Asal-usul kata Banten

Dulu, Banten adalah sebuah kesultanan yang besar yaitu Kesultanan Banten. Pusat pemerintahannya terletak di wilayah Banten lama, Kota Serang yang merupakan ibukota provinsi dengan nama yang sama yaitu Provinsi Banten. Yang sebelumnya sempat menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat.

Awalnya, saya sangat percaya diri, jangan-jangan belum ada yang meneliti makna kata ‘banten’. Saat saya berdiskusi di WA grup Varman Institute sendiri, Teh Retty Isnendes (sastrawati Sunda dan pakar linguistik Sunda), beliau berkata, “Kecap ‘Banten’ tos ti kapungkur diadurenyomkeun.” (Kata ‘Banten’ sudah dari dulu diperdebatkan).

Ternyata, benar saja, saat saya googling, sudah ada. Bahkan banyak sekali. Jadi saya terlambat, kesiangan seperti Sangkuriang. Tapi tidak apa-apa. Siapa tahu ada celah lain yang belum dirambah.

Mengenai makna kata ‘Banten’ itu sendiri, telah banyak yang membahasnya. Dan saya akan mendaftarnya satu per satu. Siapa tahu nanti yang membaca tulisan ini bisa juga menambahkan atau pun mengoreksinya.

Yang pertama di dalam buku-buku Belanda. Buku yang tertua yang pernah saya baca format digitalnya (telah didigitalisasi), di sana kesultanan Banten selalu disebut dengan nama “Bantam”. Dan terus menerus disebut “Bantam” sampai akhir abad ke-19. Baru kemudian pas awal abad ke-20, orang-orang Belanda mulai menggunakan kata “Banten”.

Yang kedua menurut situs Dirjen Kemendikbud kata ‘Banten’ itu ada tiga asal-usulnya. Yang pertama berasal dari ‘katiban inten’ yang menggambarkan sejarah Banten yang dulunya penyembah berhala kemudian masuk Islam lalu diibaratkan seperti ‘katiban inten’. Kemudian dari kata ‘bantahan’ yang menggambarkan bahwa stakeholder Banten dulu suka membantah penjajah. Ada juga yang menggambarkan dari kata ‘emban inten’ yang asalnya dari kisah Batara Guru jampang yang bersemedi di atas watu gilang lalu melihat penampakan istana Surasowan yang seperti dikelilingi sungai yang cemerlang seperti bintang biduri. Surasowan digambarkan seperti cincin yang diemban intan.

Kemudian menurut situs Hisstori di dalam artikelnya lumayan cukup lengkap, di dalam naskah Carita Parahyangan disebutkan terdapat wilayah Wahanten Girang. Kemudian di Purwaka Caruban Nagari terdapat istilah Kawunganten. Sementara di Prasasti Kebantenan masih menyebut nama ‘Bantam’ seperti yang ditulis oleh para penjelajah asing. Ada pula di situs tersebut kutipan dari buku ‘Menemukan Peradaban : Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia’ karya Hasan Muarif Ambary, menyebutkan bahwa “Tome Pires, penjelajah Portugis (1512-1515), menyebut Bantam sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda. Di samping Pomdam (Pontang), Cheguide (Cigading), Tamgaram (Tangerang), Calapa (Sundakalapa), dan Chemano (Cimanuk).”

Sementara, masih dari situs yang sama, menyebutkan bahwa di dalam kamus The Contemporary English-Indonesian Dictionary karya Peter Salim, Bantam memiliki dua arti. Pertama, bantam untuk menyebut unggas, misalnya ayam atau itik yang kecil dan pendek (kita menyebutnya ayam kate). Kedua, bantam berarti orang yang suka bertengkar atau berkelahi.

Kemudian, situs tersebut mengutip pendapat Heriyanti Ongkodharma Untorom dalam Kapitalisme Pribumi Awal Kesultanan Banten 1522-1684: Kajian Arkeologi-Ekonomi. Menurutnya, kesultanan Banten sebagai Bantam agaknya berlangsung sejak bangsa Portugis mengadakan pelayaran ke Banten sekitar tahun 1516. Selain itu, menurut Heriyanti, kata Bantam berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya persajian, dan bila diucapkan dalam bentuk halus menjadi bantan. Kata bantan dalam bahasa Bali diartikan sebagai kurban sesaji kepada dewa, leluhur, atau roh-roh. Dalam prasasti Batwan A tahun 855 Saka disebutkan nama pejabat ser bantan, yaitu orang yang memimpin persajian.

