Oleh, Gelar Taufiq Kusumawardhana/The Varman Institute

Arsiparis, Karguna Purnama Harya/The Varman Institute

“Ngalalar ka bukit Pala.
Sadatang ka kabuyutan,
meu(n)tas di Cisaunggalah,
leu(m)pang aing ka-baratkeun,
datang ka bukit Pategeng,”
(Naskah Bujangga Manik, Bait 1335-1339)

“Sakakala Sang Kuriang,
masa dek nyitu Citarum,
burung te(m)bey kasiangan.
Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
meu(n)tas aing di Cihea,”
(Naskah Bujangga Manik, Bait 1340-1344)

(II) Konstruksi Legenda Sangkuriang Dalam Naskah Bujangga Manik

(D) Merevitalisasi Makna Sakakala Bukan Sekedar Dongeng

Sakakala merupakan kata kunci yang harus diperhatikan. Kata Sakakala yang terekam dalam naskah Bujangga Manik yang menggunakan ragam Bahasa Sunda Kuno, masih terlihat meninggalkan jejak pengaruhnya dari masa penggunaan Bahasa Sanskrit.

Di dalam Bahasa Sanskrit, Sakakala merupakan kata majemuk. Kata tersebut dibangun oleh dua kata, yakni Saka dan Kala. Saka merupakan nama sekelompok umat manusia yang disebut dengan bangsa Saka. Sementara Kala berarti waktu atau titi mangsa.

Bangsa Saka ini adalah bangsa yang pada masa lalu pernah datang ke Nusantara. Mereka kemudian berbaur, menikah, dan berketurunan di Nusantara bersama penduduk pribumi yang lebih awal tiba di Nusantara. Sebelum tiba di Nusantara mereka berasal dari negeri Barata atau yang disebut juga dengan nama tanah Hindu (India Kuno).

Sementara Kala meruapakan suatu kesadaran manusia yang diperoleh berdasarkan pengamatan terhadap adanya kenyataan pergerakan-pergerakan, pergeseran-pergeseran, perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Kesadaran tersebut akan mendatangkan pengetahuan tentang bagaimana mengukur dan mengurutkan adanya suatu peristiwa dibandingakn dengan suatu peristiwa lainnya. Suatu pengetahuan untuk memahami yang mana masa lalu, yang mana masa kini, dan yang mana yang disebut masa depan dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Pengetahuan tentang konsep waktu tersebut mendorong lahirnya sistem kalender dan perhitungan pada bangsa Saka, yang kemudian disebut dengan nama Sakakala. Sistem kalender yang telah dibuat sebelumnya di negeri Barata atau tanah Hindu tersebut, kemudian dibawa juga ke Nusantara. Sehingga, Sakakala dengan kata lain adalah Waktu Saka, Titi Mangsa Saka, Kronologi Saka, atau Kalender Saka yang ke dalam bahasa Inggris akan disebut the Saka Era.

Para ahli telah mempelajari dan menyimpulkan bahwa Sakakala, untuk pertamakalinya digunakan–jika diperbandingkan dengan Sistem Kalender Masehi–adalah bertepatan dengan tahun 78 M (kemungkinan sistem Julian) atau 79 M (kemungkinan sistem Gregorian). Hanya saja pada umumnya, proses penyetaraan waktu Saka terhadap Masehi biasa dilakukan dengan menggunakan patokan 78 M.

Dengan demikian, 1 Saka akan setara dengan 78 Masehi. Sehingga, jika terdapat suatu keterangan di dalam Sakakala; misalnya tahun 1355 Saka. Maka jika kita akan mengkonversinya ke ke dalam sistem Kalender Masehi adalah dengan cara menambahkan tahun 1355 Saka dengan tahun 78 Masehi (1355 + 78), sehingga menghasilkan angka tahun 1455 M.

