“Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di Aceh.
Bungong teuleubeh, teuleubeh indah lagoe na.
Puteh kuneng meujampu mirah.
Keumang siulah cidah that rupa.
Lam sina buleuen, lam sina buleuen angen peuayon.
Ruroh meususon, meususon, nyang mala-mala.
Mangat that mubee meunyo tatem com.
Leupah that harom si bungong jeumpa.” (Bungong Jeumpa; Lagu Tradisional masyarakat Aceh)

Dalam khazanah Ilmu Bahasa (Linguistic), terdapat pengelompokkan bahasa yang secara ilmiah disebut dengan rumpun bahasa Austronesia. Austronesia sendiri artinya Kepulauan Selatan.

Tapal batas wilayah pengguna rumpun bahasa Austronesia itu sendiri sangat luas. Di garis Utara terbentang dari kawasan Taiwan (Formosa) di Barat hingga ke Hawai di Timur. Di garis Selatan terbentang dari Madagaskar di Barat hingga ke Paskah (Rapanui) di Timur. Dan pada batas bujur paling Selatan, terdapat New Zeland (Aotearoa).

Salah-satu cabang besar dari pengguna rumpun bahasa Austronesia tersebut adalah pengguna rumpun bahasa Malayo-Polinesia. Di dalam rumpun bahasa Malayo-Polinesia yang cenderung masih luas ini terdapat rumpun bahasa Malayo-Sumbawa. Dan di dalam rumpun bahasa Malayo-Sumbawa ini, salah-satunya terdapat rumpun bahasa yang disebut Malayo-Camik dan kemudian Camik sebagai induk terkecilnya.

Rumpun bahasa Camik (Inggris: Chamic Language) ini biasa juga disebut dengan istilah rumpun bahasa Aceh-Chamic atau biasa juga disebut dengan rumpun bahasa Achinese-Chamic. Sebenarnya, persebaran rumpun bahasa Camik dengan mempertimbangkan urat-akar sejarahnya akan memberikan gambaran yang lebih luas dan terperinci lagi.

Namun demikian, secara umum dapat dikemukakan tiga buah kelompok besar yang paling mencolok dan bertahan hingga hari ini dalam penggunaan rumpun bahasa Camik tersebut. Penyokong rumpun bahasa Camik tersebut adalah masyarakat dari suku Aceh dengan bahasa Aceh di Pulau Sumatra bagian Utara (Indonesia), masyarakat suku Campa dengan bahasa Campa di bagian Selatan kawasan Indo-China dan sebelah Utara kawasan Semenanjung Malaya yang pada saat ini masuk ke dalam wilayah sebelah Selatan Vietnam yakni Phan Rang-Thap Cham [Provinsi Ninh Thuan], Phan Thiet [Provinsi Binh Thuan], Kota Ho Chi Minh [setingkat Provinsi], dan Provinsi An Giang (Vietnam) dan wilayah sebelah Timur Kamboja yakni Provinsi Kampong Champ (Kamboja), dan masyarakat suku Utsul dengan bahasa Tsat yang dalam bahasa Mandarin biasa disebut dengan komunitas suku Huihui Ren atau Hainan Huizu di wilayah Sanya utamanya wilayah kecil Yanglan dan Huixin di Pulau Hainan di bagian Tenggara wilayah China (China).

Pada tahun 1936 di daerah Dong Yen Chau dekat wilayah Tra Kieu (Vietnam) ditemukan sebuah inskripsi yang merekam Bahasa Campa Tua (Old Cham Language) dan Aksara Campa Tua (Old Cham Inscription). Namun demikian, pada inskripsi tersebut tidak mengandung catatan yang menunjukkan titi mangsanya. Hanya saja jika dianalisis, wilayah Dong Yen Chau yang berada di dekat Tra Kieu Vietnam modern tersebut merupakan wilayah yang juga dekat dengan ibukota kuno Kerajaan Campa, yakni Indrapura.

Berdasarkan pendapat George Coedes, masa pemindahan ibukota baru Kerajaan Campa menuju ke Indrapura sendiri terjadi pada tahun 875 M yang dilakukan oleh raja Indravarman. Dengan mengingat inskripsi tersebut ditemukan di dekat ibukota Indrapura kuno, maka dapat diperkirakan batasan waktu pembuatan inskripsi tersebut tidak akan lebih tua dari abad ke-9 M itu sendiri.

Jika dibandingkan dengan inskripsi C 198 yang tertera secara lugas dikeluarkan oleh Indravarman dengan perkiraan abad ke-9 M yang tercantum dalam projek Corpus of the Inscriptions of Campa (CIC) yang kodifikasi dan klasifikasinya telah dilakukan oleh Ecole Francaise d’Extreme-Orient [EFEO] (French School of Asian Studies) pada tahun 2012 M yang bekerja sama dengan Institute for the Study of the Ancient World (ISAW) dari New York University dalam rangka mengenang kekaryaan mahaguru kajian Asia Tenggara pada abad ke-20 M George Coedes.

