Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi

Kita dapat mengenal kemegahan gedung Villa Isola tempo dulu melalui foto udara dan beberapa foto hitam-putih (BW) yang banyak beredar di situs-situs internet. Atau, sebenarnya ada juga buku yang menjadi sumbernya yang bisa di akses di kantor humas UPI (cat: penulis sempat membaca buku aslinya bersama Dahlan Hidayat [Pendidikan Geografi UPI angkatan 2003] di perpustakaan UPI sekitar 2003/2004 dan kopiannya ada di kantor humas UPI; terakhir pengecekan 2009 keduanya belum kembali), buah karya Ir. W. Lemei terbitan Mei 1934 (berisi empat lembar kurasi dan sekitar 80 frame foto dengan keterangan sederhana).

Buku tersebut diberi judul VILLA ISOLA, isinya sebenarnya bukan pemaparan yang panjang lebar perihal Villa Isola, melainkan sekedar (semacam) ‘essay’ fotografi. Meskipun demikian, melalui media tersebut Ir. W. Lemei (arsitek, dosen THS/ITB) terbukti telah berhasil mengawetkan sudut-sudut terbaik Villa Isola bersama catatan-catatan ringkas yang cukup penting; tak lama berselang setelah pemiliknya melakukan peresmian. Melihat semua foto-foto tersebut imajinasi kita akan dibuat manja seolah melayang-layang lantas tersedot menembus sekat-sekat zaman, kemudian menempatkan kita menjadi saksi mata dalam bagaimana gedung tersebut benar-benar pernah mengalami masa puncak kejayaan.

Jika kita melihat Villa Isola dari atas udara (baca: foto udara) bentuknya akan tampak seperti kapal selam yang tengah menyembul, atau ada juga yang menganggapnya lebih mirip kapal induk. Efek visual seperti itu muncul mungkin selain karena kekuatan konsep arsitekturnya sengaja mengarahkan demikian, juga karena pada waktu itu memang seluruh areal penyokongnya masih lengkap ibarat lautan. Saking eksotisnya gedung tersebut, kita akan merasa dibuat bingung: sebenarnya dirancang menghadap ke manakah arah hadap utama bangunan ini? Dan yang mana yang menjadi bagian utamanya tersebut? Apakah yang menghadap ke Utara, ke Timur, atau yang ke Selatan? Walaupun tidak terdapat pintu masuk di bagian Barat bangunan bahkan tetap saja tampak sebagai depan. Ah, tapi satu hal yang pasti, Villa Isola pada waktu itu benar-benar tampil dalam wujud yang sangat prima lagi menawan hati.

Taman di sebelah Utara telah ditata dengan sebegitu apiknya. Teras dibuat berundak-undak, melengkung-lengkung dengan pola setengah lingkaran. Kemudian pada teras bagian paling bawah menjadi lurus memanjang ke Utara membelah taman menjadi kiri dan kanan. Sedangkan bangku-bangku tempat duduk untuk menikmati suasana semuanya terbuat dari marmer putih yang mengkilat kena cahaya. Belum lagi kolam persegi dengan pahatan patung yang terbuat juga dari marmer akan terlihat indah dengan air jernih yang memancar setiap waktu. Ada lorong gua tembus berukuran pendek memenggal di bawah jalan dan mobil klasik membujur melintas di atasnya. Garasinya pun yang sekarang menjadi tempat penyimpanan uang alias kantor BNI 46 Cabang UPI (sekarang menjadi Museum Pendidikan), dulu tak kalah bagusnya.

Taman di bagian Selatan juga dilengkapi teras yang masih berundak-undak dengan tangga kipas yang menghubungkan taman di sebelah Utaranya. Kolam besar berbentuk oval dan kolam berukuran kecil-kecil membundar sempurna. Sedangkan dua buah tiangan yang cukup tinggi tegak berdiri berpasangan mengingatkan kita pada bentuk menhir peninggalan masa prasejarah. Bola-bola dari beton kokoh diletakkan di beberapa sudut taman. Dan lebih ke Selatan lagi, sepasang anak tangga melingkar lagi ke bawah mengikuti kontur yang cukup curam. Ada juga lorong bawah tanah (cat: luar dan dalam sekarang telah di tutup) yang menghubungkan lantai dasar gedung Villa Isola dengan taman Selatan yang hingga sekarang masih dianggap misteri. Ah, pokoknya sungguh fantasi yang luar biasa memanjakan.

