Kontroversi tokoh sang Ratu Sanjaya Rakai Mataram dan Sri Maharaja Rakai Panangkaran

C. Naskah Sebagai Sumber Sekunder

Selain sumber primer berupa prasasti, masih ada dua sumber lainnya berupa naskah dalam usaha menelusuri jati diri tokoh Sanjaya dan Panangkaran. Naskah pertama adalah Carita Parahiyangan, yang cukup panjang lebar menceritakan tentang sejarah Mataram Hindu. Carita Parahiyangan sesungguhnya lebih banyak bercerita tentang sejarah tanah Pasundan, yaitu menceritakan Kerajaan Galuh di daerah Ciamis.

Perlu untuk diketahui bahwa bagian akhir dari Carita Parahiyangan, melukiskan tentang keruntuhan Kerajaan Pajajaran sebagai akibat serangan Islam yang mulai menyebar dan berkembang di Jawa Barat. Menurut perkiraan, naskah kuno tersebut ditulis pada akhir abad ke-16 Masehi.[12]

Bagian awal juga bagian tengah kitab itu, mungkin sekali ditulis dan disusun berdasarkan atas cerita tradisi yang hidup di kalangan penduduk, dan disampaikan dari mulut ke mulut atau mungkin juga dikutip dari bahan-bahan tulisan yang tidak sampai kepada kita. Dalam kitab tersebut, dikemukakan para tokoh yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Galuh.

Walaupun secara kronologis sukar untuk diurutkan, sebab tidak disebutkan angka tahun pemerintahannya. Namun yang  menarik perhatian adalah ternyata dalam Kitab Carita Parahiyangan  disebut-sebutnya  sebuah nama yang juga terdapat dalam Prasasti Canggal dan Mantyasih, yaitu Raja Sanjaya.

Dalam Prasasti Canggal, dikemukakan sedikit tentang keluarga Sanjaya, yaitu ia sebagai putra Sannaha. Orang yang disebut belakangan itu tentu ibunya, yang dikatakan bersaudara dengan Raja Sanna. Yang lebih menarik perhatian lagi adalah dalam Kitab Carita Parahiyangan juga disebutkan, bahwa Sanjaya adalah putra Raja Sena, yang pernah dibuang ke Gunung Merapi.

Dari persamaan dan kemiripan diantara kedua sumber pemberitaan itu, lalu timbulah pendapat yang menghubungkan, bahwa nama Sanjaya dalam Carita Parahiyangan, yang disebut-sebut sebagai raja Galuh adalah tokoh yang sama dalam Prasasti Canggal. Demikian juga nama Sena diidentikan dengan Sanna dan Gunung Merapi disamakan dengan Gunung Merapi dekat Gunung Sumbing di Jawa Tengah.[13]

Dari informasi lain, Gunung Merapi itu disamakan dengan Bukit Merapi yang terletak di daerah Kuningan, yakni di Jawa Barat sendiri. Mungkin persamaan ini yang lebih cocok dengan lokasi Carita Parahiyangan, akan tetapi masih harus diperjelas latar belakang kemungkinannya. Mungkin perkiraan yang berikut ini akan lebih cerah kebenarannya.[14]

Gunung Merapi yang dianggap sebagai tempat pembuangan atau pengungsian Raja Sena sehingga orang ini mendapat turunan yang bernama Sanjaya, ialah gunung yang sampai sekarang dikenal dengan nama Gunung Ciremai. Di daerah lereng Gunung Ciremai-lah Sena disingkirkan. Di lereng Gunung Ciremai sebelah Tenggara terdapat sebuah bukit yang disebut Sanghiang Comot.

Di bukit ini terdapat petilasan berupa fragmen batu-batu yang merupakan pecahan lingga, yoni, nandi dan batu-batu ceper lainnya. Jelas sekali petilasan bangunan pemujaan agama Siwa. Kemungkinan besar, petilasan ini bekas bangunan candi yang sebagian bahannya dibangun dari kayu atau bambu.

