Tarum Akar

Tarum Sebagai Inspirasi Untuk Memulihkan Ci Tarum

Pada akhir tahun 2011 M, saya terinspirasi untuk terlibat dalam pencarian tumbuhan Tarum. Inisiatif itu didasarkan atas harapan Mbak Diella Dachlan yang pada waktu itu sedang memangku tanggung jawab sebagai Communication Consultant pada projek Cita Citarum yang merupakan kerja bersama masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat, LSM, dan lembaga pemerintah yang mencakup jaringan kerja 6 kementrian (periode sebelum ada projek Citarum Harum).

Mbak Diella Dachlan pada waktu itu memiliki cita-cita dan harapan bagaimana apabila pada aliran sungai Ci Tarum, tumbuhan Tarum dapat dihadirkan kembali sebagai landmark yang secara simbologi dapat memulihkan kembali ikatan psikologis dan historis sebagaimana pada masa lalu dan mampu mendorong kepada semangat perbaikan dan konservasi.

Mbak Diella Dachlan sendiri pada gilirannya telah tergugah oleh tulisan-tulisan dan hasil perbincangan-perbincangan langsung dengan Bapak Titi Bachtiar (Kelompok Riset Cekungan Bandung dan Masyarakat Geografi Indonesia) sejak tahun 2010 M, akademisi dan tokoh masyarakat yang menaruh perhatian pada masalah-masalah Geografi dan Lingkungan Hidup di kawasan Cekungan Bandung.

Upaya pencarian pertama kemudian diarahkan menuju ke Yogyakarta pada tanggal 21-26 Desember 2011 M atas petunjuk dari Mbak Diella Dachlan untuk menemui Mbak Shinta Pratiwi yang pada waktu itu sedang melakukan riset untuk studi S2 di UGM dengan topik Tarum dan tradisi pewarna alam yang masih aktif dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta.

Di sela-sela mengurusi projek Cita Citarum, Mbak Diella Dachlan sebenarnya sudah berusaha untuk menggali kembali akar tradisi yang ada di masyarakat Tatar Sunda utamanya pada kawasan DAS Ci Tarum, namun demikian pada umumnya masyarakat sudah tercerabut dan kehilangan wawasannya dari khazanah pengetahuan mengenai tumbuhan Tarum. Terkadang ada yang masih mengingat samar-samar namanya, namun demikian sudah tidak mampu lagi mengingat visual tumbuhannya.

Di tengah buntunya informasi mengenai tumbuhan Tarum, maka upaya korespondensi yang dilakukan oleh Mbak Diella Dachlan dengan Mbak Shinta Pratiwi yang berawal dari ditemukannya sebuah artikel yang memberitakan adanya kebun percontohan Tarum milik UGM, telah menjadi suatu oase di tengah padang gurun yang gersang. Suatu harapan yang mencerahkan bahwa tumbuhan Tarum pada kenyataannya masih ada dan dapat dihadirkan kembali, dan meskipun apabila harus diperoleh dari Yogyakarta.

Dari Yogyakarta, saya bersama dengan Mbak Ayu Kuke Wulandari (Dosen Institut Teknologi Harapan Bangsa di Bandung dan komunitas penggiat jalan-jalan) telah berhasil untuk mendapatkan beberapa bibit tumbuhan Tarum untuk kemudian diberikan kepada Mbak Diella Dachlan yang karena padatnya kegiatan yang dimiliki oleh beliau, Mbak Diella Dachlan baru bisa menerima hadiah tumbuhan Tarum tersebut setelah 3 bulan kemudian, yakni pada tanggal 5 Maret 2012 M. Oleh Mbak Diella Dachlan kemudian bibit Tarum tersebut ditanam secara seremonial di hulu sungai Ci Tarum, yakni di kawasan Situ Cisanti di Pangalengan, Bandung Selatan (yang disepakati sebagai titik 0 KM aliran sungai Ci Tarum).

Kemudian pada tanggal 12 April 2012 M, dikabarkan oleh Mbak Diella Dachlan bahwa telah ditanam kembali tumbuhan Tarum di beberapa titik di kawasan Situ Cisanti–(perlu dipertimbangkan juga kedudukan dan nilai Dano Ciharus di Majalaya sebagai titik 0 KM lainnya dengan mempertimbangkan isyarat dari keterangan naskah Bujangga Manik dari peralihan abad ke-15 M/16 M) sebelum bermuara ke Muara Gembong di Laut Jawa (Karawang)–oleh Mbak Diella Dachlan dengan spesimen yang diperoleh dari koleganya yang lain, yakni Bapak Ruhimat yang merupakan pegawai Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) pada saat mudik ke kampung halamannya di Ciamis.

