
Pada tahun 1820 M, Raja Willem I dari kerajaan Belanda Bersatu (wangsa Oranje-Nassau) membentuk Komisi Sejarah Alam untuk India-Belanda (De Natuurkundige Commissie voor Nederlandsch-Indie) yang diberikan tugas untuk memetakan potensi mineral dan juga kekayaan flora dan fauna. Komisi tersebut selanjutnya bermarkas di Kebun Raya (‘s Lands Plantentuin) di Bogor (Buitenzorg) dan bertahan dari tahun 1820-1850 M.
Komisi Sejarah Alam untuk India-Belanda tersebut terdiri dari keanggotaan para ilmuan (wetenschappers), ahli gambar dan ahli taksidermis (tekenaars en preparateurs), dan dewan redaksi prosiding (redactieraad verhandelingen). Antara tahun 1839-1847 M, Komisi Sejarah Alam untuk India-Belanda selanjutnya berhasil menerbitkan prosiding dengan judul “Verhandelingen over de natuurlijke geschiedenis der Nederlandsche Overzeesche bezittingen” (Catatan tentang Sejarah Alam Wilayah Jajahan Belanda di Seberang Lautan).
Setelah komisi tersebut berakhir pada tahun 1850 M, seluruh koleksi yang dimiliki oleh Komisi Sejarah Alam untuk India-Belanda kemudian menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional Sejarah Alam (Rijksmuseum van Natuurlijke Historie). Selanjutnya sejak tahun 2012 M Museum Nasional Sejarah Alam kemudian berubah menjadi Pusat Keanekaragaman Hayati Belanda (Nederlands Centrum voor Biodiversiteit Naturalis/Naturalis Biodiversity Center).
Salah-satu data tinggalan Komisi Sejarah Alam untuk India-Belanda yang memikat hati pengurus Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS) adalah sketsa kepala ayam hutan hijau (green jungglefowl) yang dalam bahasa Latinnya dikenal dengan nama Gallus varius, Shaw (1798 M). Berdasarkan data yang disajikan secara online oleh Pusat Keanekaragaman Hayati Belanda, sketsa tersebut diberikan kredit kepada ahli gambar Komisi Sejarah Alam untuk India-Belanda yang bernama Pieter van Oort.
Menariknya, dalam penjelasan arsip sketsa dengan menggunakan bahasa Prancis justru tertulis kalimat sebagaimana berikut:
“No. 20
Coq Alas – Temm. Pl. Col. 483
Te’te tiree d’une esquisse du port-feuille de
Mr. A. Payen, laquelle fiet dessinee et collorie,
a Java par le Radin Saleh, d’apras f’oiseau
vivant le Cte. J. De Bocarme
16/1-35”
Kode “No. 20” merupakan kode yang tersimpan pada bagian atas kanan arsip sketsa. “Coq Alas – Temm. Pl. Col. 483” merupakan kode nama jenis dan rujukan yang tersimpan dalam sumber riset yang dapat diduga berasal dari Coenraad Jacob Temminck ahli zoologi Belanda yang sekaligus menjadi anggota dewan redaksi prosiding Komisi Sejarah Alam untuk India-Belanda.
Dalam sketsa kepala ayam hutan hijau lainnya dengan varian khusus “kumbang koening” yang secara tertulis dijelaskan dalam arsip sketsanya dibuat oleh Pieter van Oort tahun 1827 M, nama Latin untuk ayam hutan hijau secara umum disebut dengan “Gallus farcatus, Temm.” “Coq Alas – Temm.” dengan demikian maksudnya sama dengan “Gallus farcatus, Temm.”
Apabila Shaw tahun 1798 menamai ayam hutan hijau dengan “Gallus varius, Shaw”. Maka Coenraad Jacob Temminck dari Komisi Sejarah Alam untuk India-Belanda menamainya dengan “Gallus farcatus, Temm.” “Gallus varius, Shaw” dan “Gallus farcatus, Temm.” Dengan demikian maksudnya sama, yakni merujuk pada ayam hutan hijau yang di seluruh dunia hanya mendiami habitat aslinya yang berasal dari Pulau Jawa, Bali, Madura dan kepulauan Nusa Tenggara.
Terjemahan kalimat selanjutnya berisi tentang keterangan sebagaimana berikut “Kepala diambil dari sketsa dalam fortopolio Mr. A. Payen, yang digambar dan diwarnai, di Jawa oleh Raden Saleh, berdasarkan burung hidupnya Comtesse J. De. Bocarme”. Bisa jadi yang memiliki koleksi ayam hutan hijau di Pulau Jawa itu Comtesse (‘Bangsawan”) J. De. Bocarme, kalimat terakhir masih perlu divalidasi.
Namun yang jelas yang menggambar sketsa tersebut justru bukan Pieter van Oort, melainkan Raden Saleh yang mana sketsanya tersimpan dalam kumpulan arsip milik Mr. A. Payen. Lalu yang menulis keterangan akhir dalam arsip tersebut apakah Pieter van Oort? Bisa jadi, bisa jadi juga bukan. Jika arsip itu ditulis tahun 16 Januari 1835 M, bukankah kemungkinan pembuatan sketsa ayam hutan hijau itu sendiri sudah digambar Raden Saleh sebelumnya? Bisa jadi.
Mungkin itu bisa menjadi masalah-masalah menarik ilmiah lainnya terkait dengan studi filologi, historis dan kepentingan praktis soal data ayam hutan hijau dalam arsip ini secara lebih detail. Dari sinilah gairah mempelajari apa yang dalam bahasa Sunda disebut dengan “hayam Cangehgar” meresap ke dalam qalbu kami. Habis Cangehgar (ayam hutan hijau) terbitlah Kasintu (ayam hutan merah), kekayaan alam dan ilmu pada kenyataannya tak terbatas untuk dipelajari.

Penulis merupakan Ketua Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS). Pernah kuliah di Jurusan Aqidah Filsafat Islam IAIN SGD Bandung (S1), Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS UPI (S1), Jurusan Pendidikan Geografi FKIP UNIBBA (S1), Jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN SGD (S2), dan sedang menyelesaikan kuliah di Konsentrasi Agama dan Budaya pada Program Studi Agama-Agama (S3), tinggal di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan dapat dihubungi melalui No. WA. 082118635648.
“Menulis untuk ilmu dan kebahagiaan, menerbangkan doa dan harapan, atas hadirnya kejayaan umat Islam dan bangsa Indonesia”.
