Tepat di wilayah modern Distrik Bajaur Divisi Malakand Provinsi Khyber Pakhtunkhwa Negara Pakistan, pernah terdapat ibukota Kerajaan Apracaraja dengan nama Apracapura.

Dari pusat ibukota Apracapura, Kerajaan Apracaraja mengoperasikan seluruh wilayah kerajaannya yang meliputi wilayah Swat, Taxila, Gandhara, dan sebagian dari wilayah Afghanistan bagian Timur.

Wilayah Swat pada saat ini merupakan Distrik Swat Divisi Malakand Provinsisi Khyber Pakhtunkhwa Pakistan. Sementara Taxila, masuk ke dalam Distrik Rawalpindi Divisi Rawalpindi Provinsi Punjab Pakistan. Dan Gandhara masuk ke dalam wilayah, baik negara Pakistan maupun negara Afghanistan.

Gandhara merupakan bagian dari Pakistan ke arah Barat-Laut, yakni di Distrik Swat Divisi Malakand Provinsi Khyber Pakhtunkhwa hingga kemudian bertemu dengan bagian dari Afghanistan ke arah Timur-Laut; yakni Kota Kabul di Provinsi Kabul. Wilayah Distrik Swat tersebut dialiri sungai Swat dan di wilayah Kota Kabul dialiri sungai Kabul.

Sementara itu, di sebelah Timur Swat, wilayah Gandhara di batasi oleh sungai Indus yang memisahkannya dengan Taxila. Dan di sebelah Barat Kabul wilayah Gandhara dibatasi oleh Pegunungan Sulaiman yang memisahkannya dengan wilayah utama Kabul (Provinsi Kabul). Selain itu, di bagian Utara; Gandhara berbatasan dengan Rangkaian Pegunungan Kerakoram, dan di bagian Selatan dibatasi oleh pegunungan Sefed Koh.

Selain itu, sebagian wilayah Afghanistan ke arah Timur yakni menuju ke arah Pakistan juga merupakan wilayah Kerajaan Apracaraja. Wilayah Afghanistan ke arah Timur tersebut pada saat ini masuk ke dalam Provinsi Nangahar, Provinsi Paktia, Provinsi Nuristan, Provinsi Jalalabad, Provinsi Ghazni, dan Provinsi Kandahar.

Adapun yang menjadi sumber berita internal dari Kerajaan Apracaraja itu sendiri adalah Silver Coin Inscription of Vijayamitra, Silver Coin Inscription of Aspavarman, Silver Buddhist Reliquary Inscription of Indravarman, Reliquary Inscription of Rukhana, dan Bajaur Reliquary Inscription of Indravarman.

Berdasarkan keterangan inskripsi-inskripsi tersebut dapat diperoleh daftara raja Apracaraja sebagai berikut: (1) Vijayamitra; (2) Indravasu; (3) Vispavarman alias Visnuvarman; (4) Indravarman; (5) Aspa alias Aspavarman; dan (6) Sasan.
***
Dalam Reliquary Inscription of Rukhana, terdapat berita sebagaimana berikut:

“vasaye satavisaye 20 4 1 1 1 isparasa vijayamitrasa apacarajasa anusastiye ye
vucati
ayasa vasaye tresa[ta]
timae 20 20 20 10 1 1 1
Yonana vasaye
ekadusatimaye 2 100 1
sravanasa masasa divasaye athamaye isa divasammi pratithavidu thuve
rukhunaye
apacarajabharyae
vijayamitrena apracarajena Imdravarmena strategena sabharyarehi sakumarehi.”
(Stefan Baums)

“In the twenty seventh (27) year in the reign of Lord Vijayamitra, the King of the Apraca; in the seventy third (73) year which is called “of Azes”, in the two hundred and first (201) year of the Yonas (Greeks), on the eighth day of the month of Sravana; on this day was established [this] stupa by Rukhana, the wife of the King of Apraca, [and] by Vijayamitra, the king of Apraca, [and] by Indravarma (Indravasu?), the commander (stratega), [together] with their wives and sons.”
(Rika Gyselen)

“Pada tahun kedua puluh tujuh (27) dari pemerintahan Tuan Vijayamitra, Raja Apraca; pada tahun ketujuh puluh tiga (73) yang disebut “Azes”, pada tahun kedua ratus satu (201) Yonas (Yunani), pada hari kedelapan dari bulan Sravana; pada hari ini telah didirikan stupa oleh Rukhana, isteri dari Raja Apraca, [dan] oleh Vijayamitra, Raja Apraca, [dan] oleh Indravarman (Indravasu?), panglima tentara (stratega), [bersama-sama] dengan isteri dan anak mereka.”
(Rika Gyselen diterjemahkan oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana)

Inskripsi tersebut dibuat pada abad ke-1 SM dalam Bahasa Prakrit dengan Aksara Karoshthi, aksara yang pertamakalinya pernah digunakan oleh Ashokavardhana pada abad ke-3 SM di kawasan India Kuno. Dalam inskripsi tersebut telah digunakan angka Arab dalam sistem perhitungan matematis. Dan sistem kalender yang dirujuk, dengan menggunakan Kalender Azes dan Kalender Yonas.