Kemudian hari setelah pulang dari Yogyakarta saya mulai memahami setelah membaca-baca kembali tulisan Bapak T. Bachtiar (terutama dari artikel berjudul Tarum, Kawasan Penghasil Pewarna Alami) dan beberapa entri Tarum, Nila, dan Indigo di dalam kamus umum bahasa Sunda, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris jika Tarum (istilah lainnya Nila [Sanskrit] dan Indigo [Inggris]) ternyata merupakan istilah yang cenderung bersifat Umum (Generik). Dan apa yang kami bawa sebagai hadiah dari Yogyakarta (dan termasuk Tarum yang diperoleh atas hadiah dari Bapak Ruhimat dari kawasan Ciamis) adalah Tarum dari jenis Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.).


Catatan Mengenai Tarum Akar

Dengan bertambahnya khazanah pengetahuan mengenai jenis-jenis Tarum secara lebih Khusus (Spesifik) kemudian nalar analitik mulai bertanya-tanya: Apabila pada masa silam sungai Ci Tarum berhubungan dengan tumbuhan Tarum (secara Umum), maka dari jenis tumbuhan Tarum yang manakah yang memiliki kecenderungan yang lebih identik dengan identitas sungai Ci Tarum tersebut (secara Khusus) pada masa lalu?

Karena dengan mempertimbangkan dimana sebagian jenis-jenis Tarum itu kemudian pada masa kolonial India-Belanda telah diintrodusir dari kekhasan tumbuhan Tarum asal kawasan tropis Benua Afrika dan Benua Amerika seperti Tarum Daun Alus (Indigofera arrecta HOCHST), Tarum Hutan (Indigofera galegoides DC), dan Tarum Kembang (Indigofera suffruticosa MILL), maka wajar tumbuh pertanyaan: Manakah tumbuhan Tarum yang bersifat lebih lama (endemik) hadir di kawasan sungai Ci Tarum pada periode sebelum kolonialisme India-Belanda hadir di Nusantara?

Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.) memang pada masa kolonial India-Belanda sempat juga diintrodusir secara massif dari kawasan India Selatan ke Indonesia, namun demikian kuat kemungkinan jika Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.) secara fakta sudah ada di Nusantara setidaknya sejak periode Hindu-Budha di Tanah Air karena secara Epigrafis (sumber bukti dokumen prasasti batu dan atau logam) kata Tarum yang disebut dengan kata Nila di dalam bahasa Sanskrit sudah dikenal dan terdokumentasikan juga dalam salah-satu bukti Prasasti Lempeng Logam Sukawana (Kintamani) di Bali dari tahun 883 M dengan varian Sanskrit lokal sebagai Mangnila (selain menyebut data Mangkudu sebagai sumber pewarnaan merah kecoklatan).

Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.) inilah yang secara internasional telah disepakati dan dikenal dengan sebutan sebagai The Truely Indigo (Tarum yang Sejati) karena memiliki catatan penting paling tua secara dokumen sebagai komoditas perdagangan Tarum yang pernah dikirimkan dari India ke Romawi (pra Bizantium) setidaknya sudah tercatat dalam naskah abad ke-1 M dengan judul Periplous tes Erythras Thalasses (bahasa Yunani dan aksara Koine Yunani) yang diperkirakan ditulis pada masa kekuasaan Romawi di koloni masyarakat Yunani di kota pelabuhan Aleksandria (Mesir).

Tarum asal India di dalam naskah disebut dengan nama Indikon yang secara harfiah berarti come from India (sesuatu yang datang dari India). Variasi lainnya dalam naskah tersebut adalah Indikon Melan (Tarum Hitam), Indikon Chroma (Tarum Pewarna), dan Indikon Pharmakon (Tarum Obat). Kata Yunani Indikon itulah yang kemudian akan sampai ke dalam bahasa Inggris menjadi kata Indigo. Dimana tentu saja, masyarakat India itu sendiri akan menyebutnya sebagai Nila.

Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.) yang diperoleh dari Yogyakarta dan Ciamis secara teoretik sebenarnya sudah tepat bahwa selain pada masa kolonial India-Belanda telah menjadi bagian penting dari komoditas Tarum yang dikebunkan secara massal dan massif untuk kepentingan ekspor dalam mensuplai kebutuhan Eropa dan Dunia (kawasan India-Belanda sempat menjadi eksportir terbesar di dunia), juga sejak pada periode Hindu-Budha yakni pada masa Kerajaan Kuno di Nusantara kemungkinan Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.) sudah ada dan dikembangkan dalam skala pengebunan, pengolahan, dan pemenuhan kebutuhan tertentu yang cukup masuk akal; dimana kata Nila yang berasal dari bahasa Sanskrit dari India juga telah membentuk sejarah penamaan tempat (toponimi) di kawasan Nusantara misalnya saja pada kemungkinan sejarah nama tempat untuk kata Manila di Philipina.

