Kontroversi tokoh sang Ratu Sanjaya Rakai Mataram dan Sri Maharaja Rakai Panangkaran

D. Beberapa Kelemahan Teori Para Ahli

Pandapat J.L. Moens yang mengatakan bahwa Sanjaya berasal dari Kunjarakunjadesa yang terdesak oleh Sriwijaya dan pindah ke Pulau Jawa itu memiliki kelemahan, karena tidak berdasarkan fakta yang kuat. Penyebutan nama daerah di India Selatan itu, terang hanya sebuah penganalogian. Seperti kita ketahui bahwa penganalogian seperti itu sering digunakan pada masa kuno di Indonesia.

Sebagai contoh: dalam Prasasti Tugu dari jaman Tarumanagara, disebutkan dua nama sungai terkenal di Panjab (India Utara) yaitu Candrabagha dan Gomati,[27] namun ternyata kedua sungai yang digali itu terdapat di Pulau Jawa. Dan ini bisa dijadikan pegangan dalam masa Sejarah Kuno Indonesia untuk pembuktian.

Penganalogian tersebut diperlukan untuk memperkuat legitimasi spiritual sebuah peristiwa atau hal apapun yang akan dilakukan oleh para penguasa sehingga mendapat dukungan dari rakyat. Karena penganut Hindu di dunia berkiblat ke India, dengan sendirinya nama-nama tempat yang dianggap keramat pun akhirnya digunakan juga di daerah yang terpengaruh oleh proses Indianisasi, termasuk di Indonesia.

Selain itu, nama Yawa-Dwipa yang oleh Moens dianggap sebagai  awal dari nama asli Semenanjung Malaya, terang sekali memiliki kelemahan. Jika kita berpedoman pada Kitab Ramayana, Yavadwipa yang dikatakan sebagai Pulau Perak memang digunakan untuk menyebut Pulau Jawa yang dikatakan telah dihiasi oleh tujuh kerajaan (?).

Juga kitab Geographike Hypegesis karya Ptolomeus itu menyebut Argyre Chora (negeri perak) dan menyebut sebuah tempat yaitu Iabadiou (Pulau Jelai). Yawa adalah bahasa Sansekerta untuk jelai. Diou adalah diwu dalam bahasa Parkit-nya dan dwipa dalam bahasa Sansekerta, artinya pulau. Jadi, Iabadiou = Yawadwipa.[28]

Sangat jelas bahwa kata Yawa-dwipa atau dwipa-Javakya dalam Prasasti Canggal ditujukan kepada sebuah pulau, dan susunan kata-kata itu memang benar. Artinya, nama Yawa maupun Javakya selalu dibarengi oleh kata dwipa baik didepan atau dibelakangnya yang menunjukan arti pulau. Dari situ, timbulah pertanyaan kecil geografis; dapatkah semenanjung disamakan dengan pulau?

Tentang nama Kunjarakunja itu, Poerbatjaraka pernah mengemukakan pendapat bahwa yang dimaksud dengan daerah itu ialah daerah Sleman sekarang, berdasarkan arti kata “Kunjara”, yaitu hutan gajah, dan adanya daerah wanua ing alas i Saliman di dalam tiga prasasti pada batu sima.[29]

Pendapat itu sekarang diragukan kebenarannya, karena nama daerah di dalam ketiga prasasti tersebut -sekarang ditambah dengan dua lagi batu sima yang memuat nama daerah itu- harus dibaca wanua ing alas i  Salimar (pakai -r-, pen.). Lagi pula kata kunjarakunja dapat juga berarti Ficus Religiosa atau hutan pohon bodhi dan sejenisnya, karena kata kunjara tidak hanya berarti gajah, tetapi nama beberapa jenis pohon, antara lain pohon bodhi (Ficus Religiosa).[30]

Menurut Slamet Mulyana, dalam Piagam Canggal, Sanjaya menyebut nama tempat Kunjarakunja, penyebutan itu menunjukan adanya hubungan antara wangsa Sanjaya dan India Selatan dalam soal agama (India Selatan = pusat agama Siwa kala itu), atau mungkin sekali juga asal usul nenek moyangnya. Pada masa pemerintahan rajakula Sailendra, termasuk Rakai Panangkaran yang menyebut dirinya hiasan rajakula Sailendra, hubungan agama itu tidak dengan India Selatan tetapi dengan Benggala.

