E. Hipotesis
Telah disebutkan bahwa tarikh Sanjaya dimulai pada tahun 717 M.  Ketika itu Raja Sanjaya bangkit untuk melanjutkan kerajaan ayahnya (Sanna) yang telah hancur diserang musuh. Selama kurun waktu dari 717 M hinggga 732 M, Sanjaya melakukan ekspedisi penaklukan keberbagai daerah, termasuk ke timur (Jawa Tengah).

Hal ini dilakukan karena kerajaan-kerajaan bawahan pada masa Sanna telah memerdekakan diri ketika tahu bahwa Raja Sanna telah berhasil ditaklukan oleh musuhnya itu. Maka, pada tahun 732 M. setelah kerajaan-kerajaan yang dahulunya merupakan kerajaan bawahan ayahnya telah berhasil ditaklukan kembali, segeralah Sanjaya mendirikan kerajaan baru lengkap dengan istana dan candi Siwa (Prasasti Canggal) di Medang wilayah Pohpitu.

Hipotesis yang akan diajukan dalam tulisan ini adalah: Sanjaya merupakan seorang raja berdarah Indonesia asli yang berasal dari Tatar Sunda. Ia mendirikan kerajaan Medang di Jawa Tengah karena kerajaan dan istana warisan ayahnya telah hancur diserang musuh maka ia mendirikan kerajaan baru di Pohpitu.

Dalam waktu yang relatif bersamaan (awal abad ketujuh Masehi) di Jawa Tengah bagian utara muncul Dapunta Sailendra (Prasasti Sojomerto)[35] dan pada perkembangannya kemudian bentrok kekuasaan dengan Raja Sanjaya. Maka dari itu dilakukanlah perkawinan politik. Ini baru sebuah dugaan bahwa Raja Sanjaya pernah menikahi seorang Puteri keturunan Sailendra yang sampai sekarang kita tidak tahu namanya, dan dari hubungan keluarga itulah lahirnya Rakai Panangkaran.

Slamet Mulyana keberatan bahwa Panangkaran adalah putera Sanjaya, karena dalam prasasti yang pernah dikeluarkan olehnya tidak pernah menggunakan tarikh Sanjaya. Menurut hemat penulis, hal seperti itu tidak perlu dipermasalahkan, karena Rakai Pikatan yang seorang turunan Sanjaya-pun bahkan tidak pernah menggunakan tarikh Sanjaya. Jadi sangat jelas bahwa tarikh Sanjaya hanya digunakan oleh Daksa pada masa Balitung sebagai alasan, karena memerlukan legitimasi untuk menunjukan bahwa ia adalah keturunan Sanjaya guna mencapai kekuasaan dalam menggantikan Raja Balitung.

Pada Prasasti Kedu sudah sudah jelas Panangkaran disebut setelah Sanjaya. Pada Prasasti Sankhara disebutkan bahwa Panangkaran telah menjadi penganut ajaran Buddha dan melepaskan agama Hindunya. Juga dalam Prasasti Wanua Tengah (III) yang menyebut nama Rakai I Hara yang beragama Siwa memiliki anak yaitu Rakai Panaraban, ini sesuai dengan isi Prasasti Sankhara, Carita Parahiyangan dan kropak 406.

Dalam Carita Parahiyangan pun dikisahkan bahwa Rahiyang Sanjaya menyuruh anaknya Rahiyangta Panaraban untuk tidak menganut agama yang dianutnya karena takut pada gurunya yang tidak benar, karena itulah ia menjadi penganut ajaran Buddha Mahayana dan menumbuhkan Sailendrawangsa.[36]

Kenapa Sailendra yang dijadikan sebagai wangsa di Mataram pasca wafatnya Sanjaya oleh Panangkaran? Penulis berpendapat demikian: Seruan kepada keluarga Sanjaya yang beragama Siwa untuk beralih kepada Buddha Mahayana gagal dilakukan oleh Panangkaran pasca wafatnya Raja Sanjaya. Ia pun lalu menghimbau agar keluarga Sailendra yang beragama Siwa, juga beralih agama ke Buddha Mahayana.
Himbauan kepada keluarga Sailendra untuk menganut ajaran Buddha Mahayana ternyata berhasil dilakukan oleh Panangkaran, karena sejatinya keluarga Sailendra berasal dari Sriwijaya yang pada saat itu dikenal sebagai pusat agama Buddha di Asia Tenggara, dengan demikian tidaklah aneh kiranya bila Panangkaran selanjutnya disebut sebagai perhiasan wangsa Sailendra dalam Prasasti Kalasan.