Putra kedua Sanghyang Bunisora Suradipati yang bernama Bratalegawa atau yang dikenal juga dengan nama Haji Baharudin al Jawi kemudian menekuni dunia perdagangan dengan prestasi dan reputasi yang baik dalam bidang perdagangan, baik dalam skup domestik maupun mancanegara.

Orang yang berpengaruh besar dalam keislaman Bratalegawa adalah Muhamad, seorang pedagang asal Gujarat. Setelah memeluk agama Islam, Muhamad kemudian menikahkan Bratalegawa kepada putrinya yang bernama Farhanah.

Dari pernikahan antara Bratalegawa dengan Farhanah putra Muhamad, mereka dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ahmad Syafiudin. Ahmad Syaefudin kemudian dinikahkan oleh Bratalegawa kepada Ruqoyah yang merupakan putri dari Abdullah, rekan kerja dalam bidang perdagangan yang merupakan keturunan Arab yang telah mengoperasikan dunia perdagangannya di pelabuhan Cirebon.

Dari pernikahan antara Ahmad Syaefudin dengan Ruqoyah kemudian lahir seorang putri yang bernama Khadijah. Khadijah kemudian hari akan dinikahi oleh Syeh Nurjati seorang ulama keturunan Arab asal Malaka. Putra pasangan Syeh Nurjati dengan Khadijah dikaruniai anak dengan nama Nyi Ageng Muara. Nyi Ageng Muara kemudian menikah dengan Ki Gedeng Krangken yang berdimisili di Indramayu.

Adapun putra-putri Syeh Nurjati dari isteri sebelumnya yang bernama Syarifah Halimah atau Nyai Ratna Jatiningsih atau Nyai Rara Api melahirkan Syeh Abdurahman atau Pangeran Panjunan yang menikahi cucu Amuk Murigul (Nyai Matangsari), Syeh Abdurahim atau Pangeran Kejaksaan, Syarifah Fatimah atau Nyai Syarifah Panata Pasambangan (menikah dengan Syarif Hidayatullah dan berputra Pangeran Bratakelana dan Pangeran Jayakelana), dan Datul Kafid yang gelarannya mirip dengan gelaran ayahnya yang membuatnya seringkali tertukar.

Syeh Abdurahman atau Syeh Maulana Abdurahman atau Pangeran Panjunan melahirkan keturunan yang penting. Melalui Nyai Matangsari putra Agung Japura yakni Maulana Muhamad atau Pangeran Pamelekaran atau Pangeran Dalang yang melahirkan Maulana Sholeh atau Pangeran Santri atau Kusumahdinata I yang melahirkan keturunan Sumedanglarang (melalui pernikahan dengan Nyi Mas Ratu Inten Dewata atau Pucuk Umun Sumedanglarang). Dan melalui Ratu Ayu Pembatun Fatimah putra Faletehan atau Fadilah Khan (Pangeran Jayakarta I) melahirkan Tubagus Angke (Pangeran Jayakarta II).

Bratalegawa yang dikenal juga dengan Haji Purwa Galuh atau Haji Baharudin al Jawi telah menjadi pionir dalam memeluk agama Islam dari kalangan elit keluarga istana Sunda (Sunda-Galuh). Sejak masa Bratalegawa, keturunannya telah memeluk agama Islam. Sangat mungkin bahwa proses keislaman Bratalegawa bukan dimulai pada masa kekuasaan Niskalawastu Kancana sepupunya, melainkan pada masa sebelumnya; yakni pada kekuasaan ayahnya Bunisora Suradipati.

Suatu masa sedikit sebelum kedatangan Laksamana Cheng Ho yang berada pada masa kekuasaan Niskala Wastu Kancana. Suatu masa sedikit sebelum Ki Gedeng Tapa menerima kedatangan Cheng Ho, Syeh Quro, dan Syeh Nurjati. Suatu masa dimana dirinya sendiri yang memberikan pilihan secara proaktif, justru bukan ketika dirinya berada di tanah Sunda; melainkan ketika dirinya berada di Gujarat di tanah Barata.


ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)