Dapat terlihat bahwa pola dasar Bahasa Sanskrit yang murni telah mengalami pergeseran ke arah perkembangan Bahasa Campa yang bisa dikatakan bersifat lokal dengan menyisakan anasir-anasir konseptual Sanskrit yang masih massif. Demikian juga dengan tahap perkembangan Aksara Palawa yang bersifat klasik juga telah mengalami pergeseran ke arah kreatifitas lebih lanjut yang bersifat lokal, yakni pembentukkan Aksara Campa Tua. Maka dapat diduga, besar kemungkinan Prasasti Dong Yen Chau lahir pada abad ke-9 M atau lebih muda dari abad tersebut.

Pada abad ke-9 M tersebut hanya ada beberapa kandidat nama raja. Pertama, Sri Satyavarman pada akhir abad ke-8 M dan memasuki awal abad ke-9 M yang membuat inskripsi-inskripsi batu (C 216 dan C 217) hanya saja masih menggunakan Bahasa Sanskrit yang baik artinya bukan. Satyavarman ini adalah kakak dari Indravarman.

Kemudian ada Sri Rudravarman pada abad ke-9 M yang berkuasa setelah Sri Indravarman. Inskripsi-inskripsinya (C 205 dan C 206) tidak kokoh dalam bentuk inskripsi batu, melainkan logam dhupadhara (Inggris: censer) yang wadah menyalakan dupa atau pewangi kuno dan kalasa (Inggris: ewer) yakni kendi atau teko kuno tempat menyimpan air dari bahan logam. Bahasa dan aksar memang sudah Campa Tua (Old Cham), namun tidak berupa inskripsi batu. Sehingga kecil kemungkinan sebagai kandidat.

Dan terakhir adalah Sri Bhadravarman yang berkuasa setelah Sri Rudravarman. Inskripsi Bhadravarman (C 207) terekam dalam bhajana (Inggris: platter) yang merupakan bokor atau wadah logam seperti piring berkaki untuk membasuh tangan, kaki, wajah dalam suatu keseharian atau upacara; terkadang digunakan juga sebagai cermin. Bahasa dan aksara sudah Campa Tua, namun tidak memiliki karakter sebagai inskripsi yang massif dan monumental. Sehingga kecil kemungkinan sebagai kandidat.

Kandidat terkuat akan kembali kepada Sri Indravarman yang menghasilkan inskripsi C 198 dalam Bahasa Campa Tua dan Aksara Campa Tua dan medium pembuatan inskripsi berada pada batuan lempeng (slabe) berornamen lotus yang sama-sama massif dan monumental seperti pada Prasasti Dong Yen Chau tersebut. Sayang aksaranya sebagian rusak, namun nama Indravarman, Vihara, dan beberapa kosa-kata lainnya masih ada dan secara umum masih bisa diterka dan direkonstruksi ahli ke arah mana maknanya.

“Siddham! Ni yang naga punya putauv.Ya urang sepuy di ko, kurun ko jema labuh nari svarggah.Ya urang paribhu di ko, kurun saribu thun davam di naraka, dengan tijuh kulo ko.”
(Prasasti Dong Yen Chau Abad ke-9 M dalam Graham Thurgood)

“Nabuwah! Ni kung naga milik patao. Hay urang adab tuei nyu, ka pak nyu mah priak yeh hu plek mang syurga mai. Hai urang papndik harakat pak nyu, ka ye saribau thun tram di naraka, hong tajuh mangawom nyu.” (Terjemahan dalam bahasa Campa modern/Campa Barat dalam Graham Thurgood)

“Sejahtera! Inilah naga suci kepunyaan Raja. Orang yang menghormatinya, turun kepadanya permata dari syurga. Orang yang menghinanya, akan seribu tahun diam di neraka, dengan tujuh keturunan keluarganya.” (Terjemahan dalam bahasa Melayu modern dalam Graham Thurgood)

Jika kita melihat adanya kemiripan antara bahasa Campa atau Campa Kuno dengan bahasa Melayu, hal demikian karena bahasa Campa dan bahasa Melayu disatukan dalam kekerabatan yang sangat dekat sebagai rumpun bahasa Malayo-Camik (Malayo-Chamic Language).
***
Kerajaan Campa adalah kerajaan yang berpusat di kawasan pesisir Timur kawasan Indo-China. Kawasan utamanya pada saat ini masuk ke dalam wilayah negara Vietman di Timur dan Kamboja di Barat. Jalur pesisir ini sangat strategis dalam menghubungkan ke arah pelabuhan-pelabuhan di kawasan China Timur dan Tenggara dan Nusantara seperti ke arah Pulau Kalimantan dan Filipina, ke arah Pulau Sumatra dan Jawa via Semenanjung Malayu dan ke arah pesisir Indo-Cina bagian Barat seperti Birma/Myanmar hingga ke arah Teluk Benggala dan India Selatan.