Namun demikian, apabila kita menginginkan varietas Tarum yang lebih arkaik yang telah lama mengisi habitat di Pulau Jawa termasuk di kawasan aliran sungai Ci Tarum di Pulau Jawa bagian Barat (yang berlangsung sejak periode sebelum Hindu-Budha), maka Tarum dari jenis Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) dapat menjadi kandidat tumbuhan Tarum yang bersifat lebih lokal untuk mengisi ruang imajinasi teoretik pengembalian Tarum ke kawasan aliran sungai Ci Tarum yang paling kuat selain alternatif Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.) sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya.

Asumsi Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) sebagai jenis yang cenderung bersifat lebih native dapat dibuktikan dengan catatan paling awal dimana beritanya telah disampaikan oleh William Marsden dalam buku The History of Sumatra yang terbit pada tahun 1783 M. Tempat pelaporan yang disampaikan pada masa itu adalah Bengkulu sebagai bagian dari koloni Inggris. Di sana dikatakan oleh William Marsden yang merupakan tokoh orientalis, linguis, numismatis, perintis studi ilmiah mengenai Indonesia, dan pejabat kolonial Inggris di Bengkulu (karir terakhirnya sebagai Sekretaris Angkatan Laut Britania) bahwa masyarakat setempat biasa menggunakan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) dan Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.) secara adil tanpa membedakan dan mengutamakan salah-satunya dalam kegiatan membuat zat pewarna alam berwarna biru untuk mewarnai kain.

Pada masa William Marsden mencatat Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.), belum ada catatan identifikasi dan taksonomi yang dilakukan oleh ahli Botani manapun hingga masa tersebut. Proses identifikasi, klasifikasi, dan taksonomi kemudian baru berhasil dilakukan oleh Robert Brown untuk menindak-lanjuti laporan dari William Marsden yang mengirimkan spesimennya ke Herbarium Bank di Britania. Dengan asumsi dasar bahwa kandungan pigmen indigotin Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) lebih banyak dibandingkan dengan Tarum Biji (Indigofera tinctoria R.Br.) karena seluruh bagian tubuhnya mampu diekstrak sebagai sedimen dibadingkan dengan Tarum Biji (Indigofera tinctoria L.) yang hanya mengandalkan daun-daunnya saja yang berukuran kecil.

Robert Brown yang merupakan ahli Botani Britania kemudian memberikan nama tumbuhan Tarum Akar tersebut dengan nama Marsdenia tinctoria R.Br. Marsdenia (nama Genus) diambil dari nama William Marsden untuk menghormati temuannya, tinctoria nama ilmiah untuk menyatakan fungsinya sebagai zat pewarna alam biru, dan R.Br. diambil dari singkatan namanya sendiri yakni Robert Brown sebagai orang yang untuk pertama kalinya mampu mengindentifikasinya. Keberhasilan tersebut dicatat sebagai bagian dari dalam buku The Miscellaneous Botanical Works yang berhasil dipublikasikan pada tahun 1811 M.

Catatan selanjutnya mengenai Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) terdapat juga di dalam On the Formation of Indigo from Indigofera’s and from Marsdenia tinctoria oleh Dr. Pieter van Romburgh (diarsipkan oleh Prof. A.P.N. Franchimont), yang terdapat dalam jurnal Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen Proceedings Series B Physical Sciences, Vol. 2 yang dipublikasikan pada tahun 1899 M.

Catatan Dr. Pieter van Romburgh menceritakan hasil pembicaraan
yang menemukan adanya perbedaan Tarum dari Genus Indigofera dan Spesies Marsdenia tinctoria R.Br. yang dia peroleh dari keterangan Prof. Beyerinck dan juga kemudian ditindaklanjuti dalam ujicoba laboratorium di Indigo Experimental Station at Klaten dibawah pengelolaan Direktur Mr. Hazewinkel dimana hasil perbincangan dan ujicoba laboratoriumnya dilaporkan oleh Dr. Pieter van Romburgh pada Verslagen van’s Lands Plantentuim tahun 18910 M.

Tindaklanjut lainnya dalam bidang Kimia telah dilakukan oleh Mr. van Lookeren Campagne yang kemudian diterbitkan laporannya dalam Jaarverslag van’s Lands Plantentuin pada tahun 1893 M, kemudian pelaporan yang dilakukan oleh Mr. van Lookeren Campagne dan van Der Venn pada tahun 1895 M, dan kemudian juga oleh Dr. Pieter van Romburgh pada laporan tahun 1897 M dan 1898 M (dan catatan yang sebagaimana telah diberitakan di awal, yakni tahun 1899 M).

