(II) THE CONSTRUCTION OF THE LEGEND OF SANGKURIANG IN THE EARLY 15TH CENTURY MANIK FRUIT TEXT.

Penulis: Gelar Taufiq Kusumawardhana/Varman Institute

Arsiparis:Karguna Purnama Harya/Varman Institute

“Ngalalar ka bukit Pala.
Sadatang ka kabuyutan,
meu(n)tas di Cisaunggalah,
leu(m)pang aing ka-baratkeun,
datang ka bukit Pategeng,”
(Naskah Bujangga Manik, Bait 1335-1339)

“sakakala Sang Kuriang,
masa dek nyitu Citarum,
burung te(m)bey kasiangan.
Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
meu(n)tas aing di Cihea,”
(Naskah Bujangga Manik, Bait 1340-1344)

(A) Mendudukkan Asal-Usul Naskah Bujangga Manik

Di dalam karya tulis yang berjudul A Panorama of the World from Sundanese Perspective, yang dimuat di dalam jurnal Archipel (Archipel 57, Paris, 1999, pp. 209-221); yakni jurnal kajian antar bidang ilmu tentang kawasan Semenanjung Melayu dan Kepulauan Asia Tenggara (Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste) yang telah didirikan sejak tahun 1971 M di Perancis, A Teeuw mengatakan:

“Dr. Noorduyn recognized this text as an Old Sundanese poem, after the manuscript in which it has been preserved had lain unidentified in the possession of the Bodleian Library in Oxford ever since 1627 or 1629.” (Dr. Noorduyn mengenali tulisan ini sebagai suatu sajak Sunda Tua, setelah naskah itu telah terawetkan telah tergeletak tidak dikenali dalam kepemilikan dari Perpustakaan Bodleian di Oxford sejak sekitar 1627 M atau 1629 M.)

Jadi menurut keterangan A. Teeuw, yang mana keterangan itu dia sandarkan dari keterangan J. Noorduyn, terkait kududukan naskah Bujangga Manik yang merupakan buku sajak berbahasa Sunda Tua (Old Sundanesse) itu; ternyata telah sejak lama tersimpan di Perpustakaan Bodleian, yakni jika tidak sejak tahun 1627 M ya sejak tahun 1629 M. Perpustakaan Boleian yang biasa dikenal juga dengan nama Bodley atau the Bod saja, merupakan perpustakaan milik Universitas Oxford; perpustakaan terbesar kedua yang menyimpan 11 juta naskah koleksinya setelah peringkat pertama diduduki oleh Perpustakaan Nasional British di Britania Raya.

Di dalam situs resmi Bodleian, pada halaman Indonesian Manuscript; keberadaan naskah Bujangga Manik di Perpustakaan Bodleina tersebut menjadi titi mangsa paling awal dimana buku-buku atau naskah-naskah dari kawasan Indonesia mulai berada. Yakni sejak tahun 1627 M, ketika Andrew James memberikannya kepada perpustakaan; dimana petugas perpustakaannya itu sendiri adalah adiknya, yakni Thomas James (petugas pertama perpustakaan Bodlein). Keterangannya dapat dilampirkan sebagaimana berikut:

“The Indonesian manuscript collection at the Bodleian Library dates from 1627, when Andrew James, a brother of the Bodleian’s first librarian, Thomas James, donated two manuscripts “brought from some part of the East Indies”, one in Old Sundanese and the other in Old Javanese. The Old Sundanese manuscript, James’s gift of 1627 – Bujangga Manik, MS. Jav. b. 3 (R), appears here on Digital Bodleian. (Kumpulan naskah Indonesia di Perpustakaan Bodleian dimulai sejak 1627, ketika Andrew James, seorang saudara dari pustakawan pertama Bodleian, yakni Thomas James, telah menyumbangkan dua buah naskah “yang dibawa dari suatu wilayah di India Timur”, satu buah naskah dalam bentuk bahasa Sunda Tua dan satu buah naskahnya lagi dalam bentuk bahasa Jawa Tua. Naskah Sunda Tua tersebut, yang telah James berikan pada tahun 1627 M – yakni Bujangga Manik, dengan kode MS. Jav. b. 3 (R), telah hadir di sini di dalam bentuk sajian Digital Bodleian.)

