Ada dua prodak yang dihasilkan dari bahan Singkong, atau Ketela Pohon, atau Ubi Kayu (Melayu), atau Sampeu, atau Dangdeur (Sunda) yang perlu diketahui perbedaannya sebagai suatu pengetahuan sederhana.

Pertama, adalah Tapioka yang dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan nama Tapioca, atau Tapioca Flour (Tepung Tapioka), atau Tapioca Starch (Saripati Tapioka), atau terkadang dengan kata Starch (Saripati) saja.

Tapioca sendiri dalam bahasa Inggris diambil dari bahasa Portugis yang pada gilirannya dari rumpun bahasa Tupi-Guarani, masyarakat pribumi di kawasan Utara Brazilia ketika Portugis tiba pada tahun 1500 M. Dalam bahasa setempat Tapioca diucapkan dengan kata Tipioka (Tipi + Oka) yang artinya Saripati yang Keluar; yang dimaksudkannya keluar dari Cassava atau Singkong tersebut.

Starch atau Saripati atau Tipi dalam bahasa Tupi-Guarani pada akhirnya memang serupa dengan tepung, atau menjadi tepung; namun demikian pada prinsipnya dia adalah saripati, atau pati, atau kanji, atau aci (Sunda) yang dihasilkan dari Singkong. Sehingga saripati Singkong tersebut tetap dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Tapioca Flour yang dalam bahasa Melayu disebut Tepung Kanji, sementara dalam bahasa Sunda disebut Tipung Aci. Tepung Tapioka tersebut cenderung menyerupai Teping Sagu.

Kedua, Tepung Singkong, yang dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan Cassava Flour (Tepung Singkong), atau tekadang dengan istilah bahasa Inggris lainnya sebagai Cassava Powder (Tepung Singkong).

Jika Tapioca Flour, berupa saripati atau esensi yang dihasilkan dengan cara memeras parutan Singkong yang dicampur air dimana air kemudian dibuang dan sedimentasi atau endapannya kemudian diambil sebagai hasil akhir.

Sementara Cassava Flour berupa daging atau substansi yang dihasilkan dengan cara mengeringkan kandungan air dari Singkong tersebut untuk kemudian ditepungkan. Sehingga di dalam format Cassava Flour masih terkandung baik saripatinya (esensi) maupun tepungnya (substansi).

Proses pembuatan Cassava Flour tersebut bisa melalui proses pemarutan, pengeratan tipis-tipis, ataupun penggencetan (press) Singkong dengan suatu alat berat tertentu untuk menghilangkan kadar airnya. Pengeringan tahap akhir selain bisa menggunakan sinar matahari juga dapat dilakukan secara artifisial dengan bantuan mesin pemanas tertentu.

Dalam pembuatan Cassava Flour, ada yang melakukannya dengan cara; Pertama, secara alamiah tanpa melalui proses perendaman dan fermentasi untuk mengubah komposisi kimiawinya. Dan kedua, ada juga yang melamukan usaha perubahan komposisi kimiawinya dengan cara perendaman dan fermentasi tersebut, termasuk dengan menambahkan suatu enzim organik tertentu.

Model rekayasa baik dengan cara perendaman alamiah maupun bantuan enzim organik tertentu maka hasil akhir prodaknya kontemporer ini biasa disebut dengan nama MOCAF, yakni suatu singkatan dari Modified Cassava Flour yang artinya Tepung Singkong Rekayasa.

Jika pembuatan tepung singkong tersebut tanpa usaha untuk merekayasa aspek kimiawinya, atau dengan kata lain hanya bergerak pada prinsip dasar kerja alamiah pengolahannya, maka logika dasarnya akan disebut saja dengan nama Cassava Flour, yang pada prinsipnya bersifat without Modified Cassava Flour (Mocaf) technique; yakni bukan Mocaf atau tanpa menggunakan teknik Mocaf.

Untuk padanan dalam bahasa Indonesia, Cassava Flour bisa digunakan kata Tepung Singkong. Sementara dalam bahasa Sunda bisa digunakan kata Tipung Sampeu ataupun Tipung Gaplek, karena basis teknik tradisional yang digunakannya adalah transit melalui teknik dan proses Gaplek yang berarti Singkong Kering atau teknik pengeringan Singkong.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Penulis merupakan ketua Yayasan Buana Varman Semesta (BVS). Adapun Yayasan Buana Varman Semesta (BVS) itu sendiri, memiliki ruang lingkup perhatian yang diwujudkan dalam tiga bidang, yakni: (1) pendidikan (Department of Education) dengan unit kerja utamanya yang diberi nama The Varman Institute – Pusat Kajian Sunda (2) Ekonomi (Department of Economy) dan (3) Geografi (Department of Geography) dengan unit kerja utamanya yang diberi nama PATARUMAN – Indigo Experimental Station.

Pada saat ini penulis tinggal di Perumahan Pangauban Silih Asih Blok R No. 37 Desa Pangauban Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat (merangkap sebagai kantor BVS).

"Menulis untuk ilmu dan kebahagiaan,

menerbangkan doa dan harapan,

atas hadirnya kejayaan umat Islam dan bangsa Indonesia".