Legenda Gunung Tangkuban Perahu sangat erat kaitannya dengan tokoh utamanya yaitu Sangkuriang, sebuah legenda yang sangat populer baik di wilayah lokal Jawa Barat maupun nasional. Legenda itu muncul di berbagai media, dari mulai komik, buku pelajaran sekolah, dongeng radio Mang Barna, bahkan sampai dibuat filmnya yang dulu dibintangi oleh ratu film horor Suzanna. Bahkan nama Sangkuriang pun sampai diabadikan menjadi nama jalan dengan kata lain Sangkuriang telah mendarah daging.

Dulu, rumah saya berada di wilayah Jalan Sangkuriang itu, tepatnya di Kota Cimahi yang melintang dari Jalan Raya Barat hingga berpotongan dengan Jalan Kolonel Masturi. Jarak rumah saya mungkin hanya sekitar 200 meter dengan sebuah stadion kebanggaan masyarakat Cimahi yang juga diberi nama yang sama dengan jalan itu yaitu Sangkuriang, dan juga ada GOR-nya di sana, lagi-lagi namanya GOR Sangkuriang.

Tokoh Sangkuriang ini adalah tokoh yang selain populer, juga merupakan tokoh yang sangat tua usianya. Naskah yang paling tua yang menyebutkan Sangkuriang adalah naskah Bujangga Manik yang saat ini tersimpan di perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford, Inggris. Tapi jangan khawatir kita masih bisa melihat versi digitalnya di tautan ini

Pada naskah itu disebutkan pula tokoh Sangkuriang itu, tapi ada yang aneh dan hal ini membuat saya berpikir berkali-kali. Begini transliterasi berikut terjemahannya dari petikan naskah itu yang menyebut-nyebut Sangkuriang. (Transliterasi dan terjemahan lengkap bisa dilihat di tautan ini.

Sadiri aing ta inya, leu(m)pang aing ngaler barat. Tehering milangan gunung: itu ta bukit Karesi, itu ta bukit Langlayang, ti barat na Palasari. (Sepergiku dari sana, berjalanlah aku ke utara-barat, melihat pegunungan: itulah Gunung Karesi, itulah Gunung Langlayang, di baratnya Gunung Palasari.)

Ngalalar ka bukit Pala. Sadatang ka kabuyutan, meu(n)tas di Cisaunggalah, leu(m)pang aing ka baratkeun, datang ka bukit Pategeng, sakakala Sang Kuriang, masa dek nyitu Ci-Tarum, burung te(m)bey kasiangan. (Berjalan melewati Gunung Pala. Setiba ke tempat suci, menyeberangi Sungai Cisaunggalah, aku berjalan ke barat, tiba di Gunung Pategeng, peninggalan Sang Kuriang, ketika akan membendung Citarum, tetapi gagal karena matahari keburu terbit.)

Ada satu hal yang membuat pikiran kritis saya tergugah. Pada petikan itu dengan jelas bukit atau gunung yang menjadi sakakala atau peninggalan Sangkuriang dengan jelas disebutkan adalah Gunung Pategeng, bukan Tangkuban Perahu. Dan Gunung Pategeng, saat saya lacak di google maps, ada tapi namanya sudah ada sedikit modifikasi yaitu Gunung Patenggeng yaitu sebuah gunung api purba.

Adapun Gunung Tangkuban Perahu dia sebutkan juga.

Itu ta na To(m)po Omas, lurah Medang Kahiangan. (Itu Gunung Tampomas, di wilayah Medang Kahiangan.) Itu Tangkuban Parahu, tanggeran na Gunung Wangi.(Itu Gunung Tangkuban Parahu, pilarnya Gunung Wangi.)

Berdasarkan isi naskah itu saya memiliki hipotesa bahwa Legenda Sangkuriang pada zaman Bujangga Manik tidak ada hubungannya dengan Gunung Tangkuban Perahu. Ada pun Legenda Sangkuriang yang kita kenal pada saat ini adalah hasil modifikasi. Pertanyaannya, sejak kapan legenda itu dimodifikasi? Siapa yang memodifikasi? Apa tujuan orang yang memodifikasi Legenda Sangkuriang? bagaimanakah kisah Sangkuriang yang sebenarnya?

Untuk menjawab itu semua, yang akan saya lakukan adalah menelusuri sumber-sumber yang berkaitan dengan keadaan tatar Priangan di mana Gunung Tangkuban Perahu berada untuk melacak perkembangan Legenda Sangkuriang di wilayah itu.