Namun demikian, sulit bagi kita untuk mencerna bagaimana mungkin naskah Bujangga Manik telah tiba di Eropa pada masa yang terlalu awal untuk bisa secara realistik dapat diterima kenyataannya. Karena pada rentang tahun 1627 M hingga 1629 M di India Timur (Nusantara) jika terlebih dahulu mau untuk didudukkan lebih sabar peta konstelasinya, maka kedudukan pemerintahan kolonial sesungguhnya masih belum benar-benar establis, stabil, dan final. Sehingga sangat sulit bagi masyarakat kolonial melalui unit-unit korporasinya meskipun disertai kekuatan diplomasi, kapital, dan militer untuk serta-merta bisa mengakses naskah-naskah penting tersebut; yang sebagaimana dengan nalar yang berlaku di belahan dunia Barat, maka juga berlaku nalar yang sama dengan apa yang berlaku di belahan dunia Timur dimana naskah-naskah, dokumen-dokumen, atau arsip-arsip adalah bagian dari aset-aset dan kekayaan-keayaan yang bersifat kepemilikan negara dan atau melalui institusi-institusi pendidikan legal negara.

Terlepas dari analisa konflik yang cenderung menjadi trend dan titik tekan dalam periwayatan Sejarah transisi periode Hindu-Budha terhadap periode Islam selama ini (yang mana presisinya harus dipertimbangkan untuk sungguh-sungguh dikoreksi), sebenarnya benang-merah dan atau estafeta legal supremasi kekuasaan dari istana periode kerajaan Hindu-Budha secara kontinuitas telah dilanjutkan oleh kekuasaan dari istana periode kesultanan Islam (sebagai bagian dari pertalian kekerabatan dan kontinuitas visi misi independensi kekuasaan di Nusantara), dan atau dengan demikian kabuyutan-kabuyutan atau mandala-mandala, atau asrama-asrama juga secara kontinuitas telah dilanjutkan oleh pesantren-pesantren (boarding school) dan atau oleh madrasah-madrasah (public school).

Tahun-tahun tersebut, sebenarnya adalah tahun-tahun penentuan; dimana para Gubernur General V.O.C. yang menjadi proto pemerintahan kolonial India Belanda tengah melakukan spekulasi tahap akhir bersama dengan kekuatan aliansi pribumi lainnya dengan cara melakukan berkonfrontasi yang bersifat total melawan kekuatan aliansi Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Mataram (sejak tahun 1586 M; melanjutkan estafeta Kesultanan Pajang [1568-1586 M] dan Kesultanan Demak [1575-1568 M]). Rangkaian tersebut dapat didudukkan dalam rentang relatif pada masa pemerintahan Gubernur General yang keempat (jabatan yang pertama) oleh Jan Pieterszoon Coen (1617-1619 M), kemudian Gubernur General yang kelima oleh Pieter de Carpentier (1623-1624 M), kemudian Gubernur General yang keenam (jabatan yang kedua) oleh Jan Pieterszoon Coen (1624-1627 M), dan Gubernur General yang ketujuh oleh Jacques Specx (1629-1632 M). Dan pada masa ini, perang masih terus berkecamuk; namun demikian kekuasaan kesultanan-kesultanan di Pulau Jawa belum sepenuhnya berhasil dilumpuhkan.

Rangkaian kekalahan kesultanan-kesultanan di Pulau Jawa oleh Belanda (dan bantuan Inggris) baru terjadi setelah Pangeran Surya atau Sultan Abu al Fath Abdul Fattah (Sultan Ageng Tirtayasa) dari Kesultanan Banten takluk pada tahun 1682 M (meninggal dalam rumah tahanan di Batavia pada tahun 1683 M) oleh Gubernur General keempat belas Cornelis Speelman. Kemudian, kedudukan Dewan Tiga Kesultanan Cirebon; yakni Pangeran Martawijaya atau Syamsudin (Sultan Sepuh), Pangeran Kartawijaya atau Badrudin (Sultan Anom), dan Pangeran Wangsakerta atau Nasrudin (Panembahan Cirebon) berhasil ditekan oleh VOC dalam suatu perjanjian yang dapat diartikan suatu ketundukkan pada tahun 1688 M oleh Gubernur General kelima belas Joannes Camphuys. Sementara Kesultanan Mataram tunduk mutlak dalam rangkaian yang cukup panjang, yakni dengan adanya perjanjian Gianti pada tahun 1755 M yang membagi Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Dan kemudian perjanjian Salatiga 1757 M yang kemudian membagi Mataram menjadi Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunagara.

