B. Prasasti Sebagai Sumber Primer dan Pendapat Para Ahli
Pertama kalinya, dalam sejarah kuno Indonesia kita mengenal adanya seorang raja besar yang sangat terkenal dalam pembahasan Sejarah Mataram Hindu yang tercantum dalam Prasasti Canggal. Ialah Sang Ratu Sanjaya Rakai Mataram, namun permasalahan selalu muncul tentang sosok pendiri kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah ini, yaitu menyangkut asal-usul dirinya yang masih banyak menimbulkan pro dan kontra dikalangan para ahli. Siapakah sebenarnya Raja Sanjaya?

Tulisan ini akan dimulai dengan Prasasti Canggal[2] yang ditemukan pada halaman percandian diatas Gunung Wukir di Kecamatan Salam (Magelang). Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta, berangka tahun 654 Saka (6 Oktober 732). Prasasti ini berhasil dibaca oleh H. Kern pada tahun 1885. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya. Adapun isinya terdiri dari 12 pada yaitu:

Pada 1 Menguraikan pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya diatas gunung.
Pada 2-4 Memuat pujaan kepada dewa Siwa.
Pada 5 Memuat pujaan terhadap dewa Brahma.
Pada 6 Memuat pujaan terhadap dewa Wishnu.
Pada 7 Menguraikan Pulau Jawa yang sangat subur, kaya akan tambang emas, dan banyak menghasilkan tanaman padi. Di Pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk, berasal dari Kunjarakunjadesa.
Pada 8-9 Menguraikan bahwa Pulau Jawa diperintah oleh Raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati  kepada bawahannya (rakyat). Ketika Raja Sanna wafat, negara berkabung, sedih karena kehilangan pelindung.
Pada 10-11 Menguraikan pengganti Raja Sanna, yaitu Sanjaya anak Sannaha.
Pada 12 Menguraikan kesejahteraan, keamanan, dan ketenteraman negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba tenang. 

Prasasti Canggal ini disambut hangat oleh Moens dengan pendapatnya, bahwa nama Yava, Yavadvipa (Iabadiou), dan Cho-po mula-mula dipakai untuk menyebut Semenanjung Malaya. Nenek moyang Rakai Sanjaya berpindah dari Kunjarakunjadesa di India Selatan ke Kedah. Pada tahun 724/8, Sanjaya terdesak oleh Sriwijaya; lari ke Jawa Tengah. Di Pulau Jawa, Sanjaya mendirikan kerajaan baru.

Pada tahun 732 Masehi, Sanjaya mendirikan lingga diatas Gunung Wukir. Pada Prasasti Canggal disebut adanya candi Siwa yang didirikan di tempat yang bernama Kunjarakunjadesa. Menurut Moens, nama Java (Javakya) pada Piagam Canggal adalah nama pindahan Yavadwipa sebagai nama Semenanjung Malaya, negara nenek moyangnya.[3]

Pada tahun 907 Masehi, dibuatlah Prasasti Kedu (Mantyasih)[4] oleh Raja Balitung untuk mengenang para leluhurnya. Prasasti ini menyebut delapan orang raja yang pernah memerintah Medang di Wilayah Pohpitu. Kedelapan raja itu bergelar Sri Maharaja, kecuali Sanjaya yang bergelar Sang Ratu. Prasasti ini berhasil dibaca dan diterbitkan oleh Stutterheim pada tahun 1927. Adapun daftar nama-nama raja itu adalah sebagai berikut:

Sang Ratu Sanjaya rakai Mataram
Sri Maharaja rakai Panangkaran
Sri Maharaja rakai Panunggalan
Sri Maharaja rakai Warak
Sri Maharaja rakai Garung
Sri Maharaja rakai Pikatan
Sri Maharaja rakai Kayuwangi
Sri Maharaja rakai Watuhumalang.

Jika kita memperhatikan piagam lainnya yang terdapat di Gata (Piagam Gata) dan Taji Gunung (Piagam Taji Gunung) keduanya dekat Prambanan, kedua piagam itu menggunakan perhitungan tahun Sanjaya (Sanjayawarsa), masing-masing bertarikh tahun 693 dan 694 Saka, atau tahun Masehi 771 dan 772. Pada Piagam Gata, tertulis: … cri maharaja daksottamabahubajrapratipaksaksaya cri … nggawijaya, tumurun i rakryan mapatih halu, sirikan, muang.

Prasasti Taji Gunung tidak menyebut nama raja, hanya menyebut mahamantri rakryan Gurunwangi. Benar, pada prasasti itu disebut Sri Sanjaya naranata, tetapi didahului dengan kata nguni: “dahulu”. Pada waktu itu, Raja Sanjaya sudah wafat. Karena selisih waktu hanya satu tahun saja dengan Prasasti Gata, maka boleh dipastikan bahwa raja yang memerintah sama dengan raja yang mengeluarkan Prasasti Gata. Lagi pula, baik Prasasti Gata maupun Prasasti Taji Gunung menggunakan Sanjayawarsa.[5]

Sementara itu, ditemukan juga Prasasti Kalasan[6] dekat Prambanan, ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf  Pra-Nagari, bertarikh tahun Saka 700 atau 778 Masehi. Untuk pertama kalinya prasasti tersebut diterbitkan oleh Dr. Brandes pada tahun 1886 dalam T.B.G. 31 hal. 240-260. Pada tahun 1928, diterbitkan lagi oleh Bosch dalam T.B.G. 68 hal. 57-62. Berikut ini adalah terjemahan Prasasti Kalasan:

