Alun Tarum Konsep Pameran

Kegiatan Pameran dan Diskusi “Hilangnya Tarum Kami” merupakan tindakan puncak yang diraih melalui rangkaian panjang kegiatan pelestarian dan pengembangan tumbuhan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br) di Jawa Barat yang dilakukan sejak tahun 2012-2026 M. Peristiwa itu sendiri bermula dari adanya tulisan-tulisan yang dikerjakan oleh Titi Bachtiar yang merupakan anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung terkait dengan kajian sejarah dan asal-usul nama tempat (toponimi) Citarum yang merupakan sungai terbesar di wilayah Jawa Barat antara tahun 2008-2010 M, baik dalam bentuk artikel-artikel lepas yang dipublikasikannya di media massa cetak maupun dalam bentuk tulisan-tulisan yang terintegrasi dalam buku-buku cetak yang dipublikasikannya dengan topik toponimi secara umum di wilayah Jawa Barat.

Khusus terkait dengan topik topoimi sungai Citarum yang dikerjakan Titi Bachtiar tahun 2008-2010 M tersebut, pada gilirannya telah menumbuhkan kesadaran dan cita-cita yang dimiliki oleh Diella Dachlan dalam rangka melakukan usaha untuk bisa mengembalikan tumbuhan tarum kembali berfungsi sebagai identitas dan landmark yang menghiasi  di sepanjang aliran sungai Citarum. Adapun Diella Dachlan pada saat itu merupakan Communications Consultant pada program Cita Citarum yang pada hakikatnya merupakan program kerjasama yang dilakukan oleh pihak pemerintah Republik Indonesia dengan pihak Asian Development Bank (ADB) dalam rangka mengembangkan program investasi jangka panjang Integrated Water Resources Management (IWRM), atau  yang secara lebih formulatif kemudian disebut dengan Integrated Citarum Resources Management Investment Program (ICWRM) sebagai bagian dari road map strategis yang dikembangkan sejak tahun 2008 M.

Melalui kegiatan survei dan monitoring yang dilakukan Diella Dachlan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang melintang dari kawasan hulu hingga kawasan hilir di sejak tahun 2010-2012 M, yang meliputi wilayah-wilayah administratif seperti Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Karawang, ditemukan fakta bahwa masyarakat Sunda pada saat itu (1) masih ada yang mengetahui makna tarum dan mengingat wujudnya namun demikian sudah tidak bisa lagi menunjukan dimana letak keberadaannya (2) ada yang mengetahui makna tarum namun demikian sudah tidak memahami wujudnya dan tentu saja sudah tidak mengetahui dimana letak keberadaannya (3) dan lebih banyak lagi yang tidak mengetahui maknanya, tidak memahami wujudnya dan tentu saja tidak mengetahui dimana letak keberadaannya. Melalui kenyataan tersebut, bisa dikatakan bahwa tumbuhan tarum bukan saja telah menghilang dari habitat, musnah dari kegiatan budidaya dan pengembangan kebudayaan, namun juga telah menghilang dari ingatan sejarah dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Sunda.

Gagasan untuk mengembalikan tumbuhan tarum ke Citarum yang diinisiasi oleh Diella Dachlan, pada gilirannya mampu menggerakan berbagai pihak untuk membantunya dan tanpa disadari telah membangunkan kesadaran dari berbagai jaringan kerja kebudayaan yang selama ini tertidur pulas. Selanjutnya rangkaian keberuntungan datang sejak tahun 2012 M, ketika keberadaan tarum siki (Indigofera tinctoria, Linn.) ditemukan di kawasan di kaki Gunung Merapi di Provinsi Yogyakarta dan kemudian dibawa ke Bandung. Kemudian pada tahun 2013 M, tarum siki (Indigofera tinctoria, Linn.) kembali ditemukan di daerah Janggala suatu kawasan yang termasuk ke dalam DAS Citanduy di Kabupaten Ciamis dan kemudian dibawa ke Bandung. Selain itu, masih pada tahun 2012 M ditemukan juga tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) dari daerah Ibun di Kabupaten Bandung. Kemudian pada tahun 2013 M, ditemukan kembali tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) dari daerah Paseh di Kabupaten Bandung dan dari daerah Isola di Kota Bandung. Menyusul kemudian ditemukan juga tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) pada tahun 2016 M dari kawasan Lankapancar di Kabupaten Pangandaran dan pada tahun 2020 M dari kawasan Bantarkalong di Kabupaten Tasikmalaya.

Selain ditanam secara simbolik di kawasan hulu sungai Citarum oleh Diella Dachlan, dari seluruh spesimen tarum yang didapatkan itulah, terutama dari spesimen-spesimen tarum areuy perintisan ke arah kegiatan pelestarian dan pengembangan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) di Jawa Barat dilakukan. Dalam suatu kesempatan untuk melakukan kegiatan validasi tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) yang dilakukan Gelar Taufiq Kusumawardhana kepada Drs. H. Eman Abdurachman yang merupakan ahli Botani (alumni PTPG/cikal-bakal UPI) pada tahun 2013 M, bukan saja menghasilkan kesimpulan terkait dengan validnya tumbuhan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) yang sudah ditemukan. Melainkan memberikan kejutan dengan diberikannya spesimen tambahan yang kemudian disebut sebagai spesimen dari Isola (Kota Bandung). Ketika Gelar Taufiq Kusumawardhana berkata “geningan seueur oge tangkal tarum areuy teh nya” (ternyata banyak juga ya tumbuhan tarum areuy itu).  Drs. H. Eman Abdurachman menanggapinya dengan berkata “seueur soteh lamun urang na terang” (banyak itu jika kita mengetahuinya). Tanpa merubah fakta di lapangan yang menunjukan bahwa arum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) bisa dikatakan nyaris musnah dan menghilang di seluruh kawasan DAS Citarum secara khusus dan di seluruh kawasan Tatar Sunda secara umum (Jawa Barat, Jakarta, dan Banten). Hal lainnya yang juga tidak kalah berkontribusi pada menghilang dan musnahnya tumbuhan tarum secara umum dan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) secara khusus adalah tercerabutnya ingatan dan pengetahuan masyarakat Sunda itu sendiri terhadap tumbuhan tersebut.

