Oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana/The Varman Institute

Arsiparis Karguna Purnama Harya/The Varman Institute

(V) Konstrusi Legenda Sangkuriang Dalam Narasi H.A. Van Hien (1912 M)

Pada kesempatan kali ini, kita melompat dari tahun 2004 M (Hidayat Suryalaga) dan kemudian tahun 1961 (R.A. Kosasih) dan tahun 1971 (Anris) dengan eksekusi bentuknya pada 2 film monumental tahun 1982 M. Meninggalkan terlebih dahulu pelacakan naskah R.T.A. Soenarja, Utuy Tatang Sontani, Van Bemmelen, Achmad Djajadiningrat, Husen Djajadiningrat, A.C. Deenik, dan C.M. Pleyte. Karena ketersediaan data yang lebih cepat untuk bisa diakses.

Sebenarnya hasil pembacaan terhadap hasil kompilasi H.A. van Hien membawa pada beberapa pertanyaan menggelitik. Pertama, kenapa pada medan kajian Folklore standar pencatatan dan kode etik ilmiah yang berkaitan dengan narasumber dan rujukan bacaan pada cendekiawan masa kolonial tersebut tidak berlaku dengan standar ketat yang sama sebagaimana yang terdapat pada misalnya saja medan keilmuan Filologi dan Epigrafi.

Kedua, sejak kapan tradisi wedding ring atau wedding band telah menjadi bagian dari tradisi pernikahan yang baku dalam kebudayaan masyarakat pribumi di Indonesia. Apakah wedding ring atau wedding band yang merupakan tradisi dalam kebudayaan Barat (Judeo-Christian) yang diambil melalui kebudayaan kuno Romawi (dan Bizantium) juga merupakan budaya yang sama yang juga telah masuk melalui sistem pernikahan, jenis-jenis pernikahan, dan persyaratan-persyaratan yang berada dalam pengajaran Hindu-Budha dan kemudian Islam.

Ketiga, apakah tradisi membersihkan kepala atau rambut yang juga berakar pada adat-istiadat Judeo-Christian (dengan rujukan kitab suci yang bahkan lebih jelas lagi) pada saat menikah memiliki kesejajaran juga dalam khazanah kebudayaan Hindu-Budha dan juga Islam, sebelum masa kolonial Barat masuk ke Indonesia. Ataukah justru sebuah tradisi baru dan asing yang kemudian masuk ke dalam sendi-sendi kebudayaan Timur.

Ketiga, kenapa aspek mitologi yang diduga diyakini di dalam masyarakat yang menurut H.A. van Hien Orang Kalang di Residentie Tegal dan Pekalongan (jika benar demikian) digunakan untuk menjelaskan tradisi atau aspek mitologi di kawasan Priangan. Tanpa menyebutkan korelasi dan koherensi nalar yang menghubungkan kaitan kekerabatan atau influence yang memungkinkan terjadinya pembentukkan Legenda Sangkuriang di kawasan Priangan dan klaim mitos yang menyatakan Orang Kalang keturunan Anjing dan Babi (menurut data penhimpunan H.A. van Hien).

Keempat, dari dasar apa H.A. van Hien menjastifikasi jika penduduk Priangan mengalami dekadensi moral dan spiritual, atau dengan bahasanya mengalami kerusakan dan keterkutukan dalam bukti-bukti pergaulannya; hanya dengan berdasarkan pada pencatatan aspek mitologi yang belum jelas sumbernya, juga dia akui banyak versinya, banyak penambahannya, yang dengan kata lain simpang-siur dan jelas bukan merupakan data historiografi yang bersifat otoritatif untuk menjelaskan.

Demikianlah, kajian Hermenetika dan Simbologi bukannya tidak berguna; namun baru akan berguna ketika validasi terhadap aspek formal dan aspek material suatu berita telah dilakukan penelaahan terlebih dahulu. Hermenetika atau Simbologi akan menjadi pekerjaan yang sia-sia dilakukan tanpa daya kritis terhadap validasi prasyarat awal dimulainya suatu kajian dan penrlaahan.

Namun demikian, untuk sementara sebagaimana yang telah dikemukakan sejak awal; pada tulisan-tulisan selanjutnya kita akan mencoba untuk mengeksplorasi data yang tersaji tentang suguhan-suguhan narasi Legenda Sangkuriang yang ada. Agar spektrum yang dimiliki mengenai legenda tersebut menjadi terlihat lebih jelas dan majemuk.

