Di dalam Bible kita akan mengetahui bahwa keturunan Ibraham akan lestari, berkembang dan menjadi besar seperti sejumlah pasir di garis pantai. Besar dalam jumlah dan kuat dalam pencapaian duniawi, berupa kemakmuran dan kedudukannya dalam negara.

Nubuwat dan berkat tersebut berlaku baik untuk garis Ismail maupun garis Isak. Khusus untuk garis Isak maka Isak menurunkan dua putra, yakni Esau dan Yakub. Keturunan Esau nantinya akan terasimilasi dengan garis silsilah Ismail karena pernikahan yang intensif. Maka garis silsilah Isak akan terlihat kontinuitasnya melalui garis Yakub.

Yakub memiliki 12 putra, dimana Yusuf telah dinubuwatkan memiliki keistimewaan. Melalui garis keturunan Yusuf juga, berkah diberikan oleh Yakub kepada kedua putranya sebelum meninggal; yakni kepada Efraim dan Manasye. Bahwa melalui garis keturunan kedua putra Yusuf, nama Yakub atau Israel dan nama Isak dan Ibrahim leluhurnya akan dimahsyurkan. [Genesis 48:8-22]

Melalui kebijakan Yusa bin Nun (Suku Efraim), sepeninggal Musa (Suku Lewi); keturunan Yusuf melalui Suku Efraim dan Manasye tetap konsisten dihormati dengan diberikan jatah perhitungan wilayah dan tanah menjadi dua bagian. Sementara Suku Lewi melalui garis keturunan Harun, saudara Musa; pekerjaan Imam (Kohen) menjadi tanggung jawabnya yang berkelanjutan. Suku Lewi tidak diberikan tanah dan wilayah khusus, melainkan harus berada dan mengabdi di seluruh wilayah suku-suku Bani Israel yang ada. Tanah dan wilayah untuk Suku Lewi menjadi tanggung jawab semua suku-suku yang ada.

Di dalam Bible, masa pembuangan Bani Israel terutama yang berkaitan dengan 10 suku Bani Israel telah dinubuatkan beberapa dekade sebelum peristiwa itu benar-benar terjadi. Di sana dikatakan bahwa 10 suku Israel akan terbuang karena kesalahan-kesalahannya, dan akan hanya menyisakan suku Yahuda untuk tinggal. Namun demikian, 10 suku yang terbuang tersebut tidak benar-benar dicampakkan; melainkan masih mendapatkan berkah dengan jumlah yang dijanjiln akan tumbuh semakin besar setelah meninggalkan Tanah yang Dijanjikan. Dan 10 suku Israel tersebut dengan demikian tidak benar-benar hilang. [Hosea 1:1-11]

Nubuat lain sebelum masa pembuangan 10 suku Israel adalah bahwa melalui garis silsilah mereka House of Israel akan dinisbatkan. Selain dinisbatkan dengan gelaran House of Israel (Bani Israel), 10 suku Israel juga akan menyandang gelar sebagai House of Isaac (Bani Isak). [Amos 7:10-16]

Melalui pembacaan ini kita akan memahami beberapa hal, bahwa garis silslah Ibrahim melalui Isak terus berjalan. Garis silsilah Isak akan diteruskan oleh Yakub yang memiliki nama lain Israel. Garis silsilah Yakub atau Israel akan terbelah menjadi dua bagian, pertama melalui garis silsilah Yusuf; yakni Efraim dan Manasye bersama anasir 10 suku Israel lainnya dan melalui garis silsilah Yahuda bersama anasir Bunyamin.

Melalui pembacaan Bible kita mengetahui bahwa garis silsilah Yusuf melalui Efraim dan Manasye dan bersama sekutunya yang berjumlah menjadi 10 suku Israel akan menyandang statusnya sebagai Bani Isak dan atau sekaligus sebagai Bani Israel. Sementara Suku Yahuda dan Bunyamin akan secara lebih khusus menyandang gelarnya sebagai Bani Yahuda.

Itu kenapa kerajaan Israel Utara disebut dengan Kerajaan Israel dengan ibukotanya di Samaria [saat ini kawasan Jalur Gaza, Palestina], sementara Kerajaan Israel Selatan disebut dengan Kerajaan Yahuda [atau Yehuda atau Yudah atau Yudea] dengan ibukotanya di Yerusalem. Sementara 10 suku Israel Utara yang runtuh oleh Kerajaan Asyuria dianggap terbuang dan teralienasi dari wacana keagamaan selanjutnya, maka 2 suku Israel Selatab yang runtuh oleh Babilonia dianggap berhasil untuk lestari dan menjadi representasi dari wacana keagaamaan itu sendiri.

Komunitas Kerajaan Yahuda yang terbuang pada masa penaklukkan Babiolia ini yang kemudian akan melahirkan akar dan tradisi keagamaan yang disebut Yahudi. Selain bermakna agama, Yahudi juga memang secara jelas merujuk dan identik terhadap nama suku Yahudi. Maka dengan demikan Yahudi dan akar Kerajaan Yahuda tidak dapat dipisahkan. Yahudi, Yehuda, Yahuda, Yudah, Yudea adalah merupakan variasi fonetik dari akar Sejarah yang sama dan terpilin sangat erat.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)