Sebelum zat pewarna biru alam dengan bahan Indigofera tinctoria dari kawasan India didatangkan oleh komunitas perdagangan Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan kemudian Byzantium (Romawi Timur) ke Eropa, masyarakat Eropa juga sesungguhnya sudah terbiasa menggunakan zat pewarna biru alam yang diperolehnya dari bahan Isatis tinctoria L. Di Eropa nama ilmiah modern Isatis tinctoria L. lebih dikenal dengan nama Woad, Dyer’s Woad, Glastum, Vitrat, dan Asp of Jerusalem.

Woad adalah logat dalam bahasa Inggris, sementara dalam bahasa Belanda adalah Wede, dalam bahasa Jerman Waid, Prancis Guede, dan Italia Guado. Dyer’s Woad dengan demikian artinya zat pewarna dari Woad yang nenghasilkan warna biru alami. Dalam bahasa Latin Woad disebut dengan kata Vitrat. Dan dalam bahasa Latin yang meminjam dari bahasa Gaul dari rumpun Celtik yang telah berkembang sejak sebelum dan beriringan dengan tumbuhnya Kekaisaran Romawi di kawasan yang kini menjadi Prancis, Luxembourg, Belgia, sebagian besar kawasan Switzerland, Itali bagian Utara, termasuk sebagian wilayah Belanda dan Jerman di tepi Barat sungai Rhine; Woad disebut dengan kata Glastum.

Selain disebut dengan Woad, Vitrat, dan Glastum, Isatis tinctoria L. biasa juga disebut dengan Asp. of Jerusalem. Asp. dalam terminologi Taksonomi dan Botani berarti singkatan dari Asphodelaceae. Sementara Asphodelaceae merupakan Family tumbuhan berbunga dalam Ordo Asparagales. Namun demikian jika diperhatikan pada Taksonomi dan Botani modern, Isatis tinctoria L. sebenarnya masuk ke dalam Family Brassica dan Ordo Brassicales. Barangkali karena secara umum tampilan Family Brassica dan Asphodelaceae memiliki tampilan yang serupa berupa tumbuhan berbunga dengan perwatakan seperti tanaman rerumputan. Dan Isatis tictoria L. pada masa lalu juga tumbuh di kawasan Semenanjung Arabia, Arabia Utara (Israel), dan kawasan Afrika Utara (Mesir).

Jika dipetakan maka Isatis tinctoria L. pada masa kuno telah tersebar luas di kawasan Asia Barat Daya, Afrika Utara, dan Mediterania. Dan pada masa Abad Pertengahan massif dikembangkan di Eropa Barat hingga Eropa Tengah, seperti di negara Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Isatis tinctoria L. juga tersebar luas di kawasan Kaukasus, benteng alami pemisah Eropa dan Asia. Dan kemudian di kawasan Asia Tengah, hingga kawasan Eropa Timur dan kawasan Timur dari Siberia.

Kebudayaan kuno Mesir diduga telah menggunakan Isatis tinctoria L. dan Bani Israel juga telah menggunakan Isatis tinctoria L. untuk kepentingan fashion keagamaan yang mensyaratkan pewarnaan biru dalam liturginya. Di dalam bahasa Aram, Isatis tictoria L. disebut dengan nama Satis. Asosiasi tersebut kemungkinan kuat yang menghubungkan antara Isatis tinctoria L. dan kawasan Yerusalem. Sementara orang-orang Celtik biasa menggunakan Isatis tinctoria L. untuk kepentingan mentato dan mewarnai tubuh dan wajahnya seperti yang terjadi pada orang Welsh, Irish, Scottish, Briton,dan sebagainya yang kemudian diambil-alih rumpun Jermanik pada masa Abad Pertengahan. Oleh migran-migran Eropa pada masa kolonialisme Benua Eropa, Isaris tinctoria L. kemudian menyebar luas ke kawasan Amerika Utara di daerah Kanada, Alaska, dan Amerika Serikat.

Selain tergeser oleh masa Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan Bizantium, penggunaan Isatis tinctoria L. pada Abad Pertengahan kemudian tergeser kembali oleh Indigofera tinctoria L. yang bukan saja di datangkan dari India. Melainkan telah dikebunkan di tanah-tanah koloni Eropa baik di Asia maupun di Amerika, termasuk dengan bertambahnya dari jenis-jenis pewarna Tarum lainnya.

Untuk memudahkan identifikasi Isatis tinctoria L. meskipun akarnya menukik sampe tradisi Yerusalem, atau Woad Celtik. Namun demikian, Isatis tinctoria L. pada masa kemudian lebih identik sebagai jenis tumbuhan Tarum khas Eropa sebelum tergeser oleh penggunaan Indigofera tinctoria L. Oleh karena itu, penulis lebih cenderung menamainya sebagai Tarum Eropa. (Gambar: Plant of the World Online, Wilde Planten Online, Woad Wild Flower Finder Online)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)