BAB IV

MELACAK JEJAK KOTA CIMAHI

Hayu Atuh Urang Ngopi

“Dengkleung dengdek
boeah kopi raranggeujan
Mingkeun noe dewek
oelah pati diheureujan”

Dulu, pantun tersebut seringkali diucapkan disertai dengan lagu. Dan saya yakin, orang yang pertama kali membuat lirik tersebut terinspirasi saat melihat pemandangan perkebunan kopi. Dia melihat buah kopi raranggeuyan yang artinya untaian-untaian buah-buah kopi, yang mungkin ranum siap petik. Selain itu, di lingkungan masyarakat Sunda, kopi sudah tidak asing lagi terbukti dengan fenomena kata ‘ngopi’ yang berbeda artinya dengan daerah lain. Di dalam masyarakat Sunda, walaupun tidak ada kopinya atau pun tidak suka minum kopi, tapi pasti sering bilang, “Hayu atuh urang ngopi!”

Bagi yang bukan orang Sunda, pasti aneh dan akan mengernyitkan jidat saat datang ke lingkungan masyarakat Sunda lalu diajak ‘ngopi’ tapi tak ada kopinya. Istilah ‘ngopi’ telah bertransformasi dan berubah arti menjadi aktifitas ‘ngemil’ makanan ringan mau ada kopinya atau pun tidak. Kemudian, ternyata, kopi ini juga ada hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di Bab III sebelumnya, yaitu: kapankah wilayah Tjilokotot mulai ditempati? Apakah betul oleh orang-orang Timbanganten? Mengapa ditempati?

Awalnya saya bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan itu. Kemudian saya mencoba berpikir mengenai hal-hal yang biasanya membuat suatu kelompok masyarakat berpindah tempat. Berdasarkan pengamatan saya pribadi yang saya lakukan saat saya membaca berita, menonton televisi, dll., biasanya yang membuat perpindahan tersebut terjadi hanya disebabkan oleh tiga faktor.

Faktor yang pertama adalah karena bencana alam, misalnya bencana alam di Palu. Saya memiliki teman orang Palu yang selamat dari bencana likuifaksi. Dia berkata bahwa orang-orang yang selamat tidak ingin lagi tinggal di sana. Ada pun yang bertahan tinggal di sana karena terpaksa karena tidak ada pilihan lain.

Faktor yang kedua biasanya adalah konflik. Sebagai contoh yang baru-baru ini terjadi yaitu konflik berdarah di Wamena yang menyebabkan para pendatang asal Jawa, Sulawesi, dan Sumatra ingin mengungsi atau kembali ke tempat asalnya.

Faktor yang ketiga adalah faktor kebijkan pemerintah yang didorong oleh keadaan sosial ekonomi, baik ekonomi masyarakatnya sendiri atau ekonomi dunia. Seperti halnya pada zaman Orde Baru dulu menjalankan program Transmigrasi. Seperti halnya yang saya pernah saya lihat di Kendari. Di sana terdapat desa-desa transmigran. Misalnya desa para transmigran asal Jawa Barat, mereka tinggal di desa Sindangkasih. Kemudian desa untuk para transmigran asal Bali mereka tinggal di desa Jati Bali.

Berdasarkan ketiga faktor itulah saya menelaah sumber-sumber dokumen dan buku-buku bersejarah yang tentunya saya dapatkan secara online. Saya menelusuri arsip-arsip VOC mengenai ketiga hal tersebut pada masa Tumenggung Anggadiredja berkuasa. Dan ternyata setelah saya telusuri situs Sejarah Nusantara ANRI, Tumenggung Anggadiredja itu ada dua. Tumenggung Anggadiredja I dan anaknya yaitu Tumenggung Anggadiredja II. Tumenggung Anggadiredja yang dimaksud di sini yaitu Tumenggung Anggadiredja I yang berkuasa dari tahun 1704 sampai 1747.

Yang saya telusuri pertama kali adalah bencana alam yang terjadi di priangan khususnya di lanskap Bandung pada kurun waktu itu 1704-1747. Ternyata saya tidak menemukan satu pun catatan telah terjadinya bencana pada kurun waktu tersebut. Adapun bencana alam yang pernah terjadi justru terjadi lima tahun sebelumnya yaitu terjadinya bencana gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter pada tahun 1699 di wilayah Banten. Jadi, alasan perpindahan karena bencana pun tertolak.