Perihal sejak masa siapa dan dimana letak tepatnya untuk pertamakalinya Sakakala mulai digunakan di negeri Barata atau tanah Hindu, para ahli belum mampu menemukan kesepakatannya yang eksak. Ada yang merujuk pada masa kekuasaan Castana (dari Mahaksatrapa), Kaniska (dari Kusan), Vima Kalpisa (dari Kusan), Vonones (dari Media Atrapatakana/Partia), Nahapana (dari Mahaksatrapa), dan Gautamiputra Satakarni (Satavahana).

Makna Sakakala yang secara umum sebagai penanda waktu dan secara khusus sebagai penanda waktu dalam bentuk kalender Saka masih terus berlanjut hingga masa kehidupan kerajaan Hindu-Budha awal di Nusantar dan pada masa kerajaan Hindu-Budha akhir sebagaimana yang direpresentasikan dalam naskah Bujangga Manik.

Hanya saja, makna Sakakala itu terkadang sekedar berupa batu lingga yang diberdirikan, kadang berupa bangunan seperti asrama atau pemondokkan yang dibuat, kadang berupa jalan, benteng, tanggul, saluran air, taman, undakan, kadang hal-hal tersebut dilengkapi dengan sebuah prasasti monumental yang akan dikeluarkan; kadang tanpa hadirnya prasasti sama sekali.

Dalam prasasti tersebut kadang tidak didapati sama sekali keterangan titi mangsa yang jelas, kadang diberikan penanda titi mangsa dalam bentuk Candra Sengkala atau Kronogram, kadang terdapat keterangan yang sangat jelas soal waktunya. Perihal perbedaan tingkat pencapaian titi mangsa yang berbeda barangkali membutuhkan suatu proses identifikasi tersendiri.

Namun satu hal yang pasti, basis pengertian Sakakala adalah berkaitan dengan penanda waktu atau suatu peringatan atas suatu peristiwa atau perbuatan tertentu. Jadi bukan dalam pengertian Sasakala pada bahasa Sunda hari ini yang berarti Cerita, Dongeng, Kisah, atau Legenda yang sifatnya bukan sekedar Fiksi; melainkan Mitologi. Dapat dipastikan bahwa kata Sasakala dalam bahasa keseharian masyarakat Sunda hari ini adalah suatu bentuk kata distorsi dari apa yang dimaksudkannya sebagai Sakakala.

Di dalam bahasa Sanskrit, memang terdapat juga kata Sasakala yang dibangun dari kata Sa dan Sakala. Sa merupakan kata pengantar, sementara Sakala artinya bagian atau ukuran atau timbangan. Sasakala artinya bagian dari sesuatu, atau dengan suatu ukuran atau dengan suatu pertimbangan (Inggris:scale). Baik antara Sakakala maupun Sasakala dalam bahasa Sanskrit tentunya memang ada asosiasi yang masih terhubung dalam hal maknanya. Demikian juga di dalam bahasa Sunda hari ini, kita masih bisa menggunakan kata Sasakala hanya saja harus dengan suatu kesadaran baru tentang rekonstruksi dan revitalisasi makna yang seharusnya (agar tidak kehilangan petanda-petanda sebagai alamat pencarian makna-makna); yakni perihal waktu.

Mari kita ambil contoh pada Prasasti Batu Tulis di Bogor yang juga ditulis dalam Bahasa Sunda Kuno dan Aksara Sunda Kuno. Dimana di dalamnya mengandung contoh kasus kata Sakakala sebagaimana yang terdapat dalam naskah Bujangga Manik (diantarnya adalah SAKAKALA SANG KURIANH, SAKAKALA PATANJALA, SAKAKALA SILIH WANGI, dan beberapa lagi). Di bawah ini ditampilkan salinan dan terjemahan Prasasti Batu Tulis yang dilakukan oleh Hasan Djafar (Makalah Prasasti Batu Tulis).

