“De rivier Tji-taroem, welke, in het Regentschap Bandong, aan den berg Semboeng ontspringt, is door de Natuur, op sommige plaatsen in het gebergte, bevaarbaar, en zoude, door mogelijk geringe kosten, nog aanmerkelijk verbeterd en van grooteren omvang kunnen gemaakt worden. Een groote hinderpaat echter in deze rivier, waardoor dezelve wel nimmer geheel bevaarbaar zal zijn, tenzij die, boven den val, konde verlegd worden, is er gelegen in den grooten val, welken dezelve in het district Radjamandala maakt, en Sangiang ti Korrok genoemd wordt, waardoor de Rivier, door een rotsachtig gebergte geheel bepaald, zich, als het ware, door dat gebergte heendringt, en, met een onzettend geraas weder te voorschijn komende, hare geheele water-massa, met eene onbegrijpelijke vaart, in eene ontzaggelijke diepte nederstort.” [Andries de Wilde dalam De Preanger-Regentschappen op Java Gelegen]

Suatu kebahagian tersendiri karena telah mendapatkan kehormatan menjadi orang pertama yang dapat menikmati karya terjemahan “De Preanger-Regentschappen op Java Gelegen karangan Andries de Wilde” (Amsterdam, M. Westerman, 1830.) yang dilakukan oleh seorang teman Karguna Purnama Harya [dan kolega di HOV/VI].

Saya memang telah membacanya langsung pada hari ini; Rabu 03 Maret 2021 sampai tuntas, hanya saja dengan teknik pembacaan cepat (skimming). Proses pembacaan cepat tersebut dilakukan bukan dikarenakan buku Andries de Wilde tidak menarik atau hasil penerjemahan Karguna Purnama Harya tidak bagus (melainkan sangat bagus dan banyak gagasan menarik); namun demikian perhatian saya sudah teralihkan pada satu data sederhana yang terdapat di dalamnya, yang bocorannya telah saya dapatkan pada beberapa hari sebelumnya.

Salah-satu data sederhana itu pada kenyataannya memiliki kadar kemenarikan yang luar biasa, dari sekian banyak data dan pernyataan menarik lainnya yang telah diucapkan oleh Andries de Wilde yang telah dikerjakannya dalam bahasa Belanda pada pertengahan abad ke-19 M, sebagaimana yang telah saya kutipkan pada awal penulisan. Di dalam hasil terjemahan Karguna Purnama Harya, paragraf di atas dapat dinikmati dalam bahasa Indonesia yang bagus dan mudah dicerna; di mana di sana dikatakan bahwa:

“Sungai Tji-taroem, yang hulunya berada di gunung Semboeng di Kabupaten Bandong, mengikuti kontur Alam di beberapa tempat di pegunungan, dan karena biayanya yang rendah, masih dapat diperbaiki dan diperlebar. Akan tetapi, rintangan besar di sungai ini terletak di air terjun besar yang berada di distrik Radjamandala yang disebut Sangiang ti Korrok, yang tidak akan pernah bisa dilalui, kecuali jika bisa dialihkan ke atas air terjun itu. Di tempai itu, sungai yang seluruhnya mengikuti kontur pegunungan berbatu itu, seolah-olah menembus pegunungan itu, dan, dengan suara gemuruh yang luar biasa bergema, semua massa airnya dengan kecepatan yang tak dapat dipahami, jatuh ke kedalaman yang juga luar biasa.” (Andries de Wilde dalam “Priangan Di Tanah Jawa”)

Di dalam pernyataan Andries de Wilde sangat jelas dikatakan bahwa Ontspringt yang dapat diartikan suatu pancaran, atau terbit, atau keluar, atau yang dalam hal ini berarti mataair; yakni tempat dimana air untuk pertamakalinya memancar, terbit, keluar, membudal, membual yang menjadi awal-mula sungai Ci Tarum dinisbatkan; yang dalam bahasa Indonesianya, sederhanya disebut Mataair atau Hulu sungai Ci Tarum yang dikatakannya berasal dari suatu Berg atau Gunung yang bernama Semboeng (di mana ejahan baru akan bertuliskan Sembung).

