prasasti thailnd curug dago

Di Curug Dago yang masih merupakan bagian dari wilayah kelola Tahura Ir. H. Djuanda (Bandung), terdapat dua buah prasasti yang ditorehkan oleh dua raja dari Kerajaan Thailand (Ratcha-anachak Thai) dari periode Kerajaan Rattanakosin (1782-1931), yakni Raja Rama V (1853-1910) yang bernama asli Chunlalongkon/Chulalongkorn dan Raja Rama VII (1893-1941) yang bernama asli Prachathipok/Prajadhipok.

Raja Rama VII merupakan anak Raja Rama V yang kemudian hari menggantikan kakaknya, Raja Rama VI yang bernama asli Wachirawut/Vajiravudh.

Sejak tahun 2017 hingga saat ini Kerajaan Thailand dibawah Raja Rama X yang bernama asli Vajiralongkorn berada dalam sistem Kerajaan Konstitusional dengan lahirnya konstitusi kedua/terbaru. Sementara sejak tahun 1932 hingga tahun 2017 adalah untuk pertamakalinya Kerajaan Thailand memasuki masa sistem Kerajaan Konstitusional pertama dibawah Raja Rama VIII yang bernama asli Ananda Mahidah dan kemudian dilanjutkan oleh Raja Rama IX yang bernama asli Bhumibol Adulyadej.

Kerajaan Konstitusional Thailand sejak Konstitusi Pertama (1932) dan Konstitusi Kedua (2017) masih merupakan kelanjutan dari Kerajaan Thailand periode Kerajaan Rattanakosin (1782-1932) yang untuk pertamakalinya didirikan oleh Raja Rama I yang bernama asli Phutthayotta Chulalok (nama lahirnya Thongdung).

Daftar nama-nama raja periode Kerajaan Rattanakosin selanjutnya adalah Rama II (Phutthaloetla Naphalui), Rama III (Nangklao), Rama IV (Mongkat), Rama V (Chulalongkorn), Rama VI (Vajiravud), dan Rama VII (Prajadhipok). Tiga raja terakhir telah diulas sebelumnya terhubung dengan keberadaan Prasasti Thailand di Curug Dago yang juga sekaligus menutup sistem Kerjaan Mutlak.

Keseluruhan nama-nama raja dari periode Kerajaan Rattanakosin adalah terhubung dalam garis kekeluargaan yang biasa disebut sebagai Wangsa Chakri. Chakri sendiri merupakan gelar penobatan bagi Raja Rama I (Phutthayotta atau Thongdung) yang untuk pertamakalinya berkuasa setelah mengalahkan Raja Taksin dari periode Kerajaan Thonburi (1768-1782), satu-satunya raja yang mampu lahir dari periode ini.

Jika dipelajari silsilahnya, Raja Rama I merupakan anak dari seorang ayah bernama Thongdi dan cucu dari Kosa Pan suku Mon yang merupakan salah-satu suku dari kawasan Birma/Mianmar yang menguasai wilayah Thailand dimana leluhurnya lebih bercitarasa pengguna rumpun bahasa Austronesia. Sementara ibunya yang bernama Daoreung (nama lahirnya Yok) merupakan komunitas pendatang dari kawasan Tionghoa/China Selatan, Guangdong. Bisa dikatakan Rama I adalah berleluhur pada komposisi Sino-Mon.

Demikian juga dengan Raja Taksin dari periode Kerajaan Thonburi (1768-1782), ayahnya juga merupakan komunitas pendatang dari kawasan China Selatan, Guangdong yang bernama Yong Saetae (nama lahirnya Den Dag). Sementara ibunya Phittak Thephant masih terhubung pada keluarga penguasa sebelumnya yang berada dari Wangsa Thonburi, suku Thai. Bisa dikatakan Raja Taksin mengalir komposisi Sino-Thai.

Sebelum memasuki periode Kerajaan Thonburi (1768-1782), Kerajaan Thailand pada masa sebelumnya adalah periode Kerajaan Ayuttaya (1351-1767) yang didirikan oleh Raja Ramathibodi I. Raja setelahnya adalah Raja Sanphet II, Raja Ramathibodi II, dan Raja Borommaracha III. Suksesi tidak berjalan lancar karena melibatkan kedudukannya yang jatuh dalam vazal konstelasi kekuasaan kerajaan lainnya.

Sementara itu, sebelum memasuki periode Kerajaan Ayutthaya (1351-1767) adalah periode Kerajaan Sukhothai (1238-1448). Periode Kerajaan Sukhothai didirikan oleh Raja Sri Indraditya yang kemudian dilanjutkan oleh Raja Ramkhamhaeng, Raja Mahatthammaracha I, dan Raja Mahammaracha IV. Sebagaimana pada periode Kerajaan Ayutthaya setelahnya, situasi dan konstelasi kekuasaan mewarnai periode ini yang menjatuhkan status dan suksesi normal kekuasaan.

Sejak periode Kerajaan Sukhothai (1238-1448), kemudian periode Kerajaan Ayutthaya (1351-1767), hingga periode Kerajaan Thonburi dapat diketahui jika rumpun bahasa yang dipergunakan dalam tiga periode ini adalah bahasa Tai dari dialek Thai Tengah (Siam Tengah).