Selanjutnya, akan dihadirkan suguhan narasi Legenda Sangkuriang dari kompilasi H.A. van Hien yang telah diterjemahkan dari sumber bahasa Belanda dari tahun 1912 M sebagaimana berikut ini.


ASAL-USUL GUNUNG TANGKUBAN PRAHU

Diterjemahkan oleh, Gelar Taufiq Kusumawardhana/The Varman Institute

Dari judul asli HET ONTSTAAN VAN DEN BERG TANGKOEBAN PRAHOE

Yang dimuat di dalam buku Eenige Weinig Bekende Javaansche Legenden hasil penghimpunan oleh H.A. van Hien (Fortuna, Bandoeng, 1912 M)


“ASAL-USUL GUNUNG TANGKUBAN PRAHU

Pada zaman dahulu di Galoeh [Galuh] (ibukota kerajaan Pakoean Padjadjaran [Pakuan Pajajaran], yang terletak di tempat di mana pasar Bogor sekarang berada di daerah Buitenzorg [Bogor]) terdapat seorang raja, yang memiliki seorang putri yang sangat cantik yang bernama Daiang-Soembi [Dayang Sumbi]. Dia sangat mungil dan bertubuh ramping, lembut, penyayang, dan sangat saleh. Setelah dia mencapai usia yang cukup untuk menikah, dia kemudian menikah dan melahirkan seorang putra untuk suaminya, yang dia panggil dengan nama Sang-Koeriang [Sang Kuriang].

Ketika putranya ini telah menjadi remaja, Daiang-Soembi [Dayang Sumbi] masih secantik ketika dia masih gadis, wajahnya bahkan menjadi semakin cantik dan orang-orang yang menulis telah menghubungkannya dengan suatu kekuatan dan karunia yang luar biasa.

Karunia luar biasa, yang dimiliki ibunya tersebut, dia turunkan juga kepada putranya, sehingga pada usia yang hampir tidak muda lagi, ia sudah mulai berburu, di mana banyak harimau yang berhasil ia robohkan dengan tangannya sendiri dan bahkan ia tidak mengalami luka sama sekali akibatnya. Suatu keberanian yang terkadang lebih menyerupai suatu hasrat kegilaan dan dengan tatapan matanya yang sedih ibunya yang lembut dan penyayang itu memandangi putranya yang tampak bengis.

Dia kemudian menegurnya, memintanya untuk bisa mengendalikan keberaniannya dan hasratnya karena di sana suatu waktu, begitu dia mengkhawatirkan putranya, perbuatan seperti itu bisa saja akan menyebabkan pada kematiannya, tapi Sang Kuriang (Sang-Koeriang) tidak mau mendengarkan ibunya; dia bahkan pernah berselisih lagi dengannya pada suatu waktu yang lain dan ketika putranya itu melakukan hasrat yang sama, ibunya yang sebenarnya lembut itu mulai mempersenjatai dirinya dengan sebuah centong [tjentong] (sendok kayu untuk mengambil nasi) dan kemudian memukul kepala putranya, sehingga menyebabkannya terluka parah.

Sang Kuriang (Sang-Koeriang) merasa takut kepada ibunya karena kekuatannya dan karunianya yang luar biasa, dan ia takut akan mengakibatkan terjadinya perselisihan yang jauh lebih besar lagi, maka ia kemudian memutuskan pergi untuk mengembara dan untuk bisa menemukan calon istri yang cocok untuknya. Dia tidak saja memberikan izin untuk melakukannya, tetapi juga membekalinya dengan cincinnya, dengan perintah untuk tidak mengambil wanita yang lain untuk dinikahinya, kecuali hanya kepada wanita, yang jari ketiganya cocok dengan cincinnya.

Sang Kuriang (Sang-Koeriang) kemudian pergi untuk mengembara dan menjelajahi di seluruh Pulau Jawi ([Poeloe Jawi] Jawa), dengan mengandalkan hidup dari perburuan, tapi ia tidak juga berhasil untuk menemukan isteri yang cocok, yang mana jari ketiganya dapat masuk ke dalam cincinnya.

