Majelis Syuro Syib'iyyim Nabi Musa AS

Di dalam bahasa Ibrani terdapat kata Sar yang biasa diartikan dalam konteks Masorah sebagai Pangeran, Panglima, Kepala, Kepala Suku, Penguasa, dan Pemerintah. Kata Ibrani Sar, di dalam bahasa Akadia sama dengan kata Sarum yang berarti Raja. Beberapa perubahan bentuk yang seakar Sarum di dalam bahasa Akadia antara lain Sar, Sari, dan Sara. Kata yang berkaitan dengan Sar dalam bahasa Ibrani atau Sarum dalam bahasa Akadia dengan demikian sudah dikenal sejak masa silah dalam rumpun bahasa Semitik.

Nabi Musa AS yang merupakan orang Ibrani dari suku Lewi, sejak masih bayi hingga menjadi pemuda dewasa hidup dalam kepangeranan di istana Kerajaan Mesir. Pada suatu hari ketika Nabi Musa AS turut meninjau kegiatan kerja rodi, dimana dia kemudian melihat suatu adegan dimana seorang Mesir memukul seorang Ibrani dalam suatu kegiatan kerja rodi. Nabi Musa AS kemudian membela kedudukan orang Ibrani dan melawan orang Mesir, hingga akhirnya orang Mesir tersebut ditakdirkan meningal dalam suatu perkelahian dengannya. Di dalam Masorah tersebut, mayat orang Mesir yang telah terbunuh tersebut kemudian oleh Nabi Musa AS disembunyikan dengan cara ditimbun di dalam padang pasir.

Pada keesokan harinya, Nabi Musa AS melihat kejadian kembali dimana seorang Ibrani justru memukul seorang Ibrani lainnya dalam sebuah perkelahian antar sesama golongannya. Nabi Musa AS yang melihat kejadian tersebut kemudian menegur pihak yang dianggap telah melakukan kesalahan terhadap pihak yang lainnya. Namun demikian, pihak Ibrani yang bersalah tersebut kemudian berkata dengan cara yang memojokkan kepada Nabi Musa AS:

Aksara Ibrani
וַ֠יֹּאמֶר מִ֣י שָֽׂמְךָ֞ לְאִ֨ישׁ שַׂ֤ר וְשֹׁפֵט֙ עָלֵ֔ינוּ הַלְהָרְגֵ֙נִי֙ אַתָּ֣ה אֹמֵ֔ר כַּאֲשֶׁ֥ר הָרַ֖גְתָּ אֶת־הַמִּצְרִ֑י וַיִּירָ֤א מֹשֶׁה֙ וַיֹּאמַ֔ר אָכֵ֖ן נֹודַ֥ע הַדָּבָֽר׃

Transkripsi Latin
Wayyomer mi sameka leis sar wasopet alenu halharegeni attah omer kaaser haragta et hammisri wayyira moseh wayomar aken nowda haddabar

Translasi Indonesia
Tetapi jawabnya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi Pemimpin (Sar) dan Pengatur (Sopet) atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” Musa menjadi takut, sebab pikirnya: “Tentulah perkara itu telah ketahuan.”

Pada masa tersebut, Nabi Musa AS yang mulai membuktikan niat baik dan sikap pembelaannya atas asas keadilan dan nasib tertindas kaumnya, justru kedudukannya malah digugat dengan cara yang menyedihkan oleh kaumnya itu sendiri. Dan bukan sekedar digugat, bahkan Nabi Musa AS pada akhirnya terpelanting dari hubungan baik dengan pihak istana yang mana sejak masa bayi telah diangkat sebagai anak oleh putri dari Firaun itu sendiri, hingga akhirnya menjadi buronan dan memudian mengembara ke negeri Midian.

Di negeri Midian, Nabi Musa AS bermukim sangat lama hingga akhirnya menikah dengan putri dari Imam Rehuel yang disebut juga Imam Yitro yang dalam Al Quran disebut dengan nama Nabi Syu’aib AS hingga melahirkan putra-putra bernama Gersom dan Eliezer. Di dalam Mesorah, ketika Nabi Musa AS mengembalakan kambing milik keluarga Nabi Syu’aib AS dalam keadaan sendirian hingga terlalu jauh kemudian terjadi peristiwa pewahyuan di Gunung Horeb atau di Gunung Sinai (Keluaran dan Ulangan), sementara di dalam Al Quran di lembah Thuwa (Wadi al Thuwa) yang dianggap sama menurut para Mufasirin dengan Gunung Sina (Thur Sina) yang juga ada di dalam Al Quran meskipun tidak dengan lugas dikaitkan dalam konteks pewahyuan kepada Nabi Musa AS.

