Ci Tarum sejatinya bukan sungai dengan debit air yang sangat besar dan dengan massa air yang mengalir dengan lambat dan menggenang.

Ci Tarum adalah sungai yang mengalir dengan debit air yang cukup dan dengan pola aliran yang deras menggerus, menyayat lembah-lembah dari tanah-tanah yang subur hingga dinding-dinding batuan yang keras menjadi dalam dan bertebing-tebing curam.

Ritmenya kemudian berubah menjadi lebih tenang dan menggenang setelah dibangunnya bendungan-bendungan di sepanjang aliran sungainya untuk dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik untuk kebutuhan penerangan masyarakat seluruh Pulau Jawa dan Bali.

Pada kesempatan kali ini, kami mengunjungi kembali segmen Ci Tarum yang pola pengalirannya memanjang sekitar beberapa kilometer yang telah terbuang setelah adanya pengalihan rute melalui pipa-pipa pesat untuk menggerakan turbin di sebuah Power House.

Aliran sungai mengalir secara mandiri dari mataair-mataair dari celah-celah perbukitan turun mengisi lembah sungai yang dihiasi bongkahan-bongkahan besar batuan dari jenis karst, andesit, dan konglomerat.

Sebuah segmen Ci Tarum yang membuatnya tampak lebih arkaik, lebih jernih dan bersih.


Pada aliran segmentasi Ci Tarum lama tersebut jika urutkan ada beberapa gejala alam yang menarik. Arah urutan tersebut relatif bergerak dari arah Tenggara menuju ke arah Barat-Laut.

Gejala pertama adalah suatu celah di antara Pasir Kiara 732 mdpl (Timur) dan Puncak Larang 850 mdpl (Barat). Kedua perbukitan tersebut membentuk suatu rangkaian dinding yang terjal sebagai benteng alam.

Pada celahnya yang rapuh aliran sungai Ci Tarum mengikis dan menyayatnya hingga mampu membuatnya mengalir melalui celah di antara keduanya.

Setelah masa pembendungan Waduk Saguling pada tahun 1986 M, celah tersebut yang menurut para ahli Geologi menjadi imajinasi teoretik tempat bobolnya Danau Bandung Purba (Situ Hyang); kemudian kembali dibendung dan menyisakan sekitar 6 km segmen Ci Tarum bersih yang terbuang.

Analisis demikian dapat ditemui pada Majalah Geologi Indonesia Vol. 17 No. 3 Desember 2002, terbitan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dengan judul “Analisis Geomorfologi Perbukitan Saguling-Sangiangtikoro: Pengeringan Danau Bandung Purba tidak Melalui Gua Sangiangtikoro” oleh Budi Brahmantyo, Sampurno, dan Bandono.

Suatu tesis baru yang menggugurkan dugaan bahwa Sanghyang Tikoro merupakan tempat bobolnya Danau Bandung Purba sebagaimana yang telah diusung oleh ahli Geologi Hindia-Belanda, Van Bemmelen.

Analisis muka air Danau Bandung Purba dengan perkiraan ketinggian 725 mdpl, sementara ketinggian Sanghyang Tikoro dengan ketinggian 354 mdpl; membuat cerita rakyat (folklore) perihal Situ Hyang dan Sanghyang Tikoro yang disokong Van Bemmelen gugur sebagai tempat bobolnya Danau Bandung Purba.

Danau Bandung Purba dengan ketinggian 725 mdpl harus tertahan dulu di antara Pasir Kiara yang berketinggian 732 mdpl dan Puncak Larang pada ketinggian 850 mdpl.

Proses penerobosan perlahan menyayat bagian rapuh dari antara Pasir Kiara dan Puncak Larang pada ketinggian 725 mdpl, hingga kemudian bobol. Dari titik bobol tersebut, baru setelah 6 km mengalir memasuki grond river (sungai bawah tanah) yang bernama Sanghyang Tikoro hingga kemudian menuju ke Rajamandala bertemu dengan aliran paling lama yang berna Ci Meta sebelum dibendung aspek vulkanisme Gunung Sunda.