Pada Piagam Kelurak dari tahun 782, terbukti bahwa upacara pembukaan arca manjusri dipimpin oleh Sailendrarajagur Kumaragosha dari Gaudadwipa. Hubungan agama di Jawa dan Sumatera pada masa pemerintahan rajakula Sailendra terutama dengan Benggala sebagai pusat agama Buddha Mahayana. Kumaragosha adalah seorang pendeta Buddha dari Benggala.[31]

Slamet Mulyana pun tampaknya terjebak dengan konsepsi yang dikeluarkan oleh Moens bahwa nenek moyang Sanjaya berasal dari Kunjarakunjadesa di India Selatan. Kunjarakunja menurut hemat penulis, lebih tepat bila dianggap berdasarkan fungsinya sebagai pusat agama Siwa bukan sebagai tempat asal dari sebuah keluarga.

Mengenai tokoh Sailendrarajagur Kumaragosha dalam Piagam Kelurak pun, tampaknya harus dianggap bahwa wangsa Sailendra yang beragama Buddha memang memiliki hubungan keagamaan dengan Benggala, dan tokoh tersebut merupakan guru yang didatangkan dari daerah tersebut, jadi tidak harus diartikan bahwa Sailendra juga berasal dari India. 

Mengenai Piagam Gata (771 M) yang menyebut nama Sri Maharaja Daksottamabahubajra dan Piagam Taji Gunung (772 M) yang menyebut Mahamantri Rakryan Gurunwangi, kedua prasasti tersebut memang menggunakan tarikh Sanjaya (Sanjayawarsa). Slamet Mulyana meyakini bahwa Raja Daksottamabahubajra adalah keturunan Sanjaya yang berhasil dikalahkan oleh Panangkaran dari wangsa Sailendra, sehingga tampak terlihat bahwa wangsa Sanjaya dikalahkan oleh wangsa Sailendra sejak tahun 772 Masehi, karena setelah tahun 772 tidak ada lagi raja Mataram yang mengeluarkan prasasti dengan menggunakan tarikh Sanjaya tersebut.

Semua itu masih diperdebatkan, namun Slamet Mulyana menganggapnya sebagai suatu kepastian. Apabila demikian, timbulah sebuah pertanyaan; mengapa Daksottamabahubajra tidak dimasukan kedalam Prasasti Kedu (Mantyasih), bukankah sangat jelas ia bergelar Sri Maharaja? Dan apakah benar tokoh Daksottamabahubajra beserta Mahamantri Rakryan Gurunwangi hidup sejaman pada masa Panangkaran?

Tafsir sejarah dari Piagam Gata dan Taji Gunung sangat penting, untuk mengetahui bagaimanakah proses penyerahan kekuasaan (transfer of authority) dari Sanjaya kepada Panangkaran, apakah terjadi secara damai seperti yang diberitakan dalam Prasasti Sankhara dan Kitab Carita Parahiyangan (tanpa disela oleh raja lainnya, baca: Sri Maharaja Daksottamabahubajrapratipaksaksaya Sri Tunggawijaya) atau terjadi secara kekerasan melalui penaklukan militer oleh Rakai Panangkaran terhadap Daksottamabahubajra raja keturunan Sanjaya seperti yang diinterpretasikan oleh Slamet Mulyana?