Masa pembentukkan bahasa ini terus diikuti hingga periode Kerajaan Rattanakosin (1782-1932) hingga hari ini membentuk bahasa Thai/Siam modern meskipun terdapat suatu proses asimilasi dari etnik lainnya termasuk Mon dan komunitas China Selatan (Chaozhou Selatan, Hakka, dan Hainan) yang cukup mewarnai pada periode pembentukkan budaya dan identitas Thailand pada masa silam.

Sementara bahasa Thai/Siam pada kenyataannya hanyalah salah-satu dari rumpun bahasa Tai yang menginduk pada rumpun bahasa Kra-Dai. Selain bahasa Thai atau Siam, cabang bahasa Tai meliputi sebaran yang luas seperti di China Selatan yang disebut bahasa Zhung, di Vietnam yang menghasilkan bahasa ‘Black, White, dan Red Tai; di Loas yang berbatasan dengan Vietnam menghasilkan bahasa Tai Siang Khwang dan Tai Thai/Siam di Ayutthaya; Tai di Utara Laos; Tai di Luang Prabang, Utara Thailand, dan wilayah yang berada diantara Laos, Birma/Mianmar, dan Yunnan; dan suatu bahasa Tai yang sempat berkembang di Assam India dalam lintasan sejarah.

Spekulasi ahli bahasa menduga, bahasa Tai mengalami migrasi juga dari kawasan China Selatan menuju ke arah Asia Tenggara, dalam hal ini Indo-China melalui Vietnam Utara dan Guangxi China Selatan. Waktunya, ada yang berpendapat menjelang abad ke-5 M, ada yang berpendapat pada abad ke-8 M, dan ada yang berpendapat pada abad ke-11 M. Di kawasan sungai Chao Praya yang kemudian hari menjadi Thailand, suku Tai yang biasa disebut Thai atau Siam dianggap tiba pada abad ke-8 M dan ada juga yang mengatakannya pada abad ke-12 M.

Pada periode lebih tua dari lintasan sejarah dan kebudayaan Thai tersebut, kita harus merujuk pada periode Kerajaan Lavo (450-1388) yang merupakan salah-satu city state (mandala) dari Kerajaan Dvaravati. Penguasa Kerajaan Lavo dan Dvaravati adalah suku Mon dimana disana sudah terintegrasi suku Khmer dan Thai. Daftar nama raja Dvaravati antara lain Suryavikram, Harivikram, Sihavikram, dimana leluhurnya merujuk pada nama Bhagadatta, Sundaravarman, Narapatisimhavarman, dan Manglavarman.

Pada saat Kerajaan Dvaravati dikalahkan oleh Raja Suryavarman II (1113-1150) dari Wangsa Khmer, mandala Kerajaan Lavo kemudian hari berevolusi menjadi Kerajaan Sukhothai sebagai leluhur penguasa Thailand.

Jayavarman II yang menyatakan kemerdekaan dari penguasa Jawa merupakan pendiri dari Kerajaan Khmer di Kamboja (802-1431) yang juga sekaligus pernah tinggal di Mataram dari Wangsa Sailendra. Kerajaan Khmer ini biasa disebut juga dengan nama Kerajaan Angkor atau Kerajaan Kambhojadesa. Daftar raja selanjutnya antara lain Jayavarman III, Indravarman I, Yasovarman I, Suryavarman II, Jayavarman VII, dan Ponheat Yat (1393-1463).

Sementara itu, Kerajaan Khmer di Kamboja juga terhubung dengan kerajaan periode sebelumnya yang bernama Kerajaan Chenla atau Zhenla (istilah Tiongkok) di Kamboja yang tidak duketahui nama eksaknya. Hanya saja nama-nama city statenya antara lain Shretapura, Bhavapura, Isanapura, dan Shambhupura. Nama-nama raja yang beredar antara lain Bhavavarman I, Mahendravarman, Isanavarman, Chandravarman, dan Jayavarman I. Kerajaan Chenla menjadi vassal pada 550 M Kerajaan Funan dan mulai merdeka sejak 616-802 M sampai bangkitnya Kerajaan Khmer.

Dan pada akhirnya, Kerajaan Chenla sendiri berakar dari periode Kerajaan Funan (abad ke-2 hingga abad ke-7) atau disebut juga dengan Kerajaan Parvatabupala di Kamboja dengan nama-nama mandalanya antara lain Bhavapura, Aniaditapura, Ahresthapura, dan Vyadhapura. Sementara nama-nama yang beredar antara lain Kaundiya, Jayavarman, Rudravarman, dan Gunavarman.

Kerajaan Funan berkembang ketika rumpun Mon-Khmer belum terdiversifikasi menjadi Mon dan Khmer. Kerajaan Chenla dan Khmer dibangun oleh suku Khmer. Baik Funan, Chenla, maupun Khmer pada masa ini berbasis di Kamboja namun menguasai wilayah luas Indo-China.

Thailand yang berakar dari suku Thai atau Siam dari rumpun bahasa Tai dari China Selatan telah menyerap dan mengintegrasikan juga komunitas China Selatan dalam jalur kebudayaannya. Sementara latar belakang tua yang telah lebih dahulu membangun kerajaan di Indo-China seperti Mon, Khmer, dan Melayu yang bersifat India (pionir Hindu-Budha) juga telah berhasil diserap dalam suatu asimilasi yang sempurna juga sebagai miliknya meskipun dengan demikian kenapa kita masih bisa melihat kenampakkan citarasanya yang lebih bersifat lidah China Selatan dalam dialek Sanskritnya.‖

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)