(I) KONSTRUKSI LEGENDA SANGKURIANG DALAM NASKAH BUJANGGA MANIK

Penulis: Gelar Taufiq Kusumawardhana/Varman Institute

Arsiparis:Karguna Purnama Harya/Varman Institute

“Ngalalar ka bukit Pala.
Sadatang ka kabuyutan,
meu(n)tas di Cisaunggalah,
leu(m)pang aing ka-baratkeun,
datang ka bukit Pategeng,”
(Naskah Bujangga Manik, Bait 1335-1339)

“sakakala Sang Kuriang,
masa dek nyitu Citarum,
burung te(m)bey kasiangan.
Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
meu(n)tas aing di Cihea,”
(Naskah Bujangga Manik, Bait 1340-1344)

(B) Mendudukkan Naskah Bujangga Manik Pada Nilainya

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa naskah Bujangga Manik Manik merupakan naskah yang ditulis dalam bentuk Sajak. Namun demikian, isinya memang bersifat realis yang memuat data-data berbasis pengalaman dari suatu skema perjalanan atau pengembaraan dalam menelusuri seluk-beluk wilayah di Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Data-data yang diambil dari pengalaman tersebut (tentu saja dengan asumsi telah mengkaji dan membawa data pendahuluan seperti minimal adalah peta), kemudian dicatat dalam bentuk catatan perjalanan, yang kalau dalam tradisi Yunani akan disebut dengan nama Logografi; yakni catatan perjalanan apa adanya dari suatu pengalaman pribadi atau pengalaman nara sumber informasi yang akan menjadi induk dan pijakan dalam pengembangan ilmu yang lebih sistemik dikemudian hari, yakni Geografi dan Historiografi.

Sehingga dengan demikian, catatan perjalanan yang mengisahkan data Topografis maupun data Sosial yang bersifat Personal dan Subjektif dan Lokal tersebut, tentu saja sangat bernilai penting dalam struktur pengetahuan (bukan saja pada masa lalu tapu hingga masa kini). Catatan bergaya Logografi tersebut, kemudian menjadi fondasi dari ekslorasi yang kemudian menumbuhkan kaidah yang setelah mengalami proses abraksi (pengumuman dari hal-hal yang khusus), akan menajadi bersifat lebih Objektif dan Impersonal dan Universal untuk bisa dinikmati.

Selain titik tekan pada data Geografis, yakini terkait dengan data-data Topografi dan Toponimi; juga memuat data-data Sosial (misalnya suasana di dalam tiga kali pengalaman Kapal Laut, penggambaran mandala-mandala atau kabuyutan-kabuyutan, atau sedikit menyinggung sakakala-sakakala [akan terdistorsi makna dan bunyinya menjadi sasakala-sasakala] dari beberapa tokoh Historis sebelumnya yang telah berbuat sesuatu karya dan tinggalan) lainnya yang ditemui secara singkat dan padat, naskah Bujangga Manik juga mengandung suatu catatan Spiritualitas di bagian akhirnya.

Pengalaman Spiritualitas tersebut memang harus diletakkan dalam perspektifnya yang proporsional dalam nalar dan logikanya yang sesuai pada trend dan sistem keyakinan masa silam. Bujangga Manik, atau Ameng Layaran, atau Prabu Jaya Pakuan adalah bangsawan kerajaan. Bukan hanya sekedar bangsawan atau bagian dari elit bangsawan (naskah:Tohaan), tapi sangat jelas di dalam naskah tersebut dikatakan sebagai Prabu Jaya Pakuan. Prabu adalah puncak tertinggi dalam struktur kebangsawanan lama di Nusantara yang berarti Raja dari para Raja-Raja.

Dengan kata lain, Prabu adalah Maharaja; yakni Raja dari Raja-Raja. Statusnya hanya mungkin untuk bisa dikalahkan oleh status Mahaprabu, yang merupakan pucuk pimpinan paling tinggi dari para Prabu-Prabu; jika melibatkan suatu gagasan federasi atau konfederasi antara kerajaan-kerajaan yang duduk sederajat (misalnya dalam format Sunda-Galuh bersatu).

Memang ada kesan bahwa ada banyak ketidakkokohan dalam sudut pandang penceritaan, atau ketidakkokohan dalam subjek penceritaan yang sifatnya berganti-ganti; namun demikian secara umum sudut pandang dan subjek penceritaan bersama narasi-narasi yang ada di dalamnya dapat dinilai bersifat sangat ajeg. Kita hanya harus menginsyafi betapa sukarnya menulis dan betapa sukarnya bercerita dan betapa sulitnya menceritakan suatu pengalaman yang bersifat utuh dan kita juga harus memahami bahwa tulisan tersebut juga harus didudukkan dalam perspektif, subjek, dan narasi anak zamannya yang bersifat lebih fusi (baur antara dunia realitas dan dunia idealitas).