Pernyataan Andries de Wilde pada awal abad ke-19 M tersebut tidak membuat saya kaget, tapi juatru membuat saya sangat bahagia (karena pernah mengalami rasa kaget sebelumnya). Pasalnya pada Sabtu, 25 Juli 2020 saya sempat menulis sebuah artikel yang saya publikasikan pada rubrik Logografi di website Varman Institute sebanyak 5 seri dengan judul “Bujangga Manik Menyeberangi Sungai Ci Tarum”.

Di dalam artikel tersebut saya mencoba untuk menginventarisasi seberapa banyak nama tempat (proper names) sungai Ci Tarum dan variasi konteksnya dicatat oleh Bujangga Manik dalam naskahnya. Upaya inventarisasi kata Ci Tarum sebagai sungai khusus dalam naskah Bujangga Manik itu sendiri dilakukan setelah melakukan inventarisasi secara lebih longgar terhadap temuan kata Tarum maupun Ci Tarum dalam beberapa konteks yang pernah tercatat juga dalam beberapa prasasti masa Taruma dan beberapa naskah Sunda kuno.

Inventarisasi yang lebih dahulu tersebut telah menghasilkan artikel dengan judul “Melacak Jejak Penamaan Sungai Ci Tarum Pada Sumber Berita Tertulis Berdasarkan Bukti Epigrafis dan Bukti Filologis” yang diterbitkan dalam rubrik Sejarah pada website yang sama tertanggal Selasa, 14 Juli 2020 sebanyak 2 seri. Serial yang terdahulu ini dapat memberikan pengertian bahwa awal mula pemberian nama sungai “Ci Tarum” berdasarkan bukti-bukti catatan yang ada, telah terjadi pada fase yang lebih kemudian daripada pemberian nama tempat “Taruma” sebagai suatu nama kerajaan.

Transisinya adalah kata “Taruma” (Prasasti Tarumanagara) sebagai nama kerajaan, lalu “Tarum” (naskah Carita Parahyangan dan naskah Amanat Galunggung) sebagai nama sungai, dan kemudian Ci Tarum sebagai nama sungai (naskah Bujangga Manik). Sungai itu sendiri pada masa kerajaan Taruma masih belum tercatat namamya dengan jelas, kecuali kemungkinan aliran yang disodetnya dari induk sungai ‘Ci Tarum’ sebagai sungai artifisial yang dinamai sebagai Chandrabhagarnavam dan Nadi Ramya Gomati.

Sementara pada ulasan naskah Bujangga Manik yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-14 M dan awal abad ke-15 M, nama sungai Ci Tarum telah terbentuk sebagaimana yang kita pahami pada saat ini secara konsisten. Dalam rangkaian perjalanan yang dilakukan di Pulau Jawa dan Pulau Bali, tercatat Bujangga Manik melakukan kontak dan interaksi dengan sungai Ci Tarum dalam segmen yang berbeda-beda sebanyak 5 kali.

Pertama di Cinangsi yang diperkirakan di kawasan Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur dengan melakukan aktifitas menyeberang. Kedua di Mandata selepas Timbun menuju Ramanea (bandingkan dengan kata Ramya pada nama sungai masa Taruma;Nadi Ramya Gomati) dengan melakukan aktifitas menyeberang. Perkiraan kasar Mandata pada saat ini merupakan kawasan Telukjambe Kabupaten Karawang. Ketiga di Gunung Sembung yang dalam naskah dikatakan “Hulu na Ci Tarum”. Di kawasan Hulu Ci Tarum di Gunung Sembung Bujang Manik bertapa selama 1 tahun. Keempat di Bukit Patenggeng tempat “Sakakala Sangkuriang”. Kawasan yang sama yang saat ini Bukit Patenggeng di Selatan Kabupaten Purwakarta. Di sana Bujangga Manik mengenang riwayat masa silam sebelum kemudian melakukan penyeberangan melalui sungai Ci Tarum dan kemudian menyeberang sungai Cisokan. Kelima di Cisanti di Gunung Wayang. Kawasan yang sama hingga saat ini di Pangalengan Kabupaten Bandung. Di sini Bujangga Manik dikatakan hanya melintas saja.