Hutan mini menempati sebelah Timur Laut gedung Villa Isola mendekati areal yang kini (cat: masih) menyisakan wujud sebagai Kebun Botani (Arboretum). Jalan setapak berbatu berkelok-kelok di atas hamparan rumput menghijau yang selalu terawat, berpulat-putar membentuk pola-pola hasil pendaratan UFO (unidentified flaying object) di tempat yang sekarang menjadi lapangan teater terbuka (cat: sekarang menjadi bagian penataan taman baru). Kemudian ada tambahan rumah-rumah yang berjajar masih dengan gaya Art Deco (Seni Dekoratif); lapang tenis, kandang kuda, kandang rusa dan angsa dan gereja mungil yang cantik ditempatkan agak jauh dan terpisah dari bangunan utamanya. Kemegahan Villa Isola menjadi jauh lebih sempurna dengan keberadaan lahan perkebunan dengan vegetasi rendah (cat: mungkin, sekedar interpretasi foto udara) yang membentang hingga ke Barat menemui aliran sungai Ci Beureum dan Curug Sigay yang menyegarkan.

Maka Villa Isola merupakan puncak prestasi arsitektural; menyatu dengan lanskap di mana bangunan itu berdiri kokoh dan agung. Walaupun keberadaan Villa Isola pada waktu itu terpencil di daerah pinggiran belakang (cat: asosiasikan dengan Village dan Isolation) dan terputus dari hiruk-pikuk kota Paris van Java (Bandung) dan Batavia (Jakarta) di mana pemiliknya menetap; namun, Villa Isola tetap saja dianggap sebagai simbol puncak pencapaian modernitas dan representasi gaya hidup glamor para pemuka Hindia-Belanda. Sayang, kenyataannya kita kini hanya menyaksikan sebagian kecil dari keping-keping tersisa dari kemegahan masa lalunya.


Pemilik bangunan tersebut adalah Dominique Willem Berrety, seorang warga Hindia-Belanda peranakan (indo) Italia-Jawa, kelahiran 20 November 1890. Ambisi mudanya menggebu-gebu hingga akhirnya mengantarkan dirinya ke puncak karir sebagai seorang jurnalis popular dan kaya raya. Mengawali karirnya pada perusahaan surat kabar Java Bode hingga kemudian membuka sendiri usaha jasa telegrafis pada 1917 M. Karirnya lantas mengangkasa ketika ia berhasil merintis ANETA (Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap) di Batavia, yang saat ini terpuruk sebagai kantor berita ANTARA (sepertinya diambil alih Adam Malik dkk sejak 1937 M). Melalui ANETA tersebut Berrety mampu memainkan peran sebagai pemilik hak monopoli peredaran berita, informasi dan komunikasi baik ke luar dan ke dalam wilayah Hindia-Belanda via teknologi telegrafisnya dengan dunia Internasional.

Kemudian muncul kabar anti-klimak bagi DW Berrety jika pembangunan Villa Isola tersebut dengan menggunakan uang yang cukup berlimpah, dengan taksiran sekitar angka 500.000 gulden (cat: entah dengan konversi rupiah sekarang?). Sedangkan Hindia-Belanda pada waktu itu tengah mengalami kelesuan perekonomian akibat goncangan ‘crismon’ (krisis moneter) alias resesi ekonomi global (cat: alasan serupa yang membuat terbengkalainya rencana pemindahan ibukota Hindia-Belanda dari Jakarta ke Bandung; selain berpadu dengan situasi politik dunia yang berubah secara cepatnya menjelang PD II alias Word War II).