Gejala kedua, adalah Cukang Rahong. Di cekungan antara Pasir Kiara dan Puncak Larang, tepat di Barat-Laut bendungan Waduk Saguling terdapat sebuah lembah sungai sempit yang diapit oleh dinding tebing sungai yang curam.

Pada bagian agak landai, pada masa silam terdapat jembatan tradisional yang disebut Cukang dalam bahasa Sunda. Tinggi dari dasar sungai sekitar 40 meter dengan lebar sungai sekitar 7-8 meter. Cukang Rahong menghubungkan kawasan Batujajar, Cililin menuju ke arah Ciranjang, Cianjur pada masa silam.

Gejala ketiga, adalah Curug Halimun. Setelah melalui benteng Waduk Saguling modern yang juga merupatan titik penerobosan Danau Bandung Purba pada masa silam dan kemudian Cukang Rahong, gejala yang ditemui selanjutnya adalah Curug Halimun.

Curug Halimun memikiki ketinggian antara 10-15 meter. Sebelum dan setelah Curug Halimun masih banyak ditemui jeram-jeram cukup curam sebagai tanggul-tanggul alam.

Curug Halimun menjadi penciri paling fundamental dimana material lepasan yang diterobos aliran Ci Tarum retak-retak dan berjatuhan meruntuhkan benteng alam. Pada Curug Halimun tersebut titik takik gradien sungai yang ambrol terjadi.

Gejala keempat adalah Sanghyang Heuleut. Sanghyang Heuleut merupakan cekungan sungai yang tenang atau yang dalam bahasa Sunda disebut dengan leuwi.

Genangan sungai tersebut cukup luas dan dalam yang berkubang di sekitar kolam yang terbuat dari formasi batuan kapur (karst/dolomit) yang tergerus dan tercekungkan.

Perpaduan batuan yang putih, air yang jernih dengan dampak warna yang kehijauan; membuat banyak orang merasa nyaman untuk mandi dan berenang di atasnya.

Gejala kelima adalah Sanghyang Poek. Sanghyang Poek merupakan gua batuan kapur yang tembus. Memiliki dua pintu masuk (entrence cave) dan satu pintu ke luar (extrence cave). Dua pintu tersebut berupa dua buah lorong yang kemudian bersatu menuju satu lubang keluar.

Pada masa silam, lubang tersebut dibentuk oleh hasil pengerjaan arus sungai yang intensif. Batuan kapur (CaCO3) yang bersifat mudah terlarutkan, menjadi mudah untuk dibentuk oleh air. Menjadi gua-gua bawah tanah, lubang-lubang seperti pot bunga (pothole), kolam-kolam yang cekung tergenang.

Dan karena ground river tersebut relatif musiman pada masa silam, penrjaan air yang meresap dari puncak bukit membentuk jejak sedikit ornamen gua yang masih bisa disaksikan berupa antara lain stalaktit dan stalagmit. Kini, Sanghyang Tikoro bisa dikatakan tidak lagi dilalui masa air sungai yang hanya mengalir kecil di lembah yang berada di bawahnya.

Gejala keenam adalah Sanghyang Tikoro. Sanghyang Tikoro paling terkenal karena memiliki cerita mitologis yang berkaitan dengan Situ Hyang. Jika Sanghyang Tikoro semacam katakanlah kabeureuyan (tersedak) oleh nyere (lidi) maka Danau Bandung Purba akan terbentuk kembali.

Sayangnya analisis Geografi, Geologi, dan Geomorfologi tidak mampu menyokong gagasan lama tersebut. Namun demikian kita menjadi paham, bahwa cerita-cerita pada masa lalu dibuat ada dasarnya. Dia dibuat sebagai suatu dasar teori untuk menjelaskan kenapa suatu gejala bisa terjadi dalam artikulasi nalar dan bahasanya yang tersendiri.

Demikian juga perkembangan teori ilmiah modern, dia akan gugur dan disempurnakan dengan landasan teori yang lebih baik dan mapan dalam menjelaskan.