Pada tahun 1921 M terdapat juga catatan A Note Upon Plants Grown for Blue Dyes in the Malay Peninsula oleh I. H. Burkill di dalam jurnal The Gardens’ Bulletin Straits Settlements Vol. II (Singapura). Catatan tersebut selain memberitakan adanya rekomendasi untuk memasuki langkah pengbunan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) di kawasan Calkuta India (East India Company’s Garden) secara lebih massif dan intensif sebagaimana yang juga pernah dianalisa William Marsden untuk pertamakalinya jika Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) memiliki kelebihan kandungan pigmen indigotin yang lebih banyak karena seluruh postur tumbuhannya dapat digunakan sebagai bahan pembuatan zat pewarna alam biru sebagaimana yang diinginkan.



Pelacakan Kembali Keberadaan Tarum Akar di Jawa Barat

Setelah sebelumnya bertanya-tanya kepada banyak pihak yang dianggap dapat memberikan petunjuk kepada keberadaan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) semenjak pulang dari Yogyakarta, Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) untuk pertamakalinya dapat saya peroleh bersama dengan Mbak Ayu Kuke Wulandari sebagai pemberian dari Rony Noviansyah yang merupakan alumni Pendidikan Geografi FPIPS UPI (S1) dan Paska Sarjana Pendidikan (S2) Geografi UPI, anggota Jantera Perhimpunan Pecinta Alam Geografi FPIPS UPI, Ketua komunitas jelajah Geotrek Matabumi, dan seorang Guru pada tanggal 6 April 2012 M di Majalaya (Kabupaten Bandung). Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) yang diperoleh Rony Noviansyah pada beberapa waktu sebelumnya itu sendiri dapat diperoleh atas petunjuk dari Dr. Lili Somantri Adireja yang merupakan Ketua Prodi Sains Informasi Geografi Jurusan Geografi UPI dan anggota Jantera Pecinta Alam Pendidikan Geografi FPIPS UPI melalui hadiah kerabatnya yang berdomisili di kawasan Ibun (Majalaya).

Pada tanggal 8 Maret 2013 saya dan Yuda Kalimullah yang merupakan alumni Seni Rupa UPI, anggota Paser Pecinta Alam Seni Rupa UPI, dan fasilitator Matabumi kemudian mendapatkan lagi spesimen Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) dari Setia Pratama yang merupakan alumni Seni Rupa UPI dan mantan Ketua Adat Paser Pecinta Alam Seni Rupa UPI dari kediamannya di Majalaya. Sumber yang didapat Setia Pratama itu sendiri berasal dari kawasan Paseh (Kabupaten Bandung) yang tidak begitu jauh dari kawasan Majalaya (Kabupaten Bandung).

Dari dua buah spesimen yang diperoleh dari Majalaya, saya pada tanggal 23 Juli 2013 kemudian memutuskan untuk menemui Bapak H. Drs. Eman Abdurahman di kawasan Ledeng (Cidadap, Kota Bandung) yang merupakan Ahli Botani UPI dan merupakan alumni pertama Jurusan Biologi UPI (pada saat formatnya masih dalam bentuk PTPG yang didirikan pada taun 1954 M). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka mendapatkan second opinion yang bersifat otoritatif dalam upaya memverifikasi: Apakah dua spesimen yang sudah kami peroleh dari Majalaya (dari Ibun dan Paseh) tersebut sudah benar merupakan tumbuhan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) ataukah belum?

Dari pertemuan tersebut, Bapak H. Drs. Eman Abdurahman membenarkan fakta ilmiah tersebut. Dan bukan hanya memberikan pernyataan mengenai validitasnya saja, Bapak H. Drs. Eman Abdurahman bahkan kemudian memberikan spesimen Tarum Akar (Marsdenia tinctoria) tambahan yang merupakan koleksinya dari halaman rumahnya yang ditanam sejak tahun 2010 M. Spesimen yang dimilikinya itu sendiri berasal dari indukan yang ditanamnya di kampus Universitas Siliwangi (Unsil) Kota Tasikmalaya sejak tahun 2003 M. Sementara indukan yang ditanam di Unsil (saat ini sudah tidak ada) itu sendiri diperoleh Bapak H. Drs. Eman Abdurahman dari kawasan Cipedes Kota Tasikmalaya pada tahun 2003 M.