Mengenai hal itu, berikut ini adalah pembahasannya: sebuah berita Cina dari Dinasti Sung menyebut sebuah nama yaitu ta-tso-kan-hiung, yang oleh Boechari ditafsirkan dengan Daksa, saudara (raja) yang gagah berani. Daksa pada masa Raja Balitung menjabat sebagai Mahamantri I Hino atau putera mahkota namun ia bukan keturunan dari Rakai Watukura Dyah Balitung, melainkan dari Sanjaya.

Ia berhasrat untuk menjadi raja sebagai pewaris tahta yang berhak. Maka dari itu, ia mengeluarkan Prasasti Taji Gunung dengan menggunakan tarikh Sanjaya yaitu 194 Sanjayawarsa (21 Desember 910 / 911 M).[32] Setelah menjadi raja, ia mengeluarkan lagi satu prasasti juga dengan tarikh Sanjaya, yaitu Prasasti Timbangan Wungkal tahun 196 Sanjayawarsa (11 Februari 913 M).[33]

Penulis mengikuti pembacaan Sanjayawarsa dari L.C. Damais. Penjelasan perhitungan matematisnya, adalah sebagai berikut: Prasasti Taji Gunung (Prasasti Gata) bertarikh Saka 833 (911 M).[34] Sekarang, tahun Saka 833 dikurangi 194 Sanjayawarsa = 639 S (717 M). Prasasti Timbangan Wungkal (Prasasti Taji Gunung): tarikh Saka 835 (913 M), lalu 835 S lalu dikurangi 196 Sanjayawarsa = 639 S (717 M). Kedua prasasti ini mengacu kepada tahun 639 S (717 M) sebagai tahun awal bangkitnya Raja Sanjaya itu. Jadi pembacaan kedua prasasti tersebut oleh Slamet Mulyana kiranya kurang tepat.

Sekarang dapatlah ditarik benang merahnya bahwa Raja Daksa dan Mahamantri Rakryan Gurunwangi tidak hidup sejaman dengan Panangkaran tetapi dengan Rakai Watukura Dyah Balitung, dan proses penyerahan kekuasaan dari Raja Sanjaya kepada Rakai Panangkaran terjadi secara wajar, seperti diberitakan dalam Prasasti Sankhara dan Carita Parahiyangan.

E. Hipotesis

Telah disebutkan bahwa tarikh Sanjaya dimulai pada tahun 717 M.  Ketika itu Raja Sanjaya bangkit untuk melanjutkan kerajaan ayahnya (Sanna) yang telah hancur diserang musuh. Selama kurun waktu dari 717 M hinggga 732 M, Sanjaya melakukan ekspedisi penaklukan keberbagai daerah, termasuk ke timur (Jawa Tengah).

Hal ini dilakukan karena kerajaan-kerajaan bawahan pada masa Sanna telah memerdekakan diri ketika tahu bahwa Raja Sanna telah berhasil ditaklukan oleh musuhnya itu. Maka, pada tahun 732 M. setelah kerajaan-kerajaan yang dahulunya merupakan kerajaan bawahan ayahnya telah berhasil ditaklukan kembali, segeralah Sanjaya mendirikan kerajaan baru lengkap dengan istana dan candi Siwa (Prasasti Canggal) di Medang wilayah Pohpitu.

Hipotesis yang akan diajukan dalam tulisan ini adalah: Sanjaya merupakan seorang raja berdarah Indonesia asli yang berasal dari Tatar Sunda. Ia mendirikan kerajaan Medang di Jawa Tengah karena kerajaan dan istana warisan ayahnya telah hancur diserang musuh maka ia mendirikan kerajaan baru di Pohpitu.

Dalam waktu yang relatif bersamaan (awal abad ketujuh Masehi) di Jawa Tengah bagian utara muncul Dapunta Sailendra (Prasasti Sojomerto)[35] dan pada perkembangannya kemudian bentrok kekuasaan dengan Raja Sanjaya. Maka dari itu dilakukanlah perkawinan politik. Ini baru sebuah dugaan bahwa Raja Sanjaya pernah menikahi seorang Puteri keturunan Sailendra yang sampai sekarang kita tidak tahu namanya, dan dari hubungan keluarga itulah lahirnya Rakai Panangkaran.