Terdapat sumber kesaksian dari naskah-naskah China berkaitan dengan Kerajaan Campa pada periode awal, namun untuk menghindari kesimpang-siuran untuk sementara penulis langsung menukik saja pada sumber inskripsi-inskripsi internal Kerajaan Campa itu sendiri.

Perkembangan inskripsi dimulai dari abad ke-7 M dan diakhiri pada abad ke-15 M. Sebagian inskripsi ditulis dalam Bahasa Sanskrit dan Aksara Palawa dan kemudian Bahasa Campa Tua dan Aksara Campa Tua. Corak kerajaan telah menunjukkan adanya proses Indianisasi dimana sistem keyakinan merujuk pada Sanata Dharma terutama aliran Siwa dan kemudian Budha Dharma dari aliran Mahayana. Pengelolaan sistem tata negara kerajaan sendiri telah menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan dan peradaban India.

Namun demikian, tahap perkembangan Kerajaan Campa tidak dipengaruhi secara langsung dari belahan India; melainkan dari kawasan Indo-China itu sendiri yang sebagian telah mengalami proses Indianisasi lebih awal. Menurut analisi para ahli, pengaruh tersebut datang dari Kerajaan Chenla yang beribukota di Isanapura. Robert L. Brown misalnya menjelaskan bahwa pendiri Kerajaan Campa yang bernama Prakasadharman yang mengambil gelar sebagai Vikrantavarman adalah cucu dari raja Chenla yang bernama Isanavarman yang berkedudukan di Kamboja modern.

Ibunya yang merupakan putri dari Isanavarman bernama Sarvani sedangkan ayahnya bernama Jagaddharma. Kerajaan Chenla yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Funan dan pendahulu bagi Kerajaan Khmer adalah peradaban Sanskrit India yang menyatu dalam layer dasar kebudayaan masyarakat Mon dan masyarakat Khmer yang juga sama seperti masyarakat Campa adalah bagian dari rumpun bahasa Austronesia.

Berdasarkan analisis pada Corpus of the Inscriptions of Campa, dapat diajukan kerangka dasar yang masih kasar sebagai berikut:

(1) Sri Prakasadharman atau Prakasadharman atau Vikrantavarman atau Vikrantavarman-Parakasadharma pada abad ke-7 M yang ditunjukkan melalui inskripsi (C = Campa) C 79 Pedestal at My Son, C 80 Pedestal at My Son, C 87 Stela from My Son B 6 609 Saka, C 97 Predestal at My Son, C 127 Rock at Le Cam, C 135 Rock in the river bed at Thach Bich, C 136 Pedestal from Durong Mong, C 137 Pedestal from Tra Kieu, dan C 173 Pedestal from Tra Kieu.

(2) Sri Satyavarman pada abad akhir abad ke-8 M dan awal abad ke-9 M pada inskripsi C 216 Stela Inscription of Hoa Lai 700 Saka dan 760 Saka, dan C 217 Stela Inscription of Phuoc Thien 705 Saka.

(3) Sri Indravarman pada abad ke-9 M pada C 198 Slab from Tinh Yen.

(4) Sri Rudravarman pada abad ke-9 M pada C 205 Ewer (Kalasa) dan C 206 Censer (Dhupadhara).

(5) Sri Bhadravarman abad ke-9 M pada C 207 Platter (bhajana).

(6) Sri Harivarmandewa abad ke-10 M pada C 75 Block at My Son 913 Saka.

(7) Sri Harivarmadeva akhir abad ke-10 M dan awal abad ke-11 M pada C 19 Stela from Glai Klaong Anak 930 Saka, C 37 Southern Wall of the Vestibule of the North-western Tower of Po Nagar 935 Saka, dan C 64 Broken Boulder of Chien Dan.

(8) Sri Jaya Paramesvaravarmadeva atau Sri Jayaparamesvaravarmadeva atau Sri Jayaparamesvaravarman abad ke-12 M pada C 3 Lintel from Phan Rang 1155 Saka, C 4 Doorjamb from Phan Rang 1148 Saka, C 5 Doorjamb frok Phan Rang, C 6 Lintel from Phan Rang 1166 Saka, C 7 Doorjamb from Lamnga, C 30 B 1 Southern Doorjamb of the Main Shrine of Po Nagar 1155 Saka, C 30 B 2 Southern Doorjamb of the Main Shrine of Po Nagar, C 30 B 4 Southern Doorjamb of the Main Shrine of Po Nagar 1123 Saka, C 86 Doorjamb at My Son 1156 Saka, dan C 58 Vase 1181 Saka.

