Pada artikel The Bojong Salawe Code I (https://varmaninstitute.com/2020/08/the-bojong-salawe-code-i-cimaragas/), saya telah mengupas makna Toponimi Cimaragas berdasarkan naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4. Kemudian, pada tulisan ini saya kembali akan membahas mengenai toponimi Sungai Citanduy untuk melihat keterkaitannya dengan Desa Cimaragas, Situs Bojong Salawe, dan Galuh itu sendiri.

Sebelumnya akan saya ulangi terlebih dahulu pertanyaan benarkah Sungai Citanduy adalah tiruan Sungai Yamuna di India sebagai sarana untuk ritual mandi di hari Margasirsha Purnima? Kalau memang itu adalah sungai Yamuna mengapa namanya menjadi Citanduy? Apa kaitannya toponimi Galuh dan Citanduy? Apakah benar Prasasti Bojongsalawe yang berada di tepi Sungai Citanduy adalah prasasti pendirian Kerajaan Galuh oleh Wretikandayun? Apabila benar, apa alasan Wretikandayun memilih tempat itu sebagai tempat peletakan Prasasti? Apakah sebenarnya fungsi prasasti itu?

Untuk kajian toponimi ini tentu saya menggunakan alat bedah dengan kamus sansekerta baik yang online maupun kamus berbentuk buku. Karena bahasa sansekerta adalah alat untuk memahami kehidupan masyarakat yang ada di Pulau Jawa, sebagaimana yang disebutkan oleh Dr. Purwadi M.Hum, di dalam kata pengantar Kamus Sansekerta Indonesia yaitu bahwa pada zaman dahulu kala bahasa Sansekerta memang digunakan oleh para cendekiawan, ilmuwan, bangsawan dan para pujangga, selain itu bahasa itu digunakan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah bahasa Sansekerta menjadi kunci untuk memahami sejarah masa lampau. 

Pembahasan lanjutan pertama ini akan saya fokuskan pada kata ‘Citanduy’. Dikarenakan Citanduy ini sungai, maka namanya akan menjadi ‘ci’ dan ‘tanduy’. Ci adalah air atau sungai. Kemudian untuk kata ‘tanduy’ saya lihat di Kamus Sansekerta Indonesia karangan Dr. Purwadi M.hum., ternyata kata ‘tanduy’ tidak ada, tapi ada kata ‘tandhu’ yang artinya ‘tanda’. Dari sana saya yakin tanduy berasal dari kata ‘tandhu’ yang artinya ‘tanda’. Bunyi /y/ pada pada kata ‘tanduy’ saya simpulkan itu berasal dari ‘yamuna’ yang merupakan salah satu sungai keramat di India yang juga merupakan anak sungai Gangga. Seperti yang saya informasikan di dalam tulisan pertama bahwa Citanduy merupakan tiruan dari sungai Yamuna, tempat Rababu melakukan ritual pada hari Margasirsha Purnima untuk mengharapkan lelaki yang diharapkannya. Juga tempat Mandiminyak mengintip Rababu yang dia lihat seperti berpakaian permata. Masyarakat Galuh saat itu tidak bisa ke Sungai Yamuna asli. Alasannya tentu karena jarak, akhirnya ditetapkanlah Sungai Citanduy sebagai Sungai Yamuna di tanah Galuh. 

Dari sana muncul pertanyaan mengapa dari nama yang panjang ‘tandhuyamuna’ kemudian menjadi ‘tanduy’ saja? Hal ini bisa dilihat dari karakteristik umum masyarakat Sunda yang kreatif, suka menyingkat kata, misalnya ‘ceuk aing’ jadi ‘cekeng’, ‘acan’ menjadi ‘can’, dan juga suka memodifikasi bunyi kata, misal pada kata ‘dinamit’ dimodifikasi menjadi ‘bidamit’, lalu ‘dinamo’ menjadi ‘bidamo’, bahkan bukan hanya bunyi, makna kata juga bisa diubah, misalnya di dalam bahasa Jawa ‘ombe’ artinya ‘minum’ lalu bunyinya dimodifikasi oleh orang Sunda jadi ‘ombeh’ dan artinya malah dibalik menjadi cebok. Dari sopan menjadi kasar pun bisa, misal ‘dahar’ di dalam bahasa Jawa itu halus dan sopan, tapi di dalam bahasa Sunda jadi dibalik, termasuk ‘sare’.