Dengan didapatinya data Hulu (Ontspringt) sungai (rivier) Ci Tarum (Tji-taroem) di Gunung Sembung (berg Semboeng) dalam catatan Andries de Wilde ternyata memiliki kesesuaian datanya dengan Hulu Ci Tarum (“Hulu na Ci Tarum”) di “Gunung Sembung” dalam catatan Bujangga Manik; maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan masyarakat Tatar Sunda perihal Hulu sungai Ci Tarum (‘Sirah Cai’ atau ‘Cinyusu’ pertama) yang berkedudukan di Gunung Sembung masih mengalami kontinuitasnya, setidaknya sejak akhir abad ke-14 M dan atau sejak awal abad ke-15 M hingga menginjak masa pertengahan abad ke-19 M (300-400 tahun lamanya).

Melalui pembacaan terhadap naskah Bujangga Manik, kita akan mengetahui bahwa Cisanti di Gunung Wayang dan Hulu Ci Tarum di Gunung Sembung adalah dua nama, atau istilah, atau konsep yang berbeda. Dan dengan demikian adalah dua tempat yang berbeda pula. Persoalannya tentu saja bukan berarti Cisanti dan Gunung Wayang tidak memiliki andil terhadap pembentukan pola aliran sungai utama Ci Tarum, melainkan bahwa pada konsep kosmologi masa lalu; titi awal aliran utama sungai Ci Tarum, bukan ditarik dari Cisanti di Gunung Wayang sebagaimana yang kita pahami pada saat ini. Melainkan dari Hulu na Ci Tarum di Gunung Sembung.

Persoalannya adalah dimanakah letak Hulu na Ci Tarum di Gunung Sembung tersebut berada? Karena pada saat ini kita memiliki kesukaran untuk menemukan dan menentukan tempat dimana toponimi lama tersebut pernah berada. Hanya saja melalui pertanyaan tersebut beberapa analisa eksploratif kemudian mulai bisa dilakukan. Di mana analisa dapat dimulai dari suatu definisi atau batasan bahwa hulu sungai secara sederhana merupakan tempat dimana mataair untuk pertamakalinya muncul sebagai sungai.

Sungai tentu saja dibangun oleh banyak mataair. Dan sungai besar dibangun oleh sungai-sungai kecil. Dan sungai sangat besar dibangun oleh sungai-sungai besar. Namun demikian ada suatu penanda khusus dimana suatu mataair dianggap lebih utama dibandingkan mataair lainnya untuk dinisbatkan sebagai awal-mula. Pertama tentu saja mataair itu harus terletak dalam garis lintasan sungai yang paling jauh. Dan kedua mataair tersebut harus memiliki karakteristik yang lebih menonjol dari mataair yang lainnya.

Kategori yang kedua dalam wujud kongkritnya bisa menggunakan penanda Situ atau Dano sebagai ciri khasnya. Di mana tidak semua mataair mampu menggenang pada cekungan dan membuat suatu danau alamiah yang spektakuler. Pada saat ini, pada aliran sungai Ci Tarum terdapat beberapa Situ atau Danau yang telah mensuplai pola aliranya; dimana yang paling menonjol adalah Situ Cileunca, Situ Cisanti, dan Dano Ciharus.

Situ Cileunca terletak di sebelah Barat dari kawasan pegunungan Malabar. Meskipun demikian proses pembentukan Situ Cileunca lebih bersifat buatan, yakni dibangun sejak masa kolonial. Situ Cisanti terjadi secara alamiah, namun demikian luasan danaunya terbentuk karena suatu upaya yang lebih dilakukan kemudian hari. Hanya saja nama Cisanti di Gunung Wayang tidak bisa disepelekan, karena pada faktanya sejak masa hidup Bujanga Manik itu sendiri sudah dikenal dan bahkan dikunjunginya. Sementara itu Dano Ciharus di Gunung Rakutak juga merupakan suatu danau yang terbentuk secara alamiah dan cukup spektakuler.