Lalu di dalam situs itu, Heriyanti masih belum yakin dan bertanya “Apakah pengertian kata Banten yang dipakai sebagai nama lokasi di bagian barat pulau Jawa ini sama dengan penjelasan dalam bahasa Bali tersebut atau berkaitan dengan masalah persajian, agaknya masih diperlukan penelitian lebih lanjut.”

Nah, inilah celah yang saya dapatkan. Saya ingin mengupasnya berdasarkan ilmu linguistik. (Untuk memperkaya tulisan ini, saya sangat mengharapkan saran, kritik, atau pun koreksi).

Saya ingin berangkat pada petunjuk yang diberikan oleh Heriyanti di atas. Yaitu ‘banten’ itu berasal dari kata ‘bantan’ yang merupakan bahasa Sanskerta yang artinya persajian yang dihaluskan. Dalam bahasa Bali juga sama.

Sekarang mari kita tinjau dalam kamus bahasa sanskerta. Ternyata, persajian di dalam bahasa sanskerta disebut dengan kata ‘bali’, bukan ‘bantam’ (bisa dilihat di link ini). Bali memiliki banyak arti, tapi intinya sama yaitu memberikan sesuatu. Dan kemudian kata Heriyanti, kata ‘bantan’ itu adalah bentuk halus. Tapi bentuk halus dari kata apa? Sebab ternyata bukan bentuk halus dari bantam karena bantam bukan bahasa sanskerta.

Sekarang kita lihat pendapat Heriyanti lainnya, katanya ‘Banten’ adalah bahasa Bali, yang artinya persajian.

Menurut orang Bali sendiri yaitu IB Putu Bangli, di dalam bukunya Mutiara budaya dalam Hindu Bali 2015 (lihat di situs ini) di sana disebutkan bahwa ternyata Bali memiliki tiga nama yaitu ‘wali’ ‘bali’ dan ‘banten’.

Berdasarkan informasi dari kamus Sanskerta dan dari buku orang Bali di dalam situs tersebut, maka semuanya bermuara pada kata ‘bali’. Apakah kata ‘banten’ adalah ‘bali’ yang mengalami penghalusan?

Berhubung wilayah banten ada di wilayah Pajajaran yang menggunakan bahasa Sunda kuno, dan saat itu bahasa Sanskerta adalah bahasa yang populer di Nusantara, maka kita bisa kembali kepada naskah Carita Parahyangan yang menyebut istilah ‘banten’ dengan ‘wahanten’.

Bagaimana proses pembentukan kata dari ‘bali’ menjadi ‘wahanten’?

Saya menduga kuat, bahwa ‘bali’ yang merupakan bahasa sanskerta kemudian didengar oleh orang Sunda pada waktu itu lalu orang Sunda menginterpretasikannya kembali. Dari ‘bali’ kemudian mengalami perubahan fonem /b/ menjadi /w/ (dua buah fonem yang memiliki titik artikulasi bilabial atau dwibibir), yang merupakan kebiasaan orang Sunda zaman dulu. Misalnya ‘baja’ menjadi ‘waja’ (masih bertahan pada kata tank waja), ‘besi’ menjadi ‘wesi’ (sekarang berubah menjadi beusi), ‘bulan’ menjadi ‘wulan’ (sekarang kembali jadi bulan lagi bisa dilihat pada kata ‘bulan tok’, untuk wulan sendiri malah diadopsi oleh bahasa Indonesia pada kata catur wulan), ‘belas’ menjadi ‘welas’ (masih berlangsung pada kata ‘caang bulan opat welas’ dan ‘welas asih’).