Saya pernah bertanya kepada pakar linguistik Sunda, dan juga sastrawati Sunda, Chye Retty Isnendes, menurutnya fenomena tersebut termasuk ke dalam kajian psikolinguistik. Hal ini diperkuat di dalam artikel Robert Wessing yang berjudul ‘Tarumanagara: What’s in a name?’, dia mengutip dari buku Ajip Rosidi, yang berjudul ‘Ciri-ciri Manusia dan Kebudayaan Sunda’, di sana disebutkan bahwa salah satu karakter orang Sunda adalah senang dan menikmati di dalam memainkan kata-kata. Karakter ini pun bisa kita gunakan untuk menjelaskan mengapa ‘tandhuyamuna’ menjadi ‘Citanduy’. Proses yang dialami bisa berkali-kali, pertama disingkat dari tandhuyamuna menjadi tandhuy, lalu dimodifikasi menjadi tanduy, dan akhirnya ditambah ‘ci’ sebagai penanda sebuah tempat atau sungai. Kasus pada Cimaragas juga sama, dari Margasirsha Purnima, disingkat menjadi margas lalu dimodifikasi menjadi maragas dan akhirnya ditambah ‘ci’ menjadi Cimaragas.

Kemudian, selain itu saya pun menemukan sesuatu yang sangat menarik. Kata ‘tandhu’ yang artinya tanda, itu mirip dengan kata ‘tunda’ yang artinya pusar yang menonjol (dalam bahasa Sunda disebut ‘bujal dosol’).https://www.sanskritdictionary.com/?iencoding=iast&q=tunda&lang=sans&action=Search

Saat saya melihat prasasti Bojongsalawe itu bentuknya mirip seperti ‘bujal dosol’. Ditambah di bagian atas prasasti itu terdapat simbol spiral. Di sini saya mulai memperkirakan bahwa Situs Bojong Salawe adalah titik pusat Kerajaan Galuh atau di dalam bahasa Sunda disebut puseur dayeuh atau mungkin nama lainnya adalah tunggul rahayu yang sekarang jadi nama dusun tempat Situs Bojong Salawe berada.

Dari sana saya tidak berhenti, lalu saya teringat pada kisah didirikannya Kota Bandung, saat itu Daendels menancapkan tongkatnya di pinggir Jalan Raya Pos, dan di sanalah sekarang titik nol kilometer kota Bandung. Terus saya berimajinasi di sana ada Bupati Bandung. Lalu Bupati memerintahkan dibuatnya patok titik nol kilometer, kemudian Bupati Bandung itu memerintahkan anak buahnya untuk menyimpan patok itu dengan kalimat, “Sok tunda didinya!”

Pertanyaanya jika Prasasti Bojongsalawe adalah patok titik nol, mengapa patok titik nol itu  ditunda (diletakkan) di pinggir Sungai, bukan di pinggir jalan?

Ternyata jawabannya adalah bahwa zaman dahulu alur transportasi itu lebih diutamakan jalur transportasi sungai yang pada saat itu infrastruktur jalan masih belum seperti sekarang. Kegiatan tersebut masih bertahan sebelum dibangunnya Jalan Raya Pos.http://www.ayopurwakarta.com/read/2020/02/14/4215/tanam-paksa-kopi-dan-gelar-bupati-di-priangan

Dan hal ini bisa dilihat dari kata ‘jalan’ itu sendiri saya yakin akar katanya adalah bahasa sansekerta dari kata ‘jala’ yang artinya ‘air’ yang ditambahkan akhiran -an menjadi jalaan atau perairan lalu menjadi jalan yang waktu itu menunjukkan sungai sebagai jalur transportasi.

