Sejarah Pulau Onrust

Pemberangkatan Tim Ekspedisi Pulau Onrust
Tim ekspedisi Pulau Onrust Margasophana terdiri dari anggota Margasophana dan anggota-anggota dari FKPPA-UPI Bandung (Forum Komunikasi Perhimpunan Pencinta Alam UPI Bandung) sebagai perwakilan. Dari Margasophana terdiri dari: Muhammad Rizal Supriatna, Yoga Prayoga, Agustina, Indra Lesmana, dan Aku. Sedangkan dari FKPPA yaitu; Muhammad Ilham Fauzie (Gandawesi),  Tamtam Pratama (Paser), Rian (Biocita), dan Hasby Nuhrinas Anshori (Mapad Purpala). Tim berangkat dari kota Bandung pada hari Jumat tanggal 26 September 2014 dengan menggunakan kereta dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Gambir, Jakarta. Kami sepakat bertemu di pelabuhan Muara Kamal pada hari sabtu pagi pukul 08.00 wib.

Persiapanku sudah selesai sehari sebelum berangkat. Semua sudah di packing mulai dari tenda, pakaian ganti, jaket, survival kit, dan perbekalan makanan, serta air mineral.  Keesokan harinya, aku berangkat dari Kebayoran Baru menuju lokasi, yaitu Muara Kamal. Berangkat pukul 06.00 pagi dan tiba di lokasi pukul 07.30 wib, perjalanan yang cukup panjang namun lancar. Di Muara Kamal aku bertemu dengan mereka dan langsung memeriksa kembali perbekalan sambil menunggu anggota tim lainnya yang belum hadir yaitu Indra Lesmana yang juga membawa serta adiknya.

Setelah beberapa saat, Indra Lesmana dan sang adik pun tiba, kami lantas bergegas untuk berangkat. Tepat pukul 08.00 wib kami berangkat menuju Pulau Cipir sebagai pulau pertama dari Ekspedisi Pulau Onrust yang akan kami amati. Kapal akhirnya merapat di dermaga Pulau Cipir, pukul 08.45 wib. Agak sedikit telat dari jadwal kedatangan yang seharusnya kami tiba pukul 08.30 wib, hal ini dikarenakan kapal yang kami tumpangi sempat berhenti ditengah laut karena adanya gangguan mesin dan baling-baling yang tersangkut akar.

Di Pulau Cipir ini, kami mengamati bangunan-bangunan tua yang hampir seluruhnya sudah tidak utuh lagi. Ada bangunan benteng bekas pertahanan VOC, bangunan rumah sakit sebagai tempat karantina haji, serta meriam berukuran besar peninggalan Belanda. Pukul 09.30 wib, setelah semua didokumentasikan oleh Agustina yang bertugas sebagai dokumentator selesai, kami pun kembali ke dermaga dan menaiki kapal untuk menuju Pulau Onrust sebagai pulau utama dalam perjalanan ekspedisi ini, karena di pulau inilah kami akan bermalam dengan mendirikan tenda.

Perjalanan ke Pulau Onrust dari Pulau Cipir hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja, kami tiba di dermaga Pulau Onrust pukul 09.45 wib, hari masih pagi dan cuaca saat itu sangat bersahabat, setelah berfoto bersama di dermaga Pulau Onrust, kami langsung melangkah menelusuri jalan berpasir mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda dan memasak persiapan makan siang. Pulau Onrust ini cukup bersih, udaranya cukup segar dan suasana lingkungannya rindang karena banyaknya pepohonan yang bisa melindungi kami dari terik cahaya matahari.

Sebagai tempat wisata sejarah, Pulau Onrust ini memiliki fasilitas yang cukup memadai. Terdapat kantor dan pos jaga pembelian karcis, sebuah warung milik penduduk,  fasilitas MCK, serta mushola. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah adanya bangunan museum yang berisi koleksi berupa artefak-artefak kuno hasil ekskavasi arkeologi.


Pagi yang cerah di Pulau Onrust tidak kami sia-siakan untuk mengabadikan pulau bersejarah ini. Pendokumentasian dilakukan oleh anggota kami Agustina dengan sebuah kamera dslr Canon D1200 dan kamera handphone dari teman-teman lainnya. Pendokumentasian bangunan karantina haji, museum, komplek pemakaman orang-orang Belanda, makam tokoh DI/TII Jawa Barat Kartosuwiryo, lingkungan ekologi Pulau Onrust dan sekitarnya. Kegiatan ini terus berlanjut hingga petang hari sembari menunggu moment sunset di Pulau Onrust.