Slamet Mulyana keberatan bahwa Rakai Panangkaran adalah putera Sanjaya, karena dalam prasasti yang pernah dikeluarkan olehnya tidak pernah menggunakan tarikh Sanjaya. Menurut hemat penulis, hal seperti itu tidak perlu dipermasalahkan, karena Rakai Pikatan yang seorang turunan Sanjaya-pun bahkan tidak pernah menggunakan tarikh Sanjaya. Jadi sangat jelas bahwa tarikh Sanjaya hanya digunakan oleh Daksa pada masa Balitung sebagai alasan, karena memerlukan legitimasi untuk menunjukan bahwa ia adalah keturunan Sanjaya guna mencapai kekuasaan dalam menggantikan Raja Balitung.

Pada Prasasti Kedu sudah sudah jelas Panangkaran disebut setelah Sanjaya. Pada Prasasti Sankhara disebutkan bahwa Rakai Panangkaran telah menjadi penganut ajaran Buddha dan melepaskan agama Hindunya. Juga dalam Prasasti Wanua Tengah (III) yang menyebut nama Rakai I Hara yang beragama Siwa memiliki anak yaitu Rakai Panaraban, ini sesuai dengan isi Prasasti Sankhara, Carita Parahiyangan dan kropak 406.

Dalam Carita Parahiyangan pun dikisahkan bahwa Rahiyang Sanjaya menyuruh anaknya Rahiyangta Panaraban untuk tidak menganut agama yang dianutnya karena takut pada gurunya yang tidak benar, karena itulah ia menjadi penganut ajaran Buddha Mahayana dan menumbuhkan Sailendrawangsa.[36]

Kenapa Sailendra yang dijadikan sebagai wangsa di Mataram pasca wafatnya Sanjaya oleh Rakai Panangkaran? Penulis berpendapat demikian: Seruan kepada keluarga Sanjaya yang beragama Siwa untuk beralih kepada Buddha Mahayana gagal dilakukan oleh Rakai Panangkaran pasca wafatnya Raja Sanjaya. Ia pun lalu menghimbau agar keluarga Sailendra yang beragama Siwa, juga beralih agama ke Buddha Mahayana.
Himbauan kepada keluarga Sailendra untuk menganut ajaran Buddha Mahayana ternyata berhasil dilakukan oleh Panangkaran, karena sejatinya keluarga Sailendra berasal dari Sriwijaya yang pada saat itu dikenal sebagai pusat agama Buddha di Asia Tenggara, dengan demikian tidaklah aneh kiranya bila Rakai Panangkaran selanjutnya disebut sebagai perhiasan wangsa Sailendra dalam Prasasti Kalasan.

F. Kesimpulan

Dari hipotesis ini dengan sendirinya, akan terlihat bahwa dalam sejarah kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah terdapat dua wangsa. Sanjaya tidak sama dengan Sailendra, karena Sanjaya sendiri tidak pernah menyebut dirinya sebagai tokoh Sailendra dalam prasasti terpentingnya yaitu Prasasti Canggal. Selain itu, Dapunta Selendra dalam Prasasti Sojomerto sangat jelas menyatakan dirinya anak dari Santanu dan Bhadrawati.

Kedua wangsa itu pernah bersatu pada masa Raja Sanjaya karena keduanya beragama Siwa. Namun, ketika masa Rakai Panangkaran, wangsa Sailendra dimunculkan dan menganut agama Buddha Mahayana. Baru di kemudian hari yaitu pada masa Rakai Pikatan, wangsa Sanjaya yang beragama Siwa kembali berkuasa, melalui pernikahan politiknya dengan Pramodawardhani dari wangsa Sailendra yang telah  menjadi penganut ajaran Buddha Mahayana.