Nama Ciremai mungkin pada saat Sena dibuang belum dikenal. Gunung tersebut pada waktu itu lebih dikenal karena keadaan fisiknya sebagai suatu gunung berapi. Sampai pada permulaan abad ke-19 Masehi, Gunung Ciremai masih menunjukan keaktifannya sebagai gunung berapi. Hal ini dinyatakan dalam pemberitaan geologis, bahwa pada tahun 1772 dan 1805 Masehi,[15] gunung tersebut pernah meletus.

Kenyataan ini menunjukan bahwa jauh sebelumnya, Gunung Ciremai dikenal sebagai gunung berapi, dan pada jaman hidup Sena dan Sanjaya kemungkinan besar masih menunjukan keaktifannya yang serius. Perkataan marapi atau merapi barulah diartikan terhadap kenyataan itu. Marapi artinya mengandung api atau mengeluarkan api.

Di Indonesia sendiri, hanya ada dua gunung berapi yang diberi nama merapi, yaitu Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Marapi di Sumatra Barat dekat Padang. Karena kondisi inilah, pada masa Sena dan Sanjaya juga masa Carita Parahiyangan, Gunung Ciremai dikenal sebagai gunung berapi atau “merapi”. Istilah tersebut sebaiknya tidak diidentikan dengan Gunung Merapi di Jawa Tengah, tetapi sebaiknya diartikan berdasarkan sifatnya.  

Tidak banyaknya identifikasi nama-nama tokoh dalam Carita Parahiyangan, menimbulkan keraguan. Nama Sannaha yang menurut Prasasti Canggal sebagai ibu dari Sanjaya, tidak disebut dalam Carita Parahiyangan. Perlu juga disadari bahwa perbedaan waktu yang sangat jauh antara tahun prasasti (732 Masehi) dengan ditulisnya Carita Parahiyangan tersebut yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke 16 Masehi memang menimbulkan pro dan kontra.[16]

Carita Parahiyangan juga menyebutkan berulang kali, bahwa dalam waktu yang hampir bersamaan dengan masa Sanjaya, di daerah Kuningan Jawa Barat terdapat sebuah Kerajaan bernama Sang Wulan Sang Tumanggal Sang Pandawa di Kuningan. Mungkin juga nama-nama yang disebutkan didepannya itu merupakan nama-nama raja. Yang memerintah dikala itu adalah tohaan Sang Seuweukarma atau Rahiyangtang Kuku  menjadi raja di Kuningan dan berpusat di Arile, kemudian di Saunggalah. Sayangnya, letak Arile dan Saunggalah hingga kini belum diketahui secara pasti. 

Kembali mengenai keluarga Sanjaya.[17] Selagi kecil ia bernama Rakean Jambri. Ia adalah cucu raja Galuh yang bernama Rahiangtang Mandiminyak. Disebutkan pula  bahwa Rahiangtang Mandiminyak ialah anak Rahiangtang Menir. Saudara Mandiminyak semuanya adalah dua orang.

Yang sulung bernama Rahiangtang Sempakwaja, bergelar Batara Dangiang Guru di Galunggung, yang kedua bernama Rahiangtang Kidul bergelar Batara Iyang Buyut di Denuh dan terakhir adalah Rahiangtang Mandiminyak sendiri yang menjadi raja di Galuh. Selaku raja Galuh, ia menggantikan Rahiangtang Rawunglangit yang memerintah di Galuh selama 60 tahun.

Dari hubungan gelapnya dengan Pwah Rababu istri Rahiangtang Sempakwaja, Mandiminyak memperoleh seorang putra yang karena hasil perbuatannya yang tidak sah itu dinamakan Sang Salah. Kemudian anak inilah yang bergelar Sang Sena. Sempakwaja dari Pwah Rababu mempunyai dua orang putra, yaitu Rahiyangtang Purbasora dan Rahiang Demunawan.  