Selain Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) yang diperoleh dari Rony Noviansyah (Majalaya, Kabupaten Bandung), Setia Pratama (Majalaya, Kabupaten Bandung), dan Bapak H. Drs. Eman Abdurahman (Cidadap, Kota Bandung); dikabarkan juga oleh Yadi Supriadi yang merupakan koordinator komunitas TARAP (Tarum Areuy Prodak) dan anggota Jantera Perhimpunan Pecinta Alam Pendidikan Geografi UPI yang berdomisili di Kota Banjar, bahwa telah diperolehnya juga spesimen Tarum Akar dari kawasan Karangkamiri, Langkapancar, Kabupaten Pangandaran pada tanggal 15 Juli 2016 M.

Dan pada tanggal 11 Juli 2020 M, melalui Bapak Haji Dedi Abdulah (Ketua Lingkung Adat Bantarkalong), yang merupakan pensiunan dari jabatan trakhirnya sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya dan sekaligus bagian dari keluarga, pemilik, dan pengelola Pesantren Muara di Kampung Muara, Dusun Jibal, Desa Bantarkalong, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya mulai menemukan keberadaan habitat Tarum Akar (Marsdenia tinctoria, R.Br.) di Kampung Citarumareuy, Gedogan, Dusun Jibal, Desa Bantarkalong, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya.

Di kawasan Kampung Citarumareuy, Gedogan, tumbuhan Tarum Areuy (Marsdenia tinctoria, R.Br.) ternyata masih ada. Bukan sekedar ada tapi masih berlimpah dan tumbuh secara liar di alam. Namun demikian, ada pengetahuan yang telah terputus dimana masyarakat sekitar sudah tidak mengetahui lagi jenis tanaman Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) tersebut meskipun ada dan hadir dalam kehidupan keseharian mereka. Dan bahkan padahal nama Sunda dari Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) itu sendiri adalah Tarum Areuy (Marsdenia tinctoria R.Br.) yang kemudian secara toponimi telah menjadi nama tempat tersebut sejak masa silam.


Sosialisasi Tarum Akar Melalui Pendekatan Seni dan Kebudayaan

Upaya untuk medekatkan imajinasi teoretik tumbuhan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) dengan misi konservasi Ci Tarum dilakukan melalui pendekatan seni dan kebudayaan dengan pertimbangan untuk memudahkan dan menyederhanakan wacana yang lebih menyasar pada wilayah afektif. Dan lagi, wujud tumbuhan, nama tumbuhan, fungsi tumbuhan pada masa lalu, dan berbagai informasi lainnya masih terasa asing untuk komunitas dan masyarakat pada saat itu. Namun demikian melalui pendekatan seni dan kebudayaan secara intensif dan berkelanjutan tanggapan dan apresiasi perlahan makin baik dan dapat menjadi suguhan informasi yang bersifat baru dan terkadang terkesan mendapatkan suatu informasi yang mistis dan ajaib.

Kegiatan pertama dilakukan melalui pendekatan Performance Art (ceramah, melukis, dan Performance Art) bersama Koloni Hitam (Agung Jack, Entri Somantri, dan Ackay Deni Ramdani) di Babakan Siliwangi pada tanggal 7 Juni 2013 M dengan tema: Mengabarkan Tarum.

Kegiatan kedua dilakukan melalui pendekatan Pameran karya Entri Somantri (Koloni Hitam) di Bale Pare Kota Baru Parahyangan dengan tema Hiden Perspective menggunakan material Tarum, Fiber, Papirus, dan Kayu dengan torehan aksara-aksara kuno yang dibantu oleh Ara Sinatria dan Gelar Taufiq Kusumawardhana (House of Varman) pada tanggal 6 Februari 2014 M.

Kegiatan ketiga dilakukan dengan pendekatan Diskusi sederhana mengenai Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) di TPST Cibodas Kelurahan Pataruman Kecamatan Pataruman Kota Banjar dengan pembicara Gelar Taufiq Kusumawardhana (House of Varman) bersama dengan komunitas TARAP yang diketuai oleh Yadi Supriadi dan difasilitasi oleh Bapak H. Nono sebagai pengelola TPST Cibodas yang telah berkenan juga untuk memberikan ruang bagi pembibitan. Diskusi berlangsung pada tanggal 14 Mei 2014 M dan dihadiri oleh tokoh Lingkungan Hidup, Karang Taruna, Pemuda Tani, dan komunitas penggerak peduli sampah.

Kegiatan keempat dilakukan oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana (House of Varman) dalam bentuk pameran, presentasi, dan membagikan tulisan pendek dalam bentuk selebaran informasi Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) dalam kegiatan Pameran Seni Dago pada tanggal 2 Juni 2014 M.