Karena keberaniannya dan kekuatannya yang besar itulah ia perlahan-lahan berhasil mendapatkan banyak pengikutnya. Setelah melakukan banyak pengembaraan ia pada akhirnya tiba bersama dengan para pengikutnya ke suatu kerajaan, di mana terdapat seorang raja yang kemudian hari meninggal tanpa memiliki keturunan, karena kekuatannya dan keberaniannya yang besar itulah ia kemudian ditawari suatu kekuasaan, yang dengan senang hati ia terima, setelah itu Sang-Kuriang (Sang-Koeriang) segera diumumkan menjadi seorang raja.

Sedangkan ibunya Daiang Sumbi (Daiang-Soembi) telah menjadi seorang janda dan pindah ke suatu desa yang kemudian bernama Panganten, yang terletak di Gunung Panganten (Goenoeng Panganten), suatu gunung yang kemudian mendapatkan nama yang sama, tempat di mana dia ingin menghabiskan masa hidupnya dengan tenang dan damai. Meskipun sudah berusia lanjut, keadaan dia belum berubah sama sekali dan semua orang yang ada memuji keindahannya dan keanggunannya tersebut.

Sang Kuriang (Sang-Koeriang) kini merasa membutuhkan seorang permaisuri, di mana ketika ia menjadi seorang raja, dorongannya menjadi lebih besar dari sebelumnya dan sesudah mengatur segala sesuatunya di kerajaannya, ia melanjutkan perjalanannya dengan pasukannya yang besar dan lengkap, dengan menyediakan perbekalan makanan untuk jangka waktu yang panjang, suatu perjalanan untuk menemukan seorang permaisuri.

Ketika mendekati Gunung Panganten [Goenoeng Penganten], dia mengetahui, bahwa ada seorang wanita yang cantik, seorang janda muda dari keturunan raja. Sehingga ia memerintahkan pasukannya, untuk berkemah di kaki Gunung Panganten [Goenoeng Penganten], setelah itu dia pergi ke desa, untuk bertemu dengan janda cantik itu.

Setelah ia melihatnya, ia sudah langsung jatuh cinta kepadanya dan cincin itu, yang pernah diberikan oleh ibunya, dikeluarkan dari ikat pinggangnya, ia ingin segera memasangkannya pada jari ketiga dari janda cantik tersebut, tapi begitu Daiang Sumbi [Daiang-Sumbi] melihat cincin itu, dia menjadi kaget, bahwa ada cincinnya yang diakui oleh orang lain, yang telah lama dia berikan kepada putranya, tapi karena takut pada kekuatan raja, dia tetap mengendalikan dirinya sendiri dan dengan terpaksa membiarkan cincinnya itu dipasangkan di jarinya.

Raja Sang Kuriang (Sang-Koeriang) sangat berbahagia, karena cincinnya itu telah cocok, sehingga ia kemudian memintanya untuk menikah, sementara itu ia tidak mengetahui, bahwa janda cantik itu sebenarnya adalah ibunya sendiri. Daiang Sumbi (Daiang-Sumbi) merasa takut, bahwa jika dia menolaknya dia akan diculik oleh raja dan dia masih menyimpan bayangan, bahwa putranya boleh jadi telah memberikan cincin itu kepada raja tersebut, maka dia segera menyatakan setuju, untuk menjadi istrinya. Dia selanjutnya memberi tahu raja, bahwa setelah membersihkan kepala raja, menurut suatu kebiasaan lama, maka dia akan membuat suatu permintaan sebagai persyaratan yang seharusnya, setimpal dengan apa yang menjadi harapan raja, yang didasarkan pada suatu kebiasaan yang dimaksudkan, maka wajib untuk bisa dipatuhi, sebelum pernikahan kemudian dapat segera dilaksanakan.

Hari yang ditentukan untuk kegiatan pembersihan utama tersebut, telah tiba dan Daiang Sumbi [Daiang-Soembi] ingin segera memulainya, tapi raja hampir tidak pernah mau untuk memperlihatkan kepalanya, sehingga kemudian dia merasa terkejut lagi. Di mana didapatinya bekas luka di kepala raja yang mengingatkannya pada luka itu, yang telah dia lakukan kepada putranya sendiri dengan sebuah centong [tjentong], dia sekarang menjadi semakin yakin, bahwa raja itu sebenarnya adalah putranya sendiri, sehingga mengakibatkan bayangannya sebelumnya, bahwa putranya itu telah memberikan cincin itu kepada raja tersebut, kini telah menjadi sirna.

