Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dan juga di dalam Kamus Umum Bahasa Sunda telah terdokumentasikan pada entri Tarum beberapa jenis tumbuhan Tarum baik hasil introdusir masa kolonial Hindia-Belanda maupun tanaman yang sudah ada sebelum masa kolonial Hindia-Belanda masuk dan mengembangkan industrialisasi pertanian Tarum yang massif.

Salah-satu tanaman Tarum yang dapat diduga telah ada sebagai khazanah kekayaan alam Nusantara sebelum masa kolonial Hindia-Belanda masuk ke Tanah Air, artinya bukan tumbuhan yang baru diintrodusir pada masa kolonial Hindia-Belanda adalah apa yang disebut dengan nama Tarum Akar dalam bahasa Melayu dan Tarum Areuy dalam bahasa Sunda. Disebut Tarum Akar dalam cita-rasa bahasa Melayu karena bentuk tanamannya yang merambat dengan diameter tubuh yang kecil layaknya suatu akar rambat yang kecil. Sementara disebut “areuy” (Sunda) karena sebagaimana sudah dikemukakan sebelumnya dia merupakan tanaman yang merambat (Sunda: ngareuy). Jadi dia bukan tipe tumbuhan berkayu keras, atau tumbuhan perdu dan semak-belukar, melainkan tanaman rambat (Sunda: areuy).

Catatan ilmiah untuk pertama kalinya dibuat oleh William Marsden dalam bukunya The History of Sumatra pada masa pendudukan kolonial Inggris dengan spesimen penelitian dari kawasan Bengkulu di Sumatra. Karena secara ilmiah Botani hinggap masa itu belum dilakukan upaya Taksonomi, maka spesimen tersebut kemudian dikirim ke Inggris dan kemudian berhasil dilakukan penentuan kelas dan klasifikasinya oleh ahli Botani Inggris, Robert Brown. Tarum Akar kemudian oleh Robert Brown diberikan nama Marsdenia tinctoria R.Br. Marsdenia diambil dari nama William Marsden sebagai nama Genus, sementara R.Br. adalah singkatan untuk nama Robert Brown yang melalukan Taksonomi Botaninya.

Sejak masa penelitian William Marsden dan Robert Brown, Tarum Akar intensif diteliti hingga dikirimkan spesimennya ke koloni Inggris di India dan juga dikirim ke Indigo Experimental Station di Klaten karena dianggap memiliki sedimentasi pewarnaan yang lebih banyak daripada Indigofera tinctoria, Indigofera arrecta, Indigofera suffruticosa, dan Indigofera galegoides yang telah lebih dulu intensif dikembangkan. Namun masa penemuan tersebut cenderung terlambat dan zaman baru penemuan kimia sintetik telah menyongsong. Tarum Akar pada akhirnya belum sempat dilakukan pengebunan secara masal dan pengolahannya secara industrial.

Dalam bahasa Inggris, Tarum Akar kemudian dikenal juga dengan nama Climbing Indigo (Tarum Pemanjat), Broad-leave Indigo (Tarum Berdaun Lebar), dan Java Indigo (Tarum Jawa). Sementara sebarannya berada di kawasan India Timur Laut, Banglades, Myanmar, Indo-China, Semenanjung Malaysia, Cina Selatan, Jepang Selatan (Ryukyu), Taiwan, Pilipina, Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali). Sejauh pengamatan yang ada, pada saat ini budaya pengolahan Tarum Akar yang masih aktif antara lain di kawasan India Timur Laut seperti di kawasan sekitar Assam, di kawasan Indo-China seperti di Vietnam dan di Thailand, di Taiwan, di Singapura, di Malaysia (Serawak Kalimantan), dan di Jawa (Jawa Barat).

Di Jawa Barat eksplorasi ulang budaya Tarum Akar dan upaya konservasinya telah dilakukan sejak akhir tahun 2011 oleh House of Varman (H.O.V.). Kantung-kantung pembibitan dari berbagai komunitas lainnya telah mulai berjalan di Kota Banjar, di Kabupaten Tasikmalaya, di kawasan Bandung Raya, di Kabupaten Subang, di Kabupaten Bekasi, Kota Depok, dan di Pandeglang (Banten). Untuk mengikuti kaidah yang telah berkembang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kita namai Marsdenia tinctoria R.Br. tersebut dengan nama Tarum Akar. (Gambar: Gelar Taufiq Kusumawardhana dan Kurt Peterson)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)