Apabila di dalan Masorah ketika Nabi Musa AS sedang mengembala di padang rumput, maka di dalam Al Quran dikatakan setelah Nabi Musa AS tuntas melakukan kontrak perjanjian kerja bersama Nabi Syuaib AS. Maka setelah Nabi Musa AS memiliki hak penuh atas isteri-isteri dari putri Nabi Syu’aib, kemudian belaiu pergi bersama keluarga pokoknya yang baru hingga terjadilah peristiwa pewahyuan di lembah Thuwa. Antara keduanya sama bahwa terkandung informasi pewahyuan pertama di suatu tempat dengan hadirnya petanda api yang menyala di sekitar semak belukar atau pepohonan.

Apabila di dalam Al Quran dengan tegas Tuhan memberikan namanya sebagai Allah, maka di dalam Masorah dengan cara diplomatis Tuhan menyatakan dirinya dengan kata Ehye Asyer Ehye (Aku adalah Aku) yang menurut pendapat ahli Masorah, kata Ehye dalam bentuk kata pertama tersebut akan berganti dengan bentuk kata ketiga sebagai Yahweh (ya Dia). Ehye akan dekat dengan kata Arab Haya, Hayah, atau Hayat yang artinya yang Ada atau yang Hidup. Sementara kata Huweh, Huwah dalam bahasa Ibrani barangkali juga akan dekat dengan kata Arab Huwa artinya Dia. Sementara kata Arab Allah menurut sebagian ahli tata bahasa Arab tidak bisa diuraikan, namun sebagian ahli tata Arab menganggap bisa diuraikan dari kata preposisi Al (dalam bahasa Ibrani El) dan kata Ilah (yang berarti Tuhan). Sehingga Allah bukan sekedar Ilah (Tuhan) atau Alaha (Tuhan-Tuhan yang lain), Dia adalah Tuhan yang Sejati, Tuhan yang Sesungguhnya, Tuhan yang sejati yang hanya satu-satunya yang ada: La Ilaha Ila Allah (Tidak ada tuhan kecuali Tuhan yang Sesungguhnya (Allah)).

Nabi Musa AS diangkat menjadi Nabi berdasarkan Masorah di Gunung Horeb (Exodus) atau di Gunung Sinai yang di dalam Al Quran disebut dengan lembah Thuwa (Wadil Thuwa) atau Gunung Sina (Thur Sina). Kawasan Horeb atau Sinai atau Thuwa atau Sina ini kemungkinan besar bukan di kawasan Semenanjung Sinai modern ini, karena dalam perspektif kuno kemungkinan masih bagian integral dengan kawasan teritorial Mesir yang pusatnya berada di sebelah utara. Di dalam data perjalanan di dalam Mesorah, Gunung Horeb atau Gunung Sinai ini juga dekat dengan flaying camp Kirbot Tuwa di dalam bahasa Ibrani yang tampak sangat dekat secara fonetik juga dengan kata Arab Wadi al Thuwa.

Ketika Nabi Musa AS mendapatkan perintah berdakwah kepada Firaun di Mesir dan juga perintah untuk membebaskan kaumnya dari perbudakan, maka atas izin Allah permohonannya untuk didampingi oleh kakaknya sendiri yakni Nabi Harun AS yang akan bertugas sebagai Wazir (istilah resmi di dalam Al Quran), Wakil, dan Pengganti (Khalifah) sementara ketika Nabi Musa AS mendapatkan urusan yang lain. Gunung Sinai, Gunung Horeb, Wadi al Thuwa, atau Thur Sina dengan demikia kemungkinan besar bukan berada pada kawasan modern Semenanjung Sinai melainkan masih bagian dari kawasan Midian (Arab Madyan) baik di kawasan intinya ataupun kawasan pesisian yang akan berbatasan dengan kawasan lainnya.

Semua pakar sepakat, Midian adalah kawasan di sebelah Timur Laut Merah dan juga Semenanjung Sinai moder. Yakni di sebelah Timur Teluk Aqobah, di selatan perbatasan Mesir dan Kanaan dan di Utara kawasan Tihama dan Hijaz yang dalam Mesorah masih bagian besar dari blok sebaran kawasan Bani Ismail. Meskipun demikian, penduduk Midian secara garis silsilah bukan keturunan Nabi Ismail AS, melainkan keturunan Midian (Arab Madyan) salah-satu putra Nabi Ibrahim AS dengan isterinya yang bernama Keturah. Identitas Midian dan Ismail memang lekat terbukti dalam catatan Mesorah dimana datanya diperhubungkan dengan garis silsilah Keturah juga secara kultural dan psikologis dipertalikan juga dengan Bani Ismail sebagaimana pada peristiwa ketika Nabi Yusuf AS dijual oleh saudara-saudaranya kepada kafilah Midian yang dianggap Bani Ismail juga ketika akan membawanya menuju ke Mesir. Di sini terlihat perhubungan Midian dan Mesir dalam hubungan perdagangan sangat baik dan erat (kemungkinan karena penguasa Mesir saat ini sejak dari masa Nabi Ibrahim AS dalam data Sejarah berasal dari golongan Hiksos yang berasal dari Asia).