Meskipun telah menggunakan sumber primer dan sekunder, namun rekonstruksi sejarah Raja Sanjaya dan keluarganya masih tetap menjadi perdebatan dikalangan para ahli. Prasasti sebagai sumber primer memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Mengingat prasasti biasanya ditulis pada masa raja yang sedang berkuasa, maka nilai obyektifitasnya tidak diragukan lagi, namun prasasti juga memiliki kelemahan karena tidak dapat menguraikan lebih banyak.

Di sisi lain ada sumber yang sebenarnya dapat digunakan, meskipun faktor subyektifitas begitu kental membayangi karena menceritakan begitu panjang lebar suatu peristiwa, yaitu suntingan naskah-naskah kuno yang telah diteliti oleh para filolog (termasuk Carita Parahiyangan dan Kropak 406, pen.) sangat bermanfaat untuk melengkapi informasi sejarah yang terdapat pada prasasti. Penulis sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Saleh Danasasmita tentang perlunya peninjauan kembali sejarah Jawa Tengah yang semasa dengan Sanjaya, yaitu sebagai berikut:

“kita harus mencoba memandang sumber-sumber yang ada pada kita (walaupun sangat minim) secara keseluruhan, dalam kaitan-kaitannya yang logis. Apa yang dianggap kontradiksi antarsumber, tidak mustahil sebenarnya merupakan kontradiksi antara sumber-sumber tersebut dan teori yang ada. Tokoh Sanjaya dalam Carita Parahyangan, misalnya, haruslah kita selidiki sungguh-sungguh dengan segala konsekuensinya. Dalam hal ini, tidaklah mustahil teori yang ada tentang Sejarah Jawa Tengah sekitar masa Sanjaya perlu ditinjau kembali“ (Seri Sundalana-5, 2006, hal. 41,42).

Akhirnya, penulis sangat berterima kasih kepada sejarawan, filolog, epigraf dan arkeolog yang ditulis nama-namanya dalam tulisan ini. Dari tulisan hasil penelitian mereka-lah penulis bisa menyusun karya tulis ini. Berdasarkan hal tersebut, sangat perlu diadakannya penelitian lebih lanjut agar sejarah lebih mendekati kebenarannya. ***

“ Orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya, dan kenyataan bahwa sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan di sepanjang waktu, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah itu perlu.”

Kuntowijoyo, Guru Besar Ilmu Sejarah UGM (1943-2005)

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS-UPI Bandung angkatan 2003, memiliki minat yang besar tentang Sejarah Kuno Indonesia, mantan Ketua Bidang V Sosial Kemasyarakatan HIMAS (Himpunan Mahasiswa Sejarah) periode 2005-2006, anggota Perhimpunan Mahasiswa Pencinta Alam Dan Budaya MARGASOPHANA (angkatan 19 / Giriwasa), anggota FKPPA-UPI (Forum Komunikasi Perhimpunan Pencinta Alam).