Perjanjian Giyanti dan Salatiga sendiri harus diletakkan dalam kerangka yang sudah terjadi berupa perjanjian VOC dan Mataram pada tahun 1705 M, pada tahun 1733 M, pada tahun 1743 M, pada tahun 1746 M, dan pada tahun 1749 M. Seluruh rangkaian kekalahan aliansi Banten, Cirebon, dan Mataram melawan VOC dan aliansi pribuminya juga harus diletakkan sebagai kelanjutan rangkaian dari aliansi Banten, Cirebon, dan Demak melawan aliansi Kompeni Portugis yang berbasis di Gowa India atas penguasaan jalur perdagangan Samudra India sejak dari kawasan Afrika di Barat hingga Nusantara di Timur (bersama blok Indo-Cina dan Cina); yang terus melakukan penetrasi hingga penaklukkan Malaka dan Sunda Kalapa lewat simbol Padrao. Babak penetrasi Portugis tersebut dapat dipukul mundur dengan sempurna pada tahun 1527 M dibawah aliansi Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), hingga tiba masanya memasuki babak penetrasi Belanda yang secara bertahap akan mendatangkan kekalahan mutlak pada aliansi Banten, Cirebon, Demak yang bermetamorfosa menjadi Banten, Cirebon, Pajang dan kemudian Banten, Cirebon, dan Mataram.

Pada masa aliansi dibawah Sultan Agung Mataram, basis perlawanan masih cukup memadai dalam upaya penyerbuan Batavia; hingga kemudian Sultan Agung Mataram meninggal dunia pada tahun 1645 M. Mataram kemudian mengalami konflik internal, Pangeran Wangsakerta sebagai pejabat pelaksana harian dari Cirebon meminta bantuan Sultan Agung Tirtayasa dari Banten untuk mengevakuasi kedua kakaknya, yakni Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya dari Mataram; dimana ketiganya merupakan putra dari Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu Pakungwati II, atau yang memiliki nama lain Sultan Abdul Karim. Panembahan Girilaya, yang telah meninggal di Mataram pada tahun 1666 M menurut analisa Mason Claude Hoadley dalam Selective Judicial Competence: The Cirebon-Priangan Legal Administration, 1680-1792. (Cornell University Press, New York, 1994); merupakan menantu dari Sultan Agung Mataram. Namun demikian, menurut analisa Dadan Wildan di dalam Sunan Gunung Jati Antara Fiksi dan Fakta: Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. (Bandung, 2003, Humaniora Utama Press); yang didasarkan atas Naskah Mertasinga, Panembahan Girilaya telah meninggal di Mataram pada tahun 1664 M (tahun Jawa 1585).

Sehingga, dapat diperkirakan jika Panembahan Girilaya telah meninggal dunia sekitar 19 tahun atau 21 tahun selepas meninggalnya Sultan Agung Mataram. Pada tahun 1677 M, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten atas permohonan Panembahan Wangsakerta (versi Mataram atas permintaan Adipati Anom Mataram); memboyong Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya melalui operasi Raden Trunojoyo atau Panembahan Maduretno dari Madura bersama bantuan sisa laskar Makasar pada masa Sultan Hasanuddin (dibawah pimpinan Karaeng Galesong). Panembahan Maduretno kemuduan menyerahkan Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya ke Banten ke hadapan Sultan Ageng Tirtayasa. Melalui bantuan Sultan Ageng Tirtayasa, kedua pangeran tersebut dikembalikan ke Cirebon; dan dihasilkan suatu keputusan dimana tiga bersaudara tersebut duduk sebagai ‘Dewan Tiga’ Kesultanan Cirebon (Martawijaya, Kertawijaya, dan Wangsakerta) hingga pelindungnya Sultan Ageng Tirtayasa meninggal dunua dan Cirebon diseret pada suatu perjanjian bersama VOC.