Namun demikian, tulisan tersebut sudah sangat jelas menunjukkan bukti telah ditulis berdasarkan suatu kerangka kerja pengalaman (experience), dimana suatu kajian yang bersifat kepustakaan (inquiry) di atas meja bersama sekedar tumpukan-tumpukan buku tidak akan mencukupi untuk mampu merekatkan konstruksi ceritanya yang baik (apalagi hanya mengandalkan suatu hayalan tanpa nalar sama sekali). Gaya narasi itu singkatnya hanya bisa dipahami terjadi jika, penulis naskah telah menuliskan pengalamannya pribadi (Biografi) meskipun sedikit dibuat samar dengan nama-nama julukan atau hal-hal yang dibuat secara lebih Fiksi (Sastra) karena titik tekan dan sasarannya pada suatu format Didaktif (mengejar Soul).

Dan jauh lebih mungkin, proses penulisan naskah tersebut bukan naskah lapangan yang bersifat dari real time, melainkan sebagai suatu rekonstruksi dikemudian hari setelah waktu lama telah memberikan jeda untuk mencerna semuanya. Data, pengalaman, perasaan, penilaian, aspek kronologi, bumbu-bumbu cerita, dan seterusnya kemudian menjadi bergumul didalamnya; ibarat suatu nostalgia orang tua yang menerawang ke masa silam yang telah lama jauh berlalu. Sehingga, dengan demikian penulis adalah orang pertama yang sesekali meraba-raba dan memaknai dengan gaya bahasa sebagai orang kedua dan atau sebagai orang ketiga (misalnya Subjek sebagai Mahapandita di awal akan terulang dengan penisbatan dirinya sendiri yang ketika masuk ke dalam Kapal Laut oleh Puhawang [Kapten Kapal] justru dipanggil juga Mahapandita); bukan berarti sebuah tulisan yang ditulis oleh orang kedua dan orang ketiga yang nyata yang justru sama sekali tidak akan mampu mewujudkan narasi yang jauh lebih utuh dan bermakna (karena tidak hadirnya jiwa dan pengalaman yang membangun makna).

Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Sunda Tua atau Bahasa Sunda Kuno dengan aksara yang sama yang merupakan Aksara Sunda Kuno. Sehingga masa berlakunya Bahasa Sanskrit dan Aksara Palawa sudah lama berakhir. Penggunaan Bahasa Sanskrit dan Aksara Palawa pada gilirannya bermetamorfosa menjadi Bahasa Kawi dan Aksara Kawi. Dari Bahasa Kawi dan Aksara Kawi lahir Bahasa Sunda Kuno dan Bahasa Jawa Kuno. Pada masa berlakunya Bahasa Sunda Kuno, jejak lacak bahasa Sanskrit dan Kawi masih terasa; dan perbedaan antara Bahasa Sunda Kuno, Bahasa Jawa Kuno, dan Bahasa Melayu Kuno tampak tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan. Kosa-kata kosa-kata yang ada masih bisa dilacak dan saling diperbandingkan satu dengan yang lainnya. Sementara medium menulisnya adalah lembaran-lembaran daun nipah atau lontar sebanyak 29 lembar (palm leaves), dimana masing-masing lembarnya berisi 56 baris kalimat, dan satu baris kalimatnya terdiri dari 8 silabi. Baris-baris kalimat tersebut disusun dalam bait-bait berisi 5 baris. Sebuah Sajak dengan metrum yang terikat, tapi sekaligus berisi prosa. Bukan format Historiografi murni, tapi Sastra yang terikat pada abstraksi realitas yang nyata terjadi. Bukan sekedar fiksi atau fiksi ilmiah, tapi non fiksi dan ilmiah hanya saja ketokohannya saja yang tersamarkan.

J. Noordyun memberikan keterangan bahwa ada kerusakan dan atau hilang pada bagian naskah yang diberitakan yakni hilangnya baris ke 1476 hingga baris 1500, sehingga ada 26 baris kalimat yang hilang. Kemudian rusaknya baris ke 1584. Rusaknya baris 1609 hingga 1701, dimana artinya naskah kehilangan 92 baris rangkaiannnta. Dan yang paling perlu menjadi catatan penting adalah bahwa ujung naskah hilang dan hanya berhenti pada bagian 1755 sehinga kita tidak benar-benar tahu bagaimana akhir cerita yang sesungguhnya.