Gejala ketujuh adalah Sanghyang Kenit. Jika Sanghyang Tikoro adalah pintu masuk aliran sungai Ci Tarum ke dalam formasih batuan berupa sungai bawah tanah, maka Sanghyang Kenit adalah pintu ke luar pengakirannya.

Semenjak Waduk Saguling dibangun, maka dibangun juga lorong bawah tanah dan dua buah pipa pesat untuk mengalirkan airnya. Dari Waduk Saguling pipa tersebut menggerakkan turbin di sebuah Power House dan kemudian dibuang secara normal memasuki kembali Sanghyang Tikoro.

Debit aliran air dibuat sedemikian rupa. Terkadang deras dan terkadang lebih surut. Dan ketika dibutihkan pembuangan yang lebih dari paras Waduk Saguling, pintu pengaturan yang masuk ke dalam aliran sungai bersih dari segmen terbuang terkadang digunakan untuk mebgalirkan kembali aliran sungainya dari Waduk Saguling.

Dalam kunjungan terakhir kami bersama Yoseph Miftah (alumni Geografi FPIPS UPI angkatan 2003), tampak ada perkembangan terbaru.

Pada areal sekitar Sanghyang Tikoro, telah dibuat satu aliran pipa pesat yang baru. Dimana aliran pembuangannya kini sama sekali tidak melalui Sanghyang Tikoro dan dengan demikian, tidak akan keluar juga dari Sanghyang Kenit.

Jarak antara Sanghyang Tikoro dan Sanghyang kenit sekitar 1 km kabarnya kini juga dapat dimasuki oleh wisatawan. Mulut gua Sanghyang Kenit pada masa silam dengan air yang keluar membludak tampak lebih besar dan mengerikan daripada Sanghyang Tikoro.


Baik Sangyang Kenit, Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek, dan Sanghyang Heuleut kini telah menjadi destinasi wisatawan yang telah biasa dituju dan berbayar.

Harga tiket menuju ke Sanghyang Heuleut 15.000/orang dengan uang tambahan 25.000/orang untuk biaya pemanduan. Biaya masuk menuju ke Sanghyang Poek 7.000-8.000/orang (kami membayar 15.000/2 orang). Namun demikian kami belum berkesempatan untuk mengetahui harga tiket Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Kenit.

Sudut-sudut wilayah yang dulu alamiah dan bukan destinasi wisata umum, melainkan hanya sesekali dikunjungi secara khusus oleh para penjelajah dan penyuka kajian kebumian tersebyt kini telah terbuka dan diterima publik.

Hanya saja regulasi harus dibuat agar harga tidak terlampau tinggi dan kawasan yang sifatnya satu paket lintasan jangan dibuat tiket-tiket tersediri melainkan satu paket.

Idealnya kawasan-kawasan alam harus dibuat secara gratis untuk bebas dikunjungi dan dipelihara keasriannya dan keasliannya. Namun demikian, rakyat yang sama sekali kurang memiliki akses terhadap sumber-sumber keterlibatan ekonomi dalam keseharian membuat peluang dari apa yang bisa diuangkan akhirnya harus diuangkan.

Seharusnya biarkan rakyat memiliki akses dan kesaulatan terhadap tanah, terhadap air, terhadap hutan, terhadap seluruh sumber daya alam yang telah mereka warisi dari para orang tua mereka melalui pengelolaan aparatur negara pada tingkatan-tingkatan paling kecil yang dapat mereka musyawarkan dan awasi sendiri.

Dan biarkan alam-alam yang indah dinikmati bersama sebagai aset kebebasan dan kebahagian bersama. Dan geliatkan arus masuk keuangan melalui komoditas-komoditas alam dan warung-warung yang dapat merekan dirikan untuk melengkapi sajian alam yang ada, bukan dari tiket.

Yang dibutuhkan rakyat sesungguhnya adalah akses terhadap kedaulatan sumber-sumber ekonomi kerakyatan, dan bukannya tiket.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)