Berdasarkan Bukti Filologis
Naskah Bujangga Manik

Ketika tinggal di komplek istana Pakancilan di Pakuan disebutkan di dalam naskah Bujangga Manik gelarannya adalah Tohaan. Tohaan (Sunda) sepertinya bisa diperbandingkan dengan kata Tuan atau Tuhan yang dalam bahasa Melayu artinya adalah pembesar. Sementara dalam bahasa Inggris kata Tohaan, Tuan, atau Tuhan tersebut setara dengan kata Lord.

Selain disebut Tohaan didapati juga gelaran sebagai Prebu atau Prabu (Sanskrit: Prabhu), yang tentu saja dalam khazanah kebudayaan Nusantara jelas lebih spesifik merujuk pada kedudukannya sebagai Raja. Kemungkinannya adalah bahwa dia menduduki sebagai Raja Muda atau Pangeran atau Putra Mahkota dimana ayahnya masih menduduki jabatan sebagai Raja Utama. Ketika berada di dalam lingkaran komplek istana Pakancilan tersebut namanya disebutkan sebagai Prebu Jaya Pakuan. Dan masyarakat sekitar komplek seringkali menyebutnya hanya dengan kata Tohaan.

Prebu Jaya Pakuan yang tampak masih muda tersebut sepertinya tengah dihinggapi suatu kegelisahan yang amat sangat. Suatu kegelisahan yang tidak bisa dibayar oleh setinggi apapun kedudukannya dalam hirarki sosial yang ada, oleh semewah apapun akses dan fasilitas yang membuatnya memiliki hak istimewa (priviledge) di dalam lingkungan kompleks istana, oleh limpahan kasih-sayang dan perhatian yang baik dari ibu bapak, oleh pengajaran yang mengalir banyak dari mahapandita yang setiap waktu khusus disediakan untuk menggemblengnya dalam pendidikan yang baik, bahkan oleh sebentuk cinta kasih yang menggelora dari seorang putri cantik yang memenuhi segala kaidah keutamaan dan kekerabatan sekalipun.

Tampaknya hanya ada satu jalan keluar yang memungkinkan yang diketahuinya untuk dicoba, yaitu dengan segera mengobati rasa luka hati, duka nestapa, dan kegelisahan yang terus-menerus menggerogoti pertumbuhan jiwanya itu dengan cara untuk segera pergi mengembara. Menyingkir dan mengasing meninggalkan segala ikatan yang membelenggu membebani jalan pikiran dari nilai-nilai kekerabatan, kemanusiaan, kedudukan, dan aspek kebendaan duniawi lainnya; menuju tata nilai yang lebih tinggi dan sempurna, mendaki jalan hidup spiritualitas dan keagamaan. Membakar segala rasa yang dimiliki, memadamkan segala bentuk harapan dan ambisi, dan mematikan segala hasrat yang ada dengan cara pengembaraan; agar mampu mendingin seiring waktu.

Di dalam perjalanan tersebut, Prebu Jaya Pakuan, seorang Tohaan dari Pakancilan kemudian menemukan nama-nama jukukan lainnya yang sesuai dengan makna perjalanan yang tengah dialaminya. Namanya berubah menjadi Ameng Layaran setelah menuntaskan pelayaran dari Pamalang ke Kalapa. Menjadi Bujangga Manik ketika menekuni pertapaan terutama sejak di Balumbungan. Sementara variasi nama lainnya ketika di Balumbungan adalah Rakaki Bujangga Manik. Dan kemudian namanya menjadi Ameng Layaran Rakean Bujangga Manik ketika menyeberang dari Balumbungan menuju ke Pulau Bali atau Nusa Bali dan sebaliknya; dari Pulau Bali kembali menuju ke Balumbungan.

