Megastenes (sekitar 350-290 SM) merupakan seorang Sejarawan, Diplomat, Penjelajah, dan penyusun naskah Indika pada zaman Helenis. Dia dilahirkan di kawasan Asia Kecil atau Anatolia yang pada saat ini masuk ke dalam wilayah Turki modern. Pada saat itu Megastenes merupakan Duta Besar yang dikirim oleh Raja Seuleukeus I Nikator dari Kerajaan Seuleukeus (Wangsa Seuleukeus) yang diutus ke India untuk menghadap Raja Candragupta dari Kerajaan Jambudipa/Pratiwi (Wangsa Maurya). Ibukota Seuleukeus pada masa Seuleukeus I Nikator berada di Antiokia (Turki modern; Provinsi Hatay), sementara ibukota Jambudipa pada masa Candragupta berada di Pataliputra (India modern; Negara Bagian Bihar).

Naskah Indika karya Megastenes pada kenyataannya memang tidak tersampaikan hingga pada masa kini, hanya saja banyak penulis-penulis lainnya setelah masa hidup Megastenes yang masih mengutip pernyataan-pernyataannya yang dianggap berasal dari naskah Indika tersebut. Ada beberapa pengarang dan naskah karangannya yang menisbatkan pengambilan datanya dari karya Indika karya Megastenes tersebut, diantaranya Diodorus Sikolos dalam naskah Bibliotheka Historika, Arianos dalam naskah Anabasis Alexandris dan Indike, Strabo dalam Geografika, Plinius dalam naskah Naturalis Historia, Claudius Aelianus dalam naskah Natura Animalium, dan seterusnya. Adapun orang yang merekonstruksi naskah Indika dari data-data yang berserak pada karya pengarang-pengarang kemudian tersebut adalah Felix Jacoby (1876-1956 M) asal Jerman dengan judul Fragmente der Griechischen Historiker. Perlu untuk dinilai secara proporsional dalam penyelidikan akademik yang kritis dan adil, bahwa literatur Yunani dan Latin sejak Abad Pertengahan pada umumnya sesungguhnya tidak secara langsung diperoleh melalui pewarisan tradisi naskah Yunani Kuno; melainkan transit terlebih dahulu melalui transkripsi naskah berbahasa Arab dari Abad Pertengahan.

Perihal kawasan Kalingga pada masa Candragupta dari Kerajaan Jambudipa dapat dijumpai dalam keterangan Megastenes sebagai berikut:

“Baik Prinas maupun Cainas (salah-satu anak sungai Gangga) merupakan sungai-sungai yang dapat dilayari. Suku-suku yang mendiami tepian Sungai Gangga adalah orang Calingae, yang paling dekat dengan laut, dan lebih ke hulu orang Mandei, juga orang Mali, yang di antaranya ada Gunung Malus, batas seluruh wilayah Sungai Gangga.
(Megastenes fragm. XX.B. dalam Pliny. Hist. Nat. V1.21.9-22.1.)