Tuduhan tersebut menimbulkan pergunjingan yang tidak sedap. Orang-orang lantas menghubung-hubungkan kesuksesan karirnya yang cepat dengan penyalahgunaan wewenang dan kedudukannya sebagai pemilik ANETA dengan hak monopolinya yang membahayakan. Lebih menyakitkan lagi, Berrety lantas dicap sebagai penghianat; menjadi bagian dari mata-rantai spionase dinas rahasia Jepang (yang sejak jauh-jauh hari sejak adanya gerakan Restorasi Meiji memang sesungguhnya telah menunjukkan geliat dalam upaya persiapan penjajahan). Uang bayaran hasil membocorkan informasi Hindia-Belanda itulah yang kemudian dianggap sebagai pangkal pembiayaan projek ‘menara gading’ pembangunan gedung Villa Isola.

Jika masuk ke dalam Villa Isola melalui pintu Utara, tepat di tengah sepasang untaian anak tangga menuju lantai dua, dahulu terdapat tulisan dinding bertekstur dengan menggunakan bahasa Italia “M’ISOLO E VIVO”; artinya AKU MENGASING DAN BERTAHAN HIDUP. Sekarang tulisan tersebut akan terbaca BUMI SILIWANGI sejak adanya peresmian kampus Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) pada 20 Oktober 1954. Gores pernyataan Berrety tersebut akan mengundang pertanyaan bagi kita: apa yang tengah terjadi tuan? Hingga anda memutuskan untuk membangun Villa Isola, menggoreskan tulisan tersebut dan merencanakan suatu pengasingan dari hiruk-pikuk dunia popular, glamor dan selebrita di Batavia?

Penamaan Villa Isola oleh DW Berrety boleh jadi dalam kontek fisik bangunan memang dibangun di pelosok desa yang jauh dari keramaian pusat kota besar. Dan mungkin juga menjadi refleksi sikap hidupnya secara filosofis pada saat akhir perjalanan hidupnya; barangkali sebagai manifestasi titik balik perasaannya, bisa jadi. Hanya saja, orang tetap saja menganggapnya sebagai buah karya paradok dengan pencapaian dan gaya hidupnya yang merentang jauh sebelumnya.

Jika ditilik lebih baik, pemilik wajah dan perawakan yang lebih kuat pada nuansa pribuminya tersebut (pergerakan nasional juga tampaknya memang dimulai dari kesadaran kalangan indo yang dilematis sebagai jembatan penghubung antara totok dan pribumi) pada 1934 M memang masih sempat menjalin hubungan asmara dengan putri dari Jonkheer Bonifacius Cornelis de Jonge, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda. Tak perlulah diceritakan betapa konon begitu banyak dan bergonta-gantinya pacar sebagai bukti pesona dan keplayboyan Berrety. Namun sayang perkara hubungan dengan putri Gubernur Jenderal Hindia-Belanda tersebut tidak pernah mendapatkan restu. Muncullah juga alasan yang mengakibatkan kenapa Berrety tidak sempat berlama-lama menikmati maha-karyanya tersebut (baca: Villa Isola).

Banyak pihak kemudian berspekulasi mengenai kematiannya dalam kecelakaan pesawat terbang DC 2 Uiver (pada 20 Desember 1934) di Syiria yang tidak semata-mata peristiwa kebetulan. Beberapa pihak mengatakan De Jonglah dalang dibalik kematian Berrety demi melindungi karir politik dan kehidupan pribadinya. Apakah dengan demikian mempertegas juga betapa artifisialnya percintaan DW Berrety tersebut? Bisa jadi, karena kisah hidup DW Berrety, konon adalah kisah hidup yang menarik tapi gelap, kontroversial dan penuh nuansa konspiratif. Ataukah barangkali semacam agen layaknya James Bond kah DW Berrety? Walahu’alam!


Villa Isola dikerjakan oleh maestro arsitek Art Deco, CP Wolff Schomaker atas sokongan Biro AIA (Algemeen Ingenieur Architectenbureau) yang berkedudukan di Batavia. Pembangunannya berhasil diselesaikan super cepat, yakni hanya dari bulan Oktober 1932 sampai Maret 1933, artinya sekedar lima bulan pengerjaan. Bukankah ajaibnya mengalahkan dongeng-dongeng Guriang? CP Wolff Schoemaker mampu dengan baik menerjemahkan gagasan dan keinginan DW Berrety yang diewujudkan dalam bangunan tersebut. Pencapaian super cepat tersebut dilakasanakan atas permintaan DW Berrety yang hendak meresmikan penggunaannya menjelang bulan Desember 1933.