Catatan Kaki
[1] Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta, 2005, hal. 90., Metodologi Sejarah, 2003, hal. 4. ; Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah, Yogyakarta, 2007, hal. 24.
[2] H. Kern: VG., VII, hal. 115-128. De Sanskrit-Inscrip Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, Jakarta, 1993, hal. 98,99. Lihat juga Slamet Mulyana: Sriwijaya, Yogyakarta, 2005,hal. 182,183.
[3] Ibid., Slamet Mulyana, 2005,  hal. 11,12.
[4] Ibid., hal. 179,180. 
[5] Ibid., hal. 184, 185.
[6] Ibid., hal. 185, 186.
[7] Ibid., hal. 187.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Ibid., hal. 18.
[12] Drs. Atja, Tjarita Parahiyangan, Bandung, 1969, hal. 5.
[13] Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia I, Jakarta, 1952.
[14] Sejarah Daerah Jawa Barat, Jakarta, 1979, hal. 50.
[15] D.G. Stibe, Encyclopedie van Nederlandsch Indie, Verde Deel, sGravenhage-Martinus Nijhof, 1922,    hal. 370., Ibid, hal. 50.
[16] Drs. Atja, 1966, op.cit., hal. 19.
[17] Sejarah Daerah Jawa Barat,  1979, op.cit., hal. 51-53.
[18] Carita Parahiyangan menyebutkan bahwa Sanjaya bahkan menaklukan Malayu, Khmer, dan Cina. Namun, mengingat bahwa nilai historis dari naskah tesebut masih dipertanyakan maka hal ini diragukan. Lihat pembahasan ini dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, op.cit., hal. 102.
[19] Ibid., hal. 103, 104 dan 109, Poerbatjaraka mempercayai bahwa Raja Sankhara dalam prasasti ini tidak lain adalah Rakai Panangkaran yang disebut setelah Raja Sanjaya dalam daftar nama raja pada prasasti Mantyasih, mungkin nama lengkapnya adalah Rakai Panangkaran Dyah Sankhara Sri Sanggramadhananjaya. Lihat juga Supratikno Rahardjo, Religi Dalam Dinamika Masyarakat, 2005, Bandung, hal. 68.
[20] Penulis sangat berterima kasih kepada Bapak Achmad Iriady, dosen pada Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS-UPI Bandung  yang telah memberikan masukan agar digunakan pula Prasasti Wanua Tengah III dalam tulisan ini. Lihat juga Marwati Djoened…Ibid., hal. 116.
[21]   Saleh Danasasmita, “Ya nu Nyusuk na Pakuan”, dalam Seri Sundalana vol.5: Mencari Gerbang Pakuan, Pusat Studi Sunda; Bandung, 2006, hal. 41. Nama yang bertanda kurung = nama menurut kropak 406.
[22] Pusat Studi Sunda
[23] TBG LIII (1911), hal. 297 dalam Seri Sundalana…Ibid.,  hal. 17,18.
[24] Menurut Poerbatjaraka, gelar darma biasanya menunjukan hubungan waris karena hukum dalam kedudukan sebagai menantu Ibid.
[25] Di daerah Kebon Kopi, Bogor, Jawa Barat ditemukan Prasasti Rakeyan Juru Pangambat, menggunakan bahasa Melayu kuno dan huruf Jawa kuno dengan candrasangkala; Kawihaji Panca Pasagi yang sama dengan 854 S / 932 M. dalam prasasti ini menyebut; “…ba (r) pulihkan parahijan sunda…” yang artinya “…memulihkan kekuasaan raja sunda…” (Pleyte,1914: 257-280), kekuasaan raja yang dipulihkan adalah raja Tarumanagara ke-12 (terakhir) yaitu Linggawarman dimana Tarumanagara runtuh pada akhir abad ke-7 M. karena tidak mempunyai putera mahkota sehingga  Kerajaan Tarumanagara tidak disebut lagi dalam berita Cina sejak tahun 669 M., yang memulihkan (meneruskan kekuasaan) adalah Tarusbawa salah seorang menantu Linggawarman dan mendirikan Kerajaan Sunda (Atja & Ayatrohaedi, 1986: 157,227), lihat juga pembahasan lebih lanjut dalam Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda Jilid I hal. 1-3 dan jilid II Bab III, lihat juga Kresno Yulianto (ed), Tradisi Makna Dan Budaya Materi, 2004, Bandung, hal. 35,36.
[26] Op. Cit., Seri Sundalana.
[27] Ibid.,  lihat pembahasan lebih lanjut hal. 41.
[28] Ibid., hal. 7.
[29] Poebatjaraka, op. cit., hal. 1952. 57,58.
[30] Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, op.cit., 1993, hal. 102. Lihat juga Poerbatjaraka, 1952, hal. 66.
[31] Slamet Mulyana, 2005, op.cit., hal. 19
[32] Angka tahun ini dibaca oleh Brandes sebagai 694 Sanjayawarsa, yang diikuti oleh N.J. Krom dan Mulyana. Goris mengusulkan pembacaan 172 atau 174 Sanjayawarsa. Tetapi berdasarkan perhitungan unsur-unsur penanggalan L.C. Damais membacanya sebagai 194 Sanjayawarsa, yang sama dengan tahun 910 M (911 M)., sehingga dapat diketahui bahwa Sanjayawarsa dimulai pada tahun 717 M, yang mungkin merupakan tahun permulaan pemerintahan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Lihat Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1993, op.cit., hal. 144,145.
[33] O.J.O. (Oude Javansche Oorkonden), XXXVI. Brandes membaca angka tahunnya sebagai 693 Sanjayawarsa, yang diikuti oleh Krom dan Mulyana, sedang Goris membacanya 176 Sanjayawarsa, namun angka tahun 196 disini mengikuti pembacaan dari L.C. Damais., Ibid.
[34] Catatan penulis: selisih tahun Saka dengan Masehi adalah 78 tahun (lebih tua tahun Masehi).
[35] Isi Prasasti Sojomerto: Dapunta Selendra penganut agama Siwa, Santanu nama ayahnya dan Bhadrawati nama ibunya, serta istrinya yang bernama Sampula. Karena prasasti ini berbahasa Melayu.
[36] Pengalaman buruk inilah yang mungkin membuat Rakai Panangkaran lebih condong kepada wangsa Sailendra dari pihak ibunya. Masa yang lebih lampau, dalam sejarah Asia Selatan, hal yang demikian pernah terjadi meski latarbelakangnya berbeda, yaitu lahirnya dinasti Maurya oleh Candhragupta, anak raja Nanda ini tidak menggunakan nama ayahnya untuk meneruskan wangsa setelah berhasil mengkudeta Nanda, namun dari nama ibunya yaitu Mura selir dari Raja Nanda berkasta Sudra karena ketidaksukaannya terhadap Nanda. Lihat; Abu Suud, Memahami Sejarah Bangsa-Bangsa Di Asia Selatan, Jakarta, 1988, hal. 136-139.
[37] Siti Baroroh Baried, dkk, Pengantar Teori Filologi, Jakarta, 1985, hal. 22.