Transkripsi:
” (1) O O wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu
(2) diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diya wingaran sri
(3) baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu de
(4) wata pun ya (siya) nu nyusukna pakwan dia anak rahiyang dewanis
(5) kala sa(ng) sida mokta di guna tiga, i(ny) cu rahiyang niskala wastu
(6) ka(ny)cana sa(ng) sida mokta ka nusa larang ya siya nu nyiyan sakaka
(7) la, gugunungan, ngabalay, nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h hyang talaga (wa)rna mahawijaya, ya siya, pun, : O O i saka, panyca panda
(8) wa nge(m)ban bumi O O”

Transliterasi:

(“(1) O O Wang na pun!Inilah tanda peringatan untuk Prabu Ratu yang telah mendiang (mangkat). Dinobatkan
(2) beliau dengan nama Prebu Guru Dewata Prana. Beliau dinobatkan lagi dengan nama Sri
(3) Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu De
(4) wata. Beliaulah yang memariti Pakuan. Beliau anak Rahiyang Dewa Nis
(5) kala yang telah mangkat di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu-
(6) kancana yang mendiang di Nusalarang. Beliaulah yang membuat tanda peringatan
(7) berupa gugunungan , memperkeras jalan, membuat Samida, membuat Sang Hiyang Talaga (Wa-)
(8) rna Mahawijaya. Beliaulah itu. O O pada tahun Saka, panca panda-
(9) wa ngemban bumi O O”)

Di atas pada baris pertama, sangat jelas terdapat kata SAKAKALA PREBU RATU. Siapakah Prebu Ratu itu? Pada baris selanjutnya akan menjadi lebih jelas bahwa Prebu Ratu adalah orang yang pernah dilantik dengan nama nobat Prebu Guru Dewata Prana dan dengan nama nobat lainnya Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Di sana dikatakan juga bahwa Prebu Ratu adalah putra Rahiyang Dewa Niskala dan cucu Rahiyang Niskala Wastukancana. Ayahnya dan Kakeknya dari Prebu Ratu dikatakan didalam prasasti telah mokta. Mokta ini merupakan Bahasa Sunda Kuno yang berasal dari Bahasa Sanskrit Mukta yang artinya telah bebas, telah merdeka, telah terlepas, telah tenang. Suatu majas yang menyatakan telah terpisahnya jiwa dari raga seorang manusia. Jadi Ayahnya Prebu Ratu, yakni Rahiyang Dewa Niskala telah meninggal di Gunatiga, sementara Kakeknya Rahiyang Niskala Wastukancana telah meningal di Nusa Larang.

Kemudian setelah memperkenalkan dua nama penobatannya dan juga asal-usul garis silsilahnya, Prebu Ratu dikatakan adalah orang yang membuat SAKAKALA (“…ya siya nu nyiyan sakakala…; ya dia yang membuat SAKAKALA…”). Siya tang terdapat di dalam Bahasa Sunda Kuno adalah kata yang tiba dari Bahasa Sanskrit Sya yang digunakan untuk menyatakan bentuk orang ketiga.

Yang membuat SAKAKALA itu bukan Dewa Niskala (Ayahnya) dan juga bukan Niskala Wastukancana (Kakeknya), melainkan Prebu Ratu. Apakah wujud SAKAKALA itu? Pertama, Nyusuk Pakuan yang berarti membuat parit Pakuan (.. ya (siya) nu nyusukna pakwan… ; ya dia yang memariti Pakuan…). Kedua, membuat “Gugunungan” yang artinya gunung atau bukit tiruan atau buatan (mungkin meninggikan permukaan tanah). Ketiga, “Ngabalay” yang berarti mengurug atau meratakan (mungkin membuat jalan atau meratakan jalan atau mengeraskan permukaan jalan. Keempat, membuat “Samida”. Kelima membuat “Sang Hyang Talaga Warna Mahawijaya”.

