Penulis: Gelar Taufiq Kusumawardhana/Varman Institute

Arsiparis:Karguna Purnama Harya/Varman Institute

(I) Pendahuluan

Penelaahan terkait Legenda Sangkuriang yang mashur di dalam tradisi lisan masyarakat Sunda memang telah menimbulkan suatu perbincangan yang menarik di ruang diskusi Varman Institute.

Selain persoalan yang berkaitan dengan beberapa peristiwa yang ganjil di dalam bangunan Legenda Sankuriang itu sendiri, yang nilai dasarnya dapat diperbincangkan sebagai polemik dalam perspektif Pendidikan dan Moral terhadap kerangka berpikir dan jiwa masyarakat secara umum dan generasi muda atau generasi anak-anak yang berada dalam masa pertumbuhan aspek kognitif dan afektifnya secara lebih khusus.

Sehingga untuk menjawab persoalan tersebut, maka mau tidak mau kami harus meluangkan waktu terlebih dahulu untuk kembali mundur ke belakang;ke masa silam untuk bisa mengamati bagaimana proses pembentukkan konstruksi Legenda Sangkuriang itu berjalan, berdasarkan telaahan terhadap bukti-bukti arsip atau naskah atau dokumentasi tertulis yang berkembang dari masa ke masa.

Dengan melakukan kajian terhadap berkas-berkas atau dokumen-dokumen tertulis atau arsip-arsip yang ada tersebut, kita diharapkan dapat melihat secara lebih jernih dan berjarak apakah konstruksi Legenda Sangkuriang tersebut sesungguhnya telah serta-merta dan benar-benar terbangun secara final dan fix sama persis sejak dari dahulu hingga sebagaimana yang dapat kita nikmati pada saat ini.

Dengan adanya asumsi bahwa Legenda Sangkuriang adalah tradisi lisan (folklore) yang telah terwariskan tradisinya dari generasi ke generasi lewat transmisi lisan memang sangat logis dan dapat diterima nalarnya dengan baik. Namun demikian, akan sulit sekali bagi seseorang untuk bisa mengkaji dan mengujinya tanpa sama sekali berpijak pada bukti-bukti dari tradisi penyalinan dan dokumen yang telah dilakukan terhadapnya.

Karena akan berlaku juga suatu asumsi tambahan, dimana suatu tradisi lisan pada akhirnya akan tetap memasuki dan mengalami proses dan tahapan penyalinan sebagai suatu bukti dokumentasi tertulis di kemudian hari jika dianggap sangat penting untuk dikonservasi. Tradisi penyalinan secara tertulis itu, tidak bisa dihindari sebagai suatu wujud adaptasi dan tahap perkembangan;dimana trend telah bergeser dari adanya tahapan tradisi lisan menuju ke tahapan tradisi tertulis.

Dengan adanya kedua asumsi (tahap tradisi lisan dan tahap tradisi penulisan) yang berlaku tersebut, maka kemudian langkah pengujian akan dititikberatkan pada hadirnya bukti-bukti otentik Legenda Sangkuriang yang terdokumentasikan secara tertulis;dimana tradisi lisan telah mulai direkam secara bertahap dalam ke dalam bentuk tradisi tertulis yang ada.

Dengan adanya dokumentasi tersebut, kita kemudian akan melihat apakah bentuk narasi (story telling) Legenda Sangkuriang yang ada tersebut;telah bersifat ajeg dalam melintasi masa demi masa sebagaimana yang dapat kita pahami pada saat ini? Ataukah tidak? Sehingga benang merah dan patokan metodologi yang digunakan adalah soal hadir atau tidaknya rantai kontinuitas Narasi dalam transmisi penulisan yang ada berdasarkan patokan tata urut waktu atau kronologi terhadap pembentukkan konstruksi Legenda Sangkuriang yang ada.

Adanya rantai kontinuitas Narasi pada aspek Kronologi, akan menjadi patokan yang utama dikarenakan adanya kesadaran bahwa rantai kontinuitas Periwayatan yang tercatat jelas estafetanya dalam proses transmisi suatu pesan di dalam tradisi lisan Nusantara tampaknya kurang begitu diperhatikan dengan baik di dalam skema kebudayaan kita.

Namun demikian, meskipun nantinya tampak tidak ada rantai periwayan secara estafet dapat terlihat,;namun demikian setidaknya, informasi sekunder tentang nama penulis, judul buku, tahun terbit, konstruksi narasi yang ada dalam rekamannya, seting atau tempat cerita, apakah dalam bentuk riwayat yang seragam ataukah bervariasi, akan tetap dapat terinformasikan dengan baik. Sehingga dengan demikian pada gilirannya, akan dapat terpetakan duduk persoalannya dengan sangat baik.