Kegiatan kelima dilakukan dengan cara Bercerita mengenai Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) dalam kegiatan Trauma Healing kepada anak-anak paska banjir bandang Ci Manuk dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2016 M di lapangan depan gedung Islamic Center Kota Garut. Dilakukan oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana (House of Varman) dan Jaka Hendra Purnama (WANADRI dan REPAGA) bersama REPAGA (Remaja Pecinta Alam Garut) Kota Garut.

Kegiatan keenam dilakukan dengan cara memenuhi undangan Berkebun Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana bersama anak didik (siswa) Sekolah Alam Bandung atas bimbingan Bapak Guru Iden Wildensyah dan Bapak Guru Ade Ramdani pada tanggal 27 September 2016 M sampai dengan 1 November 2016 M di kebun sekolah di Dago (Kota Bandung).

Kegiatan ketujuh dilakukan dengan cara Mendemonstrasikan secara insidental pembuatan zat pewarna alam biru dari Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana bersama Kang Mufid yang merupakan musisi, seniman, pelestari pohon Saeh untuk bahan kertas daluang dan anak-anak sekitar pada tanggal 20 November 2016 di kawasan Sekolah Alam Dago.

Kegiatan kedelapan dilakukan dengan cara Pameran dengan tema Artosfer pada tanggal 12-14 Oktober 2017 M. Dilakukan oleh Ackay Deni Ramdani, Niko Wiratma, dan Andy Dwi Tjahyono. Gelar Taufiq Kusumawardhana membatu tahap perkembangan seni untuk Niko Wiratma dan Ackay Deni Ramdani atas nama komunitas 725 MDPL. Di sana diinstalasi salah-satunya tumbuhan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.). Kegiatan disambut baik dan dibuka oleh Bapak Titi Bachtiar (Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung) dan Bapak Iman Soleh (Seniman Bandung pengelola CCL).

Kegiatan kesembilan dilakukan dengan cara performence art. Dilakukan oleh Entri Somantri, Gelar Taufiq Kusumawardhana, Ackay Deni, Hegar Krisna Cambara, Teddy Prihastowo, dan Agung Jack atas nama Koloni Hitam pada Pembukaan kegiatan Bandung Art Month 2019 pada tanggal 15 Agustus 2019 dengan topik Semiotika Tangis Babi.

Kegiatan kesepuluh dilakukan dengan cara Pameran Lukisan yang menampilkan gambar anatomi Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) oleh Ackay Deni Ramdani (House of Varman dan Koloni Hitam) bersama Persatuan Guru Pelukis Bandung (PGPB) dengan topik Guru Ngariksa #9 pada tanggal 15 Agustus-20 September 2019 di Selasar SMPN 7 Bandung.

Kegiatan kesebelas dilakukan dengan cara Action Painting Artists di Ciwalk pada kegiatan launching ARTI Cihampelas Walk Bandung pada tanggal 5 Oktober 2019 oleh Ackay Deni Ramdani (House of Varman).

Kegiatan keduabelas berupa Presentasi (public lecture) di PT Garuda Mas Semesta, Leuwigajah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi atas undangan Bapak Zaenudin dan Bapak Komang bersama kepala berbagai divisi pada tanggal 9 Juli 2020 M. Kegiatan tersebut sebagai penjajakan bagaimana industri Denim dapat kembali membuat kain Denim dengan pewarna alam biru dari Tarum (Indigo). Ditemani oleh Refi Syaeful Firmansyah dan Ardi Jo (House of Varman). Dalam persiapan dibantu oleh Ackay Deni Ramdani (House of Varman dan Koloni Hitam) dan Lalitya Dwi Rachmani (Koloni Hitam). Dan konsultasi bersama Mas Fatah Saefur R. Ipung (pengusaha Indigo di Temanggung) dan Mas Hanif Sofyan (seniman Batik di Yogyakarta).

Kegiatan ketigabelas memenuhi undangan dari Bapak Djuandi Gandi dalam kegiatan ceramah dan menanam pohon di Teras Cikapundung kawasan Babakan Siliwangi bersama komunitas pini sepuh Harmoni Purnabakti ITB. Di hadirkan salah-satunya tumbuhan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) untuk disosialisasikan dan ditanam.


Tahap Perkembangan Tarum Akar di Beberapa Pusat Pembibitan di Jawa Barat

Tarum Akar memiliki nama ilmiah Marsdenia tinctoria R.Br., memiliki nama daerah dalam bahasa Sunda Tarum Areuy, dan memiliki nama pergaulan internasional diantaranya Climbing Indigo (Tarum Panjat), Broad-leaved Indigo (Tarum Daun Lebar), dan Java Indigo (Tarum Jawa). Dalam bahasa Melayu (Sumatra) dan Dayak (Kalimantan) dikenal dengan nama Tarum Akar (diambil alih menjadi bahasa Indonesia).