Terkait kata Samida, ada pengetahuan yang berkembang pada saat ini dengan mengartikanya Pohon atau Hutan atau Hutan Lindung. Pengetahuan tersebut bisa jadi berkembang dari kata Samidha atau Samidhah yang dalam bahasa Sanskrit merujuk pada Api dan Bahan Bakar atau Kayu Api atau Kayu Bakar (Sunda saat ini Suluh).

Untuk menyalakan Api tentu saja membutuhkan Bahan Bakar. Sementara itu, bahan bakar yang digunakan adalah Kayu. Kayu itu mungkin berlaku umum mungkin juga berlaku khusus untuk jenis Kayu tertentu. Satu hal yang pasti, Kayu Bakar tersebut kemudian akan digunakan dalam upacara pengorbanan dengan cara mengobarkan nyala Api Suci (Yajna) dalam suatu tempat tertentu. Kata Samidha sebagaimana yang berkembang demikian dapat ditemukan dalam tradisi dan basis literatur agama Siwa.

Bisa jadi kata Samida juga berhubungan dengan kata Samadi yang di dalam bahasa Sanskrit disebut Samadhi, artinya mengumpulkan, menyatukan, atau membuat sesuatu menjadi tenang. Samadi telah menjadi salah-satu praktik dalam tradisi Yoga terutama pada basis penguasaan agama Siwa. Bisa jadi Samida adalah merujuk pada tempat dimana Samadi bisa dilakukan. Mungkin maknanya telah umum bukan semata merujuk praktik Yajna atau praktik Yoga, tapi suatu tempat yang tepat untuk menikmati keindahan dan ketenangan (meditasi). Makna demikian maka akan kembali berhubungan dengan wujud Hutan dan Hutan Lindung. Tempat dimana jiwa (Jiva) dan pikiran (Cita) disingkronkan.

Seluruh pengertian tersebut bersifat kontekstual, dia bersifat terminologi. Ada kemungkinan kata paling basik sebenarnya berasal dari bahasa Sanskrit Samvida. Secara etimologi disusun dari kata Sama artinya mendengar atau Suara, dan Vida atau Veda yang artinya pengetahuan. Samvida selain berasosiasi dengan salah-satu Kitab Weda; terminologi yang paling basik dalam bahasa Sanskrit ialah bermakna suatu perjanjian. Demikian asal-usul dan asosiasi kata Samida dalam Bahasa Sunda Kuno bila dilacak melalui transmisi lebih awal, yakni Sanskrit; dia bisa jadi telah berkembang pengertiannya menjadi Hutan Kerajaan.

Sementara Sang Hiyang Talaga Warna Mahawijaya, di dalam naskah Bujangga Manik Baris 1350-1354 dapat kita ketahui juga:

“Na(n)jak ka Le(m)bu Hambalang.
Sadatang ka bukit Ageung,
eta hulu Cihaliwung,
kabuyutan ti Pakuan,
sanghiang Talaga Warna.” (Nanjak ke Lembu Hambalang. Setiba ke Bukit Ageung, itulah Hulu Cihaliwung, Kabuyutan dari Pakuan, Sanghiang Talaga Warna.)

Lembu Hambalang adalah jalur menuju Puncak dari arah Cianjur, yang saat ini disebut Cipanas. Bukit Ageung adalah Gunung Gede, puncak-puncak tertinggi di Selatan Bogor bersama Gunung Pangrango dan Gunung Salak. Dari Gunung Gede dikatakan Hulu sungai Cihaliwung atau yang saat ini disebut Cilingung berada. Tepat di Hulu Ciliwung itulah, tanahnya dijadikan Kabuyutan atau Mandala; dan dibuatkan sebuah danau yang diberi nama Sangiang Talaga Warna (naskah Bujangga Manik) atau Sang Hiyang Talaga Warna Mahawijaya (prasasti Batu Tulis).