Azes atau lebih tepatnya Azes I adalah nama raja dari komunitas Indo-Scythia yang pernah berkuasa di Gandhara pada masa sekitar 48 SM-25 SM. Dalam lempeng-lempeng uang logam yang pernah dikeluarkannya terdapat keterangan dalam Bahasa Yunani dan Aksara Yunani yang berarti: BASILEOS BASILEON MEGALOU AZOU (of the Great King of Kings Azes; Maharajadhiraja Azes).

Keterangan tersebut memutari uang logam perak dengan gambar yang mewakili dirinya sedang menunggangi kuda lengkap dengan baju jirah besi perangnya khas suku-suku Saka-Scythia. Bentuk uang logam perak Azes I ini yang kemudian diimitasi oleh Vijayamitra dalam Silver Coin of Vijayamitra dari Kerajaan Apracaraja di wilayah Bajaur lengkap dengan gambar Azes I tersebut. Perbedaan yang dibuat oleh Vijayamitra, pada sisi lainnya termuat gambar Athena dan simbol Triratna Buddhis.

Melalui keterangan inskripsi Rukhana dapat diketahui bahwa inskripsi tersebut dibuat pada waktu Vijayamitra telah masuk pada tahun ke-27 dari masa kekuasaannya. Tahun ke-27 dari masa kekuasaannya tersebut sama dengan tahun ke-73 dari sistem kalender Azes. Dengan demikian dapat diketahui jika masa hidup dan berkuasanya Raja Azes di Gandhara telah dijadikan patokan dan inspirasi yang berkelanjutan pada masa hidup dan generasi Raja Vijayamitra di Apracapura/Bajaur modern.

Jika pada tahun 73 Azes, Vijayamitra telah berkuasa selama 27 tahun; maka Vijayamitra telah memulai masa kekuasaannya untuk pertamakalinya pada tahun 46 Azes. Maka jarak antara masa Azes dan Vijayamitra belum terpaut masa yang cukup panjang. Bisa dikatakan masa hidup Azes I secara kasar, berjarak 46 tahun sebelum masa hidup Vijayamitra.

Pada tahun ke-27 masa kekuasaan Vijayamitra, yang setara dengan masa 73 tahun Azes, adalah juga setara dengan 201 pada tahun Yonas. Yonas adalah kata lain dari Yavana yang sampai ke dalam bahasa Indonesia sebagai Yunani. Dalam bahasa Inggris artinya Greek atau Helen. Orang Yunani sendiri kemungkinan menggunakan kata Achaea untuk menyebut dirinya sendiri.

Sementara kata Yona, Yawana, atau Yunani dapat diperhubungkan dengan salah-saty koloni penting di Asia Kecil yang bernama Ionia dalam bahasa Yunani. Di sini dapat dilihat bahwa kebudayaan Yunani telah terintegrasi dalam kebudayaan Saka-Scythia di kawasan India Kuno yang kemungkinan waktu terpendeknya atas pengaruh Kegubernuran Seuleukeus, Indo-Greek dan Indo-Bachtria yang pernah berkuasa sebelum terkikis oleh Saka-Scythia itu sendiri. Para pakar mengkonversi masa berkuasa Vijayamitra antara tahun 12 SM hingga tahun 20 M.

Informasi lain yang dapat diperoleh bahwa Rukhana yang atas namanya mengeluarkan inskripsi merupakan isteri dari Vijayavarman. Ratu Rukhana melalui peletakkan Stupa dapat diidentifikasi oleh pakar sebagai identitas yang menunjukkan sistem keyakinan Budha telah dianut oleh Kerajaan Apracaraja. Sebagaimana pada tahap perkembangan sejarah selanjutnya dari suku Saka-Scythia, Budha, Jaina, dan Sanata sebagai sistem keyakinan Dharma secara umum telah terbiasa mereka anut dalam keseharian dan lembaga kenegaraannya.

Sementara Indravarman yang merupakan Statega para ahli sebagaimana dalam catatan bertanda tanya (?) Rika Gyselen menunjukkan adanya keraguan dalam identifikasinya. Indravarman tersebut yang diidentifikasi dalam inskripsi Rukhana sebagai anak dari pasangan Vijayamitra-Rukhana tentulah Indravasu dalam inskripsi lainnya. Karena Indravarman lainnya merupakan generasi berikutnya yang lebih muda.

Hal yang menarik adalah gelaran Strategosa dalam Bahasa Prakrit tersebut adalah berakar dari bahasa Yunani Strategoi atau Strategos yang berarti Panglima Perang dan sekaligus Gubernur General dalam suatu sistem Provinsial atau Negara yang otonom. Suatu sistem yang telah dilaksanakan dalam masa kekuasaan Alexander Agung dari Makedonia.

