Asoka Kandahar

Pakar menyebutnya Kandahar Bilingual Rock Inscription (Prasasti Batu Kandahar Dua Bahasa) atau Kandahar Edict of Ashoka (Maklumat Kandahar oleh Ashoka) atau Chehel Zina Edict (Maklumat Chehel Zina) yang dibuat oleh Maharaja Ashoka atau Ashokawardhana pada sekitar tahun 260 SM (Sebelum al Masih), yakni sekitar 10 tahun setelah kenaikannya sebagai Maharaja di Kerajaan Jambhudwipa atau Phrathiwi.

Kemudian hari kerajaan Jambhudwipa atau Phrathiwi ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan Maurya yang didasarkan atas berita yang lebih muda, yakni Junagadh Rock Inscription of Rudradaman (Prasasti Batu Junagadh oleh Rudradaman) sekitar abad ke 2 M (setelah al Masih) yang menggunakan prefixes Maurya pada nama Chandragupta dan Ashoka, beberapa Purana sekitar abad ke-4 M yang menggunakan Maurya sebagai nama wangsa/bangsa (dynasty), teks-teks Budha yang menggunakan kata Moriya sebagai nama Marga (Clan) dari Wangsa Shakya kepada Chandragupta dan Ashoka, teks-teks Jaina yang menisbatkan Ashoka sebagai putra Mayura-poshaka (peternak/penjinak Merak), dan Tamil Sanggam yang mengulas adanya wangsa Moriyar setelah adanya wangsa Nanda.

Prasasti-prasasti Ashoka (Edicts of Ashoka) sendiri yang seluruhnya ada 30 buah (pada tiang, batu, dan dinding goa) yang tersebar luas dari Assam dan Banglades di Timur hingga Afghanistan dan Pakistan di Barat, juga Nepal di Utara dan India modern di Selatan tidak menggunakan nama Maurya. Demikian juga dengan keterangan sekunder naskah Indika yang dibuat oleh Megasthenes, sebagai literatur paling tua Yawana (Yunani) setelah masa Ashoka belum menggunakan kata Maurya.

Keseluruhan Edicts of Ashoka (Maklumat oleh Ashoka) tersebut oleh pakar dibagi ke dalam empat buah kelompok. Pertama, Minor Rock Edicts (Maklumat-maklumat Batu Kecil) dalam bahasa Prakrit, Yunani, dan Aram. Minor Pillar Edicts (Maklumat-maklumat Tiang Kecil) dalam bahasa Prakrit, Mayor Rock Edicts (Maklumat-maklumat Batu Besar) dalam bahasa Prakrit dan Yunani, dan Mayor Pillar Edicts (Maklumat-maklumat Tiang Besar) dalam bahasa Prakrit.

Bahasa Yunani (Greek Language) ditulis dengan menggunakan Aksara Yunani (Greek Script), Bahasa Aram (Aramaic Language) ditulis dalam Aksara Ibrani Tua (Paleo-Hebrew Script) dengan gaya Aksara Aram (Aramaic Script), dan Bahasa Prakrit (Prakrit Language) ditulis dalam Aksara Kharoshthi (Kharoshthi Script) yang biasa dikenal juga dengan nama Aksara Arya-Pali (Arian-Pali Script) dan juga dalam Aksara Brahmi (Brahmi Script).

Induk Aksara Yunani adalah Aksara Funisia (Phoenician Script). Induk Aksara Ibrani Tua adalah Aksara Funisia. Demikian juga dengan induk Aksara Aram adalah Aksara Funisia. Sementara itu, induk Aksara Kharoshthi yang cenderung digunakan di wilayah Utara Jambhudwipa adalah Aksara Aram. Dan demikian juga dengan induk dari Aksara Brahmi yang cenderung digunakan di wilayah Selatan Jambhudwipa adalah Aksara Aram.

Suatu hal yang menarik, pasangan Bahasa Yunani adalah Aksara Yunani, pasangan Bahasa Aram adalah Aksara Ibrani Tua (bukan Aksara Ibrani atau Ibrani Muda/Hebrew Script), dan pasangan Bahasa Prakrit adalah Aksara Kharosthi dan Brahmi yang pada dasarnya dikembangkan dari Aksara Aram itu sendiri.