CP Wolff Schomaker (1882-1949 M) adalah pria Hindia-Belanda kelahiran Banyu Biru, Ambarawa (Jawa Tengah). Ia mahir memadukan langgam arsitektur Eropa yang modern dengan arsitektur lokal yang tradisional. Dalam membangun Isola, arsitek yang kemudian hari sempat mengajar di THS/ITB ini, terbukti berhasil mengadaptasi bangunan dengan mempertimbangkan segala aspek. Baik topografi, lahan, cuaca, intensitas cahaya dan pengintegrasian prodak-prodak seni dari beberapa aliran sebagai unsur dekoratifnya.

CP Wolff Schomaker juga mengadopsi orientasi kosmis dalam membangunan Isola. Dengan mempertimbangkan nilai keberadaan Gunung Tangkubanparahu di Utara, Gunung Malabar di Selatan dan Gunung Manglayang di Timur. Atau bisa jadi sayup-sayup terlihat dari balkon atas keberadaan Gunung kembar Gede-Pangrango atau sekedar gugus perbukitan kapur putih Rajamandala di sebelah Baratnya; yang tetap menjadi bagian dari pertimbangan arah hadapnya.

Dalam rancangannya, Villa Isola sengaja memainkan garis-garis lengkung nyaris tanpa sudut, perpaduan pola-pola geometris dan desain berjenjang ala sistem percandian lokal. Sedang patung, lukisan, kaca patri dari langgam seni kubisme menjadi elemen utama dari dekorasinya. Vila Isola disusun dari batu-batu yang diplester, jendela dengan rangka besi, ubin beton beralaskan besi dan juga atap dari beton. Kemudian perabotan mebel dan lampu-lampu penerangan khusus dipesan langsung dari Paris (Perancis) dan Venesia (Italia). Lengkap sudah kecantikan gedung tersebut dan kita cukup beruntung dapat mengetahui Villa Isola dalam kedudukannya sebagai salah satu master piece art deco Bandung.


Menurut Entri Somantri (24) mantan ketua UKM Studio 229 UPI (sekarang Guru Seni salah-satu SMAN di Sukabumi): “Villa Isola sangat bernilai” tambahnya “kelihatannya, dulu pembangunan Villa Isola tidak mempertimbangkan nilai artistik saja, tapi melalui riset yang dalam”.

Sedangkan menurut mantan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UPI, Prof. Dr. Rusli Luthan (cat: dosen senior FPOK berdarah ‘dayak’ Kalimantan Tengah, pernah menangani kebugaran tim PERSIB; sudah pensiun) berujar: “Selama ini sejarah Villa Isola masih berupa cerita lisan. Belum ada upaya penulisan secara khusus”.

Artinya informasi mengenai Villa Isola ternyata belum dikaji dan dimaksimalkan secara serius. Padahal Villa Isola memiliki banyak cerita menarik yang dapat memberi pemahaman rekonstruktif sejak masa lalu melalui perkembangan beberapa babak zamannya; hingga kita tergiring pada penarikan kesimpulan sebagai modal sikap untuk hari ini setidaknya dalam kerangka mikro sebagai warga civitas akademika. Ya, minimal buat kebutuhan ‘dongeng’ bagi lingkungan UPI saja dulu.


Selain menjadi Villa-nya Berrety, beredar juga cerita mengenai Isola yang pernah dijadikan rumah tinggal sementara Letnan Jenderal saat mempersiapkan penandatanganan Kapitulasi Kalijati, Subang (serah-terima tanpa perlawanan Belanda terhadap Jepang), Maret 1942. Atau cerita pemanfaatan Villa Isola sebagai markas Pos Pertahanan Terdepan (commando post) Batalyon BKR/TKR Bandung Utara saat mempertahankan kemerdekaan NKRI (satu kelompok yang kuat bertahan di utara ketika semua laskar mengikuti ultimatum Sekutu memasuki kantung Selatan dari rel kereta-api Bandung sebagai pemisahnya). Rumor dijualnya Villa Isola menjadi bagian dari aset Hotel Savoy Homan. Atau sebagai tempat kuliah dan kantor bagi PTPG yang sanggup memuat 240 mahasiswa dan civitas akademika.