Untuk Situ Cileunca meskipun danau buatan, bisa saja dahulunya merupakan genangan alamiah juga meskipun kecil; hanya saja jika mengambil lintasan utama menuju Situ Cileunca via aliran sungai Cisangkuy, maka rute sungai Ci Tarum terlalu pendek. Imajinasi sungai Ci Tarum ketika berada di kawasan Cekungan Bandung jelas melintang memanjang dengan arah Timur-Barat, dan Cileunca via Ci Sangkuy masih berada di lintasan bujur tengah dari imajinasi kawasan cakra Cekungan Bandung.

Jika menimbang letak Cisanti di Gunung Wayang tidak begitu jauh dari letak Cileunca, maka lintasan bujurnya masih akan tetap relatif berada di tengah imajinasi cakra Cekungan Bandung; meskipun memiliki kelokan yang membuatnya memiliki garis lintasan sungai yang relatif paling panjang, yang dinamai sungai Ci Tarum Hulu pada saat ini. Maka dengan demikian, nilainya tidak begitu jauh jika dibandungkan dengan nilai Cileunca. Sehingga dengan demikian masih terlalu pendek dan berada di bujur tengah dari kawasan Cekungan Bandung.

Adapun yang paling ideal terlihat lurus sebenarnya, melintang Timur-Barat secara visual adalah via sungai Ci Mande dan Ci Tarik yang menjurus ke kawasan Gunung Kareumbi. Hanya saja, kawasan Karembi tidak memiliki danau yang membuatnya terlihat lebih istimewa selain soal jurusannya yang memiliki lintasan sungainya yang paling lurus (namun demikian nilai strategis kawasan ini perlu dipertimbangkan dengan sangat baik).

Sementara itu, Dano Ciharus di Gunung Rakutak via sungai Ci Harus memang tidak seistimewa tingkat kelurusan lintasan Ci Mande dan Ci Tarik yang bergersk menuju ke Gunung Kareumbi, hanya saja pada faktanya memiliki danau alamiah yang cukup spektakuler untuk dikatakan memenuhi syarat penting dalam kosmologi kuno. Dan jika dibandingkan Cisanti di Gunung Wayang dan Cileunca di Gunung Tilu; posis Ciharus di Gunung Rakutak sudah lebih jauh lintasannya dalam jaring bujur ideal Cekungan Bandung.

Namun demikian untuk memastikan apakah benar demikian, masih perlu diutarakan bagaimana proses Bujangga Manik dalam menapaki lintasan-lintasannya hingga akhirnya tiba di kawasan Hulu na Ci Tarum di Gunung Sembung agar dapat dianalisa secara objektif bersama-sama. Bahwa selepas dari Pulau Bali dia masuk kembali ke Pulau Jawa, dengan menelusuri kawasan pegunungan Selatan hingga akhirnya singkat cerita tiba di Gunung Galunggung (Tasikmalaya), Gunung Cikuray (Garut), Mandala Puntang yang kemungkinan saat ini bernama Gunung Puntang (Banjaran), Gunung Papandayan (Garut) hingga tiba di Panenjoan (saat ini masih sama namanya) yang merupakan kawasan puncak Gunung Papandayan (sedikit mengherankan perjalanan dari Gunung Cikuray lebih mendahulukan Mandala Puntang daripada Gunung Papandayan yang mengindikasikan perjalanan dilakukan menuju jurusan Gunung Halimun saat ini via jalur Bungbulang).