Dia kemudian mempertimbangkan, bahwa dia tidak boleh sampai menjadi istri dari putranya sendiri dan bahwa dia harus mencegah sebisa mungkin agar pernikahan tersebut tidak akan terjadi. Tapi karena mengetahui sifat bengis putranya dan karena mengetahui bahwa ia tidak akan mempercayai dirinya, maka dia menjadi enggan untuk mengatakan hal ini dengan terus terang kepadanya. Dia kemudian tetap berhasil untuk mengendalikan dirinya sendiri dan setelah kegiatan pembersihan utama selesai dilakukan dia kemudian mulai mengungkapkan persyaratannya, yang menurut ukuran manusia yang ada sebenarnya tidak akan bisa untuk dipenuhi. Yaitu di mana dia meminta suatu persyaratan, bahwa dalam satu malam dari sejak matahari terbenam sampai matahari terbit sudah dapat dibangunkan bendungan pada aliran sungai Citarum [Tjitaroem], yang mana melalui air sungai ini selanjutnya dapat masuk ke dalam danau, yang kemudian akan dinamai Bandung [Bandoeng], yang akan tergenang dan itu akan membuatnya menjadi bisa untuk dilayari dan bahwa pada pagi harinya raja dengan menggunakan perahu [prahoe] yang besar, yang cukup untuk menggelar pasukannya di atasnya dan dengan perahu [prahoe] yang mana telah dibuat dalam satu malam itu, kemudian akan menjemputnya. Pesta jamuan pernikahan kemudian harus disiapkan dan diatur juga di atasnya.

Mereka yang hadir telah dikejutkan oleh persyaratan ini dan melihatnya dalam hal ini tidak lebih hanyalah sebagai wujud dari penolakannya tersebut terhadap raja yang perkasa, tapi tentu saja tidak ada yang mustahil untuk raja Sang Kuriang [Sang-Koeriang]. Ia lantas menyanggupinya, bahwa ia akan memulainya setelah matahari terbenam, untuk bisa mewujudkan seluruh persyaratannya dan bahwa ia kemudian akan datang menjemputnya menuju ke Gunung Panganten [Goenoeng Panganten] pada besok paginya ketika matahari telah terbit.

Raja Sang Kuriang [Sang Kuriang] segera mengambil langkah-langkah persiapan, untuk segera bisa memulainya setelah matahari terbenam, sehingga dapat mewujudkan seluruh persyaratan dari calon pengantin wanitanya. Ia mengumpulkan sebagian besar pasukannya di tepi sungai Ciatarum [Tjitaroem], pada suatu tempat yang paling sempit, yang akan menggunakan suatu beban untuk bisa membendungnya setelah matahari terbenam dan dengan sebegitu banyaknya, air diharapkan akan dapat mengalir ke danau Bandung [Bandoeng] dan dengan itu akan menjadi bisa untuk dilayari dan akan terwujud pada waktu sebelum tengah malam terjadi. Ia kemudian mengumpulkan sebagian yang lainnya dari pasukannya di dekat sebuah hutan lametang [lambitang], untuk memulai segera setelah matahari terbenam dengan tugas, untuk menebang pohon, membelah kayunya dan membawakannya ke tempat terdekat, di mana perahu [prahoe] akan dibangunnya. Sementara itu ia juga memerintahkan ke sebagian yang lainnya dari pasukannya untuk membangun perahu [prahoe]. Dan ia juga memerintahkan kepada istri-isteri dari pasukannya, untuk membeli semua kebutuhan, yang akan digunakan dalam penyelenggaraan pesta jamuan pernikahan, serta persiapan untuk pesta jamuan pernikahan ini, akan dimulai, diselenggarakan, segera setelah pengerjaan bagian bawah dari perahu [prahoe] selesai diletakkan. Di bawah ancaman hukuman yang berat seluruh bagian-bagian dari pasukannya diwajibkan untuk bisa menangani, bahwa segala sesuatunya akan dapat diselesaikan pada tengah malam, sehinga setelah ini pelayaran akan segera dapat dilakukan.

Tidak lama setelah matahari terbenam, Daiang Sumbi [Daiang-Sumbi] mendengar suara dengan gemuruh yang besar, yang diakibatkan oleh kegiatan pembendungan sungai Citarum [Tjitarum], penebangan pohon dan pembuatan perahu [prahoe] dan yang mana pada waktu hampir tengah malam, danau Bandung [Bandoeng] telah menjadi tergenang dengan air yang sudah akan bisa untuk dilayari, di mana perahu [prahoe] besar sudah berada dengan mengapung di atasnya, tinggal menunggu dimulainya waktu pelayaran oleh pasukannya dan juga raja bersama dengan rombongan yang akan mengiringinya.