Seluruh SAKAKALA PREBU RATU itu kemudian ditutup dengan kalimat: “… i saka, panyca pandawa nge(m)ban bumi.” (… pada tahun Saka, Panca Pandawa Ngemban Bumi). Inilah petanda kalimat yang memuat makna waktu yang biasa disebut dengan Candra-Sengkala, sistem penanggalan bulan (bukan Surya Sengkala); atau bisa jadi dari kata Chandra-Sakakala itu sendiri yang berarti Sistem Kalender Bulan milik Bangsa Saka.

Seluruh pakar sepakat dalam mengartikan kata Panca adalah 5, Pandawa adalah 5, dan Bumi adalah 1; sejak dibaca oleh Pleyte hingga hari ini. Perbedaan pendapat terdapat pada aksara di dalam prasasti berupa Ban dengan satu aksara mendahuluinya yang tidak terbaca, namun diatasna masih tersisa petanda pemati bunyi aksara. Pleyte kemudian menerka kata terdahulu dengan aksara Ma sehinga berbunyi Emban, yang artinya Pelayan yang kemudian diasodmsiasikan sebagai Panakawan. Kata Emban menurut Pleyte adalah 4.

Tanpa disebutkan alasannya Husen Djajadiningrat kemudian merevisi bahwa kata Emban bermakna 3. Kita bisa menduganya jika Husen memahami bahwa Punakawan di dalam tradisi pewayangan Pulau Jawa berjumlah 3. Sementara Poerbacaraka membaca Emban bermakna 2, karena basis kata Emban adalah menggendong (menjadikannya ada yang digendong dan yang menggendong). Dalam tradisi wayang juga basis Panakawan sebenarnya 2, hingga kemudian bertambah dengan adanya sosok bungsu Gareng yang bisa jadi konsepsi bentukan yang lebih baru.

Seluruh proses pembacaan Prasasti Batu Tulis berdasarkan hukum pembunyian dalam sistem Aksara Sunda Kuno tersebut telah diperiksa dengan sangat ketat oleh Hasan Djafar. Sehingga setidaknya sebelum tafsir atau polemik ilmiah terjadi untuk menyingkap maknanya, maka setidaknya tidak ada lagi simpang-siur dalam membacanya. Termasuk dalam hal ini dimana kata Ngemban akan menjadi basis untuk menyingkap makna numeriknya.

Ngemban berarti menanggung beban atau tanggung jawab di di dalam bahasa Sunda Kuno. Jika dirunut ke Bahasa Sanskrit, kata Ngemban, Emban, dan Mban tidak dapat ditemui; kecuali kata Bana atau Ban yang statistik tertingginya merujuk pada Panah (Arrow). Kata Ban atau Bana atau sejajar dengan kata Vana yang secara statistik dan asosiasinya juga bermakna sama sebagai Panah. Makna tersebut dapat juga dilihat dalam kitab-kitab Sanstra seperti di dalam Natyasastra (Panah) bermakna 3 (karena menggunakan tiga jari), Pancaratra (Panah) bermakna lima 5 (berhubungan lima ornamen bunga), Silpasastra (Panah) bermakna 2 (berhubungan dengan penggunaan dua jari), Danurveda (Panah) tanpa keterangan simbol angka, dan Jyotisa (Panah) juga tanpa keterangan simbol angka.

Kata Bana atau Vana ini akan terhubung dengan kuat kepada Dewa Kamajaya (Sanskrit: Kamadeva), Dewa Ketampanan dan Cinta yang selalu membawa serta Panah (Arrow) dan Busur (Bow). Tidak ada yang bisa lolos dalam bidikan Kamajaya. Kamajaya adalah pelindung Arjuna (putra ketiga) salah-satu tokoh utama dari Pandawa. Kata Bana atau Vana ini bisa jadi membentuk kata Panah dalam Bahasa Sunda hari ini. Simbol panah, pertempuran, pengabdian, memikul tanggung jawab, Kamajaya, dan Arjuna bisa jadi membentuk aspek pemaknaan baru kata Ngemban di dalam Bahasa Sunda Kuno. Berapa bilangannya? Tampaknya tidak bisa dipastikan secara eksak.