Berdasarkan keterangan Megastenes tersebut dapat diketahui bahwa pada masa Candragupta meskipun hampir seluruh wilayah India Kuno telah jatuh pada kekuasaan Wangsa Maurya dari Jambudipa, namun demikian masih terdapat kawasan-kawasan yang belum masuk seluruhnya di dalam wilayah kekuasaannya yang bersifat masih memiliki aspek regional yang khas dan juga identifikasi etnik yang khas juga terhadap dirinya. Di sini dapat diduga bahwa kata Yunani Calingae atau Kalingae adalah untuk menyatakan Kalinga atau Kalingga dalam bahasa India (Prakrit/Sanskrit). Di sana dapat diketahui bahwa habitat wilayah orang Kalingga adalah berada di muara Sungai Gangga yang berhadapan langsung dengan laut. Melalui keterangan naskah Megastenes kita mengetahui bahwa aliran Sungai Gangga tersebut ketika menjelang menuju ke laut terpecah menjadi dua aliran utama, yakni sungai Prinas dan Cainas. Sementara pada saat ini kita mengetahui juga, jika Sungai Gangga yang mengalir sejauh 2.704 km dari Negara Bagian Utarakanda (India) tersebut memang terbagi dua menjelang tiba di Teluk Benggala dan diapit oleh sebuah delta yang luas dan besar. Sungai Gangga kemudian menjadi Sungai Padma di sebelah Timur yang mengalir ke wilayah Banglades modern yang bersatu dengan Sungai Brahmaputra yang memiliki panjang 2.900 km yang berasal dari kawasan Tibet (Negara Cina). Sementara di sebelah Barat yang Sungai Gangga mengalir ke kawasan Negara Bagian Benggala Barat (India) yang pada saat ini diberi nama Sungai Hugli. Namun demikian, dalam bahasa setempat Sungai Hugli tersebut sebenarnya biasa dipanggil Sungai Gangga itu sendiri atau Sungai Kati-Gangga (dalam pengertian percabangan dari Sungai Gangga). Pada aliran Sungai Padma pada saat ini berdiri kota Daka yang menjadi ibukota Negara Banglades (sebelumnya bernama Negara Pakistan Timur), sementara pada aliran Kati Gangga berdiri kota Kalkuta yang menjadi ibukota Negara Bagian Benggala Barat (Negara India). Dengan keterangan tersebut kita tahu bahwa orang Kalingga adalah orang-orang yang bermukim di Teluk Benggala dimana Sungai Gangga (Megastenes memyebutnya Prinas; India Gangga atau Kali Gangga atau Hugli) dan Sungai Brahmaputra (Megastenes Cainas; India Padma tempat bertemunya Gangga dan Brahmaputra) mengalir ke Samudra Hindia di Selatan.

Kemudian kita abaikan pelacakan suku-suku lainnya yang menguasai bagian hulu dari Sungai Gangga pada keterangan Megastenes tersebut pada lain kesempatan. Saat ini kita lanjutkan pada keterangan Megastenes lainnya dimana dikatakan juga jika orang-orang Kalingga sebenarnya masih memiliki suatu kekuata pengelolaan administrasi politik atau negara atau kota atau kerajaan yang bersifat masih mandiri dan belum menjadi bagian dari vazal kekuasaan Jambudipa dengan nama Parthalis.

“Kota Raja orang Calingae disebut Parthalis. Pada raja mereka ada 60.000 prajurit pejalan kaki, 1.000 prajurit berkuda, dan 700 ekor gajah yang senantiasa berjaga-jaga dan melindunginya dari ancaman perang.” (Megasthenes fragm. LVI. in Plin. Hist. Nat. VI. 21.8-23.11.)