Betapa takutnya perasaan Dayang Sumbi [Daiang-Sumbi] sehingga membuat jantungnya kini berdegup dengan kencang, ketika dia melihat bahwa persyaratan yang diajukannya akan tetap terwujudkan, tapi masih ada tersisa beberapa jam lagi yang harus dilakukan, sebelum sesuatu yang besar, yakni perahu [prahoe] yang sangat berat itu bisa sandar di kaki Gunung Panganten [Goenoeng Penganten]. Dia kemudian segera pergi menuju ke sesuatu tempat yang dia ketahui, untuk mensucikan pohon Suryajaya [Soerjadjaja] dan memanjatkan doa kepada dewa Sanghiang Tikoro, yang tinggal di sana, agar berkenan untuk membantunya. Kemudian setelah membuat permohonan, dia mendapatkan suatu ilham, di mana dia harus melemparkan tiga helai daun dari pohon suci itu ke dalam aliran sungai Citarum [Tjitarum] yang berada dekat dengan bagian bendungan. Dia kemudian melaksanakan petunjuk itu. Karena bendungan itu terbuat dari batu-batu dan sedikit-banyak air masih dapat masuk dengan menembusnya melalui celah-celahnya di antara batu-batu itu, maka ketiga helai daun itu juga pada akhirnya dapat melewati lubang-lubang kecil itu dan dengan segera dapat membuat lubang menjadi bertambah besar, di sana pada celah batu-batu itu, yang telah disentuh oleh daun-daun yang melewatinya, dengan bantuan daun-daun ini, kemudian batu-batu dapat didorong sehingga keluar dari bendungan dan kemudian disebarkan ke bagian belakang dari bendungan menuju kepada bagian dasar dari sungai, yang segera menyebabkan air menjadi mengalir melalui lubang dengan kekuatan yang sangat dahsyat dan semua batu-batu yang ada kemudian menjadi berserakan seperti yang telah dihempaskan oleh angin (iloet).

Daun-daun itu kini telah membuat lubang terhadap bagian dari bendungan menjadi seperti gua. Gua yang dihasilkan tersebut kemudian akan mengalir menuju kepada orang suci, yang telah memberikan bantunya dalam upaya ini, yang bernama Sanghiang Tikoro, sedangkan pada bagian belakang dari gua, di mana airnya telah dipaksa keluar dari gua, yang kemudian telah dihempaskan di atas batu-batu yang besar kepada bagian dasar sungai telah membentuk menjadi air terjun yang besar, yang bernama Sanghiang Ilut (Sanghiang lloet).

Ketika perahu besar dari raja Sang Kuriang [Sang-Kuriang] tiba di tempat, di mana sekarang Gunung Tangkuban Parahu [Goenoeng Tangkuban Prahoe] berada, airnya sudah sedemikian banyaknya surut, sehingga perahu [prahoe] menjadi miring kemudian pada bagian bawahnya menajadi terbalik ke bagian atas dan seluruh awak kapal yang ada di dalamnya telah terperangkap, sehingga membuat mereka semua mengalami kebinasaan.

Pada generasi selanjutnya kemudian mereka menambahkan yang berikut ini ke dalam legenda yang ada.

Perahu [prahoe] raja Sang Koering [Sang-Kuriang] yang terbalik kemudian dirubah oleh dewa Sanghiang Tikoro menjadi gunung, yang bernama Tangkuban Perahu [Tangkoeban Prahoe] (perahu terbalik [prahoe terbalik]); dari tiang perahu [prahoe], yang mengalami patah pada saat terbalik, ia membuat Tunggul [Toenggoel]; dari parang besar Sang Kuriang [Sang-Koeriang] ia membuat Kujang-Kujangan [Koedjang-Koedjangan]; dari ranting-ranting yang bercabang dan sisa-sisa kayu yang ada, yang digunakan untuk membuat perahu [prahoe], ia melahirkan Burangrang [Boerangrang]; sementara papan dudukan, di mana perahu [prahoe] telah dibangun di atasnya ia rubah menjadi Bukit Cagak [Boekit-Tjagak]; dari hidangan yang besar, yang semula dimaksudkan untuk pesta jamuan pengantin, ia membuat Gunung Wangi [Goenung-Wangi]; dari keranjang, di mana nasi untuk pasukan telah dikukus, ia rubah menjadi Gunung Kukusan [Goenoeng Koekoesan]; dari teko, yang akan digunakan untuk pesta jamuan pengantin ia melahirkan Cinta Teh (Tjinta-Teih); dari api, yang digunakan untuk menyiapkan pesta jamuan pernikahan ia membuat kawah di Gunung Tangkuban Prahoe; ia kemudian menunjuk Sang Kuriang [Sang-Kuriang] sebagai penunggu kawahnya; sementara pasukannya berubah menjadi raksasa, yang sesekali dapat membuat kawah itu menjadi bergemuruh dan bergetar.