Tidak lupa juga, kami mewawancarai penduduk yang sudah lama menghuni Pulau Onrust ini, rata-rata mereka bekerja sebagai pedagang, nelayan, dan petugas kebersihan di Pulau Onrust. Ada yang berasal dari Jakarta, Jawa, dan ada pula yang berasal dari Makassar. Kehidupan mereka sangat sederhana, meskipun demikian adanya, mereka tetap merasa senang tinggal di Pulau Onrust ini, bagi mereka Pulau Onrust ini memberikan rasa damai tersendiri.

Menjelang malam, kami sibuk memasang tenda, membuat api unggun, dan memasak untuk persiapan makan malam. Perbekalan kami keluarkan dan kami masak bersama-sama. Ada suasana kekeluargaan dan persahabatan di antara kami satu sama lain. Tidak hanya sesama anggota Margasophana namun juga sesama anggota FKPPA-UPI Bandung. Suasana seperti ini mampu menghilangkan rasa lelah seharian setelah melalui perjalanan, dan kegiatan observasi dan pendokumentasian. Malam itu kami saling bertukar pikiran, pengalaman, dan mendiskusikan isu-isu kepencinta-alaman hingga larut dan akhirnya istirahat.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami sarapan dan berkemas untuk persiapan pulang. Namun sebelum itu, sambil menunggu kapal datang, kami sempatkan berfoto bersama di Museum Taman Arkeologi Pulau Onrust dan memasang plang Selamat Datang Di Pulau Bersejarah Onrust sebagai kenang-kenangan Margasophana buah karya kami. Sekitar pukul 09.30 wib, kapal yang akan menjemput kami pun tiba dan kami langsung berangkat. Sebelum pulang ke dermaga Muara Kamal, kami sempatkan untuk berkunjung ke Pulau Kelor. Rasanya kurang afdhal jika ke Pulau Onrust namun tidak mengunjungi Pulau Kelor.

Tiba di Pulau Kelor sekitar pukul 10.00 wib, ada antrian di dermaganya karena banyaknya pengunjung yang datang. Hanya sebentar di Pulau Kelor ini, kami hanya mendokumentasikan sebuah peninggalan bersejarah berupa bangunan benteng berbentuk bundar yang dikenal dengan Menara Martello yang dibangun dari abad ke 19. Pukul 10.30 wib kami kembali ke dermaga untuk pulang dengan tujuan dermaga Muara Kamal. Perjalanan dengan kapal di tengah laut terasa panas karena hari sangat cerah tak berawan. Tim Ekspedisi Pulau Onrust tiba di dermaga Muara Kamal pada pukul 11.00 wib. Di dermaga ini, kami beristirahat sejenak sebelum akhirnya berangkat menuju Kota Tua Jakarta. Kawan kami Indra Lesmana bersama adiknya berpamitan untuk pulang lebih awal.

Perjalanan Muara Kamal-Kota Tua memakan waktu sekitar 30 menit, dalam perjalanan pulang ini, Tim Ekspedisi Pulau Onrust melewati Sunda Kelapa, Menara Syah Bandar, Galangan Kapal (Loji VOC), dan Kota Tua Jakarta. Jika dirunut dari awal perjalanan, mulai dari Pulau Cipir, Pulau Onrust, Pulau Kelor, hingga ke Kota Tua Jakarta, seakan perjalanan ekspedisi Margasophana ini menelusuri jejak orang-orang Belanda yang datang ke Nusantara, khususnya sekitar wilayah Batavia.

Pulau Onrust sebagai benteng pertahanan dan galangan kapal, Sunda Kelapa sebagai pusat kegiatan dagang, dan Kota Tua (kantor J.P. Coen) sebagai pusat administrasi VOC dan pemerintahan kolonial Belanda di masa kemudian. Di Kota Tua inilah aku berpisah dengan teman-teman, mereka akan melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung. Salam perpisahan, canda tawa, dan lambaian tangan menandakan akhir Perjalanan Ekspedisi Margasophana ini. Terima kasih teman-teman, terima kasih Prof Dadan Wildan, terima kasih Margasophana!