Skema Panca Pandawa Ngemban Bumi versi Pleyte akan berarti 5541 yang tata urut Kronogramnya menjadi 1455 Saka yang setara dengan 1533 Masehi. Skema Husein akan berarti 5531 yang dibalik menjadi 1355 Saka sehigga berarti 1433 Masehi. Sementara skema Poerbatjaraka dengan 5521 jika dibalik menjadi 1255 Saka akan berarti 1333 Masehi. Semua probabilitas itu bisa terjadi, hanya saja yang lebih perlu dipertegas adalah siapakah sosok yang menulis Prasasti Batu Tulis itu sendiri?

Sejauh ini banyak ahli menempatkan penulis Prasasti Batu Tulis adalah Prabu Surawisesa. Hanya saja Prabu Surawisesa tersebut tidak mencantumkan namanya (anonim). Hanya saja, penulis pribadi dengan membandingkan Prasasti Kabantenan (Lempeng Logam), tampak terlihat adanya suatu pesan yang sejajar dan saling melengkapi. Lempeng Logam Kuningan Kabantenan tersebut lebih jelas dikatakan dikeluarkan oleh Sri Baduga Maharaja. Dan dengan mempertimbangkan koherensinya dengan Prasasti Kabantenan saya menilai secara Hipotetik jika Prasasti Batu Tulis juga dikeluarkan oleh Sri Baduga Maharaja (bukan oleh Prabu Surawisesa).

Saya mencoba menerjemahkan kata Purane dalam Bahasa Sunda Kuno tersebut dengan Asumsi makna kata yang paling umum dan mendasar, yakni dahulu atau sudah berlalu. Namun yang sudah berlalu itu belum tentu keberadaan Sri Baduga Maharaja, melainkan bisa berarti perbuatannya, karya-karyanya, pelantikannya telah terjadi pada masa sebelumnya; dan kemudian baru pada masa kini Sri Baduga Maharaja dengan menggunakan gaya bahasa orang ketiga mulai mengenang dan mengukuhkan petilasan-petilasan (Sakakala) tersebut dengan suatu penanda-penanda yang jauh lebih abadi dan monumental; yakni berupa Prasasti.

Dengan demikian, jika skenarionya mulus demikian. Maka menempatkan angka 1533 Masehi (Pleyte) akan terlampau kontemporer. Sementara angka 1333 Masehi (Husein) akan terlampau tua. Jika diasumsikan Pembangunan Padrao yang terjadi pada tahun 1522 M sebagai patokan. Dan naskah Carita Parahiyangan dan Pustaka Rajya I Bhumi Nusantara (Parwa IV, Sarga I) oleh Pangeran Wangsakerta bahwa Prabu Surawisesa memerintah pada tahun 1521 M hingga 1535 M. Maka tahun 1522 M ketika Padrao didirikan adalah pada tahun kedua masa kekuasaannya.

Jika dibandingkan dengan naskah Carita Parahyangan (anonom), dikatakan bahwa Prabu Surawisesa berkuasa selama 16 tahun. Sehingga jika patokannya tahun 1521 M mulai berkuasa, maka akan akan berakhir pada 1537 M (beda dua tahun dengan data Wangsakerta atau tahun memulainya dua tahun lebih awal dari Wangsakerta yakni 1519 M). Maka tahun Prasasti Batu Tulis versi Pleyte 1533 adalah pada masa Prabu Surawisesa. Sekitar 6 tahun setelah Sunda Kalapa telah dikuasai oleh Fadilah Khan atas perintah Syarif Hidayatullah bersama aliansi Banten, Cirebon, dan Demak dalam rangka memukul mundur Portugis (tesus yang perlu dipertimbangkan juga bisa jadi bersama koalisi istana pusat Pakuan).

