Sejarah Pulau Onrust

Fungsi Pulau Onrust dari Masa ke Masa
Setelah Batavia dikuasai VOC, Pulau Onrust lantas dikembangkan menjadi zona pertahanannya di utara. Pulau Onrust mengalami perkembangan dengan dibuatnya beberapa sarana untuk kepntingan VOC.


Tahun 1659, dibangun juga sebuah gudang dari kayu untuk menyimpan 2000 last beras. Namun, kapasitasnya pada tahun 1664 dirasakan sudah tidak mencukupi. Pembangunan untuk sementara dihentikan antara 1665-1667 karena meletusnya perang Belanda dengan Inggris. Setelah itu, tepat 1671 dilakukan perluasan benteng hingga menjadi lima sudut (segi lima) yang tidak simetris serta dibuat gereja kecil dari kayu. Akhir Maret 1672, pembangunan diadakan lagi. Dan tahun 1674 tembok-tembok luar dan dalam diselesaikan. Pada tahun ini pula dibangun kincir angin untuk keperluan penggergajian kayu. Gudang-gudang dibangun sebagai tempat barang-barang yang akan dikirim ke Eropa. Selanjutnya, pada 1685 dibangun sebuah depot amunisi yang besar di utara, yang disusul dengan pembuatan bastion di barat daya dari batu pada 1689.

Peperangan yang melanda Eropa tahun 1795, turut memperlemah kedudukan VOC di Batavia. Kesempatan ini pun dimanfaatkan Inggris. Tahun 1800 armada Inggris yang dipimpin H.L. Ball, memblokade Batavia, menyerang dan membumi-hanguskan Pulau Onrust. Tahun 1803, Belanda membangunnya kembali. Namun, lagi-lagi, armada Inggris pada tahun 1806 yang dipimpin Admiral Edward Fellew kembali menyerang Pulau Onrust. Bahkan pada tahun 1810 Inggris menghancurkan sama sekali Pulau Onrust dan menguasainya hingga tahun 1816.

Setelah melewati masa-masa kritis, tahun 1827 Pulau Onrust mendapat perhatian kembali dari Pemerintah Hindia Belanda di Masa Gubernur Jenderal G.A. Baron van der Capellen. Pekerjaan pembangunan kembali mulai dikerjakan pada tahun 1828, dengan mempekerjakan pekerja-pekerja pribumi, orang-orang Cina yang didatangkan, dan para tahanan. Pada tahun 1848, kegiatan di Pulau Onrust dapat berjalan normal kembali.

Pada tahun 1856, arena pelabuhan ditambah lagi dengan sebuah dok terapung yang memungkinkan perbaikan kapal di laut. Namun, sebagian besar fasilitas ini hancur akibat gelombang pasang dari letusan gunung Krakatau pada 1883. Pada tahun itu pula Pelabuhan Tanjung Priok dibangun. Hal tersebut membuat peranan Pulau Onrust dalam pelayaran dan perkapalan mulai meredup. Setelah sekian lama dilupakan, pada tahun 1905, Pulau Onrust mendapat perhatian kembali dengan didirikannya stasiun cuaca seperti yang terdapat di Pulau Cuyper (Pulau Cipir).

Fungsi Pulau Onrust yang sebelumnya sebagai galangan kapal, dermaga, dan benteng pertahanan, pada tahun 1911 berubah menjadi Karantina Haji hingga 1933. Saat itu jalur laut merupakan jalur utama transportasi haji. Keberangkatan dan kepulangan jemaah haji diatur di pulau ini. Fasilitas yang ada antara lain: barak, rumah dokter, rumah sakit, kantor registrasi, pos keamanan, dan MCK. Beberapa diantaranya sudah ada yang dipugar sehingga utuh keberadaannya.

Bahkan rumah dokter kini difungsikan sebagai museum bagi Taman Arkeologi Pulau Onrust.  Setelah itu sempat dijadikan sebagai tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien). Bahkan , pada tahun 1940 pernah pula sebagai tempat para tawanan orang-orang Jerman.

Di zaman Belanda, Pulau Onrust ini pernah menjadi tempat hukuman bagi taruna akademi marinir yang bandel serta pemberontak. Pada masa Perang Dunia ke-II pernah menjadi tempat tawanan orang-orang Jerman. Salah satunya adalah Steinfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust sendiri.

Ketika masa Pendudukkan Jepang di Indonesia 1942-1945, Pulau Onrust ini semakin tidak penting.  Jepang telah memperhitungkan bahwa Pulau Onrust ini tidaklah potensial sebagai tempat pertahanan. Sebab, telah dikenali oleh pesawat tempur dari udara. Pulau ini hanya berpotensi jika teknologi perang menggunakan kapal laut. Jepang kemudian hanya menjadikan Pulau Onrust ini sebagai penjara bagi para penjahat krminal kelas berat, diantaranya Aidit dan Lukman yang kelak menjadi tokoh sentral PKI.

Lokasi yang dikelilingi oleh laut dan jauh dari daratan membuat Pulau Onrust ini cocok menjadi penjara atau tempat isolasi. Namun, ada satu hal yang tidak banyak diketahui umum bahwa setelah Indonesia merdeka Pulau Onrust ini pernah menjadi tempat eksekusi mati bagi tokoh utama pemberontak DI/TII Jawa Barat, S.M. Kartosuwiryo.