Saya memperkirakan kisah Sangkuriang dimodifikasi setelah tahun 1500-an, atau dengan kata lain pada zaman VOC, atau bahkan pada zaman yang lebih muda dari itu. Untuk gambaran utuh mengenai tanah Priangan pada saat masuk zaman VOC, saya tidak mendapatkan keterangan yang jelas mengenai adanya Legenda Gunung Tangkuban Perahu itu. Tapi justru saya mendapatkan keterangan yang sangat jelas mengenai keadaan penduduk Priangan, dari data sensus penduduk Priangan yang dilakukan oleh VOC pada tahun 1686, bahwa keadaan tanah Priangan pada tahun 1686 itu sangatlah sepi dan jarang penduduk (bisa dilihat datanya di sini. Berdasarkan data tersebut saya juga pernah membuat perkiraan bahwa di wilayah Priangan rata-rata hanya ada 1,56 penduduk/km2, yang mulai bertambah penduduknya dimulai pada tahun 1706 sebagai akibat dari Preangerstelsel. Dari sana gambaran tentang kemungkinan modifikasi Legenda Sangkuriang yang kemudian dikaitkan dengan Gunung Tangkuban Perahu belum tergambar.

Kemudian, saya mendapatkan sebuah sumber yang dapat menjelaskan keadaan Legenda Sangkuriang dalam kaitannya dengan Gunung Tangkuban Perahu, sumber tersebut adalah sebuah buku semacam buku laporan keadaan tanah Priangan yang ditulis oleh Andries de Wilde pada tahun 1830 yang telah didigitalisasi oleh google yang berjudul De Preanger regentschappen op Java gelegen atau Wilayah Priangan di Tanah Jawa. Pada buku itu Andries de Wilde menjelaskan keadaan dirinya yang menjadi tuan tanah di Wilayah Priangan (terdiri dari beberapa regentschapp atau kabupaten), dan sebelumnya dia pernah menjadi tuan tanah di wilayah Sukabumi. Di sana diceritakan bahwa dirinya pernah tinggal di wilayah Tarogong dan menjadi saksi meletusnya Gunung Guntur bersama dengan dengan Raden Rangga Jayanagara yang merupakan pemimpin wilayah itu. Dia pun pernah mendaki beberapa gunung. Gunung Gede dia daki dengan Raffles pada tanggal 26 Februari 1815, Gunung Salak dia daki dengan Prof. Reindwardt (pendiri sekaligus kepala Kebun Raya Bogor yang pertama) pada tanggal 5 Mei 1817.

Ada satu kisah unik, yaitu kisahnya saat mendaki Gunung Tangkuban Perahu bersama saudaranya yaitu C. de Wilde, bersama dengan beberapa pribumi naik kuda, dan dia tidak menyebutkan tanggalnya. Saat perjalanan itu dia menggambarkan keadaan Bandung Utara yang masih hutan belantara, kemudian kampung terakhir ada di Cirateun, dia berhasil mengambil sampel air kawah yang akan dia hadiahkan untuk Raffles, dan dia ceritakan tentang mitos Kawah Ratu yang seringkali dijadikan tempat ngalap berkah bagi para pemimpin agar memiliki wibawa. Dari awal sampai akhir kisah perjalanan itu, tidak satu pun dia sebutkan tentang Legenda Sangkuriang.

Kemudian ternyata Andries de Wilde pun, selain dia tuan tanah, dokter bedah militer, dia pun merupakan penyusun kamus bahasa Sunda pertama, dan tentu saja kamusnya telah didigitalisasi oleh google yang berjudul Nederduitsch-Maleisch en Soendasch woordenboek. Setelah saya telusuri ternyata di dalam kamus yang dia susun itu saya tidak mendapatkan kata Sangkuriang. Hal itu adalah hal yang aneh, mengingat dia sangat menaruh perhatian besar pada budaya pribumi. Kalau ceuk Mang Ujang mah, “Maenya teu apal?”

Tapi, ada satu alasan logisnya, yaitu Tangkuban Perahu saat itu belum terhubung dengan Legenda Sangkuriang.

Bersambung.

ditulis oleh

Karguna Purnama Harya

Karguna Purnama Harya, adalah seorang pengajar privat bahasa Prancis, penulis, penggiat sejarah.