Dalam tradisi kerajaan Pajajaran (dibaca sebagai Kerajaan Sunda atau Kerajaan Sunda-Galuh bersatu), terdapat beberapa nama yang gelaran yang sama yang dikenal sebagai Pucuk Umun (terkadang diucapkan sebagai Pucuk Umum); antara lain:

1) Pucuk Umun Banten Girang (Sang Adipati Suranggana; putra Sri Baduga Maharaja dan Kentring Manik Mayang Sunda).

2) Pucuk Umun Banten Basisir (Sang Adipati Surasowan; putra Sri Baduga Maharaja dan Kentring Manik Mayang Sunda).

3) Pucuk Umun Talaga (Raden Ranggamantri; putra Munding Sari Ageung [Munding Laya Dikusumah] putra Sri Baduga Maharaja dan Ratu Istri Rajamantri. Raden Ranggamantri merupakan penguasa Kerajaan Maja yang kemudian menjadi penguasa Kerajaan Talaga juga setelah menikahi Ratu Parung [Ratu Dewi Sunyalarang] putri Sunan Parung penguasa Talaga).

4) Pucuk Umun Sumedanglarang (Ratu Setyasih isteri dari Pangeran Santri; putra Sunan Corendra putra Sunan Parung putra Prabu Kusumalaya Ajar Kutamangu putra Rakean Ningratkancana [Dewa Niskala] putra Niskala Wastu Kancana. Ajar Kutamangu dengan demikian saudara satu ayah dengan Sri Baduga Maharaja. Kekuasaan atas Talaga diperoleh Sunan Parung atas pernukahannya dengan Ratu Simbar Kancana putra Darmasuci II sebagai penguasa Talaga).

Kentring Manik Mayang Sunda dan Ratu Isteri Rajamantri adalah dua isteri utama Sri Baduga Maharaja. Sementara dua isteri utama lainnya yang dikenal dalam sejarah adalah Nyai Ambet Kasih dan Nyai Subang Larang.

Nyai Ambet Kasih adalah putra Ki Gedeng Sindangkasih putra dari Prabu Niskala Wastu Kancana putra dari Prabu Linggabuwana dari Kerajaan Surantaka yang berkuasa atas pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Sementara, Nyai Subanglarang adalah putri dari Ki Gedeng Tapa putra dari Ki Gedeng Kasmaya putra dari Prabu Bunisora Suradipati (adik dari Prabu Linggabuwana) dari Kerajaan Singapura yang berkuasa atas kawasan Cirebon Girang.

Dalam upaya membaca periode Pajajaran (termasuk periode yang sama yang terjadi di Majapahit), peminat sejarah sesunggugnya seakan tengah dihadapkan pada suatu simpang-siur yang banyak dan memusingkan.

Pada peruode tersebut tokoh-tokoh yang masih menggunakan anasir nama-nama Sanskrit yang telah semakin pudar dan tidak murni lagi (Sunda: peang) bertemu dengan tokoh-tokoh dari anasir nama-nama Arab yang bermunculan lebih baru.

Pada periode tersebut juga bermunculan bumbu-bumbu sejarah lisan yang terkadang cenderung mengedepankan kisah-kisah yang cenderung dibalut dengan suasana yang gelap, superstition (kelenik), atau hal-hal yang bersifat ganjil dan ajaib.

Pada periode tersebut telah muncul nama-nama Arab seperti salah-satunya adalah kedatangn Syekh Quro Karawan (Syekh Hasanuddin) yang pada tahap sebelumnya sudah sempat bermukim di Cirebon (kemudian kembali ke Campa karena usaha da’wahnya pada akhirnya masih ditolak penguasa), namun kemudian datang kembali dalam suatu rombongan muhibah yang dikomandoi oleh Laksamana Ma Cheng Ho (Haji Muhammad Syams) dimana keduanya sebenarnya memiliki garis silsilah Arab dari garis keturunan Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW, yang pertama dari garis Husain bin Ali dan yang kemudian dari garis Hasan bin Ali.

Kemudian tidak berselang dari periode tersebut, pelaut-pelaut Portugis dan kemudian pelaut-pelaut Spanyol, Belanda, dan Inggris mulai berdatangan juga ke Nusantara dalam upaya merintis penjelajahan dan penjajahan dalam perwajahan awal sebagai transaksi perdagangan.

Seandainya saja naskah-naskah akademik yang bersifat sekolahan bisa bertemu dengan naskah-naskah dari keluarga-keluarga yang masih memelihara garis silsilah yang bersifat privat dan tradisional mau bertemu, periode ini sesungguhnya tidak segelap atau seajaib yang dikira.

Dan lagi, jaraknya hanya merentang sebanyak 500 tahun saja dari periode hari ini. Artinya secara hitung-hitungan maka rentang kelahiran generasi yang dilahirkan adalah berjumlah antara 20-21 generasi saja (dengan asusmsi satu generasi berjarak sekitar makasimal 25 tahun kemudian menikah dan beranak-pinak); betapa dekatnya masa lalu ini.

Seandainya kelahiran istilah Pucuk Umun baru lahir secara oral tradisi ataupun filologi pada periode tersebut, maka ada suatu kemungkinan yang cukup masuk akal jika kata Umun pada kata Pucuk Umun yang terkadang diucapkan Umum merupakan bagian dari adanya penetrasi bahasa Arab secara perlahan pada struktur pemerintahan lama di Tatar Sunda.

Bukankah dalam bahasa Arab, Umum artinya hal-ihwal kepentingan yang bersifat Publik atau Common atau General. Dimana basis pengertiannya bergerak dari kata Ama yang berarti Paman atau adik laki-laki dari Ayah (Umum adalah jamak dari Am). Dalam terminologi Arab modern terdapat misalnya istilah Rais Am, yang dapat berarti Pemimpin Umum (misalnya Presiden atau Ketua suatu organisasi). Namun demikian jiga Umun bukan berakar dari kata Umum, maka adakah alternatif pemaknaannya dalam khazanah bahasa Sunda (dan barangkali Sanskrit) sebagai jawabannya?

Karena sejauh peneluauran sementara yang ada dalam makna leksikal Kamus Umum Basa Sunda, sejauh ini tidak ditemui daftar entri kata Umun; melainkan Umum yang tercatat dipengaruhi oleh bahasa Arab. Misalnya aaja dalam Kamus Umum Basa Sunda yang disuaun oleh Panitia Kamus Lembaga Basa & Sastra Sunda yang diterbitkan oleh Penerbit TARATE Bandung pada tahun 1981.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)