Referensi:
[1] Atja. 1968. Tjarita Parahijangan ( Titilar Karuhun Urang Sunda Abad Ka-16 Masehi). Bandung: Jajasan Kebudajaan Nusalarang.
[2] Atja & Ayatrohaedi. 1986. Nagarakretabhumi 1.5. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
[3] Ekadjati, Edi S. 2005. Kebudayaan Sunda (jilid I). Jakarta: Pustaka Jaya.
[4] ____________. 2005. Kebudayan Sunda (Jilid II). Jakarta: Pustaka Jaya.
[5] Baried, Siti Baroroh, dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
[6] Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI-Press.
[7] Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
[8] __________. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.
[9] Mulyana, Slamet. 2005. Sriwijaya. Yogyakarta: LKIS.
[10] Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
[11] Poerbatjaraka. 1952. Riwayat Indonesia I. Jakarta: Yayasan Pembangunan.
[12] Pleyte, C.M. 1914. “Een Pseudo Padjadjaransche Kroniek”. TBG; LVI. (Dalam Edi S. Ekadjati; Kebudayaan Sunda, Jilid I).
[13] Rahardjo, Supratikno. 2005. Religi Dalam Dinamika Masyarakat. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Jawa Barat-Banten.
[14] Sejarah Daerah Jawa Barat. 1979. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
[15] Suud, Abu. 1988. Memahami Sejarah Bangsa-Bangsa Di Asia Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
[16] Seri Sundalana 5: Mencari Gerbang Pakuan. 2006. Bandung: Pusat Studi Sunda.
[17] Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
[18] Yulianto, Kresno. 2004. Tradisi Makna dan Budaya Materi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Jawa Barat – Banten.