Jika secara Internasional Indigofera tinctoria disebut Tarum India, Strobilanthes cusia disebut Tarum Assam, Persicaria tinctoria disebut Tarum Cina, Isatis tinctoria disebut Tarum Eropa (aka Tarum Yerusalem), Indigofera suffruticosa disebut Tarum Guatemala, Lonchocarpus cyanescens disebut Tarum Afrika (aka Tarum Yeruba), Indigofera arrecta disebut Tarum Natal, dan seterusnya.

Maka Marsdenia tinctoria yang disebut Tarum Akar atau Tarum Areuy atau Broad-leave Indigo atau Climbing Indigo, yang terkadang disebut juga Java Indigo atau Sumatra Indigo, mungkin untuk menghargai posisi lokasi temuan dalam publikasi ilmiah dalam The History of Sumatra karya William Marsden lebih ideal untuk dikatakan Tarum Bengkulu jika nama tempat dijadikan rujukan asal-usul penamaannya sebagaimana juga yang terjadi pada jenis-jenis Tarum yang lainnya.

Nama Tarum Bengkulu akan menjadi lebih tepat dikarenakan istilah Java Indigo dan Sumatra Indigo terkadang biasa dipertukarkan juga untuk menamai tumbuhan Tarum dari keluarga Indigofera lainnya. Sehingga untuk menghindari simpang-siur dan kerumitan konseptual yang sudah terjadi, istilah Tarum Bengkulu akan menjadi jauh lebih tepat untuk dipergunakan. Jika kemudian Tarum Bengkulu ditawarkan ke dalam khazanah bahasa Inggris sebagai rujukan, namanya akan berbunyi Bengkulun Indigo.

Meskipun barangkali, budaya Tarum Bengkulu di kawasan Bengkulu itu sendiri pada saat ini bisa jadi sudah sejak lama padam. Namun sebagaimana dengan apa yang sudah dilakukan di Jawa Barat sejak akhir tahun 2011 M, pola konservasi dan rervitalisasi budaya Tarum di Bengkulu dapat diikhtiarkan untuk pulih kembali sebagaimana sediakalanya pada masa lalu. (Gambar: perbanyakan bibit Tarum Bengkulu melalui proses stek batang bersama indukannya di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)