Sejarah Pulau Onrust

Konstruksi Bangunan dan Penemuan Arkeologis
Sisa-sisa bangunan di kawasan Pulau Onrust, baik yang terpendam maupun yang ada di permukaan tanah dapat diketahui asal-usul waktu pembangunannya melalui bahan-bahan yang digunakan untuk membangunnya. Ada tiga periode pembangunan di kawasan Pulau Onrust ini, dan setiap periode memiliki ciri khasnya masing-masing, diantaranya yaitu:

Periode awal, abad ke-17 sampai abad ke-18 pada umumnya menggunakan bata-bata berukuran besar berwarna merah dengan bahan perekat seperti semen bercampur pasir dan kerang. Adanya kerang-kerang pada tembok bangunan di Pulau Onrust mengingatkan penulis dengan apa yang pernah penulis temukan di tembok Benteng Speelwijk, Banten Lama. Benteng peninggalan kolonial Belanda itu pun menggunakan bahan yang sama, yaitu kerang.

Periode kedua, abad ke-19 bangunan-bangunan di kawasan ini umumnya menggunakan bata-bata berukuran lebih kecil meski berwarna dan berbahan perekat yang sama, contohnya pada benteng bulat di Pulau Kelor yaitu Benteng Martello.

Periode ketiga, abad 20 bangunan-bangunan yang ada menggunakan bata-bata berukuran lebih kecil lagi dan memiliki warna kekuningan, bahan perekatnya pun hanya semen dan pasir saja (tanpa kerang).

Selain konstruksi bangunan, hal yang menarik lainnya adalah penemuan arkeologis hasil ekskavasi arkeologi di Pulau Onrust yang dilakukan sejak 1979 sampai 1989 yang berhasil menemukan fondasi benteng segi lima serta fondasi kincir angin sebagaimana yang ada pada denah Pulau Onrust tahun 1740 yang digambar oleh seorang berkebangsaan Jerman J.W. Heydt. Beberapa bangunan sebelum abad ke-20 pun, seperti kolam penampungan air bawah tanah (reservoir?) berhasil ditemukan.

Ekskavasi-ekskavasi yang dilakukan para arkeolog di situs Pulau Onrust dan pulau-pulau sekitarnya telah menemukan beragam artefak. Salah satu yang menjadi masterpiece adalah sepasang sepatu besi atau sepatu selam. Artefak yang paling banyak ditemukan adalah pecahan-pecahan keramik lokal maupun keramik Eropa dan juga Cina (masa Dinasti Ming abad 16-17 dan Qing abad 17-19). Temuan arkeologis lainnya yang terpenting adalah pipa gouda (pipa cangkang ala Belanda), berbagai peralatan makan, peralatan bangunan, peluru meriam, umpak batu, ubin, serta sejumlah mata uang masa kejayaan VOC.