Dari kawasan Gunung Papandayan dan Panenjoan (Garut) tersebut, Bujangga Manik kemudian menuju ke Gunung Sembung tempat di mana Hulu na Ci Tarum berada. Dari Gunung Sembung dan Hulu Ci Tarum ini, Bujangga Manik bergerak ke Utara-Barat (ngaler barat) hingga kemudian dapat terbilang Bukit Karesi (analisa antara kemungkinan Gunung Geulis atau Gunung Kareumbi), Bukit Langlayang (analisa Gunung Manglayang), Bukit Palasari (tetap Gunung Palasari), Bukit Pala (analisa Gunung Bukittunggul), kemudian menemukan Kabuyutan (analisa kemungkinan kawasan Batuloceng), dan kemudian menyeberangi sungai Ci Saunggalah (analisa tidak mungkin yang lain kecuali yang disebut Ci Kapundung pada saat ini di Utara Patahan Lembang [Lembang Fault]).

Jika titik azimuth dari Gunung Sembung dan Hulu Ci Tarum dengan arah Utara-Barat atau Barat-Laut adalah titik kawasan Gunung Palasari dan sekitarnya, maka titik back-azimuth yang dapat dibidikkan dari kawasan Gunung Palasari dan sekitarnya untuk mengetahui keberadaan titik lokasi Gunung Sembung dan Hulu Ci Tarum sebaliknya adalah harus mengarah ke sudut Selatan-Timur atau Tenggaranya. Dimana jurusan yang relatif ke arah Selatan-Timur atau Tenggara dari kawasan Gunung Palasari dan sekitarnya, adalah jurusan Ujungberung, Cileunyi, Rancaekek, Solokanjeruk, Majalaya, hingga akhirnya akan tiba di radius sekitar kawasan Darajat Pass; yakni lawasan yang membentang secara longgar antara kawasan Kawah Kamojang dan Dano Ciharus, yang membuat hipotesa sementara bersifat cocok dan sesuai analisa sebelumnya.

Lalu bagaimana dengan nasib Situ Cileunca di Gunung Tilu apakah bisa saja menjadi kandidat Gunung Sembung dan Hulu Ci Tarum? Kemungkinan tidak karena berdasarkan pendekatan azimuth (dan back-azimuth) dari kawasan Gunung Tilu dan Situ Cileunca, jurusan Gunung Palasari bukan berarah ngaler barat; melainkan ngaler timur (Utara-Timur atau Timur-Laut).

Demikian juga dengan Situ Cisanti di Gunung Wayang, arah hadap ke Gunung Palasari masih cenderung sama dengan Gunung Tilu dan Situ Cileunca yakni relatif ke arah Timur-Lautnya. Bagaimana dengan data pada peta-peta Belanda dimana di sebelah Selatan Gunung Wayang terdapat nama Gunung Sambung (Gunung Samboeng) yang kemudian berubah menjadi Gunung Gambung Sedatapah, dan kemudian pada saat ini menjadi Gunung Gambung Sedaningsih?

Pertama selain arah azimuth dan back-azimuth kurang memenuhi syarat sebagaimana Gunung Wayang dan Situ Cisanti (karena posisinya tepat di Selatannya); Kedua karena Gunung Gambung Sedaningsih pada dasarnya masih satu rangkaian yang sama sejak Gunung Malabar, Puncak Besar Malabar, Gunung Wayang, Gunung Gambung Sedaningsih, dan Gunung Windu sebagai suatu kesatuan yang bisa dikatakan relatif utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Apa lagi rangkaian Gunung Windu, Gunung Gambung Sedaningsih, dan Gunung Wayang (lebih menyatu dibandingkan dengan rangkaian selebihnya yakni Gunung Malabar dan Puncak Besar Malabar) hanya menghasilkan satu sistem danau yang sama yakni Situ Cisanti; maka ketika Bujangga Manik menyatakan kawasan Cisanti di Gunung Wayang di dalam catatannya tentu saja secara logika sederhana bisa dikatakan bahwa penyebutan tersebut juga telah mewakili gejala keseluruhan dari rangkaian utuhnya.

Gunung Gambung Sedaningsih juga dapat dibuktikan bukan Gunung Sembung sebagai Hulu Ci Tarum karena dalam suatu kesempatan perjalanan dari arah Barat yakni dari Bukit Bulistir tempat Sakakala Patanjala dan tempat hulu Ci Marinjung berasal (analisa dapat diperkirakan Gunung Padang di Cianjur Selatan); Bujangga Manik telah memerinci rute perjalanan berupa Cimarinjung, Cihadea, Cicarengcang, Cisanti, Gunung Wayang, Mandala Bentung, Mulah Beunghar, Tigal Luar, Bukit Malabar, Bukit Bajoge, Gunung Guntur.