Kemudian dari sana muncul lagi pertanyaan, benarkah Prasasti Bojong Salawe merupakan penanda titik nol kilometer atau titik pusat atau titik tengah Kerajaan Galuh? Kemudian saya melihat pada toponimi ‘Galuh’ Itu sendiri.

Di dalam bahasa sansekerta, ‘galuh’ artinya ada dua, yang pertama adalah ‘a sort of gem’ atau batu mulia yang dalam bahasa Inggris disebut ‘jewel’ (jangan-jangan Jawa itu Galuh), dan yang kedua adalah perhiasan ‘kalung’. Kemudian ‘galuh’ itu sendiri adalah sinonim dari ‘ratna’ yang diambil dalam istilah Hindu dari istilah ‘Navaratna’ https://en.wikipedia.org/wiki/Navaratna.

Navaratna itu sendiri artinya sembilan batu mulia. Kemudian ada perhiasan kalung ‘Navaratna’ yang terkenal yaitu perhiasan milik Ratu Sirikit dari Thailand https://en.wikipedia.org/wiki/Navaratna#/media/File:Queen-Sirikit-Navaratna.jpg.

Dari untaian batu-batu mulia itu yang paling mulia adalah yang di tengah, dan itu adalah batu ruby yang bahasa sanskertanya adalah ‘manikyam’. https://en.wikipedia.org/wiki/Navaratna.

Kemudian ternyata kata itu tidak lengkap, kata di dalam bahasa sansekertanya yang lengkap adalah ‘garudamanikyamaya’ https://www.sanskritdictionary.com/garu%E1%B8%8Dam%C4%81%E1%B9%87ikyamaya/70732/1 . Jika garuda saja maka itu adalah raja burung, tapi garudamanikyamaya adalah batu ruby manikya yang mengandung emerald. Hal ini terdapat di kitab Garuda Purana.(https://www.wisdomlib.org/definition/manikya) (https://www.wisdomlib.org/hinduism/book/the-garuda-purana-dutt/d/doc122551.html).

Dan lagi-lagi ketika kata ‘garudamanikyamaya’ itu masuk ke dalam pikiran orang Sunda maka pasti akan dimodifikasi. Yang asalnya ‘garudamanikyamaya’ dimodifikasi menjadi ‘galudramanikem’ lalu disingkat tinggal ‘galu’ saja. Tapi modifikasi tidak berhenti, sebab kebiasaan orang Sunda selalu menambahkan bunyi /h/ misalnya pada kata ‘apa’ menjadi ‘apah’, ‘berapa’ menjadi ‘berapah’, dan ‘galu’ menjadi ‘galuh’.

Berdasarkan semua kajian di atas maka kita bisa melihat makna filosofis Kerajaan Galuh yang akan sangat berkaitan erat dengan Prasasti Bojong Salawe. Ketika Galuh diibaratkan Navaratna, atau kalung sembilan batu mulia, apakah yang menjadi ikatannya atau kalungnya? Di sini ternyata ‘ratna’ itu punya arti lain, yaitu selain ‘jewel’ atau ‘batu mulia’ atau pun ‘kalung’ arti lainnya adalah ‘air’.https://www.sanskritdictionary.com/?iencoding=iast&q=ratna&lang=sans&action=Search.

Jadi di sini jelaslah bahwa Citanduy adalah ibarat kalung air Navaratna yang di tengah-tengahnya tersimpan batu garudamanikyamaya atau batu rubi. Tapi pertanyaanya, di manakah letak titik tengah kalung air Citanduy? Apakah benar di Situs Bojong Salawe?

Dari sini kita bisa melihat secara topografi letak mata air Sungai Citanduy, dan di mana muara Sungai Citanduy. Mata air Sungai Citanduy terletak di Gunung Cakrabuana (https://id.wikipedia.org/wiki/Ci_Tanduy), sedangkan muaranya di daerah Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Pangandaran.https://www.google.com/maps/place/Muara+Citanduy/@-7.6748715,108.7830552,14z/data=!3m1!4b1!4m5!3m4!1s0x2e659fda121e1e01:0xd8277aec213af5ff!8m2!3d-7.674872!4d108.8005648.