Namun demikian, kita harus memahami bahwa eviden-eviden dari naskah masih dapat terlacak bahwa sistem keyakinan dasar dalam seting cerita Prabu Jaya Pakuan muda ini adalah tingkat lanjut dari sistem keyakinan Hindu lebih tepatnya agama Siwa, dengan elemen-elemen Budhisme yang telah masuk; dan tentu saja elemen-elemen lokalitas yang telah berbaur dengan elemen-elemen Hindu-Budha. Format lanjut keagamaan seperti ini yang seringkali menurut para ahli dinamai Siwa-Budha.

Di istana, pelayan tohaan Ajung Larang Sakean Kilat Bancana yang bernama Si Jompong Larang kepada Rakaki Bujangga Manik Rakean Amemg Layaran masih sangat jelas: Sangtabe Namasiwaya!Suatu salam penghormatan dan doa pengharapan yang ditujukan kepada Siwa, sangat jelas masih nenunjukkan preferensi keagamaan dan puja terhadap Siwa.

Sehingga, apa yang diharapkan seorang pangeran dari istana pusat Pakuan Pajajaran untuk berkelana adalah masih dalam kerangka sistem keyakinan Hindu lebih khususnya Siwa diama dia mengharapkan diperolehnya suatu pengetahuan yang menyeluruh dan untuh tentang hal-hal ikhwal hidup. Yang dia butuhkan bukan sekedar Ilmu Tata Negara, namun yang lebih ultimate dari itu. Harga dan standar tertingg dari suatu struktur pengetahuan yang bisa diperoleh umat manusia. Suatu lompatan yang hanya bisa dilakukan dengan menempuh metode Yoga, Sanyasi, atau Sadu dalam sistem kebrahmanaan Hindu.

Yang ditempuh oleh Prebu Jaya Pakuan diluar tradisi yang reguler dimana tahapan tahapan pengetahuan diperoleh seiring waktu, peran, tanggung jawab, dan fase perkembangan usia, fisik dan psikologi; melainkan jalan akselerasi dimana segala rahasia dan hakikat ingin dituntaskan dan ditunaikan seketika. Model pemisahan Ksatria dan Brahmana tampaknya tidak terlalu ketat, dan syah-syah saja seorang bangsawan bahkan pangeran menempuh dan menguasai tradisi intelektual dan spiritual yang tinggi bahkan melebihi praktisi Brahmana itu sendiri. Dan bahkan jika mau dilacak, akar Hinduisme di Nusantara itu sendiri bukan sekedar dibawa oleh kaum Brahmana melainkan Brahmana dan selaligus Ksatria yang biasa disebut dengan Raja-Resi atau Raja-Guru.

Filsafat dan Tarikat paling tinggi dalam dunia Hindu dan terutama Siwa justru adalah proses penyatuan kembali Atman dan Brahman. Suatu cara yang akan melampaui tradisi Yajna atau Puja terhadap Dewa-Dewa, bahkan Dewa-Dewa Trimurti sekalipun yang biasa dijadikan wasilah atau perantara akan dilampaui. Demikian juga gagasan Svarga atau Surgawi akan dilampaui dan hanya mengejar Brahman (Tuhan Yang Esa) melalui penyingkapan pancaran atau percikan yang terdapat pada Jiva (Jiwa) manusia yang disebut Atman (Tuhan Dalam Diri Manusia).

Dibutuhkan suasana dan tempat yang terbaik untuk menerapkan tirakat atau tapa untuk memasuki Jagat Alit atau Mikrokosmos berupa diri sendiri, maka penjelajahan tetap berlanjut dan tidak statik dengan menggapai ruangan fisik berupa wilayah Jagat Ageng atau Makrokosmos secara maksimal. Selain dengan menjelajahi ruang juga menjelajahi tapal batas pemikiran objektif lewat studi-studi di mandala-mandala atau kabuyutan-kabuyutan.

Jika memahami konsep Hinduisme secara lebih utuh, apa yang dilakukan Bujangga Manik dengan memasuki ruang Dorakala terbenas dari ruang Naraka dan memasuki alam Svarga dan dibahagiakan dengan segala penampilan yang indah-indah yang tidak terperikan adalah suatu usaha untuk menggapai pertemuan dengan Brahman (bukan Brahma Trimurti). Suatu usaha yang dalam tarikat-tarikat lebih lanjut akan disebut mencapai kehidupan yang Mati Sebelum Mati dan dalam batas batas tertentu akan merasa cukup puas dengan suatu percikan pengalaman batin Manunggaling Kawula lan Gusti setelah melalui transisi Suwung.

