Melanjutkan apa yang telah saya kupas pada bagian pertama. Awalnya saya percaya diri, bahwa saya satu-satunya orang yang curiga akan korupsi yang terjadi pada Legenda Sangkuriang ini. Tapi, saya salah, ternyata banyak orang yang curiga akan hal ini, bahkan saya tergolong telat (kamana wae atuh?). Yang pertama ada Iwan HD, yang membahas di dalam salah satu artikel di koran online Bale Bandung, yang ternyata di artikelnya ada salah satu kutipan dari buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karangan Haryoto Kunto, yang Haryoto Kunto pun mengupas dari kajian tentang Sangkuriang yang dikupas oleh Drs. Warsito S., yang bahkan menurut Haryoto Kunto, Sangkuriang disinyalir merupakan tokoh sejarah kuno. Kemudian Iwan HD di dalam artkel itu pun menjelajah keluar masuk kampung (ngaprak) dan berkesimpulan bahwa Legenda Sangkuriang lebih banyak muncul di Bandung Barat (https://www.balebandung.com/sangkuriang-bukan-sekedar-sasakala/).

Pernyataan Iwan HD itu ternyata memperkuat kupasan Sangkuriang pada tulisan bagian pertama (https://varmaninstitute.com/2020/09/bujangga-manik-sangkuriang-antropologi-struktural-bagian-i/). Pada tulisan sebelumnya saya mengupas mengenai perjalanan Andries de Wilde ke Gunung Tangkuban Perahu, dan sangat logis apabila Andries de Wilde tidak mengetahui Legenda Sangkuriang karena memang tidak ada hubungannya dengan Tangkuban Perahu, dan karena legenda tersebut hanya ada di wilayah sebelah barat yaitu dari mulai Gunung Patenggeng (Padalarang) ke sebelah barat. Sementara tanah milik Andries de Wilde dari Cimahi sampai ke Ujungberung.

Saya tidak puas, kemudian saya mencari-cari sumber-sumber yang menyebutkan tentang Legenda Sangkuriang, di tahun-tahun setelah tahun 1830. Kemudian saya mendapatkan beberapa sumber. Yang pertama adalah Tidjschrift voor Nederland’s Indie Tweede Jaargang Erste Deel 1839 (Majalah untuk Hindia Belanda Tahun Ke-dua Volume I 1839), di sana terdapat tulisan tentang Legenda Sangkuriang dari hal. 445-451. Berikut petikan awal ceritanya beserta terjemahannya (Hal.445).

Vóór de invoering van de Mahomedaansche Godsdienst op het eiland Java, bestond er een Koning, genaamd RATOE GALOEH, die eene dochter had, genaamd Poetrie DAIJANG SOEMBI, welke Prinses, van een zoon bevallen zijnde, denzelven SANG KOERIANG heeft genoemd. Deze SANG KOERIANG was een groot liefhebber van de jagt, waarover hij eenmaal met zijne moeder DAIJANG SOEMBI in woordenwisseling geraakt zijnde, van haar met een’ rijstlepel een slag op het hoofd ontving, welke een wond veroorzaakte. (https://books.google.co.id/books?id=aTVBAQAAMAAJ&hl=id&authuser=0&source=gbs_slider_cls_metadata_7_mylibrary)

Terjemahannya adalah seperti ini:

Sebelum masuknya Agama Muhammad di pulau Jawa, ada seorang Raja bernama RATOE GALOEH, yang memiliki seorang putri bernama Poetrie DAIJANG SOEMBI. Putri tersebut kemudian melahirkan seorang putra dan menamainya dengan SANG KURIANG. SANG KURIANG ini sangat senang sekali berburu. Pada saat ia bertengkar dengan ibunya, DAIJANG SOEMBI, ia menerima pukulan di kepalanya dengan sendok nasi, yang menyebabkannya terluka.

Kemudian setelah itu ada lagi yaitu NEERLANDS OOST-INDIE Eerste Deel yang terbit tahun 1867 karangan DR. S.A. BUDDINGH seorang pendeta Protestan, pada halaman 116.

Zeker vorst ratoe GALOEH, d.i, koning van het landschap Galoeh (hetwelk thans tot de residentie Cheribon behoort met Tjamies tot hoofdplaats), had eene dochter, die genaamd was poetrie (prinses) DAIJANG SOEMBIE. Deze had een’ zoon, SANGKOERIANG geheeten, aan wien ze, bij gelegenheid van cen’ twist, met een ’rijst-lepel oen’ slag aan het hoofd toebragt. Ilierover vertoorml verlict hij haar, en gaf ze hem cen’ ring tot aandenken imode, smet laet om de vrouw te huwen, aan wier vinger die ring zou pesscn. Toen hij ver trokken was, verhuisde zijne moeder van Galoeh naar cen bergje Karang in Bandong.

Terjemahannya seperti ini:

Sudah pasti pangeran ratu GALOEH, yaitu raja bentang alam Galoeh (yang sekarang menjadi milik keresidenan Cheribon, dengan Tjamies sebagai kota utamanya), memiliki seorang putri bernama poetrie (putri) DAIJANG SOEMBIE. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama SANGKOERIANG, yang pada saat bertengkar, dia memukul” sendok nasi “di kepalanya. Anaknya pun kemudian pergi, dan dia memberinya cincin sebagai kenang-kenangan, untuk menikahi wanita yang akan disematkan cincin itu pada jarinya. Waktu pun berlalu, ibunya pindah dari Galoeh ke gunung kecil Karang di Bandong.