(9) Indravarman atau Sri Harijita Indravarman abad ke-13 M pada C 123 Rock Inscription of Ca Du (Kandak) 1188 Saka, C 6 Lintel from Phan Rang 1166 Saka, dan C 180 Socle at Po Nagar 1200 Saka.

(10) Simhavarman atau Sinhavarmadeva atau Sri Jayasimhavarmadeva abad ke-13 M pada C 182 Fragment from Chanh Mam, C 4 Doorjamb from Phan Rang 1148 Saka, C 1 The Back of a Visnu Statue at Bien Hoa 1343 Saka, dan C 215 Broken Statue of Siva from Chiem Son.

(11) Sri Basuvisnujativirabhadravarmadeva atau Sri Vrsu Visnujati Virabhadravarmadeva pada abad ke-15 M pada C 214 Statue of a Sivacarya on the Nhon Hai Peninsula 1352 Saka dan C 215 Broken Statue of Siva from Chiem Son.

Berdasarkan berita China, pada tahun 982 M Dinasti Ming memberikan suaka bagi pengungsi dari Campa yang menetap wilayah Guangzhou (Kanton). Kemungkinan pada periode tersebut Kerajaan Dai Co Viet (968 M sampai 1054 M) yang didirikan oleh Dinh Tren Hoang menyerang Kerajaan Campa. Pada serangan kali ini Campa sebertinya dapat melakukan pemulihan dan melakukan upaya pemukulan mundur dengan baik.

Pada tahun 1128 M, 1132 M, 1138 M, dan terakhir pada tahun 1150 M raja Suryavarman Kerajaan Khmer dari Kamboja modern mampu menahan gempuran Kerajaan Dai Viet (1054 M sampai 1804 M) yang didirikan oleh Ly Thai To yang merupakan evolusi dari Kerajaan Dai Co Viet pada fase sebelumnya (nama Dai Co Viet dirubah menjadi Dai Viet oleh Ly Thanh Tong raja ke tiga Dai Viet).

Pada tahun 1471 M, Kerajaan Campa akhirnya runtuh dan tidak mampu memulihkan kembali supremasi geopolitiknya. Permohonan Campa kepada Khmer untuk melakukan aliansi dan persekutuan militer ditolak oleh Khmer yang memang memiliki suasana persaingan. Dan peranan Dinasti Ming yang mulai melemah dalam melakukan stabilitas geopolitik di kawasan Selatan China dan Utara kawasan Kamboja dan Vietnam modern gagal dilakukan. Sebagian masyarakat Campa pada periode ini melakukan migrasi dan membentuk diaspora.

Sebagian menyeberang kembali ke arah Utara menuju Guangzhou/Kanton dan Hainan dan sebagian menuju wilayah Aceh di Pulau Sumatra. Masyarakat Campa yang telah matang berabad-abad dengan Hindu-Budha kemudian melakukan konvert ke dalam arus baru agam dari Asia Barat Daya yang tengah bergeliat: Islam.

Di Hainan, migran Campa disamakan sebagai Hui karena agamanya Islam sebagaimana komunitas Hui pada umumnya. Di kawasan Vietnam dan Kamboja, untuk terakhir kalinya; masyarakat Campa bangkit kembali dalam format baru: Kesultanan Campa, sebagai Kesultanan Islam pertama di Asia Tenggara. Dan migran-migran di Aceh, menjadi promotor bagi lahirnya kesultanan-kesultanan di Nusantara. Dimulai Kesultanan Samudra dan Kesultanan Pasai.

Indo-China yang diapit India dan China menjadi medan pengaruh dan zona tumbukan yang menarik untuk dipelajari konstelasinya pada masa silam. Rumpun bahasa Austronesia pada babak tersebut mulai tergeser vitalitas kebudayaan dan bahasa dari komunitas China Selatan (Non Han) dan Han yang berbaur dengan masyarakat China Selatan Vietnam sebagai Sino-Vietnam. Betapapun demikian, anasir Indianis atau Hindu-Budha di kawasan Indo-China tersebut tidak sama sekali hancur dan kehilangan akarnya. Melaikan secara berkelanjutan masih dipergunakan dalam citarasanya yang lebih bernuansa Tiongkok. (Gelar Taufiq Kusumawardhana/Varman Institute)


Coedès, George (1968). Walter F. Vella (ed.). The Indianized States of south-east Asia. trans. Susan Brown Cowing. University of Hawaii Press.

Thurgood, Graham (1999), From Ancient Cham to Modern Dialects: Two Thousand Years of Language Contact and Change, University of Hawaii.

Robert L. Brown (1996). The Dvāravatī Wheels of the Law and the Indianization of South East Asia.

Corpus of the Inscriptions of Campa (2012). Ecole Francaise d’Extreme-Orient and Institute for the Study of the Ancient World at New York University

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)