Di beberapa tempat yang dia anggap penting untuk dicercapi pengalamannya kemudian dia memutuskan untuk menetap lebih lama, untuk berguru di mandala-mandala keagamaan atau bertapa di kesunyian kabuyutan-kabuyutan, hingga diakhiri jika telah merasa cukup atau cukup gusar karena mulai adanya kunjungan petapa lainnya, atau pada kasus di Balumbungan karena hadirnya petapa wanita. Waktu pertapaan tersebut rata-rata paling lama hanya memakan waktu satu tahun saja, itu pun hanya di beberapa tempat terpilih yang bisa dihitung dengan jari. Hingga akhirnya tekah merasa mampu untuk mencapai tahap pembebasan, menemukan penglihatan, mendapatkan pencerahan, dan menuntaskan segala bentuk teka-teki spiritualitas yang selama ini menghantui dirinya di suatu kabuyutan atau mandala yang berada kaki Bukit Patuha (sekarang Gunung Patuha) di kawasan Bandung Selatan (Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung).

Atma yang bersih kemudian terpisah dari waruga hingga memasuki alam swarga yang dijaga ketat oleh Dorakala (Sanskrit: Dvarakala; pintu waktu); lalu pada akhirnya mampu mencapai pangkat moksa. Moksa di sini kita dapat memilih untuk membacanya bukan dalam kerangka normal meninggal dunia sebagaimana pada kasus umumnya, melainkan bisa dibaca sebagai sebentuk keberhasilan Bujangga Manik dalam menuntaskan persoalan filsafat, teologi, dan spiritualitas yang selama ini menghimpit relung hatinya.

Masa bertapa di Gunung Patuha tercatat memakan waktu, yakni sekitar 9 tahun hinggan tiba di puncaknya dan digenapkan menjadi 10 tahun untuk menyempurnakannya. Sementara di beberapa kabuyutan atau mandala lainnya yang berada di tatar Sunda, Majapahit (alas Jawa), dan Bali masing-masing hanya memakan waktu bertapa dan berguru paling lama hanya satu tahun saja. Dengan demikian melalui perkiraan kasar, waktu yang telah dihabiskan oleh Bujangga Manik dalam keseluruhan pengembaraan dan upaya pencariannya telah memakan waktu sekitar 17 tahun lamanya. Dan jika dia pergi dalam keadaan usia remaja matang yang paling tua berusia sekitar 20 tahun, maka akhir pencarianya telah dicapai pada usia sekitar 357 tahun. Suatu kerja keras dan pencapaian maqom kematangan spiritualitas yang terbilang sangat cepat dan pesat yang telah mampu diraihnya dalam usia masih di bawah 40 tahun.

Adanya naskah Bujangga Manik seharusnya menjadi bukti bahwa Bujangga Manik masih hidup dan kemudian mampu merekonstuksi pengalamannya dan mencatatkan jalan pencerahannya tersebut dalam bentuk perpaduan sastra perjalanan (geografis) yang rinci dan dipungkas dengan kongklusi filosofi, teologi, dan spiritualitas yang bersandar pada model imajinasi konseptual keagamaan zamannya. Suatu perpaduan dari anasir Hindu, Budha, dan kebijaksanaan lokal yang dapat dilihat melalui simbol-simbol konseptual yang ada dan disajikan dalam sebentuk naskah tersebut. Jika dikaruniai usia yang masih panjang merentang setelah babak menuliskan fase pengembaraannya di Gunung Patuha, seharusnya karyanya intelektualnya akan masih banyak bisa berlahiran dari satu pustaka ke satu pustaka naskah lainnya.

Sehingga sangat penting untuk menginvestigasi kembali posisi terakhir naskah Bujangga Manik tersebut berada dimana, dari tangan siapa, pada waktu kapan sebelum kemudian muncul tiba-tiba di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford sebagai koleksi sejak tahun 1627 M. Beruntung, publik intelektual tanah air kemudian berhutang jasa kepada Jacobus Noorduyn dari KITLV Belanda yang sejak 1968 M mulai melakukan penelitian, pembacaan, dan transliterasinya. Laporan penelitiannya sempat ditulis dengan judul Bujangga Manik Journeys Throught Java: Topographical Data From An Old Sundanese Source pada tahun 1982. Dan projek penelitiannya dilanjutkan oleh koleganya dari Belanda A. Teeuw ketika J. Noorduyn meninggal. Maka kemudian lahir karya Three Old Sundanese Poem pada tahun 2006 atas nama J. Noorduyn dan A. Teeuw. Naskah Bujangga Manik tersebut tersusun atas 29 lembar daun nipah (Sunda: Kirai atau Daun) yang disatukan, yang masing-masing memuat sekitar 56 baris kalimat dimana jumlah seluruh baris kalimatnya adalah 1.641 baris. Naskah tersebut ditis dalam bentuk bahasa Sunda Kuno (Sunda Buhun) dan aksara Sunda Kuno.