Cerita-cerita di masa kini juga tidak kalah menarik. Misalnya mengenai pemanfaatan Villa Isola sebagai kantor rektorat UPI dalam membuat segala bentuk kebijakan kampus dan masa depan dunia pendidikan Nusantara. Wisatawan mancanegara yang sesekali berkunjung jika kebetulan sedang berkunjung ke Bandung. Atau kelompok mahasiswa yang melakukan berbagai aktifitas di sekitar gedung. Melukis, berlatih fotografi, berlatih seni peran, membaca, berbincang-bincang, menemui sang kekasih hati, mencuri ikan, hingga mencari hantu di malam hari.

Sempat beredar rumor juga jika Villa Isola hendak dijadikan Museum Sejarah dan Pendidikan selepas Rektorat yang akan pindah ke gedung baru (dugaan yang akhirnya sedikit meleset). Agar koleksi peninggalan BKR/TKR, seperti aneka senjata api yang masih direlokasi ke perpustakaan UPI dapat kembali menempati gedung tersebut (cat: memang pernah ada peresmian IKIP Bandung dan Legiun Peteran Cabang Bandung pada masa rektor Muhammad Numan Somantri untuk mengenang jasa pahlawan dan aset pembelajaran PLSBT/sejarah ). Ada juga yang menginginkan konsep pengelolaan gedung tersebut berbasis Resort Exellent Center berbarengan dengan uforia keberhasilan pembentukan prodi-prodi Kepariwisataan di UPI. Ah, apapunlah, sekedar membuktikan bahwa pesona Villa Isola belum sepenuhnya pudar. Masih terselip nilai-nilai kecantikan, alternatif dan prospek pengelolaan yang lebih pantas yang dapat dilakukan oleh pejabat kampus yang cerdas.


Villa Isola secara resmi berganti nama menjadi Bumi Siliwangi pada 20 Oktober 1954, bersamaan dengan peresmian kampus PTPG, cikal bakal IKIP dan UPI saat ini. Berdasarkan data dari ‘Villa Isola ke Bumi Siliwangi’ yang diterbitkan PTPG tahun 1955, pemerintah telah membeli Villa Isola beserta aset tanahnya seluas 7,5 hektar dengan harga 1,5 juta rupiah (cat: silakan di konversi dengan situasi keuangan sekarang?). Kemudian melakukan perbaikan dan rekontruksi kembali melalui Djawatan Gedung-Gedung Negeri Bandung sesuai dengan aslinya untuk kepentingan PTPG (cat: memang tidak rubuh secara konstruksi keseluruhan namun penuh lubang dan bobeng-bopeng). Perbaikan gedung dilaksanakan karena pada masa revolusi kemerdekaan telah menutup riwayat Villa Isola sebagai rumah yang megah hingga menjadi sarang pertempuran, penuh lubang peluru, artileri (dilesatkan dari depan Gedung Sate) dan dinamit. Halaman yang rapi dengan aneka bunga warna-warni telah berubah menjadi semak belukar dan ladang hasil bumi.

Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. Muhammad Yamin dalam pidato peresmian PTPG mengatakan ”Wahai kamu sekalian mahasiswa, ingat dan insjaflah bahwa kamu menuntut ilmu di tempat ini berkat kebahagiaan proklamasi jang diberkati Tuhan Jang Maha Esa.” (Drs. Sjafii, 1984, Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Bandung). Lantas beliau mendeklamasikan sonnettanya yang berjudul “Bumi Siliwangi”. Isinya kurang-lebih menceritakan keindahan alam Parahyangan, suatu ilham yang diperolehnya pada saat beliau berada di dataran tinggi Ciumbuleuit, Bandung Utara. Dari judul sonetta itulah Muhammad Yamin memberi nama baru Villa Isola, yakni Bumi Siliwangi. Nama yang menandai babak baru, simbol semangat kemerdekaan dan alam pembangunan nasional. (Cat: perlu ditimbang bahwa laskar BKR/TKR berpanji Merah-Putih-Villa Isola-Gunung Tangkubanparahu tersebut bertempur dengan pasukan elit Inggris-Sekutu, yakni Gurka salah satu etnik petempur yang disegani dunia dari Nepal/kaki Himalaya selain etnik Sherpa yang handal sebagai porter. Dan mampu memukul mundur pergerakannya sebelum bablas melewati front line gedung Villa Isola. Pasal peristiwa adalah usaha penculikan isteri Danudirja Setiabudhi/EFE Douwes Dekker kapi cucu dari Multatuli/Eduard Douwes Dekker)