Pada 1: doa dan salam kepada Arya Tara, mudah-mudahan para pemujanya dapat mencapai tujuannya.
Pada 2-3: para guru Sailendra mohon kepada maharaja Dyah Pancapana Panangkarana agar beliau membangun candi Tara. Permohonan para guru itu ialah agar dibangunlah arca dewi Tara, candinya, dan beberapa rumah untuk para pendeta yang fasih akan pengetahuan Mahayana Winaya.
Pada 4-6: para pangkur, tawan, tirip menerima perintah untuk membuat candi Tara dan perumahan para pendeta. Candi Tara didirikan di daerah makmur sang raja, yang menjadi hiasan rajakula Sailendra untuk kepentingan para guru raja Sailendra. Pada tahun Saka 700, maharaja Panangkaran selesai membangun candi Tara, tempat para guru melakukan persembahan.
Pada 7-9: desa Kalasan dihadiahkan. Para pangkur, tawan, dan tirip, adyaksa desa dan para pembesar menjadi saksi. Tanah yang dihadiahkan oleh sang raja supaya dijaga baik-baik oleh para keturunan wangsa Sailendra, oleh para pangkur, para tawan dan tirip, serta para pembesar yang bijak turun-temurun. Selanjutnya, sang raja berulang kali minta kepada semua raja yang akan memerintah kemudian agar candi itu selama-lamanya dijaga untuk kebahagian semua orang.
Pada 11-12: berkat pembangunan wihara itu, diharapkan semoga memperoleh pengetahuan tentang kelahiran, memperoleh tibavopapanna dan mengikuti ajaran Cina. Yang mulia kariyana (rakryan) Panangkaran mengulangi lagi permintaan beliau kepada semua raja, yang akan menyusul untuk membina wihara itu dalam keadaan yang sesempurna-sempurnanya.

Terbitnya Prasasti Kalasan oleh Bosch mengundang banyak perhatian. Sejak tahun 1919 Prof. Ph. Vogel dalam artikelnya, Het Koninkrijk Criwijaya (B.K.I. 75 hal. 614), telah menyarankan agar memisahkan raja Sailendra (Cailednraraja) dengan Rakai Panangkaran. Begitu pula dengan Bosch, ia mengira bahwa Cailendraraja dan Rakai Panangkaran adalah raja Sriwijaya dan termasuk rajakula Sailendra.[7]

Pada tahun 1947, Dr. van Naerssen mengatakan bahwa ada dua raja pada prasasti tersebut. Yang satu raja Sailendra yang tidak disebut namanya (dalam kata majemuk Cailendrarajaguru); yang satu lagi ialah Maharaja Dyah Pancapana Panangkaran. Artikel van Naerssen termuat dalam India Antiqua hal. 249-253. Van Naerssen beranggapan bahwa Maharaja Dyah Pancapana Panangkaran adalah raja bawahan raja Sailendra yang tidak disebut namanya itu. Raja Sailendra yang tidak disebut namanya itu datang dari seberang lautan dan menguasai kerajaan Rakai Panangkaran. Beliau pemeluk agama Buddha.[8]

Pandangan F.H.N. van Naerssen ini kemudian diikuti oleh De Casparis dalam bukunya yang berjudul Prasasti Indonesia I dan Bosch dalam karangannya yang berjudul Criwijaya, de Cailendra en de Sanjayawamca. Mereka semua berpendapat bahwa Raja Dyah Pancapana Panangkaran adalah raja bawahan raja Sailendra.[9]

Segera timbul pertanyaan: Jika Rakai Panangkaran adalah raja bawahan raja Sailendra, mengapa para guru Sailendra minta kepada Rakai Panangkaran untuk membangun candi Tara beserta wiharanya, mengapa tidak langsung minta kepada raja Sailendra yang lebih berkuasa? Permintaan para guru raja Sailendra itu justru membuktikan bahwa Rakai Panangkaran berkuasa atas daerahnya. Permintaan itu merupakan manifestasi pengakuan para guru Sailendra terhadap kekuasaan Rakai Panangkaran. Terlebih lagi, Panangkaran bergelar “maharaja”, dan gelar maharaja tidaklah mungkin sebagai raja bawahan. Maha berarti tinggi, dalam hal ini yang ditinggikan derajatnya, yaitu sebagai raja atau penguasa  tertinggi.[10]

Slamet Mulyana mengatakan bahwa pembangunan Candi Kalasan selesai pada tahun 778 M. Dibangun atas perintah Raja Pancapana Panangkaran, keturunan raja Sailendra dan beragama Buddha. Dari perbandingan piagam-piagam diatas dapat disimpulkan bahwa Raja Daksottamabahubajra keturunan Raja Sanjaya, berhasil ditundukan oleh Dyah Pancapana Panangkaran antara tahun Masehi 772 dan 778, dan menjadi raja bawahan Raja Panangkaran dari wangsa Sailendra itu.

Sanjayawarsa diganti oleh Buddha Mahayana yang dianut oleh Sailendrawangsa. Slamet Mulyana meyakini bahwa Dyah Pancapana Panangkaran bukan keturunan Sanjaya. Ia adalah raja Sailendra pertama Mataram Hindu di Jawa Tengah. Menurutnya, andaikata beliau keturunan Raja Sanjaya, pasti beliau juga akan menggunakan perhitungan tahun Sanjaya seperti nyata dalam Piagam Gata dan Taji Gunung.[11]