Parthalis atau Partalis barangkali dari kata Yunani Parta Polis, atau Kota Parta. Polis adalah Kota atau Negara sementara Parta dalam literatur India biasanya berasosiasi sebagai nama lain Arjuna. Di sini kita cukupkan saja bahwa masyarakat Kalingga dengan isyarat kata Parta adalah menginduk pada tradisi Kitab Weda atau lebih tepatnya menginduk pada tradisi Purana (Post Vedic) dimana nama Parta sebagai nama lain Arjuna akan tersiarkan dalam naskah Purana berjudul Mahabarata pada masa yang lebih kemudian. Selain itu perlu juga diketahui bahwa pada masa yang bersamaan dengan Candragupta (322-298 SM) di India di kawasan Iran juga baru saja berdiri Kerajaan Parta (247 SM-224 M) yang dibangun oleh Arsak (247-217 SM). Arsak telah berhasil untuk menundukkan kawasan Parta yang sebelumnya berada didalam kekuasaan Andragoras. Sementara itu, Andragoras yang merupakan Satrap (Gubernur Jenderal) kawasan Parta dibawah Raja Seuleukeus I Nikator dari Kerajaan Seuleukeus pada masa sebelumnya baru saja melakukan pemberontakan dan makar dengan memisahkan kawasan Parta dari kekuasaan Seuleukeus. Kawasan Parta yang berasal dari bahasa Yunani tersebut (satu bunyi dengan bahasa Sanskrit Parta namun dalam konteks berlainan), di dalam bahasa Persia Kuno disebut dengan nama Partava. Selain disebut dengan kawasan Parta yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Parta, di dalam bahasa Persia Kuno didapati juga istilah lainnya yakni kawasan Harauvati sebagaimana ditemukan dalam kitab Avesta Videvdat (1.12) suatu kata yang sesungguhnya masih terhubung dengan kata Sanskrit Sarasvati. Dalam bahasa Yunani, kawasan Harauvati tersebut dinamai dengan nama Arakosia. Akar penamaan Harauvati sebagai suatu nama kawasan memang bermula dari nama Sungai Harauvati itu sendiri. Jika Seuleukeus I Nikator dan Andragoras berakar dari tradisi Yunani Paska Alesander asal Makedonia maka Arsak yang berasal dari kawasan Asia Tengah mencoba untuk membangun ulang kejayaan Persia Pra Alesander asal Makedonia, yakni dengan merujuk pada akar kebudayaan Persia dari Wangsa Hakamanisya. Melalui kritik akademis demikian kita dicoba untuk bisa melihat lebih jeli bahwa apa-apa yang telah dianggap establis di India sebagai terminologi-terminologi yang khas India, sesungguhnya tidak bersifat terisolasi sendirian; melainkan mendapatkan pengaruh dari kawasan Asia Barat Daya pada periode yang lebih kuno lagi, atau setidaknya masih terasosiasi dengan keserumpunan peradaban lainnya di kawasan sebelah Baratnya. Di kota Partalis (dalam Sanskrit kemungkinan akan menjadi Partapura) milik Kalingga di muara sungai Gangga dan Brahmaputra tersebut, terdapat kekuatan militer dengan kapasitas 60.000 prajurit pejalan kaki (invantri), 1.000 prajurit berkuda (kavaleri berkuda), dan 700 ekor gajah (kavaleri bergajah) “… yang senantiasa berjaga-jaga dan melindunginya dari ancaman perang.”

Usaha untuk berjaga-jaga tersebut memang terbukti terjadi. Kalingga dan Jambudipa kemudian mengalami peristiwa pertempuran dimana Raja Ashokavardhana dari Jambudipa mampu menglahkan Maha Padmanaba dari Kalingga dan keluar sebagai pemenangnya. Pada masa tersebut diberitakan jika kekuatan militer Ashokavardhana dibangun dengan 200.000 prajurit. Sementara karena tidak ada data kekuatan Kalingga maka berita dari Megastenes via Plini tersebut biasa dijadikan kalkulasi kekuatan militer Kalingga yakni 60.000 prajurit invantri, 1000 prajurit kavaleri kuda, dan 700 prajurit kavaleri gajah jika asumsi kuda dan gajah ditunggangi satu orang maka total keseluruhannya adalah 61.700 prajurit. Namun pada data lain yang mendasarkan datanya masih pada Megastenes melalui Plini data pasukan invantri sesungguhnya bukan berjumlah 60.000 orang melainkan 150.000 orang. Sehingga kekuatan Kalingga sesungguhnya nyaris sepadan yakni 200.000 prajurit melawan 151.700 prajurit. Kekuasaan Jambudipa yang berbasis keagamaan Jaina Darma dan Budha Darma kemudian memenangkan pertempuran terhadap Kalingga yang berbasiskan Sanata Darma (Hindu; sebenarnya artinya kawasan Hindu/Sindu bukan merujuk agama). Untuk mengenang peristiwa tersebut Ashokavardhana membuat prasasti dengan menggunakan Bahasa Yunani dan Aksara Yunani di kawasan Kandahar (Sanskrit: Gandara) yang saat ini masuk kawasan Afghanistan modern. Pernyataanya adalah demikian:

“μυριάδες δεκαπέντε καὶ ἀναιρέθησαν ἄλλαι μυριάδες δέκα καὶ σχεδὸν ἄλλοι τοσοῦ-

τοι ἐτελεύτησαν. Ἀπ’ ἐκείνου τοῦ χρόνου ἔλεος καὶ οἶκτος αὐτὸν ἔλαβεν· καὶ βαρέως ἤνεγκεν·