Saya dengan demikian, tidak akan mengambil tahun 1533 M dari Pleyte karena masuk masa Prabu Surawisesa dan tidak akan mengambil taun 1333 M dari Poerbatjaraka karena akan masuk pada masa kekuasaan Prabu Linggbuwana dan atau adiknya Prabu Bunisora Suradipati (Ayah dan Paman Prabu Niskala Wastukancana). Tahun yang ideal adalah tahun yang dibuat oleh Husein yakni, 1433 M. Pada tahun-tahun inilah Sri Baduga Maharaja telah tumbuh sebagai penguasa di Pakuan Pajajaran. Tafsir untuk Ngemban dengan demikian dapat diduga bernumerik 3.

Pada tahun sekitar 1400 M atau 1402 M atau 1403 M, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Pasai juga telah berdiri. Kedua kesultanan tersebut dipengaruhi dan melanjutkan Kesultanan Perlak dan Kesultanan Kedah yang telah berdiri lebih awal. Pada naskah Bujangga Manik Kedah, Malaka, dan Pasai telah tercatat. Jadi berdirinya Malaka dan Pasai terjadi 30 tahun sebelum Prasasti Batu Tulis dibuat. Pada tahun 1405 M hingga 1433 M, atas nama Kaisar Yongle dari Dinasti Ming (suku Han) di Cina; Laksamana Zheng He telah keluar masuk Nusantara sejak tahun 1348 M hingga 1433 M. Pelayaran Zheng He tersebut telah terkoneksi dengan pelabuhan Campa, Malaka, Pasai, dan Kalapa (sejak masa Prabu Niskala Wastukancana masih berkuasa).

Pada masa yang berlangsung bersamaan dengan paruh pertama pelayaran Zheng He dari Ming tokoh prosa sajak Bujangga Manik tengah mengeksplorasi dirinya dalam petualangan intelektual, fisik, dan spiritualitas. Pada masa yang saling menampal dan sejajar dengan masa hidup sosok Sri Baduga Maharaja yang dalam tradisi-tradisi lisan dan pantun di kemudian hari juga dianggap gemar dan bergairah dalam pengembaraan.

Catatan dalam naskah Bujangga Manik meski ditemui semacam anakronik kecil; namun secara umum sangat ajeg, detail dan rasional. Bahkan nilainya sangat bermutu, tanpa sedikitpun ditemukan kisah-kisah yang ganjil dan ajaib. Semuanya sangat normal dan realis. Jika tidak bercerita gairah pencarian ilmu maka yang dicitakan adalah gairah pencarian agama.

Maka ketika menemukan kata Sasakala, jika melihat seluruh konstruksi naskah Bujangga Manik; tidak ada kesan sama sekali jika kata Sakakala tersebut adalah dongeng yang tidak berdasar atau yang disebut dalam bahasa Barat sebagai Mitos. Ketika naskah berbicara Sakakala, yang dibicarakannya adalah soal tinggalan perbuatan berupa karya; seperti danau, taman, hutan, monumen, prasasti, dan lain sebagainya. Bukan hanya didapati kata SAKAKALA SANG KURIANG, tapi masih didapati juga SAKAKALA PATANJALA, dan SAKAKALA SILIH WANGI sebagai contohnya.

Sistem Kalender Saka di Nusantara memang memiliki problem tersendiri, dimana kadang tidak didapati penanda waktu. Kadang didapati Candra Sengkala berupa kata-kata Kronogram yang harus ditafsirkan dan sangat bersifat spekulatif; dan baru dikemudian hari ditemukan sistem Candra Sengkala yang lebih bersifat eksak sebagai kata-kata numerik. Padahal pada masa pembuatan Kalender Saka di India sistem numerik berupa angka-angka telah ditemukan dan biasa digunakan dalam keping-keping mata uang emas dan perak.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)