Dayang Sumbi [Daiang-Soembi] kemudian merasa menyesal telah mengorbankan putranya sendiri dan telah begitu banyak nyawa manusia yang meninggal akibatnya; maka dia memutuskan untuk melompat juga ke kawah Tangkuban Perahu [Tangkuban Prahoe] dan kemudian dipersatukan dengan putranya sendiri Sang Kuriang [Sang-Koeriang]. Sehingga sejak saat itu kawah penyesalan ini sesekali meletus, itulah sebabnya bernama Kawa-Ratu.

Danau yang kemudian menjadi dalam, yang semula sebenarnya tidak seperti itu, yang karena aliran sungai Citarum [Tjitaroem] pernah berhasil dibendung, sehingga menjadi bisa untuk dilayari, kemudian diberi nama Bandung [Bandoeng (bendungan). Gunung Panganten [Goenoeng Penganten] menjadi (sebagaimana yang telah disebutkan) tetap dinamai sebagaimana sebelumnya, karena dari gunung inilah pengantin perempuan Dayang Sumbi [Daiang-Sumbi] semula rencananya akan dijemput. Tiga helai daun dari pohon Suryajaya [Soerjadjaja] yang disucikan yang telah membuat lubang bukaan terhadap bagian bendungan, kemudian berubah menjadi dewa, yang bernama Sanghiang Ilut [Sanghiang Ileot], sementara gua, di mana dengannya orang suci itu kemudian dinamai Sanghiang Tikoro, tetap terus menjaganya.

Ada banyak bacaan tentang legenda ini; di mana salah satunya mengatakan bahwa ayah Sang Kuriang [Sang-Kuriang] adalah seekor anjing; mungkin karena itu pada bacaan di atas nama ayahnya tidak disebutkan. Selanjutnya menurut kepercayaan Orang Kalang [Oerang Kalang] (penyembah berhala) dengan meninggalnya ayahnya yang merupakan seekor anjing, janda itu telah menjadi istri putranya, suatu alasan kenapa Dayang Sumbi [Daiang-Soembi] telah menjadi istri Sang Kuriang [Sang-Kuriang], dapat diperhatikan dari mana pergaulan Orang Priangan [Oerang Prijangan] (kemudian terlihat rusak di Preanger [Priangan]) telah berasal. (Lihat uraian tentang kepercayaan pada Orang Kalang [Oerang Kalang], pada halaman 111 dan 112 dari jilid pertama “De Javaansche Geestenwereld”).

Dalam bacaan lain dikatakan, bahwa Sang Kuriang [Sang-Kuriang] kemudian berhasil untuk mewujudkan persyaratan yang diberikan oleh calon pengantin wanita dan Dayang Sumbi [Daiang-Soembi] telah merahasiakan, bahwa dia adalah ibunya, kemudian telah menjadi istri dari putranya, itu kenapa keturunan mereka–yakni penduduk dataran Bandung–akan menjadi terkutuk.

Dari ketiga keterangan ini saya telah memilih yang di atas, karena ia telah diberitahukan oleh seorang jurukunci [djoeroekoentji] dari pasanggrahan [pasanggrahan] yang dibangun di dekat pemandian air panas Cisambang [Tjisambang], yang terletak di kawadanaan [district] Radjamandala di Karesidenan Kadipaten Priangan [Residentie
Preanger-Regentschappe], di mana di sekitar pasanggrahan [pasangrahan] itulah gua Sanghiang Tikoro berada.” (Selesai diterjemahkan oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana di Bandung pada 09 Mei 2021)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)