Kutipan lengkap tentang Tarum dalam buku klasik The History of Sumatra karya William Marsden (Edisi ke-3, tahun 1811, Chapter 4 on AGRICULTURE. RICE, ITS CULTIVATION, ETC. PLANTATIONS OF COCONUT, BETEL-NUT, AND OTHER VEGETABLES FOR DOMESTIC USE. DYE STUFFS). Dan lampiran gambar/sketsa yang terdapat didalamnya.

INDIGO.

Tarum or indigo (Indigofera tinctoria) being the principal dye-stuff they employ, the shrub is always found in their planted spots; but they do not manufacture it into a solid substance, as is the practice elsewhere. The stalks and branches having lain for some days in water to soak and macerate, they then boil it, and work among it with their hands a small quantity of chunam (quick lime, from shells), with leaves of the paku sabba (a species of fern) for fixing the colour. It is afterwards drained off, and made use of in the liquid state.

There is another kind of indigo, called in Sumatra tarum akar, which appears to be peculiar to that country, and was totally unknown to botanists to whom I showed the leaves upon my return to England in the beginning of the year 1780. The common kind is known to have small pinnated leaves growing on stalks imperfectly ligneous. This, on the contrary, is a vine, or climbing plant, with leaves from three to five inches in length, thin, of a dark green, and in the dried state discoloured with blue stains. It yields the same dye as the former sort; they are prepared also in the same manner, and used indiscriminately, no preference being given to the one above the other, as the natives informed me, excepting inasmuch as the tarum akar, by reason of the largeness of the foliage, yields a greater proportion of sediment. Conceiving it might prove a valuable plant in our colonies, and that it was of importance in the first instance that its identity and class should be accurately ascertained, I procured specimens of its fructification, and deposited them in the rich and extensively useful collection of my friend Sir Joseph Banks. In a paper on the Asclepiadeae, highly interesting to botanical science, communicated by Mr. Robert Brown (who has lately explored the vegetable productions of New Holland and other parts of the East) to the Wernerian Society of Edinburgh, and printed in their Transactions, he has done me the honour of naming the genus to which this plant belongs, MARSDENIA, and this particular species Marsdenia tinctoria*.

(*Footnote. 2. M. caule volubili, foliis cordatis ovato-oblongis acuminatis glabriusculis basi antice glandulosis, thyrsis lateralibus, fauce barbata. Tarram akkar Marsd. Sumat. page 78 edition 2 Hab. In insula Sumatra. (v.s. in Herb. Banks.)

PLATE 8. Marsdenia tinctoria, OR BROAD-LEAFED INDIGO.
E.W. Marsden delt. Swaine fct.
Published by W. Marsden, 1810.

***

TARUM

Tarum atau indigo (Indigofera tinctoria), yang merupakan bahan pewarna utama yang mereka gunakan, selalu dapat ditemukan di lahan-lahan yang mereka tanami. Akan tetapi, mereka tidak mengolahnya menjadi bahan padat sebagaimana praktik yang dilakukan di tempat-tempat lain. Setelah batang dan rantingnya direndam selama beberapa hari di dalam air agar terendam dan mengalami maserasi, bahan tersebut kemudian direbus. Selanjutnya, mereka mengaduk dan meremasnya dengan tangan sambil menambahkan sedikit chunam (kapur tohor yang berasal dari kulit kerang), bersama daun paku sabba (sejenis tumbuhan paku) untuk membantu memantapkan warna. Setelah itu, cairannya ditiriskan dan digunakan dalam keadaan cair.

Ada jenis indigo lainnya yang di Sumatra disebut tarum akar, yang tampaknya merupakan tumbuhan khas negeri itu. Jenis ini sama sekali belum dikenal oleh para ahli botani yang saya tunjukkan daunnya ketika saya kembali ke Inggris pada awal tahun 1780. Jenis indigo yang umum diketahui memiliki daun-daun kecil menyirip yang tumbuh pada batang yang hanya sedikit berkayu. Sebaliknya, jenis ini merupakan tumbuhan merambat atau memanjat, dengan daun berukuran panjang tiga hingga lima inci, bertekstur tipis, berwarna hijau tua, dan ketika dikeringkan tampak berubah warna akibat bercak-bercak biru. Tumbuhan ini menghasilkan zat pewarna yang sama dengan jenis sebelumnya. Cara pengolahannya pun sama, dan keduanya digunakan secara bergantian tanpa mengutamakan salah satu jenis dibandingkan jenis lainnya. Demikianlah keterangan yang saya peroleh dari penduduk setempat. Satu-satunya perbedaan ialah bahwa tarum akar, karena ukuran daunnya yang lebih besar, menghasilkan endapan dalam jumlah yang lebih banyak. Karena saya berpendapat bahwa tumbuhan ini mungkin dapat menjadi tanaman yang bernilai bagi koloni-koloni kita, dan bahwa pada tahap awal sangatlah penting untuk memastikan identitas serta klasifikasinya secara tepat, saya mengumpulkan spesimen bagian reproduktifnya dan menyimpannya dalam koleksi sahabat saya, Sir Joseph Banks, yang kaya dan sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Dalam sebuah makalah mengenai Asclepiadeae, yang sangat menarik bagi ilmu botani, disampaikan oleh Mr. Robert Brown—yang belum lama ini menjelajahi kekayaan tumbuhan di New Holland dan berbagai wilayah lain di Timur—kepada Wernerian Society di Edinburgh dan diterbitkan dalam Transactions lembaga tersebut, ia telah berkenan menamai marga tempat tumbuhan ini termasuk dengan nama MARSDENIA. Adapun spesies khusus ini dinamainya Marsdenia tinctoria.

(Catatan kaki: 2. M. caule volubili, foliis cordatis ovato-oblongis acuminatis glabriusculis basi antice glandulosis, thyrsis lateralibus, fauce barbata. Tarum akar. Marsd., Sumat., halaman 78, edisi kedua.
Habitat: Pulau Sumatra. (Spesimen dilihat dalam Herbarium Banks.)

GAMBAR 8. Marsdenia tinctoria, ATAU INDIGO BERDAUN LEBAR (BROAD-LEAFED INDIGO).
E. W. Marsden, pembuat gambar (delineavit); Swaine, pengukir (fecit).
Diterbitkan oleh W. Marsden, 1810.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Penulis merupakan Ketua Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS). Pernah kuliah di Jurusan Aqidah Filsafat Islam IAIN SGD Bandung (S1), Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS UPI (S1), Jurusan Pendidikan Geografi FKIP UNIBBA (S1), Jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN SGD (S2), dan sedang menyelesaikan kuliah di Konsentrasi Agama dan Budaya pada Program Studi Agama-Agama (S3), tinggal di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan dapat dihubungi melalui No. WA. 082118635648.

"Menulis untuk ilmu dan kebahagiaan, menerbangkan doa dan harapan, atas hadirnya kejayaan umat Islam dan bangsa Indonesia".