Baduy Sunda Wiwitan

Melalui penelusuran data dapat diketahui bahwa penyebutan istilah Baduy secara tertulis telah dimulai oleh para peneliti berkebangsaan Belanda (Hindia-Belanda) melalui dokumen-dokumen yang telah dihasilkannya. Adapun para peneliti Belanda tersebut antara lain, A.A. Pennings dengan judul karya tulisnya“De Badoewi’s in Verband met enkele Oudhen in de Residentie Bantam” (TGB, XLV, 1902); J. Jacobs dan J.J. Meijer dengan judul karya tulisnya“De Badoej’s” (‘s-Grahenhage: Martinus Nijhoff, 1891); Pleyte dengan judul karya tulisnya“Badoejsche Geesteskinderen” (TBG, 54, afl. 3-4, 1912); dan W.R. Van Hoevell dengan judul karya tulisnya“Bijdragen tot de Kennis der Badoeinen in het Zuiden der Residentie Bantam” (TNI, 7, IV, 1845).

Dengan demikian dapat terlihat bahwa para peneliti berkebangsaan Belanda telah menggunakan istilah Badoewi (A.A. Pennings), Badoej (J. Jacobs dan J.J. Meijer) dan (Pleyte), dan Badoei (W.R. Van Hoevell) dalam dokumen-dokumen tertulisnya. Jika Ejaan Lama (Van Ophuijsen) yang merujuk pada sistem penulisan masa kolonial Hindia-Belanda dirubah ke dalam bentuk Ejaan Republik (Soewandi) dan kemudian Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sebagaimana yang digunakan pada saat ini, maka bentuk perubahannya akan terlihat sebagai berikut: Badoewi akan menjadi Baduwi, Badoej akan menjadi Baduy, dan Badoei akan menjadi Badui. Adapun istilah Baduwi, Baduy, dan Badui itu sendiri sekedar merupakan variasi bunyi dari maksud kata yang sama.

Kuat kemungkinan bahwa kata Baduwi, Baduy, dan Badui yang digunakan dalam bahasa Belanda sesungguhnya berasal dari kata berbahasa Arab, yakni Badwi(bentuk kata jamak) dimana bentuk kata tunggalnya adalah Badawi. Kata Arab Badwi tersebut apabila ditransliterasikan ke dalam ejaan bahasa Indonesia secara utuh memang variasinya akan berbunyi menjadi Badwi; Baduwi, Badui, dan Baduy. Dengan demikian, dapat terlihat bahwa pola dasar pengucapan kata Arab (Badwi) dalam bahasa Belanda, bahasa Indonesia, dan termasuk dalam hal ini dalam bahasa Sunda dapat diduga memiliki asal-usul yang sama, yakni kata Arab (Badwi). Pertanyaannya adalah apakah komunitas keilmuan Belanda menggunakan kata Baduwi, Baduy, dan Badui tersebut dikarenakan mengikuti pola identifikasi masyarakat sekitar masyarakat adat itu sendiri (dalam hal ini masyarakat Sunda atau masyarakat regional Banten) ataukah dikarenakan suatu inisiatif yang mereka ambil berdasarkan atas suatu gagasan dan identifikasi tertentu.

Satu hal yang pasti, bahwa dalam bahasa Arab (Badwi) artinya orang yang mendiami gurun. Sementara lawan kata Badwi, dalam bahasa Arab itu sendiri biasa disebut dengan kata Hadhari yang artinya orang yang menetap atau dalam makna perluasannya menjadi orang yang tinggal di wilayah perkotaan. Dengan kata lain, Badwi juga mengesankan dalam makna perluasannya sebagai orang yang belum menetap atau orang yang tinggal di wilayah pelosok atau pedesaan. Selain itu, dalam bahasa Arab, terdapat juga bentukan kata lainnya yang senada yakni bidayah yang berarti permulaan, asli, atau yang sejati. Sehingga, aspek penamaan masyarakat adat Sunda Wiwitan yang mendiami Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten dengan nama Sunda (Baduy), kemungkinan besar dikarenakan keterhubungannya dengan imajinasi konseptual demikian.

Pertama, bahwa masyarakat adat Sunda Wiwitan dianggap masih meninggalkan ciri-ciri gaya hidup berpindah-pindah (nomad) atau telah menetap namun jauh di daerah pedalaman sebagaimana yang terjadi pada masyarakat adat Arab Gurun (Arab Badwi). Dan kedua, bahwa masyarakat adat Sunda Wiwitan tersebut dianggap mewakili gagasan dan identifikasi sebagai perwujudan orang-orang yang layak disebut penduduk permulaan, asli, atau yang sejati (indigenous people) sebagaimana orang-orang Arab Gurun dibandingkan dengan orang-orang Arab Perkotaan yang dianggap memiliki asal-usul sebagai pendatang atau suatu masyarakat Arab percampuran, yakni masyarakat luar yang karena suatu sebab menjadi terarabkan (Arab Mustaribah).

