Alhamdulillah, pada tanggal 4 Juli 2017 hingga 12 Juli 2017, saya berangkat ke Jepang, dengan tujuan utamanya mengunjungi daerah pertanian di Kagoshima. Kagoshima adalah daerah paling selatan dari Negara Jepang. Daerah ini sangat subur karena gunung berapi Sakurajima yang berada di teluk Kagoshima “rajin” menjatuhkan abu vulkanik ke Kagoshima. Suhu rata-rata tahunan adalah 18 derajat C, suhu tertinggi 33 derajat dan terendah 15 derajat Celcius.

Kehidupan petani-petani di Kagoshima tergolong sejahtera. Rata-rata per 5 hektar lahan pertanian dikelola oleh 5-6 orang petani. Menurut bincang-bincang, paling tidak dalam petani di Kagoshima bisa mendapatkan rata-rata penghasilan per bulan Rp30-40juta. Para petani ini biasanya tergabung dalam asosiasi (semacam koperasi), yang mengelola hasil pertanian dari hulu hingga ke hilir.

Pada umumnya pertanian di Kagoshima (dan Jepang pada umumnya) banyak yang berpolakan pertanian sehat dan alami (organik). Produk-produk organik mendapatkan tempat yang sangat penting bagi penduduk Jepang. Di hotel tempat saya menginap, selain tersedia air keran yang dapat diminum, disediakan sabun, shampoo, dan conditioner dengan label organik.

Dari kunjungan saya beberapa hari ke Kagoshima, secara teknologi, pertanian di Kagoshima, tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Ketika saya melakukan wawancara dengan beberapa petani dan juga asosiasi pertanian di Kagoshima, tidak saya temukan hal-hal yang luar biasa dari teknologi pertanian mereka. Ini menandakan, secara teknologi, Indonesia tidak kalah hebat dibandingkan Jepang dalam hal pertanian organik. Bahkan dalam beberapa hal, pertanian Indonesia lebih maju. Di Kagoshima, saya mendapati banyak juga pertanian dengan menggunakan green house, yang tentu saja di Indonesia pun tidak kalah. Bahkan, di Garut, rekan saya Kang Tantan, sudah menerapkan green house cerdas yang dikontrol komputer. So, kita tidak perlu rendah diri kalau dalam hal teknologi pertanian di bandingkan Jepang.

Lalu apakah yang membuat pertanian Jepang demikian maju? Kunci utamanya menurut saya ternyata terletak pada sistem tataniaga yang terbangun dengan baik. Mau tidak mau, disini ada peran pemerintah dan lembaga-lembaga pertanian yang begitu kuat dan terintegrasi. Pemerintah Jepang sangat memperhatikan pertanian. Untuk daerah-daerah tertentu, saluran irigasi dapat dibuat dengan membuat bendungan, atau menggunakan pompa. Petani hanya cukup membayar retribusi atas penggunaan fasilitas tersebut dengan biaya yang cukup murah.

Infrastruktur juga sangat mendukung, baik sarana jalan, maupun angkutan. Saya membandingkan hamparan sawah yang berada di Leles Garut, biasanya kesulitan dalam mengangkut hasil panen, karena tidak ada akses jalan. Di Kagoshima, di sela-sela hamparan sawah/lahan pertanian, terdapat jalan-jalan yang meskipun hanya cukup untuk 1 mobil lewat, tetapi ini sangat membantu petani mengangkut hasil tani, dan tentunya sebagai akses lewat traktor dan alat mesin pertanian lainnya.

Hasil panen pertanian di Kagoshima, tidak ditentukan oleh harga pasar, tetapi ditetapkan berdasarkan perhitungan biaya produksi. Jadi tidak akan ada cerita harga tomat demikian murahnya hingga dibuang ke selokan oleh petani. Rantai distribusi tidak jelimet seperti di Indonesia yang kadang kala tidak masuk akal, hari ini harga tinggi, minggu depan jatuh demikian rendahnya. Penentu harga bukanlah mafia dan tengkulak seperti yang terjadi di Indonesia.

Selain itu, pertanian di Kagoshima, tidak hanya menjual hasil panen mentah, tetapi juga ada juga produk-produk olahannya. Dan satu hal yang sangat menarik bagi saya, semua produk-produk baik mentah maupun olahan tersebut dikemas dalam packaging yang sangat cantik, menarik perhatian, dengan desain yang bagus sekali.

Beberapa asosiasi pertanian (termasuk Kagoshima Organic Farmer’s Association) yang saya kunjungi, memilik outlet pemasaran sendiri. Mereka memiliki jaringan toko-toko organik yang tersebar di berbagai daerah. Kagoshima Organic Farmer’s Association sendiri awalnya hanya beranggotakan 4 kelompok tani, sekarang sudah berkembang mencapai 140-an kelompok tani. Di tempat yang saya kunjungi, mereka punya cold storage sendiri, penyortiran, pengepakan, dll. Cold storage nya dijaga pada suhu sekitar 15 derajat C.

Maka, dapat saya simpulkan, kehebatan pertanian di Jepang tidak terletak pada teknologi pertaniannya, tetapi terletak pada semangat bertani para petaninya, dan dukungan seluruh masyarakat Jepang, baik rakyatnya, pemerintah, dan lembaga-lembaga lainnya. Profesi petani di Jepang sangat dihargai, sehingga pemerintah pun urun tangan, dengan adanya asuransi yang dapat menjamin kegagalan panen, jaminan kesehatan petani, dan jaminan hari tua petani.

Rakyat Jepang sangat bangga mengkonsumsi hasil pertanian mereka, meskipun dalam beberapa hal cukup mahal. Contohnya beras Jepang yang terkenal pulen dan enak itu, dihargai sekitar JPY2.000 (Rp230.000) per 2 kg. Tetapi mereka tetap bisa jual harga beras semahal itu ke negara-negara lain. Ini berbeda dengan sebagian besar rakyat Indonesia yang lebih bangga mengkonsumsi produk-produk pertanian luar negeri. Apalagi jiga produk luar negeri itu lebih murah dari produk lokal. Sedangkan di Jepang tidak, semurah apapun produk bangsa lain, mereka akan lebih bangga konsumsi produk lokal pertanian, meski harganya lebih mahal.

Demikianlah sekilah pengalaman saya dari mengunjungi pertanian di Kagoshima. Semoga Indonesia, negara yang leluhurnya punya kekuatan dari bertani, dapat bangkit menjadi negara agraris kembali. Ilmu pertanian kita dalam bertani tidak kalah dan dalam beberapa hal lebih unggul. Apalagi iklim Indonesia memungkinkan kita dapat bertani sepanjang tahun. Kalaupun pemerintah belum menampakkan dukungan terhadap pertanian, inilah yang harus kita siasati dengan cara bersinergi antar kelompok tani, pengolah, distribusi dan pemasaran.

Tentu saja, yang dapat mengangkat pertanian Indonesia, adalah kita rakyat Indonesia sendiri. Mulailah dari sekarang punya kesadaran untuk membeli produk lokal pertanian kita, karena dari setiap kg sayuran yang kita beli, ada uang yang masuk ke petani untuk biaya sekolah anaknya, biaya kesehatan, dan kehidupan mereka. Tetapi kalau kita lebih bangga membeli produk pertanian importir, boleh jadi, uang yang masuk ke mereka adalah untuk menambah rumah mewahnya, menambah mobil mewahnya, dan upaya memonopoli pangan Indonesia.

Pikirkan baik-baik.

Salam, Kang Eep (Eep S. Maqdir)
Tukang Dongeng Pertanian
Swadaya Petani Indonesia