Rangkaian perlawanan terhadap supremasi VOC tidak selamanya padam, sesekali meletus paska kekalahan Banten, Cirebon, dan Mataram; yakni meletusnya Perang Jawa I (1741-1743) dan Perang Jawa II (1825-1830) yang merupakan aliansi peranakan Cina dan penduduk pribumi Jawa. Perang Jawa I melibatkan sosok Pakubuwono II dan pimpinan laskar Cina Singhe dan Khe Panjang. Perang Jawa II melibatkan Pangeran Dipenogoro dan aliansinya (laskar Cina dan pribumi). Sehingga, inilah puncak-puncak kekalahan dimana pada tahap pendahuluan runtuhnya supremasi Banten sepeninggal Sultan Ageng Tirtayasa, runtuhnya supremasi Cirebon pada masa Dewan Tiga Cirebon, runtuhnya supremasi Mataram sepeninggal Sultan Agung Mataram dan penetrasi VOC hingga dipamungkasi dengan Perjanjian Gianti dan Salatiga. Dan kemudian kekalahan total pasukan gerilya terakhir pada masa Perang Jawa I dibawah Pakubuwono II dan Perang Jawa II dibawah Diponegoro.

Meskipun terkesan panjang-lebar, namun demikian sangat penting untuk diletakkan peta konstelasinya. Bahwa tidak akan mungkin naskah-naskah sebagai dokumen kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang telah di-takeover dalam perlindungan kesultanan-kesultanan Islam akan tiba begitu saja ke tanah Eropa, kecuali sebagai konsekuensi dari kekalahan total kedudukan aliansi kesultanan Islam atas aliansi VOC. Kekalahan total ini yang mendatangkan kedudukan kolonial menjadi lebih establish, settle, dan fix; dimana harta kekayaan penundukkan akan menjadi bagian dari harta rampasan perang, termasuk dokumen-dokumen berharga dari perpustakaan-perpustakaan istana. Maka skema tibanya naskah Bujang Manik ke Inggris pada tahun 1627 M, dengan mempertimbangkan peta konstelasi zamannya adalah suatu hal yang perlu dikajiulang secara lebih kritis. Asumsinya, naskah tersebut tidak akan tiba melalui kamar dagang Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis, atau Belanda meskipun tahun-tahun demikian korporasi perdagangan secara telah hilir-mudik ke Pulau Jawa. Naskah belum menjadi bagian penting dari bobot komoditas perdagangan yang perlu dieksploitasi, melainkan komoditas rempah-rempah dan hasil bumi.

Bahkan, paska rangkaian kekalahan di Pulau Jawa tersebut, naskah-naskah tidak akan langsung tiba begitu saja menuju ke Eropa. Melainkan harus melalui babak dimana pionir-pionir sebagai marinir dalam kajian ilmiah Orientalisme dan Indologi dari dunia Barat keemudian mulai berdatangan dan mengambil-alih estafeta selanjutnya; terutama melalui semangat pengkajian dengan dibentuknya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh Jacob Cornelis Matthieu Radermacher pada tahun 1778 M (pada masa Gubernur General ketiga-puluh-satu Reinier de Klerk), atau pada masa kehadiran Thomas Stamford Bingley Raffles sebagai gubernur general India Belanda ketiga-puluh-sembilan (masa kekuasaan Inggris) yang juga selain menunjukkan perhatiannya pada naskah-naskah dan studi koheren untuk memahami Sejarah Pulau Jawa dan Nusantara secara umum (tentu saja membutuhkan sokongan pustaka); juga terbukti menyokong tahap-tahap perkembangan yang berkelanjutan terhadap Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Sehingga, jika tidak ada bukti yang lebih eksak lagi yang dapat membuktikan validitas keluarga James dari New Port (Andrew James dan Thomas James) yang untuk pertamakalinya menjadi pionir konservasi naskah Nusantara di Inggris sejak tahun 1627 M dengan naskah Bujangga Manik sebagai salah-satu dari dua karya pendahulunya; maka skema berpindahnya ribuan buku-buku, naskah-naskah, dokumen-dokumen tertulis dari periode Hindu-Budha dan periode kesutanan Islam sebagaimana yang dikemukakan di atas perlu dengan lebuh serius dipertimbangkan nalar historisnya.