Namun demikian, Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) tidak hanya tumbuh di kawasan Indonesia bagian Barat saja (Sumatra, Kalimantan, dan Jawa). Melainkan dapat ditemukan juga di Singapura, Semenanjung Malaya, Kepulauan Pilipina, Indo-Cina, Cina Selatan, Taiwan, Kepulaunan Rykyu (Jepang), juga kawasan Timur-Laut India (kawasan Assam), Banglades, dan Birma (Myanmar).

Sejauh penelusuran data yang ada, jenis Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) ini belum pernah sempat menjadi komoditas bisnis yang bersifat massal dan massif, bahkan sejak mulai direkomendasikan oleh para pakar dari masa kolonial India-Belanda di Nusantara, kolonial Inggris di Nusantara (India-Belanda) dan Bengkulu, dan juga kolonial Inggris di India. Kendala apa yang membuat proses pencanangan bisnisnya mengalami ketertundaan memerlukan suatu investigasi tersendiri. Namun demikian, pada kantung-kantung masyarakat tradisional dan lokal di kawasan-kawasan Geofrafis tersebut, penggunaan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) masih terus aktif dan hidup dalam budaya keseharian mereka hingga saat ini (meskipun dalam skala rumah tangga).

Khusus perkembangan di Jawa Barat paska penemuan kembali Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) sejak akhir 2011 M, keinginan untuk melakukan proses konservasi melalui perbanyakan bibit memicu harapan apabila tumbuhan tersebut tidak saja memiliki nilai historis, psikologis, dan konservasi semata; melainkan dapat dihadirkan juga nilai ekonomisnya. Dimana dengan tumbuhnya nilai ekonomis diharapkan akan memperkuat juga nilai konservasinya itu sendiri karena memiliki nilai fungsional dan pragmatiknya dalam kehidupan masyarakat pelakunya.

Sehingga sejak akhir tahun 2011 M tersebut, beriringan dengan dilakukannya proses sosialisasi melalui pendekatan seni, budaya, dan informasi keilmuan, kegiatan pembibitan secara bertahap terus ditingkatkan dan tingkat distribusi tumbuhan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) juga berkembang semakin meluas.

Pada saat ini, ada 4 kawasan penting sebagai basis aktifitas pengembangan Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) di Jawa Barat. Pertama di kawasan Bandung yang meliputi kawasan Ciharalang, Cimenyan, Kabupaten Bandung di bawah pengelolaan Ackay Deni Ramdani (House of Varman) dan kawasan Pangauban, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat di bawah pengelolaan Gelar Taufiq Kusumawardhana (House of Varman). Kedua di kawasan Bekasi dibawah pengelolaan Ackay Deni Ramdani. Ketiga di TPST Cibodas, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar di bawah pengelolaan Yadi Supriadi (komunitas TARAP). Dan keempat di kawasan Kampung Citarumareuy, Gedogan, Dusun Jibal, Desa Bantarkalong, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya dan kawasan Pesantren Muara, Kampung Muara, Dusun Jibal, Desa Bantarkalong, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya di bawah pengelolaan Bapak H. Dedi Abdulah. Dan sebagai tambahan terdapat juga satu buah kantung konservasi Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) di kawasan Saruni, Majasari, Pandeglang (Provinsi Banten) di bawah pengelolaan Khairul Hakim (House of Varman). Juga beberapa tempat dengan basis koleksi kecil di Garut (Bron, alumni Seni Rupa UPI 1997 M), Depok (Kurt Peterson dan Ella dari Galeri Rumah Tangga), dan beberapa tempat lainnya termasuk di beberapa tempat di kawasan Jawa Tengah via pusat pembibitan Banjar sebagai koleksi.


Indigo Experimental Station dan Grand Design Pengembangan Tarum Akar Pada Tahap Selanjutnya

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kegiatan merevitalisasi aktifitas yang berhubungan dengan tumbuhan Tarum telah dilakukan pada sekitar tahun 1990 M (berdasarkan keterangan Mas Hanif Sofyan, Seniman Batik dari Yogyakarta dalam suatu perbincangan). Sumber tumbuhan utama yang dikembangkan pada mulanya dari Genus Indigofera, terutama dari jenis Tarum Biji (Indifofera tinctoria L.) dan beberapa jenis lainnya dari Genus Indigofera sebagai sisa-sisa tumbuhan hasil kejayaan industri pewarna alam biru pada masa kolonial India-Belanda yang masih dapat ditemukan.