***

Meskipun penggunaan istilah Baduy terhadap masyarakat adat Sunda Wiwitan tersebut sesungguhnya terlihat tidak memiliki tendensi negatif tertentu, melainkan hanya sebagai suatu upaya klasifikasi dan identifikasi belaka, namun demikian masyarakat adat Sunda Wiwitan itu lebih merasa senang dengan menyebut dirinya sendiri dengan sebutan urang Sunda (orang Sunda) atau lebih khusus lagi sebagai urang Sunda Wiwitan (orang Sunda Wiwitan). Dengan menyebut dirinya sebagai urang Sunda artinya mereka mengidentifikasi komunitas dirinya secara primordial kesukuan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga besar etnik masyarakat Sunda itu sendiri. Yakni suatu identitas masyarakat yang menggunakan bahasa Sunda, memiliki sistem kebudayaan Sunda, dan mendiami wilayah ulayat luas di bagian Barat wilayah Pulau Jawa yang secara administratif kini menempati wilayah Provinsi Jawa Tengah (bagian Barat), Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, dan DKI Jakarta (secara de Jure)—secara de facto menjadi wakaf pergaulan nasional dan internasional bersama layer dasar kebudayaan Melayu Betawinya yang telah lama terintegrasi.

Sementara itu dengan menyebut dirinya sebagai urang Sunda Wiwitan, dengan demikian mereka memberikan batasan khusus dalam klaim identifikasi dirinya jika mereka adalah orang Sunda yang sesungguhnya, yang permulaan, dan dengan demikian yang memiliki kesejatiannya (bukan orang Sunda pada umumnya). Soal kesejatian ini biasanya dibuktikan dengan sistem keyakinan tersendiri dimana mereka bersikukuh untuk tidak menganut sistem keyakinan Islam sebagaimana sistem keyakinan masyarakat Sunda pada umumnya. Jika Islam dianggap sebagai sistem keyakinan yang datang dari luar wilayah ulayat masyarakat Sunda, maka Sunda Wiwitan menjadi istilah yang juga digunakan untuk mengidentifikasi sistem keyakinan leluhur masyarakat Sunda yang telah dianutnya sejak permulaan mereka ada.

Dalam makna perluasannya, Sunda Wiwitan ini juga bukan saja menolak secara halus terhadap sistem keyakinan Islam, melainkan juga dengan seluruh sistem keyakinan yang ada termasuk Hindu dan Budha yang sejak dahulu kala telah secara matang telah dianut dan diyakini masyarakat Nusantara pada umunya (termasuk dalam hal ini masyarakat Sunda). Wiwitan itu sendiri dalam bahasa Sunda memang berarti Yang Permulaan. Selain disebut Sunda Wiwitan, penamaan sistem keyakinan adat tersebut biasa juga dinamani dengan Jati Sunda yang berarti kurang lebih sama, yakni identitas Keaslian Sunda. Meskipun istilah Sunda itu sendiri secara teknis dapat ditelusuri pada pembentukan identitas administrasi politik berupa ibukota Kerajaan Tarumanagara yang bernama Sundapura (Kota Sunda) yang telah kental dengan penetrasi bahasa dan kebudayaan India Kuno, Samskerta yang bersifat Indo-Eropa (Indo-Arya).

Meskipun demikian seiring waktu telah terlihat beberapa elemen konseptual dari sistem keyakinan Hindu, Budha, dan Islam dalam sistem keyakinan Sunda Wiwitan, namun demikian klaim dirinya sebagai yang masih bersifat murni dan asli yang telah berhasil mempertahankan vitalitasnya melalui laju perubahan setiap zaman bersama suguhan trendnya, dengan demikian klaimnya masih kuat untuk dapat dibenarkan. Sementara itu, meskipun pada masa kolonial Belanda sistem keyakinan Judeo-Christian juga sempat masuk ke wilayah Nusantara, namun demikian pengaruhnya sama-sekali bisa dikatakan tidak ada sehingga sama sekali tidak menyumbangkan elemen konseptual sedikitpun dalam bangun keyakinan masyarakat Sunda Wiwitan (dibaca: Baduy di Lebak Banten).

