah melesat, Tumang tewas dan kembali jadi manusia. Ia paksa hatinya diambil Sangkuriang dan diserahkan pada Sumbi. Ketika tahu Tumang tewas, Sumbi marah dan mengusir Jaka, yang lalu bernaung di sebuah gua.

Di sinilah ia mendengar suara gaib, bertapa sembilan tahun, mendapat kesaktian dan berubah jadi Sangkuriang. Ia lalu turun gunung membantu rakyat yang ditindas Prabangkara yang sebenarnya kakeknya sendiri. Ibunya hanya ditemui kuburannya dan Sangkuriang harus berhadapan dengan raja dan para prajuritnya. Waktu menghindar dari kejaran para prajurit, ia bertemu dengan wanita yang mengaku bernama Larasati, yang mirip Sumbi. Mereka saling jatuh cinta, tapi lalu Larasati alias Sumbi yang menyamar untuk menghindar dari pencarian ayahnya, mengenali Sangkuriang itu anaknya dari bekas luka di kepalanya. Dikatakanlah siapa dirinya sebenarnya, tapi Sangkuriang tak mau tahu, karena Sumbi tak mau mengatakan siapa ayahnya ketika didesak. Maka ketika Sangkuriang tetap mendesak untuk kawin, Sumbi memberi syarat: membendung Citarum, membuat danau, membangun perahu. Syarat dipenuhi, bahkan sambil berduel dengan Prabangkara di tengah usahanya itu. Prabangkara tewas. Usaha penyadaran Sumbi tetap tak berhasil. Sangkuriang tetap ngotot mengajak kawin. Ketika Sumbi hendak dicium, tiba-tiba berubah jadi bunga. Sangkuriang menyesal. Perahu yang sudah jadi ditendang dan jadi gunung Tangkuban Perahu.”

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)