Perhatian terhadap Legenda Sangkuriang ini kemudian telah melahirkan serial tulisan sebagai karya analisa pendahuluan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Karguna Purnama Harya, yang merupakan Ketua Widang Atikan di House of Varman (H.o.V.) dan sekaligus Ketua Lembaga Kajian Sunda, yakni Varman Institute (V.I.) yang terintegrasi di dalamnya. Karya tulis rintisan terkait analisa konstruksi Legenda Sangkuriang tersebut, telah berhasil diarsipkan dengan baik pada halaman website Varman Institute.

Pertama, Bujangga Manik-Sangkuriang-Antropologi Struktural (Bagian I) pada tanggal 12 September 2020. Dalam analisa tulisan tersebut, dengan melihat kenyataan tulisan di dalam Naskah Bujangga Manik itu sendiri;dimana kata yang merujuk nama Sangkuriang untuk pertama kalinya muncul dan terarsipkan dalam dokumentasi tertulis pada awal abad ke-15 M (berdasarkan analisa latar peristiwa dalam narasi bertarikh sekitar tahun 1400-an), tidak dengan tegas dan jelas telah dinyatakan adanya korelasi antara Sangkuriang dengan narasi dan konstruksi pembentukkan Gunung Tangkubanparahu sebagaimana yang dapat kita ditemui pada narasi dan konstruksi Legenda Sangkuriang saat ini.

Kedua, Bujangga Manik-Sangkuriang-Antropologi Struktural (Bagian II) pada tanggal 16 September 2020. Pada tulisan tersebut mulai dieksplorasi beberapa dokumentasi tertulis dari beberapa penulis, buku, majalah, kamus dan tahun-tahun penerbitan yang tentu saja berbeda. Melalui eksplorasi tersebut memang terlihat bahwa data sementara menunjukan bahwa Legenda Sangkuriang tidak memiliki konstruksi yang final dan ajeg sejak dari awal kemunculannya. Perbedaan Narasi yang ada dalam dokumen-dokumen tersebut tampak sangat signifikan.

Ketiga, Bujangga Manik-Sangkuriang-Antropologi Struktural (Bagian III) pada tanggal 20 September 2020. Pada tulisan tersebut, daftar tambahan dokumentasi tertulis yang terdapat pada Bagian II ditambah kembali dan semakin memperlihatkan bahwa Konstruksi Legenda Sangkuriang memang tidak baku, berbeda nama-nama tokohnya, berbeda latar belakang tempat peristiwa ceritanya, dan berbeda penekanan topiknya antara satu dokumentasi dengan dokumentasi lainnya. Namun demikian dapat terlihat adanya modifikasi Narasi yang semakin mengalami kohesi dan terintegrasi sebagai suatu rakitan yang utuh. Ibarat membangun suatu kerangka teori dan atau mendirikan suatu bangunan, pada konstruksi Legenda Sangkuriang juga dapat terlihat adanya pembangunan Narasi secara bertahap dan berkelanjutan menjadi suatu bagunan yang utuh sebagaimana yang bisa kita saksikan saat ini.

Pada tulisan Bagian III, Karguna Purnama Harya mulai memasuki tahap eksplorasi kongklusi dalam bidang Pendidikan dan Moral yang berpijak pada aspek Psikologi dengan meminjam teori strukturalisme Claude Levi-Strauss yang biasa digunakan dalam bidang Antropologi dan kesusasteraan. Secara umum dapat terlihat bahwa aspek koherensi yang terbentuk pada rakitan konstruksi akhir Legenda Sangkuriang, berdasarkan analisa tata nilai memang faktanya gagal mampu memberikan tawaran nilai Didaktik dan Etik yang ada.

Hanya saja, sandaran data yang telah dikemukakan pada tiga buah tulisan rintisan di atas masih perlu sabar untuk dianalisa dan ditambah aspek rujukannya secara kronologis. Pertanyaan apakah Konstruksi Legenda Sangkuriang yang ada saat ini merupakan prodak yang otentik sebagai warisan tradisi lisan dari leluhur masyarakat Sunda? Ataukah suatu perkembangan yang baik disengaja ataupun tidak sebagai suatu prodak rakitan yang berkembang secara bertahap ssbagaimana yang dapat diketahui saat ini!Tentu saja akan menjadi prioritas pertanyaan yang perlu lebih dipertegas lagi bobot analisa dan tingkat kepastian jawabannya. Melalui jawaban yang lebih eksak terhadap satu buah pertanyaan tersebut, konsekuensi nilai dan bobot dari Legenda Sangkuriang itu sendiri akan dapat didudukan secara otomatis pada nilai dan bobot yang wajar dan seharusnya.