This lengthy review, while simultaneously presenting that in an authentic way; The Bujangga Manik manuscript as a legacy from old tradition chains in the archipelago or on the island of Java or more especially in the western part of Java, using Old Sundanese, is indeed acceptable for the credibility and authenticity of the script. Although it is written in a type of rhyme, and the identity of the character of the story is somewhat vague, both the writer and the author can impress; however, in general the writings in the Bujangga Manik manuscript are factual and realist, where the data they contain can be used as a very valuable information base in the midst of the lack of primary literature from the past that can be enjoyed and reaches the general public today. . Excavation of the Legend of Sangkuriang in the type of Myth, will indirectly bring awareness in efforts to better mythologize; and of course a basic framework of Demitologization on certain relevant sides, which will lead to a passionate search for more historical and real narratives.

A. Teeuw di dalam karya tulis yang telah di sebutkan sebelumnya, kemudian berkata:”In 1982, as a first result of his occupation with the manuscript, he published a
paper in which he discussed “Bujangga Manik’s Journeys Through Java”, identifying a large number of the more than 400 topographical names contained in the story.” (Pada tahun 1982, sebagai hasil pertama dari pekerjaannya dengan naskah, dia mulai menerbitkan makalah yang membahas tentang “Bujangga Manik’s Journeys Through Java” (penulis:Perjalanan Bujangga Manik Menelusuri Jawa”), dan menemukan jumlah yang banyak sekali yang lebih dari 400 nama tempat yang terkandung dalam cerita.” Sementara melalui karya tulis Bujangga Manik dan Studi Sunda, Hawe Setiawan mengatakan, bahwa:” Pada 1968 dia sudah menyinggung-nyinggung adanya
naskah Sunda dari Bodleian itu. Sebagian temuannya mulai ia umumkan pada 1982 melalui jurnal “Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde” nomor 138, hal. 411-442.”

Sehingga, hal yang lebih pasti adalah; bahwa J. Noordyun telah mulai berkenalan dengan naskah Bujangga Manik tersebut sejak tahun 1968 M dan kemudian setelah sepuluh tahun dari tahap berkenalan dengan naskah Bujangga Manik dan proses pengkajiannnya yang mendalam; maka sebagian dari proses penerjemahan dan identifiaksinya tersebut mulai perlahan dipublikasikan kepada khalayak umum melalui sarana jurnal-jurnal ilmiah. Pada tahun 1994 M, J. Noordyun meninggal dunia ssbelum merampungkan seluruh pekerjaannya. Namun demikian, sebelum meninggal dunia; A. Teeuw telah diminta secara langsung untuk memeriksa dan melanjutkan pekerjaannya tersebut. Menurut keterangan Hawe Setiawan di dalam sumber karya yang sama kemudian dikatakan juga:”Setelah Noorduyn wafat, penelitiannya dilanjutkan oleh ahli sastra A. Teeuw, juga orang Belanda, yang antara lain dibantu oleh Filolog Undang Darsa dari Universitas Padjadjaran. Teks, terjemahan (dalam bahasa Inggris), dan analisis atas naskah Bujangga Manik kini dimuat dalam buku „Three Old Sundanese Poems (Tiga Puisi Sunda Kuna)‟ karya J. Noorduyn (posthumous) dan A. Teeuw (KITLV Press, Leiden, 2006).” Sehingga berdasarkan hasil kerja keras J. Noordyun dan A. Teeuw tersebut, mata rantai pengetahuan mengenai naskah Bujangga Manik itu kemudian hari tersebar luas hingga kembali ke Tanah Air dan menggeliatkan kembali kajian-kajian Sejarah masa silam; terutama di Tatar Sunda. Adapun, apakah ilmuan-ilmuan Belanda pendahulu J. Noordyun dan A. Teeuw telah mengetahui naskah Bujangga Manik itu sendiri atau belum; sebelum naskah itu tiba di Bodleian Library, Universitas of Oxford, juga sangat menarik untuk diinvestigasi runutan kisahnya. (Wooden Photo Box and Manuscript Sheet; Bodleian Library document, University of Oxford, Britain)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)