δι’ οὗ τρόπου ἐκέλευεν ἀπέχεσθαι τῶν ἐμψύχων σπουδήν τε καὶ σύντα(σ)ιν πεποίηται

περὶ εὐσεβείας. Καὶ τοῦτο ἔτι δυσχερέστερον ὑπείληφε ὁ βασιλεύς· καὶ ὅσοι ἐκεῖ ωἴκουν

βραμεναι ἢ σραμεναι ἢ καὶ ἄλλοι τινὲς οἱ περὶ τὴν εὐσέβειαν διατρίβοντες, τοὺς ἐκεῖ οἰκοῦ-

ντας ἔδει τὰ τοῦ βασιλέως συμφέροντα νοεῖν, καὶ διδάσκαλον καὶ πατέρα καὶ μητέρα

ἐπαισχύνεσθαι καὶ θαυμάζειν, φίλους καὶ ἑταίρους ἀγαπᾶν καὶ μὴ διαψεύδεσθαι,

δούλοις καὶ μισθωτοῖς ὡς κουφότατα χρᾶσθαι, τούτων ἐκεῖ τῶν τοιαῦτα διαπρασσο-

μένων εἴ τις τέθνηκεν ἢ ἐξῆκται, καὶ τοῦτο ἐμ παραδρομῆι οἱ λοιποὶ ἥγεινται, ὁ δὲ

[β]ασιλεὺς σφόδρα ἐπὶ τούτοις ἐδυσχέρανεν. Καὶ ὅτι ἐν τοῖς λοιποῖς ἔθνεσίν εἰσιν”

(Terjemahan Daniel Schlumberger)

Dalam terjemahan bahasa Inggris pernyataannya adalah:

In the eighth of the reign of Piodasses, he conquered Kalinga. A hundred and fifty thousand persons were captured and deported, and a hundred thousand others were killed, and almost as many died otherwise. Thereafter, piety and compassion seized him and he suffered grieviously. In the same manner wherewith he ordered abstention from living thing, he has displayed zeal and effort to promote piety. And at the same time the king has viewed this with displeasure: of Brahmins and Sramins and others practicing piety who live there [in Kalinga]- and these must be mindful of the interests of the king and must revere and respect their teacher, their father and their mother, and love and faithfully cherish their friends and companions and must use their slaves and dependents as gently as possible – if, of those thus engaged there, any has died or been deported and the rest have regarded this lightly, the king has taken it with exceeding bad grace. And that amongst other people there are…” (Terjemahan R.E.M. Wheeler)

Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh Karguna Purnama Harya (The Varman Institute) terhadap terjemahan R.E.M. Wheer menjadi sebagaiman berikut:

“Pada masa ke delapan dari pemerintahan Piodasses, dia menaklukkan Kalinga. Seratus lima puluh ribu orang ditangkap dan diusir, dan seratus ribu lainnya dibunuh, dan selain itu, hampir sebanyak itu pulalah yang mati dengan cara lain. Setelah itu, dunia spiritual dan perasaan kasih sayang mencengkeramnya dan dia sangat menderita. Dengan cara yang sama dia pun kemudian memerintahkan untuk melarang mengganggu makhluk hidup, dia telah menunjukkan semangat dan upaya untuk mempromosikan kesalehan spiritualnya. Dan pada saat yang sama raja menampakkan ketidaksenangannya karena para Brahmana dan Sramin dan yang lainnya mempraktikkan agama orang-orang yang tinggal di sana [di Kalinga] – dan ini harus menjadi perhatian untuk kepentingan raja sendiri dan selain itu harus pulalah mengagungkan dan menghormati guru mereka, ayah mereka dan ibu mereka, dan mencintai dan dengan setia, menghargai teman dan sahabat mereka dan harus memperlakukan budak dan tanggungan mereka sebaik mungkin – jika, dari mereka ada yang bertunangan di sana, kemudian ada yang meninggal atau diusir dan sisanya menganggap enteng ini, maka raja akan memberikan hukuman yang sangat berat. Dan bahwa di antara orang lain ada …” (Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh Karguna Purnama Harya dari terjemahan R.E.M. Wheeler)

Dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Ashokavardhana (nama pada literatur muda) namanya biasa ditulis dengan Devanampiya Piyadasi (Prasasti Rumbini, Prasasti Ravurva, Prasasti Delhi Topra, Prasasti Allahabad), Devanampiyasa Asoka (Prasasti Maski), dan Devanampiyena (Prasasti Lumbini Minor) dalam Bahasa Prakrit dan Aksara Brahmi dan Karosthi; Piodases (Prasasti Kandahar) dalam Bahasa Yunani dan Aksara Yunani; dan juga Priyadarsi [PRYDRS] (Prasasti Laghman) dalam Bahasa Aram dan Aksara Aram. Dalam analisa yang didasarkan kepada beberapa literatur kemudian bahwa Candragupta yang merupakan kakek Asoka pada mulanya menganut Sanata Darma dan kemudian menganut Jaina Darma. Sementara Bindusara yang merupakan ayah Asoka dikatakan memiliki seorang isteri yang menganut Budha Darma. Secara logis, jika Bindusara belum menganut Budha Darma secara total maka dia mengikuti ayahnya sebagai penganut Jaina Darma yang respek terhadap Budha Darma. Sementara itu dikatakan bahwa Asoka kemudian menjadi pengikut Budha Darma setelah mengalami kegoncangan akibat perilakunya dalam penundukkan-penundukkan yang cenderung kemudian dimaknai brutal. Asoka kemudian menganut Budha sebagaimana anutan ibunya (Subadrangi/Darma). Dalam Prasasti Kandahar tersebut dapat terlihat meskipun Asoka telah melakukan konversi agama terhadap Budha namun demikian kawasan Kalingga yang ditaklukkannya tidak melakukan konversi keagamaan yang sama. Barangkali bukan hanya masyarakat asli Kalingga, melainka pengikut Asoka yang berkuasa di daerah masih menerapkan praktik lama yakni Brahmana dan Sramin (akar katanya Sraman; bekerja). Akar tradisi Sanata Darma pada prinsipnya dipegang kaum Brahmana dimana akademisi Barat menamainya praktik Brahmanisme. Kawasan Kalingga dapat diketahui melalui berita tersebut masih menganut praktik Brahmana atau ‘Hindu’ atau Sanata Darma ketika Wangsa Maurya telah melakukan konversi dari Sanata Darma menuju ke Jaina/Jana Darma dan kemudian Budha Darma.

Setelah ditaklukkan oleh Wangsa Maurya, kawasan Kalingga jatuh ke dalam wilayah Kerajaan Jambudipa dimana kekuasaan masyarakat Kalingga menjadi vazalnya. Adapun beberapa Wangsa Kalingga yang masih mendirikan unit kekuasaan selanjutnya pada masa Wangsa Maurya dan kemudian juga pada masa berikutnya adalah Kerajaan Mahamegavahana (2 SM sampai 4 M), Kerajaan Matara (4-5 M), Kerajaan Vasista (5 M), Kerajaan Pitrabakta (5 M), Kerajaan Sailodbava (6-8 M), Kerajaan Somavamsi atau Kesari (9-12 M), Kerajaan Ganga Timur atau Rudi Ganga atau Pracya Ganga (5-15 M), dan Gajapati (1434-1541 M). Pada masa kekuasaan Wangsa Maurya terhadap kawasan Kalingga tersebut, penguasa Kalingga menamai dirinya sebagai Kalingadipati (Penguasa Kalinga). Dan upaya mengenali seluk-beluk Kerajaan Kalingga di kawasan India menjadi penting karena di dalam berita yang dibuat oleh Pangeran Wangsakerta dalam naskah-naskahnya didapati kabar bahwa aspek pendirian Kerajaan Kalingga di Pulau Jawa berkaitan dengan adanya migrasi yang datang dari Kerajaan Kalingga di India. Demikian seting Kerajaan Kalingga di India pada masa sebelum kekuasaan Wangsa Maurya dan dalam masa mekuasaan Wangsa Maurya. Sementara perkembangan Wangsa Kalingga dan pergerakannya setelah masa berkuasanya Wangsa Maurya perlu diulas pada bagian tulisan yang lain.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)