Jadi Bujangga Manik bukan meninggal secara fisik seketika, melainkan sebuah metafora spiritual untuk menyatakan bahwa dirinya telah berhasil melampaui apa yang selama ini diharapkan. Dia telah moksa dan mencapai suatu tahap puncak pencerahan. Untuk apa? Untuk bisa membawa sumber nilai tertinggi dan absolut itu dalam menjalani kehidupan kembali dengan suatu kepastian dan pegangan yang kokoh. Untuk mampu memahami bahwa hidup cukup jelas untuk dijalani dan dimaknai. Bahwa dia tidak absurd, dan bahwa segala tugas dan tanggung jawab yang akan segera dipikul dapat diterima sebagai suatu kewajiban dan bekal kebaikan untuk menuju moksa yang sesungguhnya. Sehingga mana mungkin Bujangga Manik meninggal lalu meningalkan naskah dan atau meninggalkan suatu kisah yang kemudian hari akan dikenang tanpa dia kembali dari seluruh rangkaian sebagai Sadu, Yogi, atau Sanyasi dan menjalani tugas agung untuk melindungi dinasti, tanah air, dan kewajiban-kebajiban dalam perspektif yang lebih kokoh dan pasti orientasinya.

Jadi baik catatan pada bidang ilmu fisik maupun ilmu meta-fisik, kedua catatan tersebut bersifat ajeg hanya saja pada dua bidang atau dua kutub pengetahuan yang berbeda. Yang satu esoterik dan yang satu lagi eksoterik. Kedua rumpun pengetahuan tersebut hanya bisa dijangkau dengan dua pisau bedah yang berbeda pula. Selepas bagian ini, kita akan mencoba untuk meletakkan Bujangga Manik sebagai suatu representasi sosok yang nyata yang hidup pada suatu ruang dan waktu yang secara longgar bisa dipastikan.

Misalnya, dengan melihat tahap perkembahan bahasa dan aksara maka abadnya akan terbaca. Dengan melacak bahwa ketika Bujangga Manik naik Kapal Laut Malaka, Selabatang, dan Belasagara dimana Wedil ditembakkan sebagai bagian dari prosedur dan upacara militer bahari; maka tarikh waktu penggunaan Wedil atau Bedil atau Senjata Api akan dapat ditentukan pula presisi waktunya (bahwa masa alih-tenologi senjata api ke Nusantara akan terkait dengan Dinasti Yuan Kaisar Kubilai Khan dan atau Dinasti Ming Kaisar Yongle).

Ketika Bujangga Manik mengatakan bahwa yang menata seluruh Dangka-Dangka (wilayah pemukiman) yang tersebar luas di Tatar Sunda dari Banten hingga Cipamali telah dilakukan oleh Nusia Larang; kita akan mengetahui bahwa Nusia Larang didalam naskah-naskah Sunda Kuno lainnya adalah nama lain dari Prabu Niskala Wastu Kancana yang dikebumikan di Nusia Larang. Ketika Bujangga Manik menyitir nama Siliwangi dan Banyak Catra kita juga akan mengetahui bahwa Siliwangi dalam batas longgar bisa merujuk ke Niskala Wastu Kancana, Ningrat Kancana dan Sribaduga Maharaja atau Prabu Jayadewata sementara Banyak Catra dalam tradisi Banyumasan adalah sosok yang menjadi cerita Aria Kamandaka sementara di Priangan dikenal dengan Guru Minda atau Lutung Kasarung dimana Banyak Catra dan Jayadewata sebenarnya putra-putra dari Ningrat Kancana.

Ketika menyitir nama Malaka, Campa, Pasai ada kemungkinan kesultanan Islam telah berdiri di Utara tapi ketika menyebut Demak masih berupa Alas Demak dan ketika melalui Cirebon hanya nenyabit Gunung Jati atau Arga Jati maka Demak dan Cirebon belum resmi berdiri menjadi basis kesultana Islam. Dan seterusnya dan seterusnya. Data-data dan analisa tersebut akan dapat mengurung ruang lingkup dan batasan masa hidup sosok Bujangga Manik atau yang direpresentasikannya pada ruang dan waktu yang jauh lebih sempit dan pasti. (iiif.bodleian.ox.ac.uk)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)