Sejak masa tersebut, kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta hingga saat ini telah mencapai tahap kemapanan pencapaiannya. Usaha konservasi, tahap pengebunan, tahap pengolahan ekstraksi zat pewarna alam biru, kebangkitan nilai ekonomi bisnis berbasis komunitas, pemasaran untuk pasar domestik dan mancanegara, tumbuhnya komunitas seniman batik dengan menggunakan zat pewarna Tarum, tumbuhnya komunitas pecinta zat pewarna Tarum dan zat pewarna alam lainnya, tumbuhnya komunitas petani dan pertanian Tarum, sokongan pihak pemerintah daerah dan seterusnya telah berhasil dilalui dengan sangat baik.

Dengan membandingkan data revitalisasi di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, maka kawasan Jawa Barat dan Banten terpaut selisih waktu sekitar 10 tahun lebih lambat dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga cukup wajar apabila tahap perkembangan Tarum di Tatar Sunda dengan Tarum di Tanah Jawa belum berjalan dalam tingkatan yang setara. Maka target yang cukup realistis adalah komunitas Tarum di Jawa Barat dan Banten sebisa mungkin melakukan upaya percepatan yang terukur dan terencana untuk bisa meraih tahap perkembangan yang sejajar dengan kawasan di Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut.

Namun demikian bukan dalam suasana kompetisi, melainkan tahap perkembangan tersebut hanya akan bisa diraih dengan melibatkan sokongan komunitas dari Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam kegiatan transfer pengetahuan, skill, pola pengorganisasian, skema bisnis, pengelolaan basis komunitas dan matarantai lainnya, dan seterusnya melalui pola kerjasama pembimbingan (mentoring). Karena meskipun memiliki perbedaan pada jenis garapan tumbuhan Tarumnya, namun demikian pada prinsipnya baik genus Marsdenia maupun genus Indigofera dan termasuk jenis Strobilanthes cusia (khas kawasan Timur-Laut India, Cina Selatan, Jepang, dan Indo-Cina) yang dikembangkan di kawasan Temanggung bersifat sama (yakni sama-sama mengandung pigmen indigotin Tarum dengan pola pengolahan yang relatif sama).

Sambil memaksimalkan proses teknis pengebunan dan tahap-tahap perkembangan yang lebih tinggi, maka pembuatan risalah Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) dalam bentuk artikel, buku, dan website harus mulai dilakukan dalam mempercepat kesetaraan informasi, juga kegiatan semacam lokakarya, seminar, dan diskusi untuk menyamakan persepsi kerja jaringan, kegiatan-kegiatan yang berbasis pada praktik (basic skill) misalnya proses kegiatan ekstraksi zat pewarna Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) dari bahan mentah Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) yang ada melalui para ahli yang bisa diundang dari kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan atau mulai mengkoordinasikan aktifitas yang dilakukan pada kantung-kantung kawasan masing-masing dengan jaringan birokrasi pemerintahan setempat pada tingkat paling dasar untuk mendapatkan perhatian yang sewajarnya dalam rangka mewujudkan revitalisasi Pataruman (hal-ihwal kegiatan Tarum).

Dengan adanya langkah-langkah tersebut diharapkan kerja konservasi yang selama ini telah dilakukan dapat juga mendorong adanya kegiatan kemandirian ekonomi kerakyatan dimana langkah konservasi dan ekonomi dapat berjalan secara beriringan dan harmonis. Dan bahkan bukan semata-mata bermakna revitalisasi pertanian Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.), melainkan dapat menjadi simbol revitalisasi kegiatan pertanian secara lebih mendasar dan umum di kawasan Jawa Barat (dan Banten). Dan terakhir yang tidak boleh dilupakan karena hal tersebut menjadi titik berangkat dari semua pencapaian yang dikerjakan selama ini: Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) harus mampu mendorong kegiatan rehabilitasi, revitalisasi, dan konservasi terhadap aliran sungai Ci Tarum sebagai simbol semangat dan nadi peradaban kuno yang bukan saja bernilai historis dan psikologis untuk kawasan Tatar Sunda semata melainkan untuk Indonesia.

Dengan meminjam gagasan adanya Indigo Experimental Station yang berpusat di Klaten pada masa kolonial India-Belanda, maka titik-titik persebaran dan penyebaran Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.) yang ada di kawasan besar Jawa Barat dan Banten dapat menjadi stasion-stasion yang mana secara bertahap melalui pembangunan jaringan-jaringan kerjasama (networking) yang ada dapat segera mewujudkan cita-cita sebagaimana yang telah diharapkan secara lebih sinergis.


(selesai)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)