Kemudian saya lanjutkan pada faktor konflik yang terjadi. Baik di wilayah lanskap Bandung sendiri maupun di tanah Jawa pada saat itu. Setelah saya selidiki memang pada saat itu ada perang yaitu perang perebutan kekuasaan di kerajaan Mataram. Saat itu Amangkurat II meninggal dunia, kemudian penggantinya yaitu Amangkurat III tidak disukai oleh VOC dan akhirnya VOC mendukung tokoh lain, yaitu Pangeran Puger. Pangeran Puger yang merupakan adik dari Amangkurat II pun kemudian berhasil naik tahta dan menjadi Sultan Pakubuana I Senopati Ingalaga. Walaupun terjadi peperangan, tapi peperangan tersebut sedikit kemungkinan mempengaruhi Priangan karena pada saat itu oleh VOC, Priangan disebut bovenlanden atau tanah pedalaman yang sulit dijangkau sebab saat itu Jalan Raya Pos belum dibangun, dan orang-orang pada saat itu lebih memilih melakukan segala aktifitas di kota-kota di dekat pelabuhan termasuk berperang. VOC pun untuk menjelajah pulau jawa, tidak melalui jalan darat, tapi lewat Laut Jawa. Jadi, alasan yang kedua pun gugur.

Penelusuran selanjutnya adalah mengenai kebijakan politik penguasa saat itu. Mengenai hal ini saya lakukan dengan menelaah beberapa dokumen zaman Belanda yang telah didigitalisasi oleh Google yaitu Overzigt van de Geschiedenis der Preanger-regentschappen atau kurang lebih Ikhtisar Sejarah Priangan yang ditulis oleh Otto van Rees pada tahun 1880 dan Nederlandsch-Indisch Plakaatboek 1602—1811 (kompilasi ketetapan hukum VOC) yang berjumlah 17 volume). Agar lebih fokus, dari buku tersebut saya akan mengupas sejarah Priangan pada zaman pemerintahan Raden Anggadiredja yang kemudian menjadi Tumenggung Anggadiredja sesuai dengan Dagh-register gehouden int Casteel Batavia (Jurnal Harian Kastil Batavia) tanggal 17 Desember 1704.

Pengangkatannya itu telah diaktakan pada sebuah dokumen yang di dalamnya tidak tercantum dengan jelas wewenang atau cakupan kerjanya. Semua itu karena VOC meragukan loyalitas Tumenggung Anggadiredja, bahkan sebelum diresmikan pengangkatannya, VOC terlebih dahulu mengumpulkan informasi mengenai sosok Anggadiredja ini agar lebih yakin.

Pada saat itu VOC memutuskan Priangan berada di bawah Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Arya Cirebon. Pada saat itu melalui surat perintah yang diberikan kepada Pangeran Aria Cirebon, VOC meminta seluruh wilayah Priangan untuk membuka lahan-lahan yang masih kosong di wilayahnya untuk ditanami hasil bumi, terutama kopi. Kopi pertama kali dibawa ke Batavia pada tahun 1696 pada zaman Gubernur Jendral Willem van Outshoorn kemudian ditanam di halaman kastil Batavia tapi musnah seketika saat banjir tiba. Lalu kembali pada tahun 1706 ditanam di tanah Priangan setelah seluruh pesisir laut Jawa termasuk Priangan jatuh ke tangan VOC. Saat itu VOC menunjuk Cirebon di bawah Pangeran Aria Cirebon sebagai kepala wilayah Priangan yang terdiri dari Limbangan, Soekapoera, Galoeh, Bandoeng, Parakanmoentjang, Soemedang, Tjiasem, Pamanoekan dan Pagaden, untuk memaksa seluruh masyarakat di wilayah Priangan membuka lahan. Lahan tersebut akan digunakan untuk pesawahan dan perkebunan kopi.

Kemudian baru pada tahun 1724 baru mulai terasa hasilnya dan itulah saat Preangerstelsel atau sistem tanam paksa kopi di Priangan dimulai. Kemudian, di dalam Nederlandsch-Indisch Plakaatboek 1602—1811, volume 4 halaman 220, di sana disebutkan bahwa pada tanggal 1 Maret 1729, masyarakat Priangan dibebani lagi untuk menanam 10 pohon kopi per kepala keluarga. Tak heran dalam kurun waktu 12 tahun yaitu dari tahun 1724-1736 hasil produksi kopi di Jawa yang berhasil dikirim ke Belanda adalah sebanyak 6 juta pon atau sekitar 3 juta kg.

Untuk wilayah Residentie Bandoeng sendiri saya belum menemukan catatan sejarah mengenai tanggal persis pembukaan lahan dan penetapannya pertama kali sebagai distrik Tjilokotot, tapi saya menduga pembukaan Tjilokotot bersamaan dengan dibukanya perkebunan kopi di wilayah ini yang merupakan konsekuensi logis dari politik Preangerstelsel VOC yang berlangsung pada saat Tumenggung Anggadiredja masih berkuasa, jauh sebelum dimulainya Cultuur Stelsel Van den Bosch yang dimulai pada tahun 1830 setelah Perang Jawa berakhir.

