Tarum dan Denim

Kamis, 09 Juli 2020 dari Jam 10-12 WIB; House of Varman (H.o.V.)/The Varman Institute (Pusat Kajian Sunda) memenuhi undangan untuk melakukan presentasi (public lecture) di PT. Garuda Mas Semesta yang berlokasi di Jalan Industri II No. 2 Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi.

PT. Garuda Mas Semesta merupakan suatu lembaga bisnis yang bergerak dalam bidang industri pembuatan tekstil (kain). Sementara tekstil yang dihasilkannya secara lebih khusus adalah kain denim. Kain denim tersebut kemudian jika sudah sampai pada rantai industri garmen (pakaian) akan menjadi aneka jenis fashion yang secara umum lebih dikenal masyarakat dengan sebutan jeans.


Perkembangan jeans atau blue jeans yang merupakan suatu inovasi dari jenis celana panjang itu sendiri dimulai oleh adanya penemuan Jacob W. Davis yang bekerja sama dengan Levi Strauss & Co. pada tahun 1871 M. Temuan tersebut kemudian dipatenkan oleh Jacob W. Davis dan Levi Strauss pada 20 Mei 1873 M. Prodak dari Jacob W. Davis bersama Levi Strauss & Co. tersebut selain dikenal dengan jeans atau blue jeans, kemudian hari lebih dikenal juga dengan istilah Levi’s. Dan selain Levi’s, berkembang juga brand-brand lainnya yang identik dengan Kebudayaan Barat (Western Culture) selanjutnya; seperti Lee dan Wrangler.

Kata jeans yang masuk ke dalam bahasa Inggris modern berasal dari bahasa Inggris pertengahan Jene yang berarti kota Genoa di Italia sebagai pusat perkembangan dan pembuatan kain katun (kapas). Kain katun dari Genoa meskipun dibuat untuk kepentingan kelas perkerja dan aktifitas keras di lapangan namun cenderung memiliki kualitas dan tekstur yang masih rapuh dan lembut. Kain katun lapangan dari Genoa tersebut lebih cenderung mendekati apa yang kita kenal saat ini sebagai jenis kain Corduroi.

Di kota Nimes Perancis, perkembangan kain sebagai prototipe jeans dari Genoa tersebut kemudian dicoba untuk diimitasi dan dikembangkan, namun kemudian menghasilkan tekstur yang cenderung berbeda; yakni lebih kasar dan kuat. Karena kecenderungannya yang lebih kasar dan kuat tersebut, kain jeans dari Nimes cenderung menjadi lebih mahal dan bahkan diminati karena sangat cocok untuk aktifitas kasar dari kelas pekerja. Teknik yang dikembangkan dalam pembuatan kain jeans di Nimes Perancis disebut Serge, yakni tipe kain twill dengan penganyaman yang dilakukan secara diagonal.

Maka kain jeans dari Nimes tersebut kemudian berkembang secara lebih khusus dengan sebutan Serge de Nimes (Serge dari Nimes). Yang kemudian mengalami penyingkatan dengan sebutan hanya de Nimes yang kemudian menjadi lebih singkat lagi sebagai denim sebagaiman yang kita kenal saat ini. Suatu tahap perkembangan denim dari Perancis tersebut itu lah yang kemudian dikembangkan oleh Jacob W. Davis dan Levi Strauss & Co. di Amerika Serikat. Hanya saja karena tahap perkembangan denim dari Perancis sendiri tidak bisa dilepaskan dari sejarah jeans dari Italia, maka di Amerika Serikat kata denim dan jeans sudah biasa saling dipertukarkan dengan makna yang dimaksudkannya adalah sebagai barang yang sama yakni denim dari tahap perkembangan di Perancis.


Hingga sebelum temuan indigo sintetik ditemukan oleh Adolf Baeyer dan Viggo Drewsen pada tahun 1882 M di Jerman dan kemudian disempurnakan formula dan produksi masalnya oleh Johannes Pfleger dan Karl Heumann pada tahun 1901 M di Jerman; kebutuhan industri pewarnaan biru untuk kebutuhan tekstil dunia sebenarnya di suplai dari zat pewarna alam penghasil warna biru itu sendiri (indigo natural dye). Dalam bahasa Inggris, zat pewarna alam demikian disebut dengan indigo yang diambil dari bahasa Yunani indikon artinya come from India (sesuatu yang didatangkan dari India).

Suatu mata rantai perdagangan kuno yang berlangsung antara belahan dunia Barat dan belahan dunia Timur sejak periode Yunani Kuno dan India Kuno yang kemudian dilanjutkan Romawi Kuno dan India Kuno dan kemudian Romawi Timur (Bizantium) dan India Kuno. Dan kemudian dilanjutkan kembali oleh masyarakat Eropa Barat yang lebih kemudian seperti Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda yang pada gilirannya melakukan manuver potong kompas rantai perdagangan dari orang-orang Arab yang menjadikannya sebagai perantara hingga masuk dan tembus ke jantungnya secara langsung; yakni tanah India Selatan. Orang India sendiri sejak jauh-jauh hari menamai zat pewarna alam penghasil warna biru tersebut tentu saja bukan dengan nama Indigo atau Indikon melainkan dengan nama Nila (dan orang Arab menamainya al-Nil [an-Nil]).