Jadi pada cerita itu, Sangkuriang masih normal, belum ada modifikasi kalau Sangkuriang itu punya ayah seekor anjing bernama Si Tumang. Kemudian saya ingin mengetahui apakah masyarakat Sunda waktu itu akrab dengan Legenda Sangkuriang dan apakah sudah terhubung dengan Gunung Tangkuban Perahu. Satu-satunya cara adalah dengan mencari kamus bahasa Sunda yang berkembang di masa itu. Saya kemudian mendapatkan Kamus Bahasa Sunda-Inggris yang dikarang oleh Jonathan Rigg pada tahun 1862. Di halaman awal kamusnya ia menuliskan sebuah kata-kata mutiara berbahasa Sunda.

Beunang guguru ti gunung
Beunang nanya ti Guriang

I have been taught it among the mountain,
I have enquired after it from the mountain spirit

Menurut pengakuannya pada pengantar kamus itu, dia telah berkonsultasi dengan berbagai kamus baik itu dengan kamus Jawa karangan P.P. Roorda van Ejsinga, kamus bahasa Sunda karangan Andries de Wilde, dan juga menurutnya bahasa Sunda sangat dipengaruhi oleh bahasa sansekerta, yang datang dari wilayah-wilayah di sekitar sungai Gangga, yang sekarang berkembang menjadi bahasa Telugu, Tamil, dan Sinhala. Oleh karena itu dia pun berkonsultasi dengan kamus Sinhala-Inggris karangan Reverend B. Clough, yang di dalamnya 9 dari 10 kata Sinhala adalah sanskrit. Selain berkonsultasi dengan kamus, dia pun berkonsultasi dengan masyarakat, salah satunya dengan juru cerita atau tukang dongeng di sebuah desa, nama tukang dongeng tersebut adalah Ki Gembang. Selain itu, dia pun seringkali pulang pergi untuk berdiskusi dengan Demang Jasinga yaitu Raden Nata Wireja.

Nah di salam kamus tersebut ternyata ada entri kata ‘kuriang’ dan juga ‘tangkuban parahu’. Begini redaksi untuk entri ‘kuriang‘ yang terdapat pada halaman 236:

Kuriang, name of a personage in ancient native lore, called mostly Sang kuryang. Perhaps Kuru hyang, from kuru, C. 131, a bud, a bow, a tortoise; thus the supernatural Tortoise god. Or Kura, C. 131 , a dwarf, a pigmy; any male animal stinted in its growth. Sang kura hyang , the supernatural dwarfgod.

Sedangkan untuk entri ‘tangkuban parahu’ begini redaksinya:

Tangkuban Prahu, the inverted boat, name of a volcanic mountain near Bandong on the border of Krawang. It is 6236 Rhineland feet high , and contains a double crater at the top. It has obtained its name from its resemblance to a boat turned bottom up, as seen from positions in the Preanger Regencies. There is an old legend which says that it is the remainder of a boat which was being constructed to sail about an immense lake which occupied the present plain of Bandong, formed by damming up the Chitarum at the Sengyang Tikoro. The tree to make this boat was felled on Bukit Tunggul, or stump hill , and the branches are represented by Gunung Burangrang, lying at either extremity of the Tangkuban Prahu. The dam in the Chitarum and the boat to sail on the lake were to be all completed in one night and ready before day-break. This feat was about to be accomplished, and great results obtained, when the disconcerted adversary fell upon the following device. On the water of the lake which was rising behind the dam of the Sengyang Tikoro, he strewed the shining white leaves of the Wurungan and at same time causing the women to beat the rice blocks, induced the belief that day had dawned, when the dam was abandoned in dispair, just before it was completed, and the Chitarum soon afterwards burst itself a way again into the Lowlands. The saga of the land points out the rude features of the country in confirmation of this story. The work was abandoned in dispair, but the rude remnants still remain to attest to the mountaineer the truth of the origin of the tale.

Jadi pada entri ‘kuriang’ Jonathan Rigg tidak sedikit pun mencantumkan ‘tangkuban prahu’ dan begitu pula sebaliknya. Kemudian Rigg tidak pula menghubungkan ‘kuriang’ dengan entri ‘tangkuban prahu’, yang biasanya jika ada kata yang berhubungan di dalam sebuah kamus akan ada keterangan ‘see…., seperti yang Rigg lakukan pada entri ‘aing’ berikut:

Aing , the pronoun I, used by a superior to an inferior. This word may be the first part of the word aya , a riftned expression for father , with a common Polynesion terminal ng attached to it or it may be the Singhalese ayiya C. 45 Elder brother, with the Polynesian ng subsituted for the final ya in the original word. Deference to age being so much observed by the natives that a slight modification of Father or Elder brother has become current for the personal pronoun used to designate a superior individual- see kula.

Jadi berdasarkan sumber-sumber tersebut, Sang Kuriang dan Tangkuban Prahu tidak terhubung.

Di bagian III, nanti akan dipaparkan siapa tersangka yang memodifikasi cerita itu, dan dari mulai kapan cerita itu terhubung. Dan kita akan melihat kemungkinan-kemungkinan keseriusan Pemerintah Hindia Belanda di dalam menjajah urang Sunda dari berbagai aspek, dari mulai aspek perumahkacaan etnis (akan saya telusuri lagi dokumen-dokumen Belanda) hingga aspek psikologis (akan saya bedah dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss).

Bersambung.

ditulis oleh

Karguna Purnama Harya

Karguna Purnama Harya, adalah seorang pengajar privat bahasa Prancis, penulis, penggiat sejarah.