Kemudian saya membuka google map, saya ketikan di sana Gunung Cakrabuana, Situs Bojong Galuh Salawe, dan Muara Citanduy. Pertama-tama saya mengetikkan Gunung Cakrabuana lalu saya tambahkan juga Muara Sungai Citanduy untuk melihat rute dan jarak. Ternyata jaraknya kurang lebih 128 Km. Kemudian di rute tersebut, saya melihat titik tengahnya. Dan saya temukanlah di sanalah bujal dosol batu rubi Navaratna atau pusat Kerajaan Garudamanikyamaya atau Kerajaan Galudramanikem atau Kerajaan Galuh berada. Tepat di Situs Bojong Salawe. Jika anda penasaran, silakan bisa dicoba di Google Map.

https://www.google.co.id/maps/place/Situs+Bojong+Galuh+Salawe/@-7.3577789,108.1881923,10z/data=!4m29!1m23!4m22!1m6!1m2!1s0x2e6f35d9cf874087:0x597ae20ab2d2efbb!2sGn.+Cakrabuana,+Lemah+Putih,+Lemahsugih,+Kabupaten+Majalengka,+Jawa+Barat!2m2!1d108.1391667!2d-7.0422222!1m6!1m2!1s0x2e6f60429c385a8b:0xc08db49045341b8d!2sSitus+Bojong+Galuh+Salawe,+Jl.+Bojong+Salawe,+Cimaragas,+Ciamis+Regency,+West+Java!2m2!1d108.451585!2d-7.3601596!1m6!1m2!1s0x2e659fda121e1e01:0xd8277aec213af5ff!2sMuara+Citanduy,+Pamotan,+Pangandaran,+Jawa+Barat!2m2!1d108.8005648!2d-7.674872!3e0!3m4!1s0x2e6f60429c385a8b:0xc08db49045341b8d!8m2!3d-7.3601596!4d108.451585?hl=id&authuser=0

Jadi, saya yakin dulu nama resmi Kerajaan Galuh adalah Kerajaan Garudamanikyamaya. Dan ini pun diinformasikan di dalam Naskah Wangsakerta bahwa Kakekbuyutnya Wretikandayun bernama Mahaguru Manikmaya.

/31/ runan sang Resiguru Manikmaya Prabhuguru, atau raja daerah Kendan. Selanjutnya dikisahkan sekarang berkuasa di kerajaan Galuh dan kerajaan Sunda di wilayah (Jawa) Barat demikian. Sang Resiguru Manikmaya namanya, datang dari Jawa Timur, tetapi negara asal-mulanya ialah negara India dari keluarga Salankayana. Ada beberapa negara di antaranya yaitu Gaudi, Mahasin, Hujungmedini, Suwarnabhumi, Gohnusa yaitu pulau Bali, juga negara Syangka,

Jadi alasan Wretikandayun menamai kerajaannya itu adalah karena dia menghormati kakekbuyutnya yaitu Resiguru Manikmaya. Dan apakah Wretikandayun menguasai pengetahuan-pengetahuan itu terutama tentang Navaratna, Margasirsha Purnima? Tentu saja, sebab di dalam naskah disebutkan bahwa Wretikandayun adalah rajaresi yang kalau zaman sekarang itu adalah rektor di universitas. Terlebih lagi kakeknya itu adalah resiguru dari India.

/38/ namanya lagi. Sang Kandihawan beranak beberapa orang lelaki. Salah satu di antaranya adalah Sang Wretikandayun, ia menggantikan ayahnya menjadi raja. Tetapi ia menjadi raja di daerah Galuh, kemudian menjadi rajaresi di daerah Menir.

Jadi apakah anda masih ragu dan menganggap Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4 berisi informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan? Semuanya saya kembalikan lagi kepada anda.

Dan untuk tulisan berikutnya adalah “The Bojong Salawe Code III” (Wretikandayun dan Galuh) : Berburu Letak Keraton Kerajaan Galuh

ditulis oleh

Karguna Purnama Harya

Karguna Purnama Harya, adalah seorang pengajar privat bahasa Prancis, penulis, penggiat sejarah.