Pada saat pembukaan lahan untuk sawah dan perkebunan kopi tersebut, wilayah yang menjadi pusat kota bandung saat ini masih menjadi hutan belukar dan tidak cocok untuk pesawahan dan perkebunan kopi. Kemudian pusatnya masih di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Dayeuh Kolot. Saya memperkirakan Dalem Bandung saat itu yaitu Tumenggung Anggadiredja membuka lahan di Tjilokotot, yaitu lahan yang pas untuk dua hasil bumi tersebut.

Jadi, di wilayah Kota Cimahi sekarang ini yang dulu merupakan bagian wilayah distrik Tjilokotot pernah ada perkebunan kopi. Apa yang saya katakan tersebut didukung oleh dua buah informasi yaitu yang pertama adalah informasi yang diberikan oleh Andries de Wilde. Dia adalah seorang tuan tanah yang awalnya menguasai tanah di Sukabumi yang kemudian dia jatuh cinta dengan lanskap Bandung lalu memindahkan kepemilikan tanahnya itu dari Sukabumi ke lanskap Bandung. Tanah yang dikuasainya menghampar dari kaki Gunung Manglayang hingga ke Padalarang. Di dalam buku yang dia tulis yang berjudul De Preanger-regentschappen op Java Gelegen (Kabupaten Priangan di Tanah Jawa), yang diterbitkan tahun 1830. Dia menceritakan perjalanannya saat dia tiba di wilayah Curug Agung pada tanggal 5 Mei 1817. Menurut penglihatannya di sana pertanian dan populasi penduduknya sangat terbatas, dan sejauh mata memandang, ia hanya menemukan dusun kecil di sana-sini, terlepas dari bangunan-bangunan pos-pos di pinggir jalan.

Saat itu De Wilde akan pergi ke memasuki wilayah lanskap Bandung dari Cianjur melewati jalan raya pos kemudian lewat di Tjoeroek Agong atau Curug Agung. Saat saya mencari nama lokasi Curug Agung di Google Maps antara Cianjur dan Bandung maka saya menemukan lokasi tersebut di wilayah Padalarang. Jadi di wilayah Padalarang saat itu masih kosong melompong.

Terlebih lagi Jalan Raya Pos saat itu tidak boleh dilalui oleh masyarakat biasa. Kemudian pada tahun 1830 belum ada kereta api dan mobil tapi masih menggunakan kuda, jadi untuk ekspedisi surat menyurat di setiap wilayah yang dilewati oleh De Groote Postweg maka pasti ada pos-pos yang sebenarnya tujuan utamanya adalah sebagai pos tunda militer.

Lalu kemudian dia lanjutkan ceritanya lagi bahwa katanya saat mulai memasuki lanskap Negorij Bandoeng, maka seseorang akan disajikan bentangan alam pegunungan layaknya ruangan amphiteater raksasa yang umpakan-umpakannya hingga batas tertentu dihiasi oleh sawah dan perkebunan kopi. De Wilde menyebutkan nama-nama distrik yang menjadi bagian dari Negorij Bandoeng dan salah satunya Cilokotot yang dia tulis dengan Tjilakostot. Jadi, apa yang saya perkirakan tersebut terbukti dari apa yang diceritakan oleh Andries de Wilde bahwa saat itu sejauh mata memandang wilayah lanskap Bandung penuh dengan perkebunan kopi dan sawah. Hal itu membuktikan bahwa perkebunan kopi telah ada jauh sebelum Cultuurstelsel Van den Bosch. Selain itu, di Cimahi sendiri terdapat nama jalan yaitu jalan Kebon Kopi. Yang menurut paman saya, Drs. Yus Rusnaya, seorang tokoh pendidikan sekaligus anggota DPRD Kota Cimahi, wilayah Jalan Kebon Kopi memang dulu bekas kebun kopi, tapi sekarang hanya tinggal namanya saja.

Hal yang sangat menarik adalah apa yang saya temukan pada informasi kedua yaitu pada kamus Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indië Deerde Deel (Kamus geografis dan statistik Hindia Belanda Volume Ketiga) karangan Prof. P. J. Veth yang diterbitkan pada tahun 1869. Di sana disebutkan pada halaman 1052:


Tjilokotot, distrikt op Java, residentie Preanger Regentschappen, afdeeling Bandong. Het bevat de onderdistrikten Bodjong Koneng, Tjipageran, Tjilame, Tjibaliga, Tjimahi, Djaringan, Galanggang, Tjigoegoer en Tjiwaroega. De bevolking is 15,000 zielen sterk. De grond, die uit plantaarde en modder bestaat is bijzonder vruchtbaar. De bergen met boschen en de onbebouwde vlakten met alang-alang begroied, terwijl het overige gedelte met rijsvelden en koffietuinen bedekt is. Dit district levert ook veel suiker en tabak op. De zware wouden door wilde runderen en rhinoerossen doorkruist. Op de vlakten leven veel herten en zwijnen, en groote tijgers zijn vooral aan den oever der Tjitaroem niet zeldaam.