Pada perbincangan dengan Karguna Purnama Harya itu sendiri, beberapa dokumen tambahan memang perlu untuk ditelaah lebih lanjut agar aspek penalaran dan kesimpulan tidak terkesan kurang sabar dan melompat dari yang seharusnya. Beberapa data rujukan baru dan yang lama yang telah digunakan sebagai bahan pada tiga buah tulisan sebelumnya oleh Karguna Purnama Harya secara umum dapat disusun sebagaimana berikut (baik yang memuat secara langsung Narasi Sangkuriang maupun yang terhubung dengan analisa Sangkuriang):

(1) Naskah Bujangga Manik oleh Bujangga Manik [awal abad ke-15 M];(2) De Preanger Regentschappen op Java Gelegen oleh Andries de Wilde [tahun 1830 M]; (3) Tidjschrift voor Nederland’s Indie Tweede Jaargang Erste Deel [1839 M];(4) Warnasarie: Indisch Jaarboekje, Volume 2 oleh S. Van Deventer [1849 M]; (5) NEERLANDS OOST-INDIE Eerste Deel oleh S.A. Buddingh [1867 M];(6) Nederduitsch-Maleisch en Soendasch woordenboek oleh Andries de Wilde 1841; (7) Serat Manik Maja oleh J.J. de Hollander [1851, 1852, 1853, 1854, 1855, dan 1865]; (8) A Dictionary of The Sunda Language of Java oleh Jonathan Rigg [1862 M]; (9) Soendanesch Lessbook oleh G.J. Rashuis [1874 M]; (10) C.F. Winter [1875 M]; (11) Handleiding bij de beoefening der Soendaneesche taal oleh Sierk Coolsma [1884 M]; (12) Dajang-Soembi: een Javaansche legende oleh De Willem Jacob Hofdijk [1887 M]; (13) De Locomotief [1904 M]; (14) De Preanger-Bode [1907 M dan 1910 M]; (15) De Inlandsche Nijverheid in West-Java Als Sociaal-Ethnologisch Verschijnsel Tweede Stuk oleh C.M. Pleyte [1912 M]; (16) Handelingen van Het Eerste Congres voor de Taal, Land- en Volkenkunde van Java, Solo, 25 en 26 December 1919 oleh Hoesein Djajadiningrat [1919 M]; (17) Javaansche Sagen En Legenden Zeden En Geewonten Leesboek oleh A. Soeardi & J.L. Amerika [1925 M]; Herinneringen van Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat [1936 M]; (18) Serat Manik Maja oleh Prijohutomo [1937 M]; (19) Sari Poestaka oleh Satjadibrata [1940 M]; (20) Kamoes Soenda-Melajou [1944 M] dan Kamoes Soenda-Indonesia oleh Satjadibrata [1948 M]; (21)
The Geology of Indonesia oleh Reinout Willem (“Rein”) van Bemmelen [1949 M]; (22) A.C. Deenik [1950 M]; (23) Sangkuriang Asal Muntjulnya Gunung Tangkuban Parahu oleh R.T.A. Soenarja (dalam bahasa Sunda dan terjemahan bahasa Indonesia oleh Utuy Tatang Sontani) [1950 M]; (24) Dayang Sumbi oleh Utuy Tatang Sontani (1953 M); (25) Sangkuriang oleh Utuy Tatang Sontani (1959 M); (26) Sangkuriang Filem Layar Lebar (1982 M);(27) Manusia Sunda oleh Ajip Rosidi [1984 M]; (28) Semerbak Bunga di Bandung Raya oleh Haryoto Kunto [1986 M]; (29) Kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu Dengan Segala Aspeknya oleh Hidayat Suryalaga [2005].

Data tersebut dan kemungkinan data tambahan pada hakikatnya untuk melacak perkembangan aspek Narasi (Story Telling) dan rantai Periwayatan (Story Teller atau Writter). Tanpa mengetahui validitas atau tahap pengujian aspek Formal (Bentuk atau Wadah atau Cangkang) tersebut, maka penggunaan aspek Material (Isi atau Makna atau Nilai); apalagi jika harus melangkah terlalu jauh terhadap usaha penggalian dan pemanfaatan aspek nilai Filosofis dan Teologis sebagai usaha untuk memaknainya akan menjadi suatu pekerjaan yang gagal dan sia-sia belaka karena dibangun di atas landasan orisinalitas ataukah modifikasi (fake). Namun demikian, analisa keajegan plot, seting, karakter, konflik, dan tema akan sangat membantu dalam menganalisa keajegan aspek kontinuitas dan validasi Narasi dan Periwayatan dalam membantu memahami Konstruksi Legenda Sangkuriang yang ada. (Halaman Buku Sangkuriang karangan R.T.A. Soenarja [dan terjemahan Indonesia oleh Utuy Tatang Sontani])

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)