Di bagian Timur dari kekuasaan Makedonia dalam sistem kebudayaan Hellenis, telah berkembang menjadi sistem kekuasaan mandiri Kerajaan Seukeukeus yang didirikan oleh salah-satu Jenderalnya, yakni Stategoi Seuleukeus; sebagaimana di bagian Barat telah berdiri juga Kerajaan Ptolomaeus oleh Strategoi Ptolomaeus. Jauh sebelum Alexander Agung dari Makedonia membawahi para Strategoi, demikian juga Kurushasta yang Agung (Latin: Cyrus; Ibrani: Khores) juga menerapkan sistem administrasi provinsial yang sama yang dipimpin para gubernur general yang disebut dengan Ksatrap (Gubernur General) dan Ksatrapi (Provinsi).

Baik Ksatrap maupun Strategoi sama-sama berfungsi ganda sebagai kepala sistem kepemimpinan birokrasi sipil dan sekaligus kepala pimpinan kemiliteran. Dalam bahasa Sanskrit barangkali setara dengan konsep Senapati sekaligus sebagai Adhipati. Ksatrap dalam bahasa Iran Kuno setara dengan gagasan Ksatrya dalam bahasa Sanskrit itu sendiri.

Maka terkait suffix Varman, jika mengingat rekam jejak ini dapat diduga adalah suatu pola pengaruh dari gagasan Strategoi dalam sistem Yunani atau Ksatrap dalam sistem Persia yang telah berkembang lebih awal. Konsep Ksatrap ini juga terbukti diterapkan di Kerajaan Ksatrap Utara dan Ksatrap Barat yang relatif bersamaan dengan masa berdirinya Kerajaan Apracaraja. Baik Kerajaan Ksatrap Utara dan Kesatrap Barat dan Kerajaan Apracaraja, merupakan sama-sama dibangun oleh komunitas dari suku-suku Saka-Scythia.

Jika Kerajaan Kstarap Utara dan Ksatrap Barat membuka babak Shaka Era dimana sistem Kalender dan titi mangsa Saka pertamakalinya digunakan dan juga merintis ke arah pembakuan sistem Bahasa Sanskrit, maka Kerajaan Apracaraja sejauh ini dapat terlihat upaya merintis ke arah penggunaan suffix Varman meskipun masih dalam pola bahasa Prakrit sebagai identitas yang setara pada Kerajaan Ksatrap Utara dan Kesatrap Barat yang menggunakan gelaran Ksatrap dan Mahaksatrap terhadap gelaran raja-raja atau jabatannya.

Dalam logat Prakrit, Varman dalam bentuk bahasa Sanskrit barangkali masih tereja sebagai Varma atau Varmo dan digunakan belum secara disiplin dan konsisten oleh seluruh daftar raja Kerajaan Apracaraja. Hal ini membuktikan bahwa gelaran Varman yang digunakan secara massif merupakan suatu rakitan secara bertahap dan berkembang kemudian hari. Semula, komunitas Saka-Scythia belum menggunakannya; meskipun dasar kata tua Varman masih bisa dilacak satu-dua pada masa sebelumnya. Misalnya saja terdapat satu buah daftar nama raja bersuffix Varman pada Kerajaan Jambudvipa atau Prathivi dari Keluarga Maurya.

Untuk menghindari kerumitan, istilah Saka-Scythia sengaja penulis gandengkan sebagai konsep general. Suatu istilah yang disatukan dari sumber berita Iran Kuno melalui bahasa Pahlevi, Avesta, dan Persia Kuno misalnya saja dalam Inscripsi Behistun dari Daryavahus yang Agung (Latin: Darius) dan keterangan-keterangan Yunani. Saka yang terdapat dalam tradisi Iran Kuno dan India Kuno (Sanskrit dan Prakrit) setara dengan kata Sacai dalam bahasa Yunani yang biasa dipertukarkan dengan kata lainnya Skuthai yang sampai ke dalam bahasa Inggris sebagai Scythian.

Saka-Scythia adalah pengguna rumpun bahasa Iran Timur yang bergerak ke arah padang rumput Eropa-Asia Tengah. Komunitas majemuk yang membentang dari Siberia hingga Krimea, dari Xinjiang hingga Laut Hitam yang secara bertahap kemudian turun kembali menuju Asia Selatan; Afghanistan, Pakistan, dan India pada abad ke-3 SM. Bisa jadi suatu konfederasi suku yang terpisah dari konstelasi perebutan kekuasaan di Persia Kuno (dari sama-sama rumpun bahasa Iran Barat/Madia-Persia). Jika Persia Kuno membidani kelahiran Bahasa Avesta dan Pahlevi (rumpun Bahasa Iran Tengah) yang terabadikan dalam kitab-kitab Majusi. Maka Saka-Scythia membidani kelahiran Bahasa Prakrit dan Sanskrit yang terabadikan dalam kitab-kitab Dharma: Sanata, Budha, dan Jaina. (Gelar Taufiq Kusumawardhana/Varman Istitute)

– Baums, Stefan. 2012. “Catalog and Revised Texts and Translations of Gandharan Reliquary Inscriptions.” In David Jongeward, Elizabeth Errington, Richard Salomon and Stefan Baums, Gandharan Buddhist Reliquaries. Gandharan Studies, Volume 1. Seattle: Early Buddhist Manuscripts Project.

–Des Indo-Grecs aux Sassanides, Rika Gyselen, Peeters Publishers, 2007

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)