Jadi ‘bali’ pada waktu itu mungkin berubah menjadi kata ‘wali’. Nah, dari kata ‘wali’ bisa berubah menjadi ‘wahali’ jika kata ‘wali’ tersebut mendapatkan infiks (sisipan) -ha-. Infiks -ha- saat ini tidak terdapat di dalam bahasa Sunda, justru ada di dalam bahasa Indonesia yang akarnya adalah bahasa Melayu. Contoh, kata ‘basa’ menjadi ‘bahasa’, ‘bagian’ menjadi ‘bahagian’, ‘pencarian’ menjadi ‘pencaharian’, ‘dulu’ menjadi ‘dahulu’, ‘baru’ menjadi ‘baharu’. Dapat dimengerti bahwa pada saat Pajajaran berkuasa, bahasa Melayu adalah bahasa perdagangan bahkan menjadi lingua franca Nusantara. Jadi pengaruh bahasa Melayu kepada bahasa Sunda kuno pasti ada.

Saya googling mengenai fungsi infiks -ha, ternyata saya tidak menemukannya, namun setelah saya melihat kata ‘dahulu’ dan ‘baharu’, saya jarang mendapatkan kedua kata itu di dalam percakapan lisan, justru lebih kepada bahasa tulisan atau bahasa sastra. Contoh, ‘Pada zaman dahulu kala….’, bukan ‘Pada zaman dulu kala…’.

Jadi logis jika ‘bali’ kemudian berubah menjadi ‘wali’ kemudian berubah lagi jadi ‘wahali’. Hanya saja ‘wahali’ lebih bersifat sastra. Nah, bagaimana ‘wahali’ bisa menjadi ‘wahanten’?

Untuk menjawab itu maka di sinilah bahasa Sunda berperan. (Mungkin sama juga dengan bahasa Bali). Di dalam bahasa Sunda, terdapat alomorf -nten (morfem terikat yang berfungsi untuk menghaluskan kata). Contoh pada kata, ‘percaya’ menjadi ‘percanten’, sakalian menjadi sakantenan, ‘beda’ menjadi ‘benten’, ‘bade ka mana?’ menjadi ‘bade ka manten?’ Aturannya, suku kata terakhir diganti dengan -nten.

Apabila alomorf tersebut diterapkan pada ‘wahali’ maka suku kata terakhir hilang dan kata tersebut menjadi ‘waha-‘ dan kemudian yang hilang tersebut diganti dengan -nten, menjadi ‘wahanten’. Di sinilah kemudian kata ‘wahali’ yang bersifat sastra dihaluskan menjadi ‘wahanten’.

Bagaimana dengan kata ‘bali’ yang bersifat lisan? Tentu tidak perlu ditambah dengan infiks -ha, jadi perubahannya seperti ini, ‘bali’ berubah menjadi ‘wali’ berubah menjadi ‘wanten’. Kemudian kata ‘wanten’ didengar oleh orang-orang Portugis, tentu secara lisan di dalam perdagangan. Dan mereka menginterpretasikan ‘wanten’ menjadi ‘bantam’. Mengapa Portugis tidak mengucapkan fonem /w/? Setelah saya lihat, ternyata di dalam bahasa Portugis tidak terdapat fonem konsonan /w/, jadi mereka menginterpretasikannya kepada fonem yang terdekat yaitu /b/, adapun untuk fonem lainnya yaitu en (/ə/ dan /n/) berubah menjadi am (/a/ dan /m/), ini bisa dijelaskan melalui fenomena keliru dengar, yang di dalam bahasa Sunda disebut ‘saliwang’.

Di kalangan masyarakat Sunda sendiri, kata ‘wanten’ berubah lagi menjadi ‘banten’ adalah fenomena yang wajar seperti pada ‘wulan’ yang menjadi ‘bulan’, ‘wesi’ yang menjadi ‘beusi’.

Jika ada pertanyaan mengapa kata Sanskerta ‘bali’ (yang berubah jadi wali lalu wanten, kemudian banten) tersebut ada di Pajajaran, tidak lain dan tidak bukan karena dulu Banten ada di wilayah Pajajaran yang agama resminya Hindu, seperti Bali pada saat ini.

ditulis oleh

Karguna Purnama Harya

Karguna Purnama Harya, adalah seorang pengajar privat bahasa Prancis, penulis, penggiat sejarah.