Jika diperkenankan menganalisis, ada beberapa penciri untuk melihat kurun waktu pembuatan naskah tersebut terjadi atau jika Prabu Jaya Pakuan yang menjadi penulisnya, juga sekaligus adalah sosok yang historis. Pertama pembagian wilayah Pulau Jawa pada masa itu masih menggunakan teritorial Sunda (591-1579 M) dan Majapahit (1293-1527 M) dengan tapal batas Ci Pamali (Kali Pemali). Kedua sudah terbentuk Alas Demak (kawasan Demak; 1475-1554 M) secara khusus, namun demikian masih terlihat citarasanya yang masih terintegrasi secara umum dengan kekuasaan induk Majapahit. Ketiga, telah diperlihatkan adanya potret situasi yang mengindikasikan kekuasaan Malaka (1440-1511 M) sebagai bagian dari mata rantai penguasaan jalur laut di Utara Pulau Jawa yang nantinya baru akan berakhir dengan masuknya kemuasaan Portugis. Keempat, dikatakan di dalam kisah tersebut bahwa Bujangga Manik dianggap lebih tampan dari Silih Wangi dan Banyak Catra sebagai pujian yang diberitakan pelayan wanita Jompong Larang kepada seorang Tohaan wanita dari komplek seberang Pakancilan bernama Putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana yang menyukainya.

Cukup mudah untuk memahami bahwa Silih Wangi (1482-1521 M) di sini adalah Pamanah Rasa adalah Rajasunu adalah Jaya Dewata adalah Sri Baduga Maharaja yang kemudian hari mampu berkuasa atas tahta Sunda-Galuh (keberhasilan penyatuan kembali tahta setelah masa kakeknya Niskala Wastu Kancana). Silih Wangi merupakan putra Dewa Niskala atau Ningrat Kancana (Raja Galuh) dengan isterinya yang bernama Uma Dewi dari istana Kawali. Saudara Silih Wangi adalah Ningratwangi atau Rangga Pupuk. Sementara Banyak Catra adalah Kamandaka adalah Guruminda adalah Lutung Kasarung yang merupakan putra Dewa Niskala atau Ningrat Kancana dengan Ratna Huma. Banyak Catra kemudian berkuasa atas tahta Pasir Luhur (Banyumas) yang masih terintegrasi dengan Galuh (Ciamis). Saudara lain dari Banyak Catra adalah Banyak Ngampar atau Gagak Ngampar atau Silih Warni yang berkuasa atas tahta Dayeuh Luhur (saat ini Cilacap). Juga Banyak Blabur atau Kusumalaya atau Ajar Kutamangu yang berkuasa atas tahta Talaga (Majalengka). Dan terakhir adalah Ratna Pamekas yang menikahi Raden Baribin pengungsi asal Majapahit karena adanya suksesi keras kekuasaan di tempat asalnya.

