Inlander yang berarti pribumi, dalam arti umum yang dikonotasikan sebagai pendudk asli, memang tidak ada masalah. Akan tetapi dalam KONOTASI/pengertian yang lain, yang kemudian diartikan sebagai kelas pribumi yaitu kelas yang berbeda, kelas yang berada lebih rendah dibanding dengan bangsa pendatang yang dianggap lebih maju dengan berbagai kelebihan, sikap merasa rendah diri inilah, yang sengaja ditanamkan oleh bangsa Belanda sebagai penjajah sampai lebih dari tigaratus tahun.

Panggilan Ndoro Tuan dan Ndoro Nyonyah kepada para bule, kemudian Yuk atau nyah yuk kepada orang Cina perantauan sudah tertanam sekian lama. Rasa rendah diri atau minderwaardig yang tertanam inilah yang sekarang justru menjadi semakin complex. Minderwaardig complex menjadi sikap Inlander yang menjadi racun paling merusak peradaban Bangsa Indonesia.

Bila sikap Inlander ini selalu dikembangkan bukan tidak mungkin pada tahun 2045 bangsa Indonesia telah terkubur. Sikap Inlander yang menganggap bahwa sesuatu yang berasal dari barat adalah jauh lebih baik dari apa yang kita miliki. Inilah sikap INDLANDER yang harus dikubur.

Sayangnya SIKAP INLANDER ini memang sudah membudaya, setelah lebih dari 300 tahun dijajah sikap INLANDER ini, menurut istliah Jawa sudah “mbalung sungsum”. Lebih menyedihkan lagi bahwa sikap INLANDER Ini justru dianut dan dikembangkan oleh para elit politik dan kalangan PAKAR yang merasa BANGGA bisa menyerap dan menjadikan budaya asing sebagai yang disembah di Negara sendiri.

Dari sikap Inlander pula Pendidikan kita “ GAGAL TOTAL“, bukan gagal dalam hal mengikuti dan mengembangkan teknologi tinggi akan tetapi gagal dalam menempatkan teknologi sebagai bagian dari budaya Bangsa dan mempertahankan budaya luhur Bangsa Indonesia.

Sudah terbukti, putra-putra terbaik bangsa dapat meraih prestasi dibidang sains dan tecnologi, mampu membuat pesawat, alutsista canggih dan kapal. Akan tetapi sikap INLANDER para elit Politik telah menutup semua potensi yang dimiliki bangsa ini.

Dalam hal Ekonomi juga gagal, bukan karena Bangsa ini tidak mempunyai sumber daya yang mampu bersaing dalam ekonomi, akan tetapi juga gagal karena sikap inlander yang tidak berani bersaing dan menentukan sikap yang mempunyai nilai tawar, dan akan selalu membebek dan mengikuti arus tanpa berani memegang kendali.

Saat ini sudah tidak ada lagi Pemimpin Bangsa ini yang berani berkata “ Ini dadaku, mana dadamu! “

Akan tetapi selalu mengatakan kalau di Amerika….kalau di Jerman…dan saterusnya dan seterusnya, apa yang “berbau“ Luar Negeri selalu menjadi acuan dan ditiru.

Para pendiri Negara yang sadar sepenuhnya bahwa sikap INLANDER harus dengan berani dilawan dan harus dihilangkan dari bumi pertiwi. Maka kesepakatan Para Pendiri Negara telah dengan tegas meletakkan Landasan paling Fundamental untuk mendirikan Negara adalah diambil dari Budaya yang tumbuh dan berkembang seiring dengan tata nilai yang berlaku secara turun temurun di Indonesia. Berdiri tegar menyongsong dunia, bangga berpijak pada Sumber Daya yang ada di Indonesia dan berpegang pada Budaya Bangsa Indonesia, itulah arti sebuah kemerdekaan.

Akan tetapi, saat ini semua sirna. Tidak ada lagi kebanggan sebagai Bangsa Indonesia. Dibawah para yang mengaku PEMIMPIN BANGSA, berotak cemerlang dengan gelar sepanjang dua depa, sayang berjiwa kerdil dan bersikap INLANDER.

ditulis oleh

Ibnu Dawam Aziz

Ibnu Dawam Aziz, lahir pada 3 Juni 1948 M di Magelang. Dibesarkan dalam tradisi NU dan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sempat bekerja sebagai PNS dan pada saat ini telah pensiun dan  di Kota Depok.