Pada lintasan dari arah Barat ke arah Timur pada kawasan pegunungan Selatan Jawa Barat (Southern Mountain of West Java) dengan melalui kawasan Gunung Malabar dan Gunung Wayang dan kawasan Cisanti; jelas sekali tidak ditemukan nama Gunung Sembung dalam blok yang berdekatan, yang membuat Gunung Gambung Sedaningsih sebagai salah-satu alternatif Gunung Sembung pada masa lalu telah terbukti tidak begitu kuat dasarnya.

Sementara itu, Dano Ciharus dengan Gunung Rakutak dan aliran sungai Ci Harus dapat menjadi kandidat paling utama untuk dijadikan tempat dimana Gunung Sembung dan Hulu na Ci Tarum pernah berada. Bisa jadi telah terjadi pergeseran toponimi baru yang dimulai setelah melalui awal abad ke-19 M hingga pada masa kini, yakni pada abad ke-21 M yang memakan waktu nyaris sekitar 200 tahun (perubahannya baru terjadi tidak akan lebih dari 200 tahun yang lalu).

Penalaran yang dibangun dalam menentukan Danao Ciharus dan Gunung Rakutak sebagai Hulu Ci Tarum dan Gunung Sembung yang terdapat pada perspektif akhir abad ke-14 M atau awal abad ke-15 M hingga pertengahan abad ke-19 M tentu saja masih bersifat spekulatif dan eksploratif, sehingga kesimpulannya masih bersifat longgar; dan dengan demikian masih membutuhkan analisa dan pengujian yang lebih teliti dan sempurna lagi. Suatu pembuktian yang akan membawa data-data lebih kuat dan menyeluruh untuk menilai kedudukannya yang akan menjadi semakin kuat dan atau sebaliknya menjadikannya lemah dan batal karena hadirnya bukti-bukti lain yang memberikannya keberatan.

Hanya saja perlu juga mendapatkan catatan lebih, bahwa berdasarkan tinggalan yang ada bahwa bentang kawasan yang terhampar dari Ujungberung, Cileunyi, Rancaekek, Cicalengka, Solokanjeruk, Ciparay, dan Majalaya dalam batasan yang longgar adalah suatu pedataran dekat urat-urat perairan yang subur dan mendukung tatanan peradaban lama di suatu daerah yang dapat dikatakan dekat wilayah hulu sungai Ci Tarum. Sebagaimana dibuktikan dengan tinggalan-tinggalan candi atau yang diduga bekas bangunan kuno seperti Candi Bojongemas (Solokanjeruk), Candi Bojongmenje (Rancaekek), dan bekas candi di kawasan Ciparay yang kurang mendapatkan perhatian (tersingkap saat pembukaan perumahan) sempat dikabarkan, dan juga terdapat di kawasan Ibun di Majalaya (juga berupa tinggalan serupa dasar-dasar candi kecil).

Dengan ditemukannya data Hulu sungai Ci Tarum dalam catatan Andries de Wilde yang telah selesai diterjemahkan oleh Karguna Purnama Harya, tentu saja sangat membahagiakan. Bahwa ternyata data yang terkandung di dalam naskah Bujangga Manik telah terbukti sangat berharga untuk terus dipelajari dan dipertimbangkan dengan baik untuk memahami aspek Sejarah dan Geografi pada masa silam dan bagaimana suatu pergeseran aspek Toponiminya pada masa kini bisa terjadi (dan sekaligus akan menjadi berpeluang untuk dikoreksi kembali). [Arah hadap Dano Ciharus ke arah Gunung Manglayang dengan menggunakan citra satelit yang diolah dari arsip Rakgantang, Gerakan Gandrung Tatangkalan;via Kang Taufan Suranto]

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)