Melalui analisis tersebut sangat jelas bahwa Bujangga Manik yang merupakan Pangeran Sunda (Pakuan) hidup sebelum Malaka hancur oleh Portugis tahun 1511 M. Sebelum Majapahit runtuh oleh Demak 1527 M. Sebelum Sunda (Sunda-Galuh/Pajajaran) runtuh tahun 1579 M oleh Banten. Dan bisa jadi hidup sezaman dengan Silih Wangi dan Banyak Catra pada periode ketika Sunda dan Galuh sepeninggal Niskala Wastu Kancana masih terbelah ditangan Susuk Tunggal (Sunda) dan Ningrat Kancana (Galuh); sebagai para putra Niskala Wastu Kancana. Jika Banyak Catra dan Silih Wangi berasal dari kepangeranan Timur di Galuh (Kawali) maka Bujangga Manik berasal dari kepangeranan Barat di Sunda (Pakuan). Jikapun berada di bawah usia Silih Wangi dan Banyak Catra maka hanya berada dalam selisih waktu yang sedikit sebelum keruntuhan Majapahit dan Pajajaran terjadi. Naskah tersebut dengan demikian telah ditulis pada antara akhir abad ke-15 M dan awal abad ke-16 M.


Kemudian ini adalah rute awal perjalanan yang ditempuh oleh Bujangga Manik ketika meninggalkan kawasan Pakuan Pajajaran dari istananya yang berada di komplek Pakancilan.

Pakancilan, Umbul, Windu Cinta, Manguntur, Pancawara, Leubuh Ageung, Pakeun Caringin, Nangka Anak, Tajur Mandiri, Suka Beureus, Tajur Nyanghelang, Engkih, Cihaliwung, Banggis, Talaga Hening, Peusing, Cilingga, Putih Birit.

Dari Putih Birit, Prebu Jaya Pakuan dalam catatannya kemudian menulis:

“Sadatang aing ka Punycak, deuuk di na mu(ng)kal datar, teher ngahididan a/wak. /Teher
sia ne(ny)jo gunung: itu ta na bukit Ageung, hulu wano na Pakuan.

(Setiba aku ke Puncak, duduk di atas lahan pedataran, segera mengipasi badan. Segera kamu melihat gunung: Itu di atas Bukit Ageung, hulu yang dikenal miliknya Pakuan.)

Sadiri aing ti inya, datang ka alas Eronan. Nepi aing ka Cinangsi, meu(n)tas aing di Citarum.

(Sendiri aku dari sana, datang ke daerah Eronan. Sampai aku ke Cinangsi, menyeberang aku di Citarum.)”

Setelah menyeberangi Ci Tarum, Bujangga Manik merinci tempat berikutnya sebagaimana demikian:

Cipunagara; (bagian Medang Kahiangan), Tompo Omas, Cimanuk, Pada Beunghar, Cijerukmanis, Conam, Bukit C(e)remay, Luhur Agung, Cisanggarung, ujung Su(n)da, Cipamali, daerah Jawa, bagian-bagian Majapahit, daerah Demak, Pamalang. (Pada etape pertama tersebut dari Pamalang Bujangga Manik kemudian ikut menumpang berlayar ke Kalapa dan pulang ke Pakuan karena rindu kepada ibunya).

Masih banyak penanda tempat yang bisa dilihat dan dikenali hingga masa kini sebagai penciri rute-rute yang ditempuh oleh Bujangga Manik. Pakuan tentu disepakati ahli berada di kawasan Bogor modern. Pakancilan sebagai pusat Pakuan tentu juga berada di sekitar pusat Bogor modern (sekitar Istana Presiden Bogor, Kebun Raya, dan Prasasti Batu Tulis.). Sungai Cihaliwung menjadi Ciliwung (Ci Liwung) dan kemudian menuju Punycak yang saat ini menjadi Puncak, dimana titik tertingginya Jalur Puncak (Puncak Pass) berada tepat sebelum menurun ke arah Cipanas (Cianjur modern). Sementara Bukit Ageung tentu adalah kawasan Gunung Gede dan Gunung Pangrango pada saat ini yang menjadi tanah tertinggi di antara Sukabumi, Cianjur, dan Bogor. Dari Puncak Bujangga Manik tentunya harus turun ke daerah Cipanas dan kemudian masuk ke daerah Eronan. Daerah Eronan sepertinya buka arah lurus ke Selatan menuju ke pusat kota Cianjur modern, melainkan jalur dari Cipanas (seberang Istana Presiden Cipanas Cianjur) menuju ke arah Timur. Suatu arah yang akan menghantarkan menuju ke kawasan Cianjur lama, yakni Kecamatan Cikalong Kulon tempat dimana petilasan Cikundul (Wiratanudatar I) berada. Di Kecamatan Cikalong Kulon tersebut masih didapati hingga hari ini suatu Desa yang bernama Cinangsi.