Untuk menghindari zona demarkasi dengan Mesir, maka logika politik akan membuat Nabi Musa AS harus menghindari border dengan kawasan Mesir baik di Utara yang berbatasan dengan Kanaan maupun dekat dengan Semenanjung Sinai. Maka yang paling logis adalah di Midian atau bergerak ke arah sedikit lebih Timur, Timur Laut, dan atau Tenggara kawasan Midian itu sendiri. Bukan di Mesir (dan Semenanjung Sinai) juga bukan di Kanaan (atau Syam) melainkan di Jazirah Arab yang pada saat ini masuk ke dalam kawasan Kerajaan Saudi Arabia bagian Utara.

Dengan menitipkan isteri atau isteri-isteri dan anak-anaknya di Midian, Nabi Musa AS kemudian menjemput Nabi Harun AS ke Mesir. Bersama Nabi Harun AS, Nabi Musa AS segera menemui pada Zaqen (Pemuka-pemuka kabilah Bani Israel) yang dalam bahasa Arab akan disebut Syaikhun (dari bentuk tunggal Syaikh). Zaqen (Pemuka atau Tetua atau Kepala Suku) juga merupakan Nasiy (Arab Nasi’) merupakan Pangeran atau Bangsawan atau Kepala atau Komandan dari setiap suku-suku Bani Israel yang ada (Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Efraim (bin Yusuf), Manasye (bin Yusuf), dan Bunyamin).

Bersama dengan Nabi Harun AS dan Zaqen atau Nasiy atau Sar Bani Israel, Nabi Musa AS menghadap Firaun di Mesir. Nabi Musa AS dengan kata lain apabila mengikuti logika politik, maka kemudian telah resmi diakui oleh para pemuka dan pimpinan suku-suku Bani Israel menjadi Zaqen, Nasiy, dan Sar atas konfederasi suku-suku Bani Israel. Nabi Musa AS yang sebelumnya pernah digugat dengan sindirian tidak berhak untuk ikut campur mengurusi (Syapat) karena bukan Sar kini telah juga resmi kedudukannya diakui sebagai Sar dan dengan demikian Sopet atas seluruh Bani Israel. Firaun yang dihadapi oleh Nabi Musa AS kali ini, bukan Firaun (ayah atau kakek angkat Nabi Musa AS) yang sebelumnya melainkan Firaun yang baru (putra Firaun sebelumnya).

Dalam data Keluaran dan data Ulangan, rute perjalanan yang ditempuh Nabi Musa AS dari Mesir menuju ke Kanaan ada sedikit perbedaan dalam detailnya. Satu hal yang jelas, rute yang yang diambil tidak langsung menyusuri garis pesisir antara Mesir dan Kanaan di sepanjang Laut Mediterania Timur, melainkan menuju ke arah Selatan dan atau Tenggara untuk menghindari persinggungan secara langsung dengan suku Filistin yang menghuni sepanjang garis pesisir Barat Kanaan.

Rutenya adalah Rameses, Sukot, Etam, Pihahirot (depan Baal-Zefon, tentangan Migdol [dan laut]), Etam (Teberau, Sur), Mara, Elim, Teberau, Sin (antara Elim dan Sinai), Dofka (perbatasan Kanaan), Alus (perbatasan Kanaan), Rafidim, Sinai (Horeb; Masa dan Meriba), Kibrot Tawa, Hazerot|Zin (Miryam meninggal), Ritma, Rimon-Peros, Libna, Risa, Kehelata, Harsyafer, Harada, Makhelot, Tahat, Tarah, Mitka, Hasmona, Moserot, Bene Yakan, Hor Gidgad, Yotbata, Abrona, Ezion Geber, Kadesh (padang gurun Zin), Hor (perbatasan Edom; Nabi Harun AS meninggal), Zalmona, Funon, Abot, Abarim (daerah Moab), Dibon Gad, Almon Diblatain, Abarim (depan Nebo), (Zered, Arnon), Moab (tepi sungai Yordania dekat Yeriko; dari sungai Yordania, Bet Yesimot, Abel Sitim; dan di kawasan Moab tersebut Nabi Musa AS meninggal).