Pengaruh Bahasa Yunani dan Aksara Yunani di Jambhudwipa tentu berhubungan dengan pengaruh yang ditinggalkan dari masa ekspansi Kaisar Alexander dari Makedonia yang berdasarkan budaya dan peradaban Yunani yang kemudian dilanjutkan oleh Kegubernuran Seuleukeus dan Kerajaan Indo-Greek Bactria. Sementara Bahasa Aram dan Aksara Ibrani dan Aksara Aram yang berevolusi menjadi Aksara Kharoshthi dan Brahmi dipengaruhi oleh kebudayaan dan peradaban yang sempat dikembangkan oleh Persia lewat wangsa Achaemenid lewat Kaisar Khurushastha (Latin: Cyrus) yang meneruskan tradisi Asyuria Baru dan Babilonia Baru yang sama-sama mengusung Bahasa Aram sebagai Official Language dan Lingua Franca (Bahasa Resmi dan Bahasa Perdagangan) sebelum ditaklukkan oleh Alexander. Aksara Aram (800-600 SM) adalah Aksara yang kemudian menggeser Aksara Ibrani Tua (1000-135 SM) yang pada prinsipnya bisa dikatakan juga Aksara Aram Tua yang digunakan sejak masa Kerajaan Israil Kuno (Israil, Israil dan Samaria).

Satu hal yang cukup paradoks adalah, bahwa Bahasa Sangsekerta (Sanskrit Language) yang dianggap induk dan paling tua pada dasarnya secara teknis belum muncul secara tekstual pada masa Ashoka di Jambhudwipa atau di anak Benua India Kuno (Bharata) ini. Bahasa Sanskrit baru muncul secara teknis pada sekitar abad ke-1 SM hingga abad ke-5 M oleh konfederasi wangsa Saka (Indo-Scythia) di Northern Satrap (Ksatrap Utara) dan Westren Satrap (Ksatrap Barat).

Wangsa Saka inilah yang selain mempromotori penggunaan Bahasa Sanskrit (masih dalam Aksara Brahmi dan belum menggunakan Aksara Palawa/Pallava Script) juga mempromotori penggunaan tarikh waktu dengan Kalender Saka pada koin-koin emas dan perak dan inskripsi-inskripsi batu yang dibuatnya. Sebelum menggunakan Bahasa Sanskrit dan Aksara Brahmi, wangsa Saka secara bertahap melalui transisinya lewat penggunaan Bahasa Yunani dan Aksara Yunani, Bahasa Prakrit dan Aksara Karosti dan Aksara Brahmi. Terkadang menggunakan Aksara Psedo Yunani untuk memulis Bahasa Prakrit.

Jika Ashoka pada masa Jambhudwipa mempromotori penggunaan Bahasa Prakrit dengan Aksara Kharoshti dan Aksara Brahmi. Maka Satrap Utara misalnya Sodasa dan Satrap Barat misalnya Castana mempromotori penggunaan Bahasa Sanskrit dan Aksara Kharoshthi dan Aksara Brahmi. Barulah pada masa yang kemudian, yakni yang dimotori oleh Kerajaan Palawa (Pallava Kingdom, 275-897 M) Bahasa Sanskrit dan Aksara Palawa (Pallava Script) mulai berpasangan secara masif. Induk bagi Aksara Palawa sendiri adalah Aksara Brahmi yang berkembang di wilayah Selatan India Kuno. Tarikh waktu yang umum oleh para ahli diajukan dalam masa kreatifitas pembuatan Aksara Palawa ini adalah sekitar abad ke-6 M hingga abad ke-9 M. Dikarenakan berkembang oleh Kerajaan Palawa maka Aksara tersebut dinamai Aksara Palawa. Masalahnya jika Inskripsi Kutai Martadipura sudah ditorehkan oleh Raja Mulawarman pada tengah abad ke-4 M dan inskripsi Tarumanagara sudah ditoreh Purnawaeman sejak tengah abad ke-5 M maka ini akan bersifat anakronis (ada problem pentarikhan). Apakah aksara Kutai dan Taruma menggunakan Aksara Brahmi dan Bahasa Sanskrit? Ataukah memang Aksara Palawa dan Bahasa Sanskrit yang konsekuensinya pentarikhan waktu cenderung terlalu tua dari yang seharusnya? Ada baiknya mengkonfrontasi data untuk sekedar lebih meyakinkan lagi presisinya.
***
Pada lampiran tulisan ini, ditampilkan salinan Bahasa Yunani dan Aksara Yunani dan Bahasa Aram dan Aksara Ibrani Tua untuk menambah wawasan kesejarahan kuno dari masa Maharaja Ashoka dari Jambhudwipa sebagai salah-satu bukti yang mengangkat wilayah India Kuno pada konstelasi sejarah dengan ditemukannya prasasti tersebut, abad ke-3 SM.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)