F. Kesimpulan
Dari hipotesis ini dengan sendirinya, akan terlihat bahwa dalam sejarah kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah terdapat dua wangsa. Sanjaya tidak sama dengan Sailendra, karena Sanjaya sendiri tidak pernah menyebut dirinya sebagai tokoh Sailendra dalam prasasti terpentingnya yaitu Prasasti Canggal. Selain itu, Dapunta Selendra dalam Prasasti Sojomerto sangat jelas menyatakan dirinya anak dari Santanu dan Bhadrawati.

Kedua wangsa itu pernah bersatu pada masa Raja Sanjaya karena keduanya beragama Siwa. Namun, ketika masa Rakai Panangkaran, wangsa Sailendra dimunculkan dan menganut agama Buddha Mahayana. Baru di kemudian hari yaitu pada masa Rakai Pikatan, wangsa Sanjaya yang beragama Siwa kembali berkuasa, melalui pernikahan politiknya dengan Pramodawardhani dari wangsa Sailendra yang telah  menjadi penganut ajaran Buddha Mahayana.

Meskipun telah menggunakan sumber primer dan sekunder, namun rekonstruksi sejarah Raja Sanjaya dan keluarganya masih tetap menjadi perdebatan dikalangan para ahli. Prasasti sebagai sumber primer memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Mengingat prasasti biasanya ditulis pada masa raja yang sedang berkuasa, maka nilai obyektifitasnya tidak diragukan lagi, namun prasasti juga memiliki kelemahan karena tidak dapat menguraikan lebih banyak.

Di sisi lain ada sumber yang sebenarnya dapat digunakan, meskipun faktor subyektifitas begitu kental membayangi karena menceritakan begitu panjang lebar suatu peristiwa, yaitu suntingan naskah-naskah kuno yang telah diteliti oleh para filolog (termasuk Carita Parahiyangan dan Kropak 406, pen.) sangat bermanfaat untuk melengkapi informasi sejarah yang terdapat pada prasasti. Penulis sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Saleh Danasasmita tentang perlunya peninjauan kembali sejarah Jawa Tengah yang semasa dengan Sanjaya, yaitu sebagai berikut:

“kita harus mencoba memandang sumber-sumber yang ada pada kita (walaupun sangat minim) secara keseluruhan, dalam kaitan-kaitannya yang logis. Apa yang dianggap kontradiksi antarsumber, tidak mustahil sebenarnya merupakan kontradiksi antara sumber-sumber tersebut dan teori yang ada. Tokoh Sanjaya dalam Carita Parahyangan, misalnya, haruslah kita selidiki sungguh-sungguh dengan segala konsekuensinya. Dalam hal ini, tidaklah mustahil teori yang ada tentang Sejarah Jawa Tengah sekitar masa Sanjaya perlu ditinjau kembali“ (Seri Sundalana-5, 2006, hal. 41,42).

Akhirnya, penulis sangat berterima kasih kepada sejarawan, filolog, epigraf dan arkeolog yang ditulis nama-namanya dalam tulisan ini. Dari tulisan hasil penelitian mereka-lah penulis bisa menyusun karya tulis ini. Berdasarkan hal tersebut, sangat perlu diadakannya penelitian lebih lanjut agar sejarah lebih mendekati kebenarannya. ***

“ Orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya, dan kenyataan bahwa sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan di sepanjang waktu, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah itu perlu.”
– Kuntowijoyo, Guru Besar Ilmu Sejarah UGM (1943-2005) –

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS-UPI Bandung angkatan 2003, memiliki minat yang besar tentang Sejarah Kuno Indonesia, mantan Ketua Bidang V Sosial Kemasyarakatan HIMAS (Himpunan Mahasiswa Sejarah) periode 2005-2006, anggota Perhimpunan Mahasiswa Pencinta Alam Dan Budaya MARGASOPHANA (angkatan 19 / Giriwasa), anggota FKPPA-UPI (Forum Komunikasi Perhimpunan Pencinta Alam).

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)