Yang jika diterjemahkan artinya kurang lebih adalah:
Tjilokotot, distrik di Jawa, residensi Priangan, departemen Bandong. Di dalamnya terdapat kelurahan Bodjong Koneng, Tjipageran, Tjilame, Tjibaliga, Tjimahi, Djaringan (mungkin Jaringao), Galanggang, Tjigoegoer, dan Tjiwaroega. Populasinya 15.000 jiwa. Tanah, yang terdiri dari tanah nabati dan lumpur yang sangat subur. Gunung-gunung dengan hutan dan dataran yang masih perawan dengan ditumbuhi alang-alang, sedangkan sisanya ditutupi dengan rangkaian pesawahan dan kebun kopi. Kecamatan ini juga menghasilkan banyak gula dan tembakau. Hutan lebatnya dihuni oleh binatang liar dan badak. Banyak rusa dan babi hutan hidup di dataran itu, dan juga banyak harimau besar, terutama di tepi Tjitaroem.

Jadi di wilayah Tjilokotot memang cocok untuk perkebunan kopi dan pesawahan, selain itu menghasilkan gula dan juga tembakau. Seperti yang telah saya paparkan, bekas perkebunan kopi di Kota Cimahi adalah di wilayah Jalan Kebon Kopi, semetara pesawahan, bekas-bekasnya masih banyak di dalam nama wilayah seperti ‘Rancabelut’, ‘Rancaherang’, ‘Rancabentang’, dan ‘Sawahlega’. Untuk tembakau saya belum menemukannya, namun untuk gula, mungkin bukan gula pasir tapi gula aren (kawung), sebab ada salah satu wilayah yang namanya Tegal Kawung yang letaknya dekat dengan Kompleks Veteran. Yang paling mengejutkan bagi saya adalah adanya keberadaan badak, rusa, babi hutan dan harimau. Orang-orang Cimahi sekarang mungkin kaget jika mengetahui bahwa dulu di tanah yang sekarang menjadi rumah mereka itu pernah menjadi sarang harimau.

Kemudian populasi penduduknya menurut kamus itu yaitu pada tahun 1869 itu hanya 15.000 jiwa yang merupakan keturunan para pionir pembuka lahan di Tjilokotot. Bisa kita bayangkan dulu pada saat wilayah Tjilokotot dibuka membutuhkan banyak tenaga dan keberanian atau mungkin nekat. Bukan hanya mengorbankan tenaga tetapi juga nyawa menjadi taruhan. Jangankan pada saat pembukaan lahannya pertama kali, saat zaman Andries de Wilde pun masih banyak kasus para petani yang diserang harimau. Di dalam bukunya itu, Andries de Wilde berkata, “Bij een dezer voorvallen weet ik, dat eene oude vrouw door een’ tijger werd weggesleept.” yang artinya adalah “Salah satu dari peristiwa-peristiwa ini saya tahu faktanya adalah bahwa seorang wanita tua diseret oleh seekor harimau.”

Kemudian selain subur dan cocok untuk menanam padi dan kopi, alasan Tumenggung Anggadiredja memilih Cilokotot dikarenakan wilayah Bandoeng yang letaknya paling dekat dengan jalur untuk mengangkut kopi ke Batavia adalah distrik Tjilokotot. Pada saat itu jalur logis untuk menuju Batavia bukanlah jalur darat melainkan memanfaatkan arus sungai Citarum hingga sampai ke muaranya di laut Jawa lalu diangkut oleh kapal laut ke Batavia.

Kemudian saya berpendapat bahwa penduduk yang dimobilisasi sebagai pionir untuk menetap kemudian bercocok tanam padi dan berkebun kopi di Tjilokotot adalah berasal dari Timbanganten. Hal ini sangat beralasan sebab menurut hasil sensus penduduk tahun 1686 yang tersaji pada Bab sebelumnya, wilayah dessa Timbanganten memiliki jumlah KK yang paling banyak yaitu 77 KK, dengan kepala dessa yang bernama Satyadita.

Berdasarkan apa yang telah saya paparkan di atas, saya berkesimpulan bahwa Kota Cimahi saat ini, yang dulunya adalah bagian dari distrik Tjilokotot, pertama kali dibuka sekitar setelah tahun 1706 sebagai akibat dari kebijakan Preangerstelsel.

ditulis oleh

Karguna Purnama Harya

Karguna Purnama Harya, adalah seorang pengajar privat bahasa Prancis, penulis, penggiat sejarah.