Menariknya di luar jalur pelacakan itu, Chye Retty Isnendes yang merupakan dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Sunda UPI pada tahun 2009-2011 M pernah melakukan kegiatan penelitian flora Sunda dengan menggunakan dana penelitian UPI. Dalam penelitian berupa kegiatan inventarisasi dan identifikasi terhadap kurang-lebih 1000 flora Sunda yang didasarkan pada tradisi teks lisan dan teks tulis masyarakat Sunda, pada tahun 2010 M Chye Retty Isnendes juga dikenalkan terhadap tumbuhan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) oleh Drs. Eman Abdurahman melalui 2 benih yang baru mencapai ketinggian sekitar 20 cm di kebun botani UPI. Dalam kesempatan berupa kunjungan lainnya yang dilakukan oleh Chye Retty Isnendes ke rumah Drs. Eman Abdurrachman di daerah Isola, diperlihatkan juga indukan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) yang tumbuh merambat pada pokok pohon pelindungnya di pekarangan. Dalam kesempatan tersebut, Drs. Eman Abdurrachman kepada Chye Retty Isnendes, bahwa pada dasarnya terdapat jenis tarum areuy dengan nama ilmiah Marsdenia tinctoria yang bersifat merambat dan juga terdapat tarum siki dengan nama ilmiah Indigofera tinctoria yang bersifat perdu. Dalam kesempatan tersebut, dikatakan juga kepada Chye Retty Isnendes bahwa tumbuhan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) yang dimilikinya tersebut, diperolehnya dari kawasan di kaki Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya. Selain ditanam di pekarangan rumahnya dan di kebun botani UPI, ditanam tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) juga sempat ditanamnya di kampus Universitas Siliwangi (UNSIL) di Kota Tasikmalaya.

Melalui seluruh mata rantai itu, ketika Yayasan Buana Varman Semesta secara formal didirikan pada tanggal 6 Januari 2022 M, maka kegiatan pelestarian dan pengembangan tumbuhan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) menemukan bentuk pengelolaannya yang lebih serius dan terstruktur. Dalam rangka mewujudkan usaha ke arah tersebut, Yayasan Buana Varman Semesta menyempurnakannya melalui pembentukan PATARUMAN – Indigo Experimental Station (pusat penelitian dan pengembangan tarum areuy) yang merupakan salah-satu unit penting dan strategis yang dimiliki oleh Yayasan Buana Varman Semesta.

Tumbuhan tarum sudah ditemukan dan program pemulihan sungai Citarum yang mengalami tekanan besar akibat pola hubungan antara manusia dan sungai yang tidak selaras terus berganti dan masih tetap menyisakan tantangan yang besar. Namun gerakan kesadaran yang dibangun melalui semiotika tumbuhan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) juga terus berjalan untuk bisa menemukan bentuk kontribusi dan formulasinya yang paling tepat. Sebelum pergerakan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) pada akhirnya mendapatkan respon dan apresiasi dari berbagai pihak terutama pada medan keilmuan berupa penelitian-penelitian rintisan pada bidang tekstil dan farmasi, seluruh waktunya nyaris dihabiskan dalam bentuk sosialisasi simbolik pada medan-medan kesenian, terutama kegiatan performance art. Dari kegiatan seni, tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) terus bertumbuh dan dengan kegiatan seni tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) akan menutup tahap pencapaian yang telah dilakukan selama 14 tahun ini. Tahap perkembangan yang meskipun kecil dan dengan daya dukung yang selama ini bersifat terbatas, tetap layak untuk dirayakan. Sementara pekerjaan-pekerjaan lainnya yang lebih besar, mungkin saja sudah menanti pada tahapan-tahapan yang akan dijalani selanjutnya.

Kegiatan pelestarian dan pengembangan tumbuhan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) di Jawa Barat dengan demikian bukan sekadar pelestarian tumbuhan semata-mata, melainkan pelestarian terhadap pengetahuan ekologis masyarakat Sunda, pemulihan hubungan historis antara manusia Sunda dan DAS Citarum, pelestarian sumber zat pewarna biru alami (nila), perlindungan terhadap jejak peradaban masa silam, dan upaya menghidupkan kembali ingatan budaya yang hampir musnah akibat perubahan lanskap dan industrialisasi. Kegiatan pelestarian dan pengembangan tumbuhan tarum areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) dengan demikian bukan sekedar menyelamatkan ingatan biru tentang Citarum, melainkan menyelamatkan arsip hidup peradaban sungai.

ditulis oleh

Varman Institute

Varman Institute - Unit Media Online Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS).