Hari ini mungkin kita mencari hulu Citarum di Gunung Sembung yang menghilang, besok mungkin kita mencari Dayeuh Kolot yang dilupakan, besoknya lagi mungkin kita mencari Pakuan Pajajaran yang tenggelam, besok besoknya lagi mungkin kita terjemahkan surat-surat Rangga Gede, Rangga Gempol, dan Pangeran Wangsakerta yang tidak digarap orang, besok besok dan besoknya lagi mungkin kita terjemahkan surat Padrao sebagai tanda penjajahan Portugis secara eksak dan presisi terhadap Tatar Sunda.

Dan pada beberapa hari yang sudah berlalu kita tahu Legenda Sangkuriang yang kita nikmati pada saat ini hanyalah konstruk rakitan orang.

Kekasih jangan kau tunggu Imam Mahdi dan Isa Al Masih, karena hari kiamat akan tetap menjadi misteri.

Kekasih jangan kau tunggu Budak Angon dan Budak Jangotan, karena Gunung Gede entah kapan akan meledak.

Karena bukankah hidup harus tetap berjalan, tanpa harus menunggu segala kemungkinan-kemungkinan yang entah kapan akan terjadi.

Batujajar, 18 Februari 2022 M
GTK

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Penulis merupakan Ketua Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS). Pernah kuliah di Aqidah Filsafat UIN SGD (S1), Pendidikan Geografi UPI (S1), Pendidikan Geografi UNIBBA (S1), Sejarah Peradaban Islam UIN SGD (S2) dan sedang menyelesaikan kuliah di Konsentrasi Agama dan Budaya pada Program Studi Agama-Agama (S3), tinggal di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan dpat dihubungi melalui No. WA. 082118635648.

"Menulis untuk ilmu dan kebahagiaan, menerbangkan doa dan harapan, atas hadirnya kejayaan umat Islam dan bangsa Indonesia".