Sang Sena menggantikan ayahnya Mandiminyak menjadi raja Galuh selama 7 tahun. Pada masa pemerintahan Sang Sena ini, timbul perebutan kekuasaan yang dipimpin oleh putra Sempakwaja yaitu Pubasora. Pada hakekatnya kedua orang tersebut berdarah satu ibu, yaitu tetesan Pwah Rababu dan merupakan saudara misanan melalui ayahnya masing-masing. Sementara perebutan kekuasaan dapat dilakukan, Sang Sena kemudian dibuang ke sebuah tempat yaitu gunung “merapi”.

Di tempat itulah seperti telah disebutkan tadi, Sang Sena memperoleh putra selama dalam pengasingannya. Putra itu bernama Rakean Jambri alias Sanjaya. Setelah dewasa ia berhasil merebut kekuasaan dari tangan Purbasora, kemudian Sanjaya menjadi raja Galuh dan banyak melakukan penaklukan terhadap kerajaan yang dahulunya adalah kerajaan bawahan Raja Sena yang tidak mau tunduk lagi kepadanya.[18]

Dua buah prasasti penting lainnya yang dapat membantu untuk melengkapi sumber yang telah ada dalam merekonstruksi jati diri Raja Sanjaya, yang pertama  adalah Prasasti Sankhara (koleksi Bpk. Adam Malik).[19] Prasasti itu berisi keterangan bahwa Raja Sankhara telah meninggalkan kebaktian yang lain-lain, juga terhadap Siwa, setelah ia merasa takut kepada gurunya yang tidak benar (anrtaguru bhayas) yang rupa-rupanya telah membuat ayahnya sakit dan wafat.

Sebab di dalam bait sebelumnya dikatakan bahwa ayahnya itu berjanji untuk melaksanakan apa yang telah dikatakan oleh sang guru, karena ia memang mau taat kepadanya. Raja Sankhara kemudian membangun sebuah prasada yang indah, karena ingat akan janjinya sendiri. Dalam bait terakhir pujian terhadap Bhiksu Sanggha. Pujian inilah yang membayangkan kepada kita bahwa Raja Sankhara itu lalu menjadi penganut agama Buddha.

Prasasti kedua, yaitu Prasasti Wanua Tengah (III) tahun 785 Saka atau 10 Juni 863 M.[20] yang ditemukan didaerah Kedu, Jawa Tengah. Prasasti tersebut merupakan prasasti peringatan tentang penetapan daerah sima yang dilakukan oleh Rakai Pikatan Pu Manuku, sedang yang menjadi raja ialah Rakarayan Kayuwangi pu Lokapala.

Yang menarik dari prasasti ini, ternyata pada bagian awalnya menerangkan sebuah silsilah bahwa Rakai I Hara beragama Siwa dan memiliki anak bernama Rakai Panaraban. Adanya nama Rakai Panaraban dalam Prasasti Wanua Tengah (III) mengingatkan kita pada Carita Parahiyangan dan Kropak 406. Rakai I Hara yang disebutkan didalamnya juga sangat mungkin tokoh yang sama dengan ayah Raja Sankhara dalam Prasasti Sankhara.

Selanjutnya, agar jelas, maka akan kita lihat nama-nama raja-raja yang memerintah di Galuh dan silsilah keluarga Sanjaya menurut Carita Parahiyangan, pada skema berikut ini:

Apabila identifikasi tokoh-tokoh itu harus juga dilakukan, maka menurut prasasti Canggal Sanjaya adalah putra Sannaha saudara perempuan Sanna. Orang yang disebut belakangan inilah yang diidentikan dengan tokoh Sang Sena, raja Galuh, menurut Carita Parahiyangan. Hubungan kekeluargaan menurut prasasti itu sebagai berikut:

Kemudian apabila kedua skema yang tertera diatas dihubungkan satu sama lain, akan dapat dihubungkan berdasarkan suatu anggapan, bahwa nama Sannaha adalah putri Raja Mandiminyak dari Parameswari. Sedangkan Sena adalah putra Mandiminyak dari Pwah Rababu sebagai hasil hubungan gelap. Dengan demikian kemungkinannya adalah bahwa Sanna atau Sena dengan Sannaha saudara satu ayah.