Pada masa kolonialisme dunia Barat, khusus untuk mengatasi kebutuhan Eropa Barat dalam hal pewarnaan tekstil biru tersebut maka dikembangkanlah upaya pengebunan besar-besaran. Tumbuhan nila atau indigo atau yang dalam bahasa Sunda lebih dikenal dengan sebutan tarum tersebut kemudian diintrodusir ke tempat-tempat lainnya seperti oleh pemerintahan kolonial Hindia-Belanda ke Indonesia. Tumbuhan nila khas India tersebut dalam bahasa ilmiah telah diidentifikasi secara botani dan taksonominya dengan nama Indigofera tinctoria (tarum biji); sehingga menjadikannya sebagai the truely indigo.

Selain tarum biji (Indigofera) asal India di datangkan juga ke Hindia-Belanda tarum-tarum sebagai the likely indigo seperti tarum daun alas (Indigofera arrecta HOCHST), tarum hutan (Indigofera galegoides DC), dan tarum kembang (Indigofera suffruticosa MILL) yang berasal dari kawasan Afrika tropis dan Amerika tropis. Dengan adanya upaya pengebunan yang intensif dan ekstensifikasi lahan yang terus meluas, Hindia-Belanda tumbuh menjadi salah-satu penyuplai terbesar untuk memasok kebutuhan Eropa Barat dan pasar dunia pada umumnya sejak pada masa kolonialisme dan imperialisme Barat tersebut.

Sementara di tengah usaha pengebunan tersebut sempat dilakukan juga usaha penelitian terhadap spesimen tarum akar (Marsdenia tinctoria) di Indigo Experimental Station di Klaten oleh Kolonial Belanda (pertama ditemukan oleh William Maesden pada masa Kolonial Inggris di wilayah Bengkulu) yang dianggap lebih domestik dan potensial karena kandimungan sedimennya yang lebih banyak yang dalam bahasa Sunda lebih dikenal dengan sebutan Tarum Areuy. Hanya saja, dengan ditemukannya alternatif pewarna indigo sintetik pada akhir abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M tersebut, kerajaan industri pengolahan indigo alam (natural dye) kemudian perlahan mengalami keruntuhannya karena tidak lagi mampu bersaing dalam masalah harga dengan pewarna sintetik yang berhasil tumbuh jauh lebih massal dan murah. Dengan runtuhnya nilai ekonomi pewarna alam, maka runtuh pula nilai konservasinya. Tumbuhan tarum alam dari berbagai jenis yang ada tersebut nyaris menghilang dan musnah.

Upaya revitalisasi zat pewarna alam indigo di Indonesia telah dilakukan kembali di kawasan Jawa Tengah dan Jogjakarta sejak tahun 1990-an. Rantai bisnis dan kreatifitas mulai tumbuh kembali seiring waktu dalam jejaring tradisional dan komunitas penikmat prodak zat pewarna alam. Jawa Barat dalam hal ini tertinggal jauh, upaya perintisan kembali baru baru dimulai sejak akhir tahun 2011 dengan fokus kerja pada tarum akar (Marsdenia tinctoria) sebagai simbol konservasi lingkungan dan pemulihan sungai Ci Tarum sejak projek Cita Citarum muali dicetuskan hingga kini berganti formatnya dengan projek Citarum Harum.


Dengan adanya public lecture yang dilakukan H.o.V./V.I bersama PT. Garuda Mas Semesta diharapkan upaya konservasi dan ekonomi dapat tumbuh secara beriringan. Dan inovasi prodak tekstil yang ramah lingkungan (Go Green) sebagaimana yang diharapkan oleh pihak Garuda Mas Semesta dapat diwujudkan. Karena sebagaimana mulanya, blue jeans untuk pertamakalinya memang dibuat berdasarkan material dasar dari indigo dye. Dan di negara-negara maju, meskipun telah beralih kepada zat pewarna kimia sintetik; projek-projek kekaryaan dengan menggunakan zat pewarna alam masih tetap dikerjakan meskipun dalam jumlah yang cenderung lebih terbatas dan eksklusif.

Selepas public lecture, Departemen Laboratorium PT. Garuda Semesta akan mencoba untuk menganalisa spesimen zat pewarna alam yang diberikan House of Varman (H.o.V.) untuk ditentukan perhitungan soliditas (massa sedimen) dan puritas (kemurnian pigmen) kandungannya yang sangat penting dalam analisa produksi. Suatu langkah dan prosedur-prosedur teknis yang membutuhkan waktu yang masih cukup panjang.

Pertemuan tersebut adalah kertemuan kedua, setelah pertemuan pertama dijajaki berdasarkan inisiatif oleh Jaenudin (Kepala Bagian Finishing) dan Komang Suidnya (Bagian Finishing) dalam upaya pencarian inovasi dengan semangat Go Green yang didorong dan dianjurkan secara resmi oleh jajaran pimpinan PT. Garuda Mas Semesta. Dari inisiatif Jaenudin dan Komang Suidnya, pertemuan lebih menyeluruh pada akhirnya berhasil dilaksanakan dengan baik. Selain dihadiri oleh sekitar 15 personil PT. Garuda Mas Semesta yang mewakili dari beberapa departemen, beberapa orang diantaranya adalah Jaelani (Kepala Bagian Finishing), Komang Suidnya (Bagian Finishing),
Jarot (Kepala Bagian Dying), Yanto (Staf Ahli Dying), Rudi (Kepala Bagian PPC), Christo (Kepala Bagian R&D), Ridwan (Staf Produksi), Nando (Bagian Quality Control), dan Dade SR (Staf Ahli Textile). Adapun yang hadir dari pihak H.o.V/V.I. adalah Gelar Taufiq Kusumawardhana (Departemen Ekonomi dan Keuangan), Refi Saeful Firmansyah (Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat), dan Ardi (Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat).

Batujajar, 10 Juli 2020
Gelar Taufiq Kusumawardhana
H.o.V./V.I.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)