Dampak positif dari sikap konservatif dan puritan demikian, alih-alih disebut sebagai suatu bentuk ketertinggalan, justru sebaliknya mereka adalah masyarakat yang mampu menyuguhkan puncak-puncak pencapaian kebudayaan dan peradaban yang telah dicapainya yang bersifat harmoni dan selaras dengan ritme hukum alam yang telah mereka capai dan masih dapat kita saksikan hingga saat ini. Di tengah gempuran sistem kebudayaan dan peradaban tunggal Dunia (Globalisasi) dan/atau Kebangsaan (Nasionalisme) yang terkadang menyibakkan rasa sesak dan kekosongan soal akar dan asal-usul, kebijaksanaan dalam hal tatanan lokal yang disuguhkan masyarakat Baduy dapat menimbulkan cita rasa kemanusiaan melalui masa lalunya yang terawetkan dan pola hidup yang tetap bersahaja.

***

Dengan mempertimbangkan sudut pandang dan perasaan dirinya sendiri, dugaan dan spekulasi ilmiah yang bersifat sepihak sebagai sudut pandang orang luar sepertinya mesti diletakkan secara lebih matang dan berjarak. Misalnya saja orang Baduy sendiri menyangkal keterhubungannya dengan pendekatan dan teori asal-usul mengenai dirinya sebagai orang-orang pelarian dari ibukota Pakuan Pajajaran (saat ini Bogor) Kerajaan Pajajaran (dibaca Kerajaan Sunda) sebagaimana yang dikemukakan oleh tulis Pleyte (1812). Demikian juga dengan pendekatan dan teori asal-usul mengenai dirinya sebagai orang-orang pelarian dari wilayah Kadipaten Wahanten Girang (saat ini Serang Banten) sebagai wilayah bawahan Kerajaan Pajajaran yang dikemukakan oleh Jacob dan Meijer (1891). Dan juga dengan pendekatan dan teori campuran antara keduanya sebagaimana yang dikemukakan oleh Kruseman dan Pennings (1902). Dengan kata lain, mereka menyangkal kedudukan dirinya sebagai orang-orang pelarian yang kemudian menyingkir dan membabak suatu perkampungan baru yang terisolir dari wilayah asal yang telah ditaklukan. Mereka menganggap, bahwa dirinya telah mendiami kawasan tersebut sejak masa leluhurnya mulai ada.

Baik pendekatan dan teori sebagai orang-orang pelarian dari ibukota Pakuan Pajajaran dan Kadipaten Wahanten Girang yang keduanya merupakan wilayah Kerajaan Pajajaran (Sunda-Galuh Bersatu), adalah keduanya berkaitan dengan rangkaian keruntuhan sistem tatanegara Kerajaan Pajajaran yang secara umum dianggap bercorak Hindu-Budha fase akhir oleh Kesultanan Banten sebagai sistem tata negara yang telah memasuki fase awal Islam secara struktural. Adapun proses pembacaan terhadap situasi sejarah demikian, harus dilakukan dengan perasaan yang berjarak dan berkepala dingin agar mampu melihat kenyataan secara apa adanya, jernih dan jelas, tanpa kehadiran bias dan sentimentil (karena Islam biasa secara terang-terangan atau diam-diam ditempatkan sebagai kekuatan agresor yang menghancurkan).

Meskipun Baduy berada dalam lintasan ruang dan waktu sejarah yang bersamaan, namun demikian terlihat jika masyarakat Baduy tidak ingin diletakkan dalam konteks dan konstelasi geo-politik dan ideologis demikian. Baduy adalah komunitas yang secara psiko-sosial merasa berada di luar arena permainan demikian. Baduy adalah orang-orang yang merasa tumbuh dan berkembang melalui fase kebudayaan dan peradabannya yang tersendiri dan linear di atas daya cipta dan kepribadian leluhurnya yang terikat kuat dengan tanah-airnya sejak semula. Mereka juga mampu melihat, memahami, menghormati, dan mengakui supremasi kekuatan masyarakat di luar dirinya secara realistis dan bijaksana tanpa ingin kehilangan jati dirinya sebagaimana biasa dibuktikan dengan prosesi Seba berupa persembahan panen tahunan kepada penguasa resmi pemerintahan di setiap zaman yang pernah dilaluinya. Dan sebagai orang luar, persepsi masyarakat Baduy seperti demikian perlu dihargai dan wilayah irisan sebagai sesama keluarga besar Sunda dan sebagai sesama komunitas yang gemar belajar dapat diketengahkan untuk lebih baik lagi. (Bandung, 16 Maret 2019)

Klaim Sunda Wiwitan atau Jati Sunda masyarakat Baduy dan masyarakat Sunda Wiwitan atau Jati Sunda dengan basis Perkotaan yang terlihat memiliki watak dan corak berlainan perlu dianalisis lebih khusus.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)