Pada suatu ketika, mereka berdua mengadakan hubungan perkawinan yang dimungkinkan karena berbeda ibu, dan dari perkawinan itulah lahirnya Sanjaya. Berdasarkan uraian ini, maka sekarang dibuat garis kekeluargaan dari dua sumber pemberitahuan (Prasasti Canggal dan Carita Parahiyangan) ditambah anggapan tersebut, dengan skema sebagai berikut:

Saleh Danasasmita dalam hal ini menerangkan bahwa: “Secara logis, Mandiminyak sebagai raja tentu mempunyai permaisuri. Dari Permaisuri tersebut, lahirlah seorang puteri. Dialah puteri mahkota yang dalam Prasasti Canggal disebut sebagai Sannaha, saudara perempuan Raja Sanna. Tegasnya: Sanna menjadi raja atas nama isterinya. Sanjaya sebagai raja memang meneruskan Sanna, akan tetapi hak waris mahkota diperoleh dari ibunya.

Perkawinan Sena dengan Sannaha adalah perkawinan politik. Menurut adat, Sena harus dianggap sebagai anak Sempakwaja (walaupun tidak diakui), karena Rababu adalah isteri sah Semapakwaja. Inilah salah satu sebab pemberontakan Purbasora. Sekiranya permaisuri melahirkan seorang putera, tentu akan diberitakan dalam Carita Parahiyangan dan pengganti Mandiminyak tentu bukan Sena.”[21] Berikut ini adalah hasil rekonstruksi Saleh Danasasmita tentang silsilah Rahiang Banga: 

Untuk memperjelas gambaran, baiklah kita lihat beberapa keterangan dari sumber lontar sebagai naskah yang kedua yaitu Kropak 406.[22] Menurut kropak 406, pendiri keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati adalah Maharaja Tarusbawa. Ia disilihkan (digantikan) oleh Maharaja Harisdarma. Harisdarma miseuweukeun (berputera) Tamperan. Tamperan miseuweukeun Rahyang Banga.[23] Menurut Carita Parahiyangan, Tamperan (Panaraban, pen.) adalah putera Sanjaya. Cukup jelas bahwa tokoh Sanjaya dalam Carita Parahiyangan identik dengan Harisdharma dalam kropak 406.

Menarik perhatian pula perkataan disilihkan (digantikan), bukan perkataan miseuweukeun (berputera), untuk tokoh Tarusbawa oleh Harisdarma alias Sanjaya. Hal ini membuktikan bahwa Harisdarma atau Sanjaya bukanlah putera Tarusbawa. Sanjaya mewarisi kerajaan bukan karena hubungan genealogis, melainkan karena hubungan darma (hukum).[24] Tegasnya, Sanjaya adalah menantu Tarusbawa.

Dalam Carita Parahiyangan, disebutkan bahwa mertua Sanjaya adalah Tohaan di Sunda, sedangkan alas (daerah) Tohaan di Sunda disebutkan dari Citarum ke barat. Tidaklah terlalu fantastis jika kita menarik kesimpulan bahwa tokoh Tohaan di Sunda dalam Carita Parahiyangan identik pula dengan tokoh Tarusbawa dalam kropak 406.[25] Dengan demikian, dapatlah terungkap sedikit misteri sumber Portugis dan Majapahit yang selalu menyebut kerajan Sunda (tidak pernah menyebut kerajaan Pajajaran).

Kropak 406 menyebutkan pula peristiwa perpindahan Raja Darmasiksa dari Saunggalah ke Pakuan. Menurut Carita Parahiyangan, Saunggalah berada di Kuningan, sedangkan Darmasiksa disebutkan sebagai pangupatiyan (penjelmaan) Wisnu. Jelas pula dalam kedua sumber tersebut bahwa Darmasiksa adalah keturunan Banga dan pendahulunya Sri Baduga. Perlu pula diperhatikan bahwa cerita dalam kropak 406 diakhiri (ditutup) pada tokoh Darmasiksa. Kesimpulannya: naskah ini merupakan peningglan dari masa Darmasiksa atau sedikitnya merupakan salinan darinya.[26]