Posisi Desa Cinangsi yang menjadi tempat penyeberangan klasik berada, tentu berada di sebelah Utara kawasan Desa Rajamandala (KecamatanCipatat modern); yakni di kawasan Cikalong Kulon. Karena pada kawasan Rajamandala yang berbatasan dengan Kecamatan Ciranjang memiliki tingkat kecuraman tebing dan kedalaman lembahnya terlalu berbahaya untuk bisa diseberangi pada masa ini (kecuali dengan adanya jembatan selepas Jalan Pos dibuat). Dari Cikalong Kulon (Cianjur) selanjutnya akan menyeberang ke kawasan Cikalong Wetan (Bandung) yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat, yakni sedikit di kawasan Selatan wilayah Purwakarta. Dari kawasan tersebut kemungkinan besar akan parabol agak ke Utara menuju kawasan Selatan Purwakarta dan Selatan Subang hingga tiba ke arah Sumedang yang dalam naskah tersebut sepertinya diberi nama sebagai Medang Kahiangan. Sehingga rutenya Puncak, Eronan, Cinangsi, Cipunagara bagian dari Medang Kahiangan, Tompo Omas (sekarang Gunung Tampomas), Cimanuk (Ci Manuk) yang saat ini jadi perbatasan Sumedang dan Majalengka dan seterusnya hingga tiba ke kawasan Timur.

Selain teks yang dikutipkan di atas, Bujangga Manik masih mencatat adegang menyeberangi Ci Tarum pada etape kedua perjalanannya dari Pakuan kembali menuju ke arah Majapahit dan Pulau Bali yang tampaknya di sekitar kawasan Bekasi (terdapat kata Timbun yang miri Tambun saat ini). Juga mencatat kembali Ci Tarum pada saat menuju hulu Ci Tarum untuk bertapa di sana setelah pengembaraan kembali dari kawasan Majapahit dan Pulau Bali. Dengan demikian seluruh jumlah kata Ci Tarum yang tercatat dalam naskah Bujangga Manik ada 4 kali disebutkan. Ditambah satu buah kata Cisanti dekat Gunung Wayang yang hanya sekedar dilewati ketika melakukan perjalanan akhir menuju ke Gunung Patuha. Tampak memutari kawasan Cekungan Bandung dari Selatan ke Utara hingga kembali tiba di Eronan dan Puncak dan setelah bimbang apakah akan pulang menunu ke Pakuan dengan mengenang rasa bersalah karena telah meninggalkan ibu bapak dan mahapandita, namun tekad kuat membawanya ke Gunung Patuha melalui kawasan pegunungan Cekungan Bandung di Selatan.

Banyak sekali topik-topik yang harus dianalisa lebih khusus, selain masalah Ci Tarum, masalah toponimi (nama-nama tempat), masalah kartografi (pemetaan), masalah sejarah, dan masalah filsafat, teologi, dan spiritualitas. Hanya saja untuk pembahasan Ci Tarum kali ini hanya dicukupkan satu buah kasus kutipan saja yang dapat dikemukakan sebagai representasi, dimana pada naskah Bujangga Manik tersebut detail kawasan terasa lebih kaya untuk bisa dipelajari daripada naskah Carita Parahyangan. Dan pada naskah Bujangga Manik tersebut kata Tarum telah memperoleh atribut tambahan Ci sebagai unsur penanda anasir perairan yang kemudian mutlak identik dengan maksud maknanya sebagai sungai. Dan ditambah lagi kalimat penegas seperti kata meuntas (menyeberangi) yang membuatnya semakin jelas bahwa Ci Tarum telah berarti Sungai Tarum sebagai tinggalan kejayaan masa Nagara Taruma (Tarumanagara) pada masa silam.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)