Untuk menghindari hadangan suku Filistin pada saat melarikan diri dari kejaran suku Mesir, Nabi Musa AS dan Bani Israel bergerak ke Tenggara menuju kawasan Semenanjung Sinai dan kemudian menyeberang ke kawasan Midian. Dekat kawasan Midian ini terdapat Gunung Sinai atau Horeb atau Thuwa atau Sina tempat pertama kali mendapatkan wahyu dan tempat kedua kalinya mendapatkan Taurat dan hukum-hukum tambahan lainnya. Di tempat itu pula Nabi Musa AS dikunjungi Nabi Syuaib kembali dengan membawa keluarga Nabi Musa AS dan diberikan nasihat soal tata kelola masyarakat yang lebih baik dan efektif lagi. Suatu masa yang cukup lama sekitar 40 tahun untuk meletakkan dasar-dasar tata kelola, administrasi, dan peradaban untuk Bani Israel.

Di tempat ini Nabi Musa AS berlaku sebagai Sar dan Sopet dan mengangkat Sopet-Sopet lainnya dalam strata lebih rendah. Di tempat ini berbagai peristiwa muncul dan juga peristiwa pembangkangan oleh Samiri (Masorah oleh Nabi Harun AS yang namanya dipulihkan dalam Al Quran) yang masih tergoda paganisme Mesir Kuno. Dari kawasan Sinai keuatan Bani Israel dihitung untuk kemudian memutuskan kembali melanjutkan perjalanan menuju kawasan Kanaan. Tapi juga tampaknya melakukan gerakan parabola karena Miryam, kakak perempuan Nabi Musa AS dimakamkan di Hazerot atau Zin di kawasan Paran (Arab Hijaz).

Adapun suku-suku yang mendiami kawasan Kanaan antara lain suku Filistin, Kanaan, Het, Amori, Hewi, Yebus, Filistin, Edom, Moab, Amon, Amalek, Feris, Enak, Keni, Asyur, Heber, Girgasi, dan lain sebagainya. Di kawasan Sinai, Bani Israil mulai digempur suku Amalek dari kalangan Arab Aribah atas bantuan suku Aram Mesopotamia yang merupakan sekutunya. Beberapa suku seperti suku Amon dan suku Moab adalah keturunan Nabi Lut AS di kawasan Yordania dan suku Edom adalah keturunan Esau bin Nabi Yakub AS yang masih berkerabat. Namun jalan masuk menuju Kanaan masih saja tetap dihambat. Di kawasan Zin atau Sin atau Kades-Barnea Nabi Harun AS wafat di Gunung Hor, sementara Nabi Musa AS wafat di kawasan Edom (Yordania) sehingga belum sepenuhnya amsuk ke kawasan Kanaan. Perlu dipertimbangkan secara spekulatif dan radikal kemungkinan kata Kohen Yitro dan kata Arab Yastrib yang memiliki nama lain sebagai Madinah dan dalam dokumen Yahudi disebut Medinta sebagai suatu asosiasi kawasan dengan keberadaan masyarakat Midian masa silam.

Pada masa pengembaraan dan pembinaan sementara di kawasan Sinai Nabi Musa AS berlaku sebagai Sopet, Sar, Nasiy, dan Zaqen yang meletakkan dasar-dasar kemasyarakatan dan peradaban bersama para Sopet, Sar, Nasiy, dan Zaqen dari setiap suku Bani Israil lainnya yang berlaku sebagai sahabat (companion), majelis, syuro, consultative assembly, dan sekaligus pembantu kerjanya. Jika jumlahnya ada 12 dan ada 70 dalam formasi gembung, maka Majelis tersebut akan kita pahami dala sudut pandang saat ini sebagai sistem dua kamar (bicameral). Tugas memasuki Kanaan kemudian dilanjutkan oleu Yusa bin Nun yang dalam bahasa Ibrani disebut sebagai Ebed (Arab: Abid), pembantu setia Nabi Musa AS yang dalam Al Quran identik dengan abdinya yang menemani mencari Khidir. Nasiy dalam bahasa Ibrani modern akan menjadi setara Presiden dan pada masa Sanhendrin akan menjadi nama jabatan Ketua Majelis atau Senat juga nama jabatan raja-raja Yahudi di pembuangan (Resy Geluta adalah Nasiy). Sementara kata Kaisar, Tsar, Sri, Sir, dan seterusnya tentu saja masih bisa ditarik mundur konsepnya hingga masa silam terminologi Semit.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)