(1) “Vikranto ‘yam vanipateh//Prabhuh satyapara(k)ra(mah)
(2) narendraddhvajabhutena// Srimatah purnnvarmanah”

This is the (sign) of heroism, greatness and true courage of the king of the world, that his Majesty King Purnavarman, is a banner of all kings.

Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, Yang Mulia Purnawarman, yang menjadi panji sekalian raja-raja.

(Prasasti Cidanghiang, oleh Dinas Purbakala Republik Indonesia, 1954)


Pada tahun 1947 M, Toebagoes Roesjan melaporkan Prasasti Cidanghiang kepada Dinas Purbakala Republik Indonesia (beredar informasi Toebagoes Roesjan merupakan Kepala Dinas Purbakala Republik Indonesia (?)). Kabar yang memuat temuan Toebagoes Roesjan mengenai Prasasti Cidanghyang tersebut termuat dalam laporan Oudheidkundige Verslag (OV) yang disebut juga Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indie. (OV; 1949 hal.10)

OV adalah Dinas Purbakala Hindia-Belanda yang kemudian hari berubah statusnya menjadi Dinas Purbakala Republik Indonesia. Cukup mengagumkan laporan OV dibuat pada tahun 1949 dimana suksesi kekuasaan sebenarnya sudah dilakukan sejak diproklamasikannya Republik Indonesia pada tahun 1945 M (barangkali ada masa khusus bagi transisi kedinasan), setidaknya situasi politik antara Hindia-Belanda (Kerajaan Belanda) dan Republik Indonesia (RI) yang baru saja terbentuk sedang panas-panasnya.

OV yang diterbitkan pada tahun 1949 M tersebut memuat rentang laporan bidang kepurbakalaan di Hindia-Belanda sejak masa penelitian dari tahun 1912 M hingga tahun 1949 M. OV inilah yang kemudian hari diterbitkan ulang oleh Dinas Purbakala Republik Indonesia pada tahun 1950.

Dalam sumber yang beredar lainnya, tindak lanjut dari laporan Toebagoes Roesjan baru berhasil dilaksanakan pada tahun 1954 M dimana ahli Epigrafi (disiplin ilmu dalam membaca aksara kuno pada medium batu dan logam) dari Dinas Purbakala Republik Indonesia datang ke lokasi dan dikatakan telah berhasil membacanya.

Tampaknya, keberhasilan tersebut memiliki hubungan dengan adanya kunjungan ahli Epigrafi Belanda yang bernama Johannes Gijsbertus Hans de Carparis bersama muridnya yang bernama Boechari ke Prasasti Cidanghyang yang juga telah dikatakan berhasil membacanya secara lebih dahulu yakni pada tahun 1950.

Barangkali Boechari-lah yang kemudian hari menjadi jembatan keberhasilan untuk Dinas Purbakala Republik Indonesia pada tahun 1954 M tersebut. Kemudian hari Boechari dikabarkan telah meniti karir akademik sebagai Prof. Dr. Boechari dalam bidang Epigrafi di Tanah Air.


Dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya dan kompilasi data tambah yang diolahan oleh penulis, Prasasti Cidanghiang memiliki data informasi sebagaimana berikut ini:

No Regnas: RNCB.20161025.01.00135
SK Penetapan: SK Menteri No. 204/M/2016 dan SK Bupati No. 432/Kep.62-Huk/2016
Peringkat Cagar Budaya: Nasional
Kategori Cagar Budaya: Benda
Koordinat: 0°55’40,54″ dan 6° 38,27’57”
Aliran Sungai: Ci Danghiang
Kampung: Cidanghiang
Desa: Lebak
Kecamatan: Munjul
Kabupaten: Pandeglang
Provinsi: Banten
Nama Pemilik: Negara
Nama Pengelola: Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang
Media: Bongkah batuan beku Andesit 3 m x 2 m x 2 m
Teknik: Pahat dengan kedalaman 0,5 cm
Aksara: Palawa (Pallava Script)
Bahasa: Sangsekerta (Sanskrit Language)
Susunan Sastra: Puisi dua baris dalam Metrum Anustubh
Identifikasi: Memiliki kemiripan teknik, aksara, pahatan, dan ornamen hiasan trisula antara Prasasti Cidanghiang dengan Prasasti Tugu yang sama-sama dikeluarkan oleh Purnawarman dari Tarumanagara sehingga ahli menduga jika pemahatnya yang dalam bahasa Sanskrit disebut Citralaikha dikerjakan oleh orang yang sama.


Prasasti Cidanghiang di Desa Cidanghiang Kecamatan Munjul Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten merupakan satu dari tujuh buah prasasti batu beraksara Palawa (Pallava Script) berbahasa Sangsekerta (Sanskrit Language) sebagai sumber kesaksian utama adanya Kerajaan Tarumanagara dan Raja Purnawarman.

Tujuh buah prasasi atau inskripsi batu dari Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara bersama tujuh buah prasasti dari Raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai Martadipura tersebut, telah mengangkat wilayah Nusantara untuk memasuki zaman sejarah yang dicirikan dengan dimulainya babak penggunaan aksara atau tulisan sebagai sumber kesaksian sejarah untuk pertama kalinya.

Kedua kerajaan tersebut, baik Kutai Martadipura di Provinsi Kalimantan Timur (Pulau Kalimantan [Borneo]) maupun Tarumanagara di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten (Pulau Jawa) diperkirakan ahli Sejarah berdasarkan aspek Epigrafi berada pada kisaran abad ke-5 M, yakni masa yang berlangsung di antara tahun 400 M hingga tahun 500 M.

Sebagai catatan tambahan, selain ditemukannya Prasasti Cidanghiang; terdapat juga tradisi lisan berupa dongeng semi historis yang berhubungan dengan asal-usul adanya Prasasti Cidanghiang tersebut. Latarnya berupa gangguan keamanan dan kegiatan bajak laut dan keterlibatan adanya penghianatan internal kerajaan.

Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan operasi penumpasan yang dilakukan oleh armada laut Kerajaan Tarumanagara. Prasasti Cidanghiang dibuat dalam rangka perungatan terhadap dituasi tersebut di mana titik terakhir persembunyian bajak laut lari ke pedalaman Munjul.

Kisah yang relatif memiliki pola yang sama yang menceritakan juga kegiatan bajak laut pada masa Aki Tirem yang kemudian operasi penumpasannya dilakukan secara kolaborasi antara Aki Tirem dan para Jawara bersama Dewawarman dan para Pasukannya, yang merupakan menantunya dari India (suami Larasati Sri Pohaci). Selain di temui di Banten dengan seting Pelabuhan Teluk Lada, kisah Aki Tirem dan Dewawarman di temui juga dalam tradisi masyarakat Betawi di Jakarta dengan seting Pelabuhan Tanjungperiuk.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)