M. Syaom Barliana Iskandar, dosen teknik arssitektur UPI dalam makalah berjudul “Kolonial Atawa Kolonialisme Arsitektur?” yang disampaikan dalam seminar pencagaran situs-situs prasejarah dan sejarah cekungan bandung, diselenggarakan JANTERA—Perhimpunan Pecinta Alam Pendidikan Geografi UPI mengatakan: “Saat ini problem bagi bangunan-bangunan bersejarah adalah tidak cukup memperoleh perhatian. Jangankan dirawat, bahkan dengan berbagai alasan dihancurkan. Lantas digantikan gedung-gedung muda, produk arsitektur yang menurut Flamton ‘practice without question—produk arsitekturr yang terasing dari diskursus sejarah, landscape sosial budaya, bahkan landasan arsitekturalnya itu sendiri. Padahal sejak zaman Monumenten Ordonate 1931 atau Undang-Undang No. 5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya atau konvensi Protection of Word Cultural and Natural Haritage-UNESCO (1995), bahawa karya arsitektural bersejarah termasuk kategori warisan budaya yang harus dicagarkan”.

Villa Isola tentu saja tidak mungkin dihancurkan seperti beberapa gedung tua lain yang berangsur-angsur di Kota Bandung, atau gedung-gedung tua ‘nanggung’ di UPI (baca: Pentagon), tapi usaha pencagaran dan perawatan yang lebih baik tetap harus dipikirkan. Apalagi Villa Isola memiliki nilai historis dan arsitektural yang hebat. Maka jadikan Villa Isola benar-benar sebagai core pembangunan (fisik dan filosofi) UPI. Sisakan sedikit proporsi di antara ruang kelas dan lalu-lalang mahasiswa agar tidak benar-benar “Terkesilap dibalik desingan-desingan bahana penabuh besi, kayu, linggis dan kapak di atas calon gedung-gedung baru UPI BHMN”. (Saepul Anwar, Sastra Indonesia UPI 2001). Dan faktanya gedung-gedung baru memang sudah tegak berdiri sekarang. Paling tidak nasib buruk untuk Villa Isola jangan sampai terjadi sekedar kesemrawutan instalasi listrik. Atau menjadi rusak, pudar, berlumut dan lapuk (cat: ditulis sebelum adanya penataan baru). Apalagi metode restorasi arsitektural dapat dilakukan untuk mengembalikan bentuk-bentuk dan detail komplek bangunan mendekati kemegahan seperti masa silam. Agar civitas akademika dan mahasiswa baru yang datang setiap tahunnya akan memiliki kebanggaan dan kesadaran makna akan artinya keterkaitan antara pendidikan dan kemerdekaan.

Dan pada akhirnya akan muncul pertanyaan: apakah mahasiswa UPI telah merasa bangga akan almamaternya? Apakah telah merasa memperoleh harga diri setelah dinyatakan berhasil menjadi bagian dari civitas akademika? Mungkin juga iya, mungkin juga tidak. Tapi, mau tidak mau, akan tiba suatu masa pembuktian bagi setiap loyalitas dan perasaan cinta; lambat-laun dalam beragam momentum dan sikap keputusan. Dan setiap orang harus menemukan alasannya.

Bukan karena memiliki gedung-gedung baru hasil sumbangan dari dana-dana internasional yang juga akan segera menjadi lama dan tua; lapuk dan retak-retak. Tapi menemukan alasan yang jauh meneratasi kebanggaan visual atas nilai-nilai materialistik pendidikan. Dan, bukankah Villa Isola adalah awal dan akhir yang baik untuk melakukan renungan serta dialektika.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)