Ashem Vohu

Asyem Vohu
Naskah Tertua Majusi

aṣ̌əm vohū vahištəm astī
uštā astī uštā ahmāi
hyat̰ aṣ̌āi vahištāi aṣ̌əm

Righteousness is best (of all that is) good.
As desired, what is being desired
is truth for him who (represents) best truth.

Kebajikan adalah yang terbaik (dari seluruh apa yang) baik.
Sebagaimana pengharapan, apa yang akan diharapkan adalah kebenaran untuk dirinya, dimana dia (menggambarkan) kebenaran yang terbaik.

(Kitab Gata, Bacaan Asyem Vohu)

Naskah Asyem Vohu ditulis dalam aksara Sogdiana dan bahasa Sogdiana yang menunjukkan jejak kemiripannya dengan bahasa Iran Pertengahan yang disebut dengan bahasa Pahlevi atau bahasa Persia Pertengahan (bahasa Iran Tua yang terdapat dalam prasasti-prasasti disebut dengan bahasa Persia Tua).

Naskah Asyem Vohu merupakan naskah yang menukil adanya peribadatan Asyem Vohu dan tokoh keagamaannya yang disebut Zarathushtra (Latin: Zoroaster). Naskah tersebut diperkirakan ditulis pada antara abad ke-9 M dan ke-10 M dan ditemukan di daerah Dunhuang, kawasan China bagian Tengah.

Sementara itu, komunitas Sogdiana sendiri sebenarnya berakar dari daerah Samarkan, yang kini masuk ke dalam wilayah Uzbekistan dan Tajikistan. Dialek Sogdiana dianggap telah punah sejak abad ke-10 M tersebut. Namun demikian, berdasarkan analisis ahli bahasa, suku Yagnobi di Dusyanbe, Tajikistan adalah dianggap suku yang paling mewarisi kemiripan bahasanya dengan bahasa Sogdiana lama pada saat ini.

Naskah Asyem Vohu ini adalah naskah paling tua yang tercatat bisa ditemukan dalam sejarah yang mewakili tradisi dan sistem keyakinan yang dalam bahasa Arab disebut dengan agama Majusi (Latin: Magus, Yunani: Magos). Sementara temuan kitab Avesta atau yang biasa disebut juga dengan kitab Zend Avesta yang telah terkompilasi dengan menggunakan bahasa Avesta Muda (menunjukkan kemiripan dengan bahasa Sanskrit pada Kitab Veda).

Kitab Avesta yang diduga sebagai naskah filologis berumur paling tua yang bisa ditemukan dalam khazanah Majusi tersebut; dimulai antara abad ke-15 M dan ke-16 M. Dari Asia Tengah, pengaruh Majusi memasuki wilayah Iran Kuno dan India Kuno. Di Iran dan India, naskah Majus lainnya yang paling tua ditemukan berasal dari abad ke-12 M.

Saat ini naskah yang sempat dieksplorasi oleh Aurel Stein pada 1907 M dari suatu gua batu di Dunhuang China bagian Tengah bersama dengan temuan keberadaan naskah-naskah Budha ini tersimpan di British Library sebagai public domain dengan kode British Library Or. 8212/84 (Ch. 00289).

Aksara Iranian seperti Sogdiana, Avesta, dan Pahlevi yang lembut dan artistik menjadi sumber inspirasi gaya kaligrafi dikemudian hari; dimana aksara Arab yang lebih tegak, keras, dan tegas seperti basisnya pada aksara Nabatea dan aksara Kufi kemudian mengalami bentuknya yang lebih lembut